
Sebuah suara teriakan begitu lantang terdengar dari arah belakang kursi-kursi yang tersusun rapi. Semua orang seketika langsung melihat ke arah sumber suara. Seorang pria terlihat terengah-engah seperti habis lari maraton disana.
Beberapa orang menepuk kening mereka pelan. Terlebih kakak dan saudara kembarnya.
" Astagfirullaah Ram, putramu yang satu itu memang luar biasa," ucap Arjuna Dewantara kepada sang sahabat.
Sebuah tatapan tajam Rama layangkan kepada salah satu putra kembarnya itu. Ya, pria itu adalah Abra. Dengan dalih masih ada sesuatu yang diurus membuat Abra tertinggal dibelakang saat ayah, mommy dan saudaranya sudah terlebih dulu datang.
Sebuah tarikan telinga dilakukan oleh Sita, ibu dari Abra. Ia sungguh kesal dengan kelakuan putra bujang lapuknya itu. Saat semua saudara kembarnya sudah memiliki anak, Abra masih betah hidup menjomblo.
" Mom, sakit."
" Kamu hampir saja mengacaukan acara ijab qabul. Beruntung memang belum mulai. Kamu itu hampir dikira pria yang tidak setuju wanitanya menikah."
" Heleeh, mommy kebanyakan baca novel online nya milik tante Hasna."
Sita hanya bisa menahan rasa kesalnya melihat kelakuan salah satu putranya tersebut. Sedangkan Kai, kakak pertama Abra langsung menatap Abra tajam. Barulah pria itu beringsut duduk dan mengunci mulutnya. Dalam keluarga Joyodiningrat, Kai adalah pemegang tahta tertinggi. Pasalnya Abra tidak bisa berkutik jika sudah di ultimatum oleh abangnya tersebut.
Semua kini kembali ke meja akad. Sejenak ada iklan membuat suasana tegang tadi menjadi sedikit mencair. Semua kembali fokus kepada Raffan dan Yasa.
" Baik, mari kita lanjutkan. Bagus ada selingan, jadi biar nggak terlalu tegang. Makasih yo mas." Penghulu tersebut mengucapkan hal tersebut kepada Abra. Abra hanya tersenyum kaku.
" Nak Yasa, saya hanya ingin menyampaikan agar nak Yasa menjaga putri saya. Saya akan memulai ya nak. Ananda Yasa Naratama Dwilaga, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Kaluna Trisha Danedara ... ."
" SAH !"
Teriakan kata sah oleh seseorang tedengar paling keras. Lagi-lagi Abra menjadi pusat perhatian di sana. Ya, Abra lah yang berteriak. Tapi selanjutnya untaian doa terucap dari setiap orang.
Di dalam kamar Kaluna menitikkan air matanya saat kata sah terdengar hingga ke kamar. Wanita itu sungguh merasa haru. Ciara dan Vanka mengucapkan selamat kepada Kaluna.
Mulai detik selanjutnya ia sudah berubah status mejadi seorang istri. Kaluna mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dengan mengucapkan bismillah, ia didampingi oleh Ciara dan dan sang mama berjalan menuju tempat dimana Yasa duduk menunggu.
Yasa sejenak terpaku melihat Kaluna. Istrinya itu terlihat begitu cantik dengan gaun muslimah longgar berwarna nude dengan jilbab lebar warna senada. Di atas kepalnya disematkan tiara, yang menambah cantik tampilan Kaluna. Make up natural terlihat begitu elegan.
Kaluna di dudukkan dekat dengan Yasa. Mereka kemudain melakukan prosesi penandatangan buku nikah. Yasa dan Kaluna juga melakukan bertukar cincin. Kaluna meraih tangan Yasa dan menciumnya singkat.
Yasa lalu meletakkan tangannya di kepala sang istri. Melafalkan sebaris doa lalu mencium kening Kaluna sejenak. Dalam hati keduanya berharap bahwa pernikahan mereka yang berasal dari kesalahan 6 tahun yang lalu itu bisa menjadi salah satu cara mereka memperbaiki kesalahan.
Sekali lagi, tidak ada manusia yang tidak melakukan dosa. Termasuk Yasa dan Kaluna, dan mereka saat ini sedang berusaha untuk bertaubat menebus setiap kesalahan masa lalu yang diperbuat.
Ucapan selamat dan doa satu persatu disampaikan oleh sanak saudara. Kaluna sedikit terkejut saat mengetahuyi orang-orang yang datang itu adalah orang-orang yang wajahnya sering berseliweran di media sosial dan portal berita.
Wanita itu tampak gugup, ia merasa begitu kecil diantara mereka. Yasa yang paham dengan kegelisahan Kaluna pun seketika menggenggam erat tangan Kaluna.
" Mereka adalah orang yang baik, jangan minder atau sejenisnya. Apa yang ditampilkan media jauh berbeda dengan kehidupan asli."
Kaluna mengangguk, wanita itu kembali tersenyum dengan setiap ada yang menghampirinya. Yasa selalu menjelaskan siapa orang yang sedang menyalami mereka. Kaluna belum tahu saja bagaiamana kelakuan keluarga-keluarga itu jika sedang berkumpul, mungkin Kaluna akan sangat syok jika sudah tahu.
" Ayaah, bunda!"
" Apakah setelah ini kita menjadi keluarga dan bisa tinggal bersama?"
" Tentu saja boy, kita akan tinggal bersama mulai dari sekarang."
Terlihat pancaran kebahagiaan dari wajah tara. bocah itu benar-benar bersyukur karena hingga detik ini ancaman pria yang bernama hanson O' Connel itu tidak terbukti. Meskipun demikian Tara memasang sikap waspada. Rencananya hari ini dia akan mengirim surel kepada Wild Eagle untuk melindungi keluarganya. ( Maapkan author ya, yang nggak bisa lepas sepenuhnya dari Wild Eagle, Black Wolf, dan Mr. Sun)
Di sisi lain Raffan sedang menyapa para tamu yang sebenarnya lebih tepatnya para keluarga dari besannya. Ia sungguh merasa kikuk. terlebih dulu juga dia pernah bekerja di Star Building, perusahaan milik Arjuna Dewantara.
" Raf, selamat ya. Nggak nyangka malah kamu yang mantu duluan, dapat ponakan ku lagi."
" An, terimakasih ya. Sekali lagi aku minta maaf atas kejadian lalu. Za, aku minta maaf, sungguh."
Raffan menunduk di depan Andra dan Zanita. Di sebelah Andra, Zanita langsung memeluk Vanka yang baru saja menghampiri mereka. Vanka menangis dipelukan sang sahabat tersebut. Banyak hal buruk yang dulu pernah dilakukan Vanka terhadap sahabatnya itu.
" Van, sudah ah. Itu sudah puluhan tahun silam. kamu sekarang sudah sangat jauh berubah. Lihatlah, bahkan kamu lebih religius sekarang. Aku malah belum bisa berhijab seperti yang kamu lakukan. Selamat atas pernikahan putrimu ya. Semoga sakinah mawadah warohmah."
Vanka mengangguk, ia menghapus air matanya dan membawa Zanita dan Andra untuk menikmati hidangan yang sudah mereka siapkan.
Ciara, adik sepupu dari Kaluna sungguh merasa terharu melihat sang kakak bersanding di pelaminan. Apalagi tawa renyah sang keponakan begitu terdengar membuat dia ikut merasakan bahagia. Anehnya gadis itu tidak merasa sedih ataupun sakit hati saat melihat Yasa berada di sana. Sungguh dia merasa begitu bahagia.
Ciara memindai setiap sudut rumah mencari dimana mama dan papanya berada. Namun, seketika matanya berhenti dan tertuju pada seseorang yang pernah ia temui di kedai seblak.
" Lho, itu bukannya om Rama ya."
Ciara berjalan mendekat ke arah Rama dan seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik diusianya yang tidak muda lagi.
" Assalamualaikum Om Rama," sapa Ciara ramah.
" Waalaikumsalam, Laah kamu Ciara kan. Sayang kenalin ini Ciara yang tempo harti ketemu di kedai seblak. Kamu kok disini?"
" Saya adik sepupu Mbak Kaluna."
Rama mengambangakan senyumnya. Sita lantas melihat ke arah sang suami dan berbisik pelan menanyakan ada apa, kenapa suaminya itu seperti suka sekali bertemu dengan gadis di depan mereka itu.
" Kandidat calon mantu sayang," bisik Ramna pelan ditelinga sang istri. Sita tentu tersenyum dan mengangguk setuju. Tak berselang lama ada dua orang pemuda menghampiri Rama dan Sita. Ciara memicingkan matanya saat melihat dua orang yang tidak asing bagi dirinya. Ya, dia adalah bos nya. Tapi mengapa ada dua.
" Ayah, mom, kayaknya kita balik dulu deh," ucap Akhza kepada rama dan sita.
" Looh pak Akhza kok ada dua?"
Rama dan Sita terkekeh geli melihat keterkejutan dari Ciara. Akhza pun tersenyum kecil sedangkan Abra menatap tajam ke arah wanita yang beberapa hari ini sangat suka sekali dia usilin.
" Iya AKhza baru aja kloning. Hllo, kamu sudah dua minggu kerja di perusahaan dan kamu nggak tahu kalau kami ini kembar. Ish ish ish, tak paut."
" Apa kembar? pantes beda, yang satu golongan kanan yang satu golongan kiri."
TBC