
Yasa hari itu juga langsung menuju ke vila. Ada sebuah perubahan rencana yang akan Yasa lakukan. Jika sebelumnya berencana akan langsung menyampaikan apa yang mereka dapat ke publik, tapi ini tidak. Yasa terlebih dulu ingin menemui Kaluna dan Tara. Yasa ingin membawa tampil istri dan putra nya ke publik. Yasa ingin mengenalkan Kaluna dan Tara secara resmi sebagai bagian dari keluarga Dwilaga.
Yasa memang sengaja tidak memberitahu Kaluna kalau dia akan ke vila sehingga Kaluna pun sudah berada di kamar sang putra. Sebenarnya Tara sungguh tidak ingin ditunggui tidurnya. Tapi sang bunda tetap melakukan hal itu. Kaluna tidak ingin Tara melek hingga malam dan berakhir di rumah sakit lagi.
" Buund, aku tuh udah gede. Aku bisa tidur sendiri."
" Aihhh, sekarang Tara gitu. Bunda mau tidur bareng Tara aja nggak boleh."
Kaluna memanyunkan bibirnya, pura-pura sedih atas penolakan sang putra. Terang saja Tara tidak bisa melihat ekspresi bundanya yang begitu. Ia kemudian langsung memeluk dan mencium bunda nya. Ada sedikit nyeri di hati Tara jika melihat sang bunda tampak sedih.
" Anak bunda benar-benar terbaik. Bunda hanya bercanda. Baiklah bunda akan kembali ke kamar," Tara bersorak saat Kaluna mengatakan hal tersebut. Namun, seketika terdiam saat sang bunda menyambung ucapannya. " Tapi kalau Tara sudah tidur."
" Assalamu'alaikum."
" Waalaikumsalam."
" Ayah!!!"
Tara seketika bersorak saat melihat Yasa yang muncul dari balik pintu. Dua hal yang membuatnya senang sekaligus. Pertama ayahnya datang yang kedua pasti sang bunda akan dibawa oleh ayahnya keluar dari kamar miliknya.
Kaluna dan Tara bergantian mencium punggung tangan Yasa. Sungguh damai rasa di hati Yasa saat anak dan istrinya menyambut kedatangannya dengan penuh senyuman. Ia pun mencium pucuk kepala Kaluna dan Tara lalu memeluk keduanya bersamaan.
" Besok kita kembali ke kota ya, apakah mau. Kita tempati rumah kita yang ada di sana. Rumah yang sudah ayah persiapkan untuk kita bertiga."
Kaluna mengangguk, begitu juga Tara. Bocah itu semakin antusias saat sang ayah mengatakan bahwa ada sebuah galeri yang sudah disiapkan untuk tempatnya melukis.
Bukannya membawa sang bunda keluar dari kamarnya, ayah Tara tersebut malah ikut meminta putranya tidur dan mengatakan akan tidur di sana bertiga. Tara langsung menepuk keningnya. Rencananya malam ini dijamin gagal total.
" Jadi ayah juga mau tidur di sini begitu?"
" Yes, mari kita tidur bersama malam ini."
Tara menampilkan senyum tidak iklhas. Kali ini prediksinya meleset. Sang ayah tidak membawa bundanya untuk keluar tapi malah mereka berada di kamarnya. Bocah itu menghela nafasnya. Ia akhirnya pasrah, tidak ada salahnya juga untuk libur beberapa saat. Jika ada yang mengomel minta pesanannya dibuatkan cepat ia akan meminta mereka membuatnya sendiri.
Family is first priority, begitulah kira-kira yang dikatakan oleh Tara di dalam hati dan pikirannya. Meskipun rencananya gagal, paling tidak dia bisa menghabiskan malam bersama kedua orang tuanya.
Posisi Tara berada di tengah-tengah, diantara Yasa dan Kaluna. Tak berselang lama setelah mereka bercengkrama sejenak, bocah itu pun sudah terlelap. Akan tetapi tidak dengan dua orang dewasa tersebut. Yasa membelai rambut Kaluna lembut.
" Mas,"
" Aku tahu apa yang akan kamu katakan. Sudah jadi keputusanku semua yang ku lakukan kemarin. Aku tidak ingin kamu menanggungnya sendiri. Bukankah kita suami istri? Mari hadapi bersama."
Kaluna mengangguk, tapi masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Semua mengenai karir sang suami, apakah setelah ini Yasa bisa kembali lagi mengajar mengingat namanya di publik yang terlanjur tercoreng.
" Semua yang terjadi memang selalu ada hikmahnya. Dan kalian berdua adalah berkah terbaik dalam peristiwa ini."
πππ
Adzan subuh berkumandang, kali ini Yasa yang membangunkan istri dan putranya untuk beribadah bersama. Semua bangun dan bergegas untuk mengambil air wudhu. Sajadah mulai dibentangkan dan 2 rakaat mulai ditunaikan. Zikir dan doa tidak lupa mereka lakukan setelah selesai salam tanda sholat berakhir.
Tara dan Kaluna bergantian mencium tangan Yasa. Yasa kemudian menanyakan apa yang akan Tara lakukan, dan dengan cepat bocah itu menjawab bahwa ia ingin melukis.
" Jadi apakah ayah dan bunda boleh kembali ke kamar?" tanya Yasa kepada sang putra.
" Tentu saja boleh yah. Ini juga masih gelap, siapa tahu ayah dan bunda mau beristirahat kembali." Tara benar-benar bersemangat meminta kedua orang tuanya untuk segera pergi meninggalkan kamarnya.
Yasa dan Kaluna akhirnya keluar juga dari kamar. Satu tarikan nafas dilakukan oleh Tara. " It's time to work!" seru bocah itu sambil menarik sebuah kanvas yang setengah jadi ia kerjakan. Wajah seriusnya mulai menuangkan tinta dan mulai melengkapi sisi kanvas yang masih kosong.
Cekleeek ... Greb
Masuk ke dalam kamar, Yasa langsung memeluk sang istri dan menghirup aroma tubuh istrinya dalam-dalam. Tapi ia kemudian melepaskan sejenak dan membalikkan tubuhnya untuk mengunci pintu kamar. Tidak ingin kejadian siang itu terulang lagi, saat sedang on dia harus gagal melanjutkan acara pentingnya.
" Mas," panggil Kaluna kepada sang suami.
" Mau ngadon adik buat Tara," ucap Yasa sembari tersenyum dan kembali memeluk Kaluna. Ia lalu menyesap leher sang istri lalu membawanya ke atas ranjang. Pagi itu selepas subuh keduanya kembali mereguk kenikmatan surga dunia yang sudah halal bagi keduanya. Peluh bercucuran, memang olah raga seperti ini lumayan berhasil membakar kalori.
" Terimakasih sayang," ucap Yasa kepada sang istri. Ia memeluk tubuh polos istrinya dan mencium puncak kepala sedikit lebih lama.
Kaluna merapatkan pelukannya di dada sang suami. Dada keduanya menempel. Tampaknya Kaluna lupa bahwa mereka sama-sama polos sekarang hanya tertutup sebuah selimut. Benda kenyal itu jelas membuat Yasa kembali berhasrat kembali.
" Sayang, kau membangunkannya lagi. Sungguh dia selalu sensitif dengan sentuhanmu. Terlebih dua benda itu selalu membuatku tidak tahan."
Yasa sudah bangun dan kembali mengungkung sang istri. Niat hati hanya ingin memeluk istrinya tapi juniornya tampaknya menginginkan sesi kedua. Mata Kaluna membelalak saat melihat benda di bawah sana benar-benar sudah siap untuk kembali menerobos miliknya.
" Mas."
Yasa sudah membungkam mulut Kaluna dengan bibirnya, ciuman itu kembali membuat Kaluna terlena. Terlebih tangan Yasa mulai bergerilya kembali menyentuh semua bagian yang bisa ia sentuh. Suara indah keluar juga dari bibir Klauna membuat Yasa semakin terbakar semangat.
" Bersiaplah kembali sayang, semoga para benih itu berhasil tumbuh di sini," ucap Yasa sambil mencium perut Kaluna yang masih rata. Sungguh dia ingin menyaksikan sang istri kembali mengandung. Ia ingin membayar masa-masa yang sudah ia lewatkan itu.
Sebuah erangann panjang menandai bahwa keduanya berhasil mencapai puncak bersama. Yasa berhasil menitipkan benih-benihnya di rahim sang istri, berharap adik Tara segera tumbuh di sana.
" Aku mencintaimu istri ku. Sungguh-sungguh mencintaimu."
TBC