
Media sosial langsung gempar. Baru beberapa menit ditayangkan, ribuan orang menekan tombol suka. Ada sekitar lebih dari seratus ribu orang menyaksikan dan lebih dari 500 orang berkomentar.
Tidak hanya itu, beberapa cuplikan video tersebut juga dibagikan ke akun-akun media sosial dan juga di comot beberapa portal berita online. Semua orang yang dekat dengan keluarga Dwilaga tentu begitu lega karena respon masyarakat sungguh positif.
Mereka juga senang, perkataan buruk yang awalnya ditujukan oleh Kaluna sekarang berubah menjadi kalimat yang memotivasi ibu satu anak itu.
Tidak sedikit yang memuji Kaluna karena begitu legowo menerima semua yang terjadi dalam hidupnya. Beberapa ada yang melihat kedalam diri dan mengatakan jika itu terjadi pada diri mereka mungkin tidak akan sekuat Kaluna.
Pergi meninggalkan keluarga, memilih melewati semua kesulitan sendiri tanpa berpikir untuk meminta pihak pria bertanggung jawab karena merasa diri sendiri yang bersalah. Namun, meskipun begitu ada juga yang mengkritik. The power of media social, orang yang membenci bisa jadi menyukai melalui sebuah tayangan.
" Alhamdulillah ya kak, semua sudah kembali kondusif." Hasna memeluk lengan suaminya. Ia sungguh lega akhirnya permasalahan putra sulungnya itu selesai juga.
" Iya sayang, aku tidak menyangka dalam perjalanan hidup kita, kita akan mengalami fase ini. Apa yang selalu aku takutkan dulu malah menimpa keluarga kecil kita."
Ingatan Radi kembali ke puluhan tahun silam saat ia begitu posesif kepada adik bungsunya, Rinjani.
" Haish, kalau inget saat itu aku bener-bener gemes sama tuh bocah."
" Siapa?"
" Jani, siapa lagi. Itu bocah selalu bikin ulah. Nggak habis-habisnya buat ayah sama bunda puyeng. Aku yang ketakutan dia terlibat pergaulan bebas malah terjadi pada putra kita sekarang. Walaupun Yasa tidak masuk dalam kategori itu. Tapi oke, close book. Semua sudah terjadi. Semoga Allaah mengampuni dosa-dosa putra dan menantu kita."
Hasna mengaminkan apa yang didoakan Radi. Takdir yang digariskan memang tidaklah bisa diubah. Jalani dan berusaha melakukan yang terbaik.
Di tempat lain Raffan dan Vanka menangis. Bukan karena sedih tapi menangis bahagia. Akhirnya kemelut keluarga sang putri berhasil di selesaikan. Sungguh ujian itu tampak nyata, belum ada 2 bulan menikah badai besar langsung menghantam bahtera rumah tangga Kaluna dan Yasa.
Dan, melihat semua ini sekarang Vanka bersama Raffan mengucapkan syukur. Sebaris doa juga mereka panjatkan agar putri, menantu dan cucu mereka selalu dilimpahi keberkahan.
Sedangkan di Soul Restourant, setelah usai dengan acara tersebut semua orang kembali ke rumah masing-masing. Yasa dan Kaluna tersenyum. Ada rasa lega luar biasa di dada mereka. Sama-sama tidak ingin melihat media sosial, baik Yasa maupun Kaluna memilih mematikan paket data internet mereka.
Ucapan terimakasih ia sampaikan sebesar-besarnya kepada orang-orang yang sudah setiap mendukung dan membantu keduanya.
" Boy, makan dulu baru istirahat ya," ucap Yasa kepada sang putra.
Tara mengangguk, tapi dia meminta izin untuk kembali ke kamar sejenak berganti baju. Padahal Tara ingin memeriksa ponsel dan tabletnya. Tadi memang sengaja tidak membawa gawai agar bisa fokus dnegan acara di Soul Restourant.
" Bagus tidak ada apapun."
Tara meletakkan kembali ponsel dan tabletnya setelah memastikan tidak ada sesuatu yang penting. Ia bergegas mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman di pakai di dalam rumah. Bocah itu pun kembali, di meja makan ayah dan bundanya sudah menuggu.
" Boy, ayah punya sebuah rencana. Kita akan berlibur."
" Ha?"
" Tapi yah, gimana dengan lukisan-lukisanku?"
" Memangnya lukisanmu kenapa boy, bukannya itu hanya sekedar hobi saja. Ya nanti kalau udah pulang liburan kamu lanjut lagi lah. Kamu itu lho udah kaya dikejar deadline."
Tara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ucapan sang ayah sepenuhnya benar tapi tidak mungkin ia mengatakan " Memang iya aku dikejar deadline yah," bisa curiga semua isi rumah.
Tara akhirnya memilih diam. Dia akan memikirkan itu nanti. Saat ini adalah waktunya dengan keluarga. Ia tidak ingin mencampuradukkan urusan pekerjaan dengan urusan keluarga.
Suasana damai yang memenuhi rumah keluarga Dwilaga dan Danendra sungguh berbanding terbalik dengan suasana sebuah keluarga yang kepala keluarganya saat ini sedang marah besar. Meskipun dalam video tersebut wajah wanita yang menjebak Kaluna di samarkan tapi pria berusia 52 tahun itu sangat tahu siapa wanita tersebut.
" Seret dia pulang sekarang juga. Dasar anak kurang ajar."
Pria tersebut sungguh marah. Wajahnya memerah dan tangannya mengepal erat. Rasanya ia ingin menghancurkan benda apapun yang ia pegang saat ini.
" Pa, istighfar pa." Sang istri tampak menenangkan. Tapi sepertinya hal tersebut belum bisa meredakan amarahnya.
Seorang pemuda kemudian berlari ke luar rumah. Ia melaksanakan perintah papa nya itu untuk membawa orang yang dimaksud.
Rudi Wibowo, pemilik dealer mobil di beberapa kota besar di Jawa Barat itu sungguh tidak habis pikir dengan kelakuan putrinya. Ya, Rudi adalah ayah dari Klara. Maka dari itu dia tahu betul wanita yang ada di dalam video tersebut.
Sepertinya Rudi kali ini harus menahan Klara di rumah. Bila perlu dia akan mengikat tangan dan kaki putrinya itu agar tidak selalu membuat onar.
" Jual apartemen yang ditempati. Tarik semua fasilitas yang di pakai. Usia sudah 26 tahun tapi kelakuan seperti abg. Sesukanya sendiri, tidak ada tanggungjawabnya sama sekali. Diberi kemudahan malah sesuka hati. Sudah bagus waktu itu Surya melamar malah ditolaknya."
Rudi mengacak kepalanya dengan kasar. Beruntung wajah Klara tidak diekspos, jika iya sudah bisa dipastikan apa yang bertahun-tahun dia bangun akan hancur begitu saja.
" Apa dia tidak tahu siapa yang dihadapi. Berani-beraninya menyenggol keluarga Dwilaga. Cari mati itu anak."
Rudi masih terus saja berbicara. Sang istri yang duduk disebelah Rudi hanya bisa diam sambil mengusap punggung suaminya. Ia membiarkan suaminya meluapkan semua amarah yang saat ini ada di dada nya.
Setengah jam berlaku, Rudi mulai tampak tenang. Tapi rupanya itu tidak berlangsung lama. Amarahnya kembali memuncak saat melihat Klara dibawa pulang oleh Krisna.
" Sini kau! Apa yang sudah kau lakukan hah!"
" Papa apaan sih. Kak Krisna tiba-tiba minta aku pulang dan ini papa tiba-tiba marah-marah nggak jelas gini."
Rudi mengambil nafasnya dalam-dalam, ia harus mengendalikan dirinya. Jangan sampai tangannya melayang ke arah putrinya itu. Dengan sekali sentuh Rudi langsung memperlihatkan video yang beredar di media sosial. Mata Klara membelalak. Ia sungguh terkejut. Sedari pagi wanita itu sama sekali belum melihat ponsel jadi dia tidak tahu apa yang sedang ramai diperbincangkan di dunia maya tersebut.
" Ini, ini apa. Terus bagaimana bisa. Bukankah ini saat aku ketemu Zion. Tapi kenapa Zion di sana, apa ini? Mereka ada hubungan apa?"
TBC