
Yasa sungguh terkejut mengetahui kabar dari mbok Yem. Setelah semua orang menaiki mobil untuk membawa Tara ke rumah sakit, Yasa menelpon ke nomor ponsel Kaluna berkali-kali tapi tidak diangkat. Begitu juga dengan ponsel Tara. Semua nihil. Dan satu hal yang Yasa lupakan yakni menelpon kedua mertuanya.
Tapi untungnya di dalam vila masih ada telepon rumah. Dan pas sekali Yasa menyimpannya. Raut wajah Yasa sungguh panik. Ayah, ibu, paman dan bibi Yasa tentu heran melihat ekspresi dari pria tersebut.
" Ada apa Yas?" tanya Radi kepada sang putra.
" Tara yah, Tara tiba-tiba pingsan dan sekarang ada di rumah sakit milik Uncle Jason."
Silvya langsung menghubungi Jason namun tidak diangkat. Ia pun menghubungi putri dari temannya itu untuk menanyakan kebenaran berita dari asisten rumah tangga di vila milik Raffan.
" Hallo Bri, apa benar Tara dibawa ke sana?"
" Iya Tante. Ini Tara masih di ruang IGD sedang ditangani daddy."
Silvya mengatakan terimakasih lalu mengangguk kepada semua orang. Yasa langsung terduduk lemas. Cobaan apa lagi yang menimpa keluarga kecilnya itu. Belum juga masalah berita itu ketemu jalan keluarnya sudah ada kabar yang membuat tulangnya tercabut dari tubuhnya.
" Bibi, biasakan aku ke sana tanpa diketahui awak media. Sungguh aku sangat khawatir terhadap putraku."
" Tidak ada yang tidak bisa bibi lakukan."
Silvya mengangkat satu sudut bibirnya dan Dika langsung membuang nafasnya kasar. Jika sang istri sudah tersenyum misterius seperti itu bisa dipastikan akan ada hal yang diluar nurul eh nalar yang akan dilakukan sang istri.
Sedangkan Hasna dan Radi hanya saling pandang. Mereka tentu tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan iparnya tersebut hingga sebuah suara membuat semua orang terkejut kecuali Dika tentunya.
Bug ubug ubug ubug
Sebuah suara helikopter mendekat. Tepat terdengar ada di atas mereka. Yasa, Radi dan Hasna jelas terkejut. Bagaimana bisa ada helikopter di atas rumah.
" Ayo!"
Semua saling pandang saat Silvya mengatakan kalimat ajakan tersebut. Melalui sebuah anggukan kepala Dika sebagai isyarat untuk mengikuti sang istri, semua pun langsung mengikuti kemana arah Silvya pergi. Ketiga orang itu terkejut saat menjumpai helikopter itu benar-benar ada di atas rumah.
Sebuah tangga tali diturunkan dan siap untuk mereka naiki lalu masuk ke dalam helikopter.
" Bibi Silvya, ini serius."
" Kagak, bibi lagi guyonan. Ya serius lah Yas. Kan tadi kamu bilang sendiri pengen ketemu Tara tapi dengan cara yang aman. Kebetulan juga atap rumah sakit Jason ada helipad nya."
" Salam untuk Kaluna dan papa mama nya."
Yasa mengangguk mendengar teriakan sang ibu. Silvya kemudian memberi isyarat kepada sang pilot lalu pilot heli miliknya tersebut pun mulai terbang meninggalkan kediaman Dika dan Silvya menuju ke rumah sakit milik Jason.
Keempat orang tua itu kembali masuk ke dalam rumah setelah Yasa pergi dengan helikopter. Ada rasa lega dalam diri Radi dan Hasna karena Yasa bisa bertemu dengan putranya dibalik peristiwa yang membuat semua keluarga dan sahabat dekat keluarga tersebut ramai.
Ya, dari sahabat keluarga yang lain langsung ramai menghubungi ponsel pribadi mereka. Bukan menanyakan mengenai berita yang beredar, mereka lebih ke bertanya bagaimana keadaan Yasa beserta anak dan istrinya. Sungguh sahabat yang luar biasa. Walaupun dari luar mereka adalah orang-orang terpandang yang mungkin tidka tersentuh, namun pada kehidupan pribadi mereka adalah sahabat bahkan sudha menjadi keluarga yang begitu peduli satu sama lain.
Bukan hanya sekedar kamuflase atau kepura-puraan. Mereka benar-benar saling tulus dalam memberikan perhatian. Bahkan saat berita ini menyebar, semua awak media pun ikut mendatangi keluarga Joyodiningrat dan Dewantara. Dan, jawaban mereka sungguh kompak bahwa urusan tersebut adalah urusan personal keluarga Dwilaga dimana mereka tidak berhak mencampurinya.
Seperti tadi saat Abra, yang awak media tahu bahwa anak-anak keluarga besar itu saling bersahabat di temui awak media. Saat ditanya tanggapannya mengenai berita ini, Abra dengan tegas memberikan jawaban yang membuat para pencari berita itu diam seribu bahasa.
" Saya bukan seorang komentator yang berhak mengomentari kehidupan pribadi orang lain. Kami memang bersahabat tapi tidak ada hak bagi kami mengomentari kehidupan pribadi sahabat kami. Mau Yasa menikah diam-diam atau pesta besar lagi pula tidak ada hubungannya dengan kalian. Kami bukan public figure yang harus menyiarkan semua tentang kehidupan pribadi kami kepada publik."
Sebenarnya bukan hanya Abra saja, para pencari berita itu bahkan menemui Nataya, Topan, Dan semua yang berhubungan dengan keluarga Dwilaga. Radi dan Hasna sungguh sangat merasa tidak enak karena semuanya jadi terlibat. Namun, jawaban Juna Dewantara dan Rama Joyodiningrat membuat kedua orang tua Yasa itu bernafas lega.
" Kita ini bukan hanya sekedar teman. Kita sudah seperti keluarga. Jadi jangan merasa tidak enak atau merasa bersalah atas apa yang terjadi. Kali ini mungkin Yasa yang sedang ditimpa kesulitan, tidaj menutup kemungkinan suatu hari nanti anak-anak kami yang mengalami."
Sekarang Radi dan Hasna bersama Dika dan Silvya tengah memikirkan jalan keluar yang terbaik dari kejadian ini. Sebenarnya mereka tidak ada kewajiban apapun untuk menyampaikannya kepada publik. Akan tetapi nama Yasa sudah terlanjur menjadi buah bibir saat ini. Mau tidka mau mereka harus menghadapi publik juga.
" Lalu bagaimana kak," tanya Dika. Sebagai adik Radi sebenarnya Dika sudah paham apa yang akan dilakukan oleh kakak sulungnya itu.
" Ya hadapi, penyampaian permintaan maaf kepada publik. Mau apa lagi. Walaupun sebenarnya nggak perlu juga sih tapi Yasa sering mengisi seminar di banyak universitas jadi ya semua pasti menunggu klarifikasi dia."
Jawaban Radi sebenarnya semuanya langsung paham dan mengerti. Akan tetapi jika itu yang dilakukan maka bukannya karir Yasa sebagai seorang dosen akan hancur. Fakta yang terjadi di lapangan Yasa memang menikah karena Kaluna hamil terlebih dulu, itu akan membuat publik gempar. Bahkan bisa jadi Yasa selamanya tidka akan pernah bisa kembali mengajar di universitas sekalipun itu milik keluarga.
Seakan tahu apa yang dipikirkan semua orang, Radi mendesahhkan nafasnya yang seakan-akan sungguh berat tersebut. Ia tentu tahu akibat yang harus diambil jima Yasa keluar ke depan publik dengan pernyataan tersebut.
" Aku tahu apa yang kalian semua pikirkan. Jika Yasa memang tidak lagi bisa mengajar, masih banyak hal yang bisa dia lakukan untuk menghidupi keluarga kecilnya. Tuh mall milik ibu nya siapa juga yang mau mengurusi mengingat anak keduaku mengikuti jejak anak kedua kalian."
Meskipun berkata tentang hal itu dengan tenang, percayalah hati Radi lumayan sakit. Sebagai orang tua, ia tentu tahu bahwa putranya sangat berbakat dan berdedikasi tinggi dalam dunia mengajar. Yasa juga menyukai dunia tersebut. Bahkan diusianya yang baru 30 tahun Yasa sudah menjadi seorang profesor.
TBC