Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
Bab 6


Ada hari dimana ia mengingat bahwa dia telah berusaha keras.


Ada hari dimana ia merasa lelah dan ingin sekali menjadi orang gila.


Ada hari dimana ia putus asa lalu bangkit dan berjuang kembali hanya untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya.


Ada hari dimana ia sungguh berharap bahwa dirinya akan diberi satu kali kesempatan untuk memperlihatkan seluruh usaha dan kerja kerasnya.


Namun ternyata hari yang ia inginkan itu sirna dan tidak akan pernah terjadi.


Dia duduk dengan begitu pasrah, "kelihatannya semua orang membencimu, bagaimana kalau mereka tahu bahwa kau telah menolak perintah dari Putra Mahkota?, hmm," seorang laki-laki telah membuka suara, ia berdiri di belakang Putra Mahkota yang telah duduk dan memandang ke arah Greisy Hawysia yang telah diperintahkan untuk duduk di hadapan Putra Mahkota dan wanita itu melaksanakan perintah, "mereka pasti akan semakin membencimu, bukan?" laki-laki itu mengenakan seragam militer berwarna hitam, rambutnya terlihat sedikit panjang hingga memenuhi setengah bagian dari lehernya dan terbelah menjadi dua bagian. Meskipun begitu, ia terlihat memiliki aura sebagai seorang laki-laki berkharisma, dia juga tampak tampan jika saja rambutnya dipotong lebih pendek seperti potongan rambut Putra Mahkota.


"Maaf, bisakah saya mengetahui, perintah apa yang harus saya laksanakan?" Greisy Hawysia benar-benar merasa kebingungan dengan pernyataan dari bangsawan yang baru saja tiba tersebut, ia bahkan merasa telah diberikan sebuah tekanan keras sebelum ia sempat mendengarkan penjelasan atas perintah yang tiba-tiba saja muncul tanpa ia ketahui sebelumnya.


"Aku," Suara Putra Mahkota terdengar, hal itu membuat Greisy Hawysia yang tadinya memandang ke arah laki-laki di belakang Putra Mahkota, menundukan kepalanya, ".... Hm," Putra Mahkota meletakan salah satu siku tangan pada gagang kursi kayu lalu menyandarkan pipi, memiringkan kepala serta memandang lekat wajah Greisy Hawysia yang menundukan kepala, "... menolak untuk menjadi rajamu dan juga raja bangsa ini." Betapa mengejutkannya pernyataan yang baru saja dilontarkan oleh Putra Mahkota hingga nafas Greisy Hawysia terdengar berat, karena ia takut akan terjadi masalah pada dirinya atas rahasia besar yang telah ia dengarkan dari bangsawan murni negaranya tersebut.


"Yang Mulia, maafkan saya mendengarkan..."


"Tetaplah pada posisimu!" pada saat Greisy Hawysia ingin turun dari kursinya dan duduk, memohon maaf atas pendengarannya, ia diperintahkan keras untuk tidak melakukan perbuatannya tersebut oleh seorang laki-laki berseragam hitam lain yang tampak berdiri di belakang Putra Mahkota dan di samping laki-laki berambut sedikit panjang.


"Hm, tidak perlu takut, karena kau adalah rekan kerjaku mulai dari sekarang."


"Yang Mulia..."


"Bisakah kau tetap diam dan tidak menyela?" Seorang laki-laki berseragam putih yang berdiri di samping kanan Putra Mahkota berbicara tegas, suaranya lantang serta penuh penekanan hingga membuat Greisy Hawysia tertegun dan bahkan untuk sekedar meminta maaf sekalipun, wanita itu telah mengurungkan niatnya.


"Aku mencari tahu tentangmu, aku cukup merasa iba tetapi hanya sedikit saja." Putra Mahkota melanjutkan ucapannya sembari memperhatikan dengan seksama wajah Greisy Hawysia yang masih menundukan kepala, "...tidak perlu merasa iba pada manusia yang tidak berguna tapi jika kau berguna untukku, aku akan membuat pengecualian atasmu." Dia melanjutkan kembali kalimatnya. Tampak disela-sela bibirnya, sebuah senyuman tipis mengembang dan masih tertahan, "... aku perintahkan padamu, berpura-puralah menjadi bodoh!, meskipun aku tahu kau itu benar-benar bodoh, tetapi aku ingin kau lebih bodoh dari kebodohanmu yang biasanya, aku ingin kau menjadi penyebabku gagal dilantik menjadi Raja Negara ini, aku akan mencintaimu tapi hanya sebuah tipuan saja lalu mereka membencimu atas cinta yang kuberikan padamu dan kau harus pasrah menerimanya." Benar, hari itu bukanlah kesempatan baginya, hari itu bukanlah keberuntungan untuknya, hari itu, dia dipaksa untuk menyia-nyiakan usaha dan kerja kerasnya, mungkinkah dia memiliki kesempatan untuk menolak perintah?, ".. setelah semuanya berakhir, kau akan bebas, aku akan mengeluarkanmu dari wilayah ini dan kau bisa pergi ke penjuru belahan dunia manapun yang kau inginkan dan kau tidak perlu kekurangan atas apapun karena aku akan memberikan hadiah besar untuk kesabaranmu lalu kau bahkan masih bisa menerima penghormatan sebagai istri yang tidak akan pernah aku buang karena kebodohanku yang mencintaimu meskipun hanya kebohongan." Lanjut Putra Mahkota melontarkan perintahnya.


Ia masih terlihat memandangi wajah Greisy Hawysia yang terus menundukan kepala, menahan air mata untuk tidak jatuh membasahi pipinya.


"Jika kau kembali, pasti, kau akan menderita karena kebencian keluargamu di distrik ini, jika kau maju, kau juga akan menderita karena kebencian seluruh penduduk negara kita, tapi ingat satu hal, jika kau menerima perintah ini, kau tidak akan menderita sendirian, kau memiliki Putra Mahkota yang mencintaimu meskipun hanya omong kosong saja." Laki-laki berambut sedikit panjang dan berseragam hitam mengutarakan pendapatnya.


"Menderita selamanya karena kau tidak akan mungkin  bebas dari wilayah ini atau menderita sementara hingga pelantikan Cyriil Ellard Haeland digagalkan?, sekarang pilihlah!" laki-laki berseragam warna hitam lain, memberikan pertanyaan untuk Greisy Hawysia yang tampak menarik nafas berkali-kali dengan tubuhnya yang gemetaran dan wajahnya yang pucat semakin bertambah pucat.


Sepertinya mereka menyadari satu hal dan satu hal itu membuat pandangan mata Putra Mahkota menjadi tajam dan senyuman tipisnya bertambah remeh.


Dia bukanlah sebodoh yang mereka pikirkan.


Tidak akan mungkin orang bodoh dapat mengetahui pilihan mereka.


Jawaban wanita itu menandakan bahwa dia bukanlah orang yang patut untuk diremehkan.


Dia bukanlah orang bodoh yang langsung merasa ketakutan dan menjawab begitu saja lalu melontarkan pilihannya.


Dia adalah seorang pemikir keras yang tahu bahwa dia tidak memiliki pilihan lain selain hanya menerima perintah dan kenyataan pahitnya.


"Tentu saja tidak ada." Laki-laki berseragam putih mengubah pandangan remehnya untuk wanita itu, menjadi pandangan sedikit mengagumi, "sekalipun kau menolaknya, kami pastikan bahwa kau akan terus menderita hingga kau menerima perintah tersebut dengan lapang dada." Benar, sesuai dugaannya.


Dia tidak memiliki pilihan apapun karena dia tahu bahwa sebagian manusia yang berada di posisi atas dengan kedudukan tinggi akan berbuat semena-menanya.


Dia berpikir, mungkinkah itu alasan tuhan tidak pernah memperlihat dirinya karena tuhan tidak pernah memaksakan kehendaknya seperti sebagian manusia berkedudukan tinggi yang selalu memaksakan keinginan hati mereka?


Tidak beruntungnya dia bertemu dengan salah satu diantara manusia berkedudukan tinggi itu, lalu dia bertanya di dalam hati : 'kesalahan apa yang membuatnya bertemu dengan manusia berkedudukan tinggi itu?'


Jika dia bisa berharap, dia sangat ingin menjadi manusia dari kalangan biasa. Dia ingin menjadi bagian dari suku ozui saja atau Kulhi atau suku lain dan tidak perlu menjadi bagian dari suku terkaya agar hidupnya tentram dan tenang.


"Kau kira kau memiliki pilihan lain selain hanya untuk menerima perintah?"


Tidak,


Setelah mendengar perintah, dia telah mengetahui bahwa dirinya tidak akan mungkin memiliki pilihan lain selain hanya menuruti keinginan Putra Mahkota yang berkedudukan tinggi di hadapannya.


"Mulai sekarang jadilah tidak berguna, ikuti perintahku!, dan semua akan baik-baik saja." Kalimat terakhir dari Putra Mahkota pada hari itu ia dengarkan.


Lalu perlahan-lahan ia mengangkat kepala, kemudian memandang punggung Putra Mahkota yang telah bergerak menjauh meninggalkannya kemudian ia mulai berhadapan dengan seorang laki-laki yang masih tertinggal di sana.