
Surya yang tahu Kaluna dan Yasa akan sampai ke perkebunan langsung datang ke villa. Bagaimanapun ia harus memberi selamat atas pernikahan kakak sepupunya tersebut. Meski keadaan perkebunan masih kacau, Surya tetap ingin menyampaikan rasa bahagianya melihat keduanya sudah menikah.
Mang Didi dan Mbok Yem pun juga ikut bahagia. Sebenarnya mereka juga diajak oleb Raffan dan Kaluna untuk ikut ke kota waktu itu menghadiri pernikahan Kaluna tapi kedua pasangan suami istri paruh baya itu tidak bisa. Mereka memilih menjaga villa saja diperkebunan.
" Selamat non, den, semoga samawa."
" Terimakasih mbok, mang untuk doanya."
Kaluna dan Yasa mengucapkan terimakasih bersamaan. Tak berselang lama Surya pun datang. Ia langsung memeluk Yasa dan mengucapkan betapa senangnya dia akhirnya sang kakak sepupu menikah. Kaluna tentu sedikit heran, baru kedua kalinya mereka bertemu tapi kelihatannya Yasa dan Surya sangat dekat dan seperti sudah saling mengenal lama.
" Kak, selamat ya."
" Thanks Zi."
Zion melerai pelukannya terhadap Yasa dan beralih menghadap Kaluna lalu mengucapkan selamat kepada kakak iparnya itu. Dia juga mengucapkan selamat kepada sang keponakan. Tara menatap ke arah Zion dengan tatapan menyelidik. Ia seperti familiar dengan wajah pria yang pernah ia curigai naksir pada bundanya itu.
" Zion Aditya Linford, apakah paman adalah putra dari Arduino Aaron Linford?"
Semua orang membulatkan matanya penuh keterkejutan tak terkecuali Zion aka Surya. Pria itu seperti sedang tertangkap basah setelah kepergok mencuri.
" Apa yang Tara katakan? Mengapa Tara bisa bilang begitu kepada Paman Surya?"
Meskipun Kaluna menaruh curiga kepada Surya namun Kaluna tidak berpikir sejauh itu bahwa Surya adalah Zion putra pemilik salah satu perkebunan sawit terbesar di negeri ini. Ia hanya berpikir mungkin Surya adalah kenalan Yasa atau sejenisnya.
" Eh itu anu, paman itu," Zion benar-benar tergagap dengan tebakan Tara.
" Sudahlah Zi, mengaku saja," ucap Yasa sambil menepuk punggung Zion.
Pemuda itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kaluna lalu mempersilahkan duduk dan Mbok Yem langsung berinisiatif mengambilkan teh panas untuk semua orang. Tara juga ikut duduk setelah meminta tolong Mang Didi membawakan semua kanvasnya ke sebuah ruangan yang sudah di sulap sebagai studio lukis oleh permintaan Tara.
Cerita Zion mengalir, akhirnya identitas yang sudah 5 tahun itu ia sembunyikan kini terungkap. Kaluna tentu terkejut mengetahui siapa Zion sebenarnya. Bagaimana seorang yang ayahnya memiliki perkebunan besar bisa bekerja di perkebunan kecil miliknya.
" Maaf kakak ipar, bukan bermaksud menipu atau bagaimana. Aku beneran serius bekerja. Aku hanya ingin menjadi mandiri tanpa bergantung pada daddy ataupun mommy."
Kaluna sungguh salut dengan Zion. Putra dari anak kaya raya tapi mau bekerja dari bawah bahkan tidak segan untuk bergulat dengan pupuk, tanah, cangkul, dan lain sebagainya. Kaluna semakin tahu keluarga besar sang suami benar-benar memiliki power dibidang masing-masing, lagi-lagi dia merasa kecil.
" Oh iya kakak ipar, soal perkebunan."
" Aah iya, mari kira mulai dari awal."
Kaluna dan Zion sudah terlibat obrolan mengenai perkebunan. Yasa hanya menyimak, begitu pula dengan Tara. Kedua orang itu hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa keadaan perkebunan sedang tidak baik-baik saja. Baik Yasa maupun Tara menyimpulkan bahwa Kaluna saat ini pasti membutuhkan banyak dana untuk perkebunan.
" Kal, bolehkan aku membantu? Aku akan menyuntikkan dana untuk perkebunan."
Kaluna terdiam, sebenarnya apa yang dikatakan Yasa sungguh bisa membantu. Pasalnya dan yang ada di rekening atas nama perkebunan tentu tidak cukup untuk memulihkan kerusakan yang terjadi.
" Kakak ipar jangan terlalu banyak berpikir, kita harus cepat untuk memulihkan agar pelanggan kita tidak lari."
Yasa tersenyum, niat baiknya disambut tangan terbuka oleh Kaluna. Tara tentu tidak tinggal diam, dia juga ingin membantu sang bunda. Tapi bocah itu bingung bagaimana caranya tidak mungkin kan dia akan membuka identitasnya di depan kedua orang tuanya dan juga pamannya. Hingga sebuah ide terbesit dalam otak bocah itu.
" Bund, Tara juga mau bantu?"
" Tidak usah sayang. Kan sudah dibantu ayah."
" Tapi Tara mau bantu."
Kaluna dan semua orang di sana tentu bingung bagaiman cara Tara ingin membantu hingga semua mata menatap tidak percaya dengan apa yang Tara lakukan.
Bocah itu mengirim sejumlah nominal ke rekening Kaluna. 500 juta dikirim oleh Tara, Kaluna tentu tidak percaya bagaimana Tara bisa mempunyai uang sebanyak itu
" Jangan berpikir buruk. Kemarin Tara menang lelang lomba lukisan. Kalau tidak percaya coba cek di website nya ada kok. Tara menang, lukisan Tara di pajang di negara pizza."
Ketiganya langsung membuka situs yang diberikan oleh Tara. Memang benar di sana ada lukisan dengan nama Tara. Tentu ia sudah terlebih dulu memanipulasinya. Memang itu adalah lukisannya tapi dengan nama Raka Pittore tapi sebelum para orang dewasa itu membukanya Tara berhasil mengeditnya dan beruntung semua orang percaya.
Yasa langsung memeluk Tara, dia tentu bangga dengan sang putra. Sedangkan Kaluna meskipun ia percaya tapi banyak keraguan dalam hatinya. Ia merasa Tara banyak menyembunyikan sesuatu.
πππ
Juragan Tatang tertawa puas. Awalnya ia ingin marah karena Tarjo melakukan pekerjaan nya tidak sesuai dengan perintah namun ternyata hasil yang diberikan Tarjo cukup memuaskan. Bahkan Tatang mengakui bahwa apa yang dikerjakan Tarjo sungguh memuaskan.
" Untung kau bergerak lebih dulu Jo. Jika tidak maka kita tidak akan melihat kebun Raffan hancur. Aku yakin setelah ini mereka tidak akan bangkit lagi. Dana yang dibutuhkan untuk mengembalikan kebun tersebut tentu tidaklah sedikit. Kau yakin mereka akan kesulitan dan dengan senang hati menjualnya."
Tarjo mengangguk, ia juga berharap saat itu tiba. Ia akan jadi orang pertama yang akan bertepuk tangan atas kebangkrutan Raffan.
Tarjo teringat alan sesuatu. Dimana ia yakin hal tersebut akan membuat suasana semakin ramai dan menyenangkan.
" Juragan, anak perempuan Raffan sudah kembali. Ini saatnya kita memulai rencana selanjutnya."
Juragan Tatang tersenyum penuh makna. Dia tentu merasa sangat senang saat mengetahui kabar tersebut. Bagai kejatuhan bulan, perumpamaan itu yang menggambarkan perasaan Tatang kali ini. Ia merasa apa yang diinginkan satu persatu tercapai.
Rencana Tatang untuk menghancurkan Raffan benar-benar seperti dipermudah. Kemarin kebun yang sudah dia hancurkan dan kali ini ia akan membuat Raffan benar-benar jatuh terpuruk.
Sebuah rencana sudah ia susun di dalam kepalanya. Ia hanya tinggal mengeluarkannya lalu meminta para anak buahnya untuk mengeksekusi rencana tersebut.
" Kumpulkan warga beritahu mereka satu persatu apa yang sudah aku katakan kepadamu. Jangan lupa masukkan seseorang untuk membuat suasana semakin ramai."
"Siap Juragan."
Tarjo mengangguk patuh. Pria itu kemudiaan pamit untuk pergi dan langsung melakukan apa yang diminta oleh sang juragan.
TBC