Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 92.


Pagi hari vila Kaluna sudah diketok pintunya. Mang Didi yang baru kembali dari masjid setelah sembahyang subuh terkejut melihat dua mobil yang tidak ia kenali. Ditambah 4 orang berpakaian begitu rapi. Seperti orang yang mau kondangan, begitulah yang dipikirkan oleh Mang Didi.


Pria paruh baya itu mendekat dan menyapa mereka semua, " Selamat pagi semuanya ada yang bisa saya bantu?"


" Aah begini, apakah benar ini vila milik Kaluna? Saya sudah menghubungi Yasa putra saya tapi kok belun juga di balas."


" Owalah orang tuanya Den Yasa, mari silahkan masuk. Maaf Tuan, mungkin masih belum pada bangun. Tapi biasanya Den Yasa dan Neng Kaluna udah bangun jam segini."


Man Didi baru mengetahui bahwa yang berdiri di depan vila adalah mertua Kaluna. Pasalnya Mang Didi tidak tahu, dia dan Mbok Yem tidak menghadiri pernikahan Kaluna dan Yasa waktu itu sehingga ia hanya mengenal Yasa.


Pintu vila di buka, Radi menjelaskan bahwa mereka datang bersama kedua orang tua Zion. Mang Didi tentu bingung, siapa lagi lah Zion ini. Yang dia tahu di vila itu tidak ada orang lain selain suami dari Kaluna. Mang Didi hanya menatap dengan penuh keheranan.


Pria paruh baya itu memilih berlalu ke dapur dan mencari sang istri untuk segera membuatkan minuman panas. Jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi, di luar masih terlihat gelap dan udara juga begitu dingin.


" Laah, kok udah pada sampai ke sini. Kenapa nggak ngabari?" Ucapan Yasa ditanggapi oleh tatapan tajam Hasna. Pria itu tentu tidak tahu mengapa, hingga sebuah kode membuatnya teringat akan ponselnya.


" Aaah maaf yah, bu, ponsel Yasa silent mode."


Yasa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia lantas mencium punggung tangan keempat orang itu bergantian. Dari arah kamar, Kaluna yang mendengar suara mertuanya segera bergegas keluar. Selepas subuh tadi dia memilih tidur kembali, padahal biasanya tidak.


" Maaf yah, bu, Kaluna tidak tahu kalau ayah dan ibu akan ke sini?"


" Tidak apa nak. Kami sudah bilang kepada suamimu, tapi tampaknya suamimu lupa."


Hasna memeluk sang menantu, bergantian dengan Elisa. Kaluna sudah mengenal Elisa dan Arduino saat ia menikah dengan Yasa. Jadi, Kaluna tentu tidak asing dnegan paman dan bibi nya itu.


Yasa pun segera menghubungi Zion, dan Kaluna memilih menuju untuk memasak. Awalnya Hasna dan Elisa mau membantu, tapi Kaluna melarang mengingat ibu mertua dan bibi nya itu sudah berdandan rapi untuk menuju ke rumah Zalfa. Semalam Yasa menjelaskan kepada Kaluna bahwa hari ini keluarga Zion akan melamar Zalfa. Terang saja Kaluna juga senang mendengar hal itu.


Sedangkan Radi memilih mendatangi kamar sang cucu. Setelah bertanya kepada putranya dimana letak kamar cucunya, Radi langsung mengetuk pintu kamar Tara dan masuk ke sana. Rupanya dibelakang Radi, Ar turut mengekor.


" Assalamualaikum cucu opa, serius sekali sampai opa datang tidak tahu."


" Waalaikumsalam opa, eeh opa kapan datang. Laah ada Baba Ar juga."


Seketika Radi tergelak saat mendengar Tara memanggil Ar dengan sebutan Baba. Ar hanya menggaruk kepalanya, seperti inikah nanti kalau dia punya cucu, begitulah kira-kira apa yang dipikirkan Ar. Pikiran pria paruh baya itu benar-benar sudah jauh, baru juga sang putra mau melamar dia sudah berpikir memiliki cucu.


" Iya, kan kita mau mengantar paman Zi melamar bibi Zalfa."


" Aaah, begitu."


Ar memindai seluruh bagian kamar milik Tara. Hingga matanya tertuju pada sebuah lukisan yang saat ini sedang dikerjakan oleh bocah tersebut. Ar sedikit mengerutkan keningnya saat melihat lukisan tersebut. Ia seperti mengenal nya. Ya, awalnya ingin libur saat berada di vila tapi ternyata Tara tetap melukis memenuhi keinginan seorang pelanggan. Beruntung dia meninggalkan beberapa kanvas beserta cat nya di sana jadi Tara langsung bisa mulai sedikit mengerjakan lukisan tersebut.


" Mbelgedes kamu Ar. Iya oke. Tunggu."


Tara memicingkan matanya, ia merasa sepertinya Baba Ar sengaja meminta Opa Radi untu pergi meninggalkan mereka di sana. Ar kemudian berjalan mendekat ke arah Tara dan menarik kursi lalu duduk di sebelah bocah itu.


" Lukisan apa itu boy?"


" Ya setahu Tara itu lukisan sebuah padang bunga matahari baba. Tapi ada sebuah bangunan di tengah nya."


Ar sedikit menelisik wajah cucu keponakannya itu, ia tentu tahu bahwa bocah disampingnya tersebut bukanlah bocah biasa. " Apakah ini permintaan seseorang? Jika iya siapa dia?"


Tara langsung mengambil tabletnya dan memberitahu siapa pemesan lukisannya kali ini. Entah, tidak biasanya Tara begitu terbuka kepada seseorang. Tapi Ar, bocah itu langsung menurut apa yang dikatakan Ar.


" Benoit Aimo? Sepertinya aku pernah mendengar nama ini."


Ar berdiri lalu mengambil ponselnya. Bisa Tara tahu bahwa baba nya itu sedang menghubungi seseorang. Terlihat raut wajah serius di sana.


Tak berselang lama, Ar kembali duduk di sebelah Tara dan mematikan ponselnya. " Hapus segera surel itu. Dan matikan ponsel dan tablet mu selama beberapa hari. Dia sedang melacak mu."


Tara menelan saliva nya dengan susah payah. Bagaimana bisa seperti itu. Bukankah kemarin kata Mr. Sun jika ada yang menerobos kemanan surel nya akan ketahuan lalu mengapa Baba Ar mengatakan ada yang mencoba membobol surel miliknya.


Dengan sedikit keberanian Tara langsung mengatakan mengenai O'Connell kepada Ar. Ia merasa Ar adalah orang yang banyak tahu.


" Baba, Tara mau bercerita tapi Tara mohon jangan beritahu ke ayah bunda ataupun opa dan oma. Beberapa hari lalu Tara mendapat pesan ancaman dari Hanson O'Connell. Apakah pria itu ada hubungannya dengan Benoit Aimo?"


At langsung membulatkan matanya saat Tara bercerita. Bagaimana bisa bocah sekecil itu mengenal seorang sindikat penjualan benda-benda antik ilegal yang sudah terkenal di dunia bawah. Meskipun Arduino sudah tidak aktif di dunia bawah akan tetapi informasi mengenai apa yang terjadi di sana dia dan Silvya masih tetap tahu. Apalagi mengenai pria tersebut.


Melihat keterkejutan Arduino, Tara kemudian menjelaskan Siapa dirinya kepada pria paruh baya yang ada di sampingnya itu.


" Astaga bocah, kau ini benarkah Raka Pittore. Dan mengenai O'Connell tadi, dia memintamu untuk menduplikasi lukisan? Sungguh tidak bisa dibiarkan pria itu. Semakin haru semakin gila saja tingkahnya. Ya mereka berdua berhubungan, jika merunut ceritamu tampaknya Benoit memang sengaja memesan lukisan itu untuk mendeteksi keberadaan mu. Dan mungkin Mr. Sun tidak menyadari hal ini."


Tring


Sebuah pesan masuk ke ponsel Ar. Rupanya dari sang saudara kembar. Pesan tersebut berisi mengenai apa yang dikatakan Mr. Sun mengenai Benoit.


" Meskipun agak terlambat tapi Mr. Sun mampu mencekal Benoit untuk mendapatkan alamatmu. Saat ini Mr. Sun sedang mengacaukan keberadaan mu bocah."


Tara bernafas lega tapi itu justru membuatnya muncul banyak pertanyaan dalam kepalanya kira-kira siapa Baba Arduino ini, mengapa dia serba tahu. Bahkan Mr. Sun saja tahu.


TBC