Jangan Menangis Bunda

Jangan Menangis Bunda
JMB 63. Pembelaan Kaluna


Ari, wartawan yang ada janji temu dengan Kaluna itu sampai juga di tempat parkir Soul Restourant. Dnegan membawa rekan wanitanya yang bernama Tia, Ari pun melangkah dengan pasti untuk menemui Kaluna.


" Emang harus banget sama gue?"


" Dia nya nggak mau ketemu gue sendiri. Katanya gue harus ngajak rekan cewek, takut ada fitnah."


Tia mengangguk paham meskipun sedikit heran. Jika benar yang publik katakan mengenai Kaluna, sepertinya akan sangat jauh berbeda dari aslinya. Dan, sepertinya apa yang mereka pikirkan benar. Kaluna yang Ari dan Tia temui sungguh berbeda dari berita yang beredar.


Kaluna yang Ari dan Tia temui adalah wanita tertutup dengan pakaian longgar dan jilbab yang besar. Bahkan uluran tangan Ari hanya disambut Kaluna dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Barulah saat Tia menyalami Kaluna, wanita berhijab itu mau menjabat tangan Tia.


" Apa kita bisa langsung mulai saja? Apakah bisa membuat ini sebagai siaran langsung?"


Ari dan Tia saling pandang, untuk membuat siaran langsung tentu keduanya harus mendapat izin dari atasan tempat mereka bekerja. Ari kemudian terdiam sejenak mencoba memikirkan sesuatu hal.


" Mbak, ini saya rekam dulu video Mbak Kaluna nya nanti saya akan share di youtube perusahaan. Tapi sekarang saya bisa membuat siaran langsung di media sosial saya. Bagiamana mbak?"


" Baik, mari lakukan itu."


Ari dan Tia mengangguk. Tia akan berperan sebagai pewawancara dan Ari akan merekam menggunakan ponselnya. Ia tentu tidak menyangka jika Kaluna akan meminta sebuah siaran langsung. Awal rencana hanyalah wawancara berupa tanya jawab biasa. Ari hanya membawa alat perekam yang biasa dia gunakan untuk mewawancarai nara sumber.


Di vila Yasa sungguh bingung. Mau menyusul Kaluna kemana sungguh dia tidak tahu. Terlebih di sana tidak lagi ada mobil. Di balik sikap bingungnya itu Tara keluar dari kamar nya. Bocah itu kemudian menanyakan keberadaan sang bunda. Yasa hanya bisa menjawab bunda nya pergi tapi tidka tahu kemana.


Tara kembali ke kamarnya dan mengambil ponsel. Ia tentu akan menghubungi salah seorang anggota Wild Eagle yang memang bertugas mengikuti kemana Kaluna pergi.


" Yah, Tara tahu dimana bunda."


Yasa mengerutkan kedua alisnya, dia saja tidak tahu kemana sang istri pergi dan putranya begitu mudah mengatakan dimana Kaluna berada. Tapi entah mengapa Yasa percaya saja kepada sang putra.


" Yah, minta Paman Zion kemari membawa mobilnya. Kita pinjam mobil paman."


" Astagfirullaah, kok ayah nggak kepikiran ya."


Yasa menepuk keningnya pelan. Sungguh dia tidak berpikir hingga ke situ. Kepanikan membuat bapak satu anak itu tidak bisa berpikir secara rasional. Otaknya seketika blank saat mengetahui sang istri pergi dari rumah. Kecemasan memenuhi hatinya. Mengingat betapa Kaluna mampu menjalani kehidupan kerasnya di Kota S, Yasa sungguh khawatir Kaluna akan melakukan ide nya yang dikatakannya semalam.


" Semoga kamu tidak melakukan itu Kal."


Ckiiiiit


Hanya 5 menit setelah Yasa menghubungi Zion, pemuda itu sudah memarkirkan mobilnya di depan Vila. Yasa, Tara, Raffan dan Vanka pun langsung berlari keluar.


" Ayo masuk, aku akan menyetir," ucap Zion kepada sang kakak.


" Mama dan papa di rumah saja ya. Tunggu di rumah kalau Kaluna pulang lebih dulu dari pada kita."


Raffan dan Vanka mengangguk setuju. Memang mereka harus ada di rumah.


Zion pun langsung melajukan mobilnya sesuai instruksi Tara. Agak ragu sebenarnya, tapi kedua orang dewasa itu yakin saja dengan apa yang diarahkan oleh Tara.


Sepanjang perjalanan Yasa tidak henti-hentinya berdoa agar kaluna tidak melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Zion sejenak melirik ke arah sang kakak sepupu. Pemuda itu bisa mengerti jika saat Yasa sedang begitu khawatir tapi Zion tidak tahu apa yang dikhawatirkan sang kakak.


" Dia ingin menanggung semua berita yang beredar tentang kami dengan mengaku bahwa dialah yang menjebak ku."


" Apa?"


Zion hampir saja mengerem mendadak saat Yasa mengatakan hal tersebut. Bagaimana bisa Kaluna berpikir seperti itu sekarang. Zion tahu berita yang sedang memanas tersebut tapi sungguh dia tidak tahu kalau Kaluna akan melakukan ide tersebut.


" Kak, jika itu terjadi apa publik tidak akan menghujat kakak ipar habis-habisan. Aku sungguh khawatir."


" Itulah yang aku khawatirkan Zi. Semoga kita tidak terlambat."


Doa itulah yang Yasa ucapkan dalam hatinya. Tapi sepertinya doanya kali ini tidak akan terkabul. Tara yang sedari tadi memegang tabletnya langsung melihat berita Kaluna melakukan wawancara langsung. mekipun itu berbentuk repost, tapi bisa diambil kesimpulan bahwa Kaluna bahkan sudah selesai melakukan wawancara tersebut.


" Yah, sepertinya kita terlambat."


Tara mengatakan hal tersebut sembari memberikan tabletnya kepada sang ayah. Mata yasa membulat sempurna saat melihat apa yang Kaluna lakukan. Air mata pria itu jatuh tak terbendung. Zion sejenak menepikan mobilnya dan mengambil tablet yang dipegang oleh Yasa.


" Kak, dia melindungi mu. Dia sungguh wanita yang baik. Dia menanggung semuanya sendiri."


Tara yang duduk di kursi belakang hanya terdiam. namun tangannya tak berhenti bergerak. Ia memberikan instruksi kepada anak buah Wild Eagle untuk mengawal bundanya kemanapun bunda nya pergi dengan selamat.


Rupanya saat ini Kaluna sedang melakukan perjalanan kembali ke arah vila. Tara pun meminta sang paman untuk kembali juga ke vila. Tentu saja Zion bingung dengan perintah sang keponakan.


" Lho boy, bukannya kita mau menyusul bunda mu."


" Bunda sedang on the way balik ke vila paman. Jadi lebih baik kita balik saja."


Yasa yang mendengar ucapan sang putra mengangguk. Zion pun memutar mobilnya dan kembali ke vila. Yasa masih terdiam, mencerna setiap apa yang Kaluna ucapkan dalam vidio tersebut.


" Assalamualaikum, saya adalah Kaluna istri dari Pak Yasa Naratama Dwilaga. Di sini saya akan menyampaikan suatu hal, Pak Yasa adalah seorang pria yang baik dan tidak neko-neko. Kami memang sudah menikah tapi kami pun juga tidak menikah diam-diam. Kami menikah dihadiri oleh sanak saudara dan teman dekat. Jika kalian bertanya bahwa kami menikah karena hamil duluan itu bisa dikatakan salah tapi juga bisa dikatakan benar."


Dalam video tersebut Kaluna sungguh tenang saat berbicara, tidak ada kegugupan sama sekali.


" Saya memang menikah dengan pak Yasa karena kami punya putra yang berusia 5 tahun. Semua adalah kesalahan saya saat masih muda dulu. Di sini pak Yasa tidak bersalah sama sekali. Semua terjadi karena saya lah yang menjebak pak Yasa. jadi saya mohon stop untuk mengatakan hal buruk terhadap Pak Yasa, sungguh Pak Yasa tidak bersalah sama sekali. Dan kemarin kami menikah saya tidak hamil. Saya rasa ini cukup. Wassalamulaikum."


Saat Kaluna selesai dengan video nya Atri dan Tia hanya menunduk. Mereka tidak menyangka Kaluna akan mengakui semuanya seperti itu. Sebelum merekam video tersebut, Kaluna terlebih dulu menceritakan kronologis kejadian tahun silam. Sebenarnya itu adalah ranah pribadi, tapi semua terlanjur diketahui publik jadi ya sudah ia pun menceritakannya kepada Tia dan Ari.


" Mbak, kenapa kita tidak mengatakan saja bahwa mbak juga dijebak?" tanya Tia.


" Percuma Mbak Tia, kami tidak ada bukti. biarlah saat ini publik menganggap saya begitu. yang penting nama suami saya bersih."


Tia dan Ari


sungguh salut dengan keberanian Kaluna. Akhirnya Ari pun menutupi wajah Kaluna dengan sebuah emoticon saat menang upload video tersebut. Sehingga orang-orang tidak tahu wajah Kaluna yang sebenarnya.


TBC