Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 37. Konspirasi?


Surya aka Zion mendapat kabar dari Yasa kalau sabtu depan kakak sepupunya itu akan melangsungkan pernikahan. Oleh Yasa, Surya diminta datang. Tapi Surya tidak bisa. Dia belum bisa memunculkan dirinya di depan semua kerabatnya.


Prinsip Surya kukuh bahwa ia harus mandiri dulu sebelum kembali ke rumah. Padahal 5 tahun merupakan waktu yang cukup untuk Surya membuktikan kemandiriannya.


Bukan tanpa alasan pemuda itu berada di perkebunan milik Raffan ini. Berawal dari olokan teman yang mengatakan bahwa Surya selalu berlindung di bawah ketek sang mommy membuat Surya kesal dan marah. Terlebih julukan anak mama yang disematkan padanya, sungguh membuat Surya tidak terima.


Surya memang sangat dekat dengan Elisa, hal tersebut kadang saja membuat Arduino kesal melihat putranya yang selalu menempel pada sang istri. Hingga Surya mengatakan bahwa ia ingin bekerja dan hidup mandiri tanpa uang dari kedua orang tuanya lagi. Dan, disinilah ia berakhir.


Di perkebunan ini Surya benar-benar banyak berubah. Dia yang tadinya selalu dilayani menjadi melakukan apapun sendiri. Di sini pula Surya menjadi semakin religius. Setahun pertama memang berat, hampir ia menyerah tapi tekadnya kembali kuat untuk menunjukkan bahwa dia bisa berdiri sendiri dengan kedua kakinya.


" Haissh maaf kak, sepertinya aku tetap tidak bisa datang. Nanti dulu deh kalau mau pulang mah. Lagian kerjaan di sini banyak."


Surya meregangkan kakinya yang sedikit agak pegal karena seharian ini dia memeriksa pekerjaan para buruh perkebunan. Besok mereka akan mengirim sayuran pagi-pagi betul jadi hari ini Surya harus memastikan semuanya beres agar tidak ada yang miss.


Pemuda itu bangkit dari kursi rotan yang ia duduki dan hendak masuk ke dalam rumah. Tapi sebuah suara membuatnya urung. Surya lalu membalikkan tubuhnya segera. Seorang gadis dengan gamis berwarna biru tua dan jilbab lebar berwarna senada itu berdiri di depan rumah Surya.


" Waalaikumsalam, eh Neng Zalfa. Ada apa Fa kok kemari malam-malam."


" Ini kang, di rumah tadi ada pengajian. Ada sedikit makanan dari umi untuk Kang Surya," ucap gadis itu sembari mengulurkan kantong plastik yang dibawanya. Surya lalu tersenyum simpul dan menerima pemberian Zalfa.


" Ucapkan terimakasih kepada umi dan abi ya."


Zalfa mengangguk, ia pun membalikkan badannya lalu melangkah pergi dari rumah Surya tapi tiba-tiba gadis itu kembali lagi.


" Kang, sebenarnya ada sebuah hal yang ingin kau sampaikan," ucap Zalfa dengan penuh keraguan


" Apa itu. Katakan saja."


" Soal teteh yang baru saja menempati Vila. Banyak yang bicara buruk mengena teteh tersebut. Mengatakan tetap wanita yang tidak benar, apalagi warga pernah melihat ada pria yang menginap di sana. Saya hanya merasa kasihan sama teteh itu."


Dapat Surya lihat bahwa Zalfa benar-benar bersimpati dengan sang kakak ipar. Surya bisa menangkap dari gesture dan nada bicara Zalfa.


" Terimakasih sudah mengkhawatirkan Kak Kaluna. Tapi tenang saja mereka pasangan halal kok, meskipun baru akan menikah sabtu depan," jelas Surya dimana kalimat terakhirnya ia ucapkan dalam hati. Tapi dia memang tidak bohong kan, Kaluna dan Yasa memang on the way halal.


" MasyaAllaah, alhamdulillaah kalau begitu. Jadi kalau ada yang bicara buruk mengenai Teteh Kaluna saya biss mengatakan fakta tersebut. Ya sudah kang saya pamit, Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Surya kembali tersenyum. Melihat Zalfa selalu membuat hati adem, sungguh berbeda dengan Klara. Surya seketika menggelengkan kepalanya. Setiap teringat sang kekasih membuat kepala Surya tiba-tiba berdenyut.


Surya harus selalu menahan diri jika Klara datang. Surya tentu paham berkali-kali Klara menggodanya tapi beruntung ia masih kuat dengan cobaan yang menggiurkan tersebut.


πŸ€πŸ€πŸ€


Pagi menjelang, selepas subuh Surya sudah selesai memeriksa kembali sayur-sayuran yang akan dikirim. Tidak ada yang terlewat membuat Surya tersenyum puas.


" Oke berangkat."


" Siap kang."


Setelah mobil bak terbuka itu pergi Surya memutuskan untuk kembali lagi ke rumah. Disepanjang jalan ia selalu berpapasan dengan warga dan tampaknya apa yang dikatakan Zalfa semalam benar adanya.


Beberapa dari mereka bicara buruk mengenai Kaluna. Surya semakin menajamkan pendengarannya agar tahu lebih lanjut apa yang mereka katakan.


" Eh itu tuh anaknya Pak Raffan aku rasa dia teh cewek nggak bener deh. Pernah lihat ada cowok nginep dirumahnya."


" Iya, apa jangan-jangan anaknya itu anak haram. Iiih amit-amit, cantik gitu jadi cewek nggak bener."


" Bukannya ia kerudungan ya. Ih najis banget, kerudungan tapi kelakuannya miris."


" Ih menurut ku ini mah ya, seharusnya kita mah nggak usah beli sayuran dari kebun dia. Bila perlu teh kita kasih tahu semua orang, takut ikutan kena bala makan dari kebun wanita nggak bener."


Sudahlah, telinga Surya langsung panas mendengar gibahan demi gibahan warga tersebut. Tidak pria dan tidak pula wanita, mulut mereka benar-benar jahat. Surya sungguh tidak terima kakak ipar sekaligus bos nya itu dibicarakan buruk. Ingin sekali dia menyumpal mulut satu persatu orang itu dengan pupuk yang ada disebelah jalan agar mereka berhenti berbicara buruk.


" Sabaaar, sabar Zi eh Sur. Lo harus sabar menghadapi manusia macam gini."


Surya pun buru-buru pergi meninggalkan segerombolan orang itu yang masih terus membicarakan Kaluna. Namun, saat Surya tengah berjalan sudut matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan.


" Itu bukannya Tarjo anak buah juragan Tatang."


Ya Surya mengenali Tarjo. Ia melihat Tarjo tersenyum misterius kearah kumpulan warga yang sedang bergibah tersebut. Surya menjadi punya pemikiran lain.


" Apa ini adalah konspirasi? Aku merasa ada yang tidak beres. Haruskan aku meminta beberapa orang dari daddy. Aihhh masa iya harus minta bantuan daddy sih."


Surya merasa bingung sendiri. Mungkin jiwa mafia sang ayah sedikit menurun kepada Surya, nyatanya dia langsung waspada dan memiliki kecurigaan terhadap hal-hal yang menurutnya janggal. Dalam kasus ini adalah si Tarjo.


" Apa aku harus melaporkan ini kepada Kak Kaluna, Pak Rafffan atau ke Kak Yasa. Tapi aku yakin mereka sedang sibuk."


Di sisi lain seorang pria paruh baya tengah tersenyum lebar. Rencananya menghasut warga sudah mulai membuahkan hasil. Para warga mulai berbicara buruk mengenai putri dari pesaingnya itu.


Juragan Tatang, pria itu selalu menganggap Raffan sebagai pesaingnya. Ia tdak terima ketika Raffan datang kemari dan membeli perkebunan yang hampir tidak menghasilkan. Namun ditangan Raffan semuanya bisa berubah. Hanya butuh 3 tahun Raffan mendapatkan pasarannya sendiri. Para pedagang di pasar selalu menunggu hasil sayuran milik Raffan.


Hal tersebut tentu membuat Tatang murka. Dia yang merasa sudah senior dan lebih lama berkecimpung di dunia perkebunan sangat tidak suka melihat keberhasilan Raffan. Ia langsung menganggap Raffan sebagai pesaing.


Sebenarnya sudah banyak cara yang digunakan Tatang untuk menghancurkan usaha Raffan. Tapi tidak ada yang pernah berhasil. Tatang lalu menggunakan kesempatan datangnya Kaluna untuk membuat konspirasi.


" Sepertinya aku harus melakukan itu. Aku yakin saetelah ini kau akan hancur Raffan."


TBC