Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
bab 16


Pintu lift terbuka,


Koridor lantai dua terlihat penuh dengan ruang-ruang belajar.


Sesekali Greisy melihat para pelajar tampak duduk di kursi berbentuk tangga, sesekali ia juga melihat para mahasiswa duduk di kursi lipat biasa.


Wanita itu terus melangkah menuju ruang kelas yang berada di ujung koridor dan di samping tangga.


Lalu langkahnya terhenti ketika ia melihat sesosok wanita paruh baya sedang memberikan bekal khusus pada seorang mahasiswi yang berdiri di depan pintu ruangannya.


Mata Greisy memerah, dia tersenyum pahit. Greisy mengenal wanita paruh baya itu adalah ibunya.


Dia melihat, ibu yang sangat ia inginkan sedang memakaikan pita rambut pada poni mahasiswi di depannya.


"Aaaaahhh…!" teriak Greisy keras, mengejutkan kedua wanita yang saling berhadapan, begitupula dengan penghuni ruangan di hadapannya hingga banyak orang yang memperhatikannya dari balik pintu.


Pita yang harusnya terkait, saat itu terjatuh.


Wanita paruh baya memandang Greisy dengan senyuman pahit.


"Grei!"


"Gosh, Menjijikan sekali!" Greisy membuang wajah ke samping, ke arah seorang pengajar yang tampak keluar dari sebuah ruangan karena mendengar suara teriakan.


"Jadwal kelasku sedang berlangsung, berhentilah membuat keributan atau aku akan memanggil penjaga militer!" Pengajar berjenis kelamin laki-laki itu memberi ancaman ketika melihat tatapan Greisy yang tajam.


"Maafkan sikapnya, Tuan! Dia mungkin tidak sengaja menggigit lidahnya sendiri." Dengan cepat wanita paruh baya datang lalu menarik tangan Greisy untuk membawa wanita itu pergi.


"Aku pikir, sebaiknya anda tidak sembarangan menyentuh tanganku, Madam!" dengan nada dingin, Greisy berseru sembari menghempaskan tangan ibunya.


"Grei!" tetapi Ibunya tidak peduli, wanita itu meraih tangan Greisy lagi untuk membawanya pergi dari sana.


"Ahhhh…! I said ' No Way', So that no way. You must get it," Greisy semakin berteriak keras dan itu memicu kedatangan banyak orang di koridor tersebut.


"Hey, You!" mahasiswi yang tadinya hanya berdiri di depan ruangannya mulai terpancing emosi, "Berhentilah membuat keributan di sini! dan juga, kenapa wanita tidak berguna sepertimu bisa berada di sini?" mahasiswi itu adalah Ella, seorang Classie dominan yang telah menemui Greisy sebelumnya, dia adalah putri adopsi dari ibunya.


"Ella, tenanglah!" Dan wanita paruh baya berusaha untuk menenangkan putri asuhnya tersebut.


"Hmm, hahahaha Ada apa denganmu? Mungkinkah mau marah hanya karena laki-laki yang kau cintai, melamarku untuk menikah?" Greisy memprovokasi, dia memandang remeh ke arah Ella yang semakin terpancing emosi.


"Apa… apa kau bilang?" tanya Ella, emosi.


"Panggil penjaga militer!" pengajar yang masih berdiri memberikan perintah pada seorang mahasiswanya, ia terlihat sangat marah.


"Maaf, Tuan, aku pikir anda tidak seharusnya melakukan itu," Laki-laki berkacamata telah datang mendekati, "Bisakah anda memaafkan sikapnya? Karena dia adalah mahasiswi saya hari ini."


Greisy memandang mata Classa pengajar— Callan Xyle Arsihean dengan tatapan tidak menyukai.


"Masuklah, Yang Mulia!" Dia


Classa pengajar memberikan perintah dengan menunjukan ruang kelas Greisy dengan tangannya.


"Aaaahhh," Greisy tersenyum kecut sembari memandang wajah marah Ella, "Aku tidak akan masuk jika dia berada di ruangan yang sama denganku, anda paham, Sir?"


"Apa? Lelucon apa lagi yang kau katakan?" teriak Ella ketika Greisy mulai melangkah kaki menuju tangga yang tak jauh dari posisinya berada.


"Alasannya?  beritahukan alasanmu tidak ingin berada di ruang yang sama dengan Lady Ella, Yang Mulia!" Pertanyaan Classa pendidik menghentikan langkah Greisy dan wanita itu segera berbalik kembali.


"Alasannya adalah karena dia sudah menyiksaky di satu hari sebelum menikah dengan suamiku," jawab Greisy, tersenyum mengejek pada Ella.


Dan ucapannya itu sungguh membuat ibunya begitu terkejut.


"Grei, Kenapa kau tega menuduhnya?"


Greisy mulai membenci Ibunya sendiri. Padahal selama hidup dia tidak pernah memiliki perasaan itu, tetapi karena Ibunya membela keras putri adobsinya maka perasaan benci itu muncul, dia benar-benar tidak ingin lagi menganggap wanita tersebut sebagai ibunya lagi.


 "Berhentilah memfitnahku, kau wanita Brengsek!"


"Oh yeah, aku berteriak tadi karena aku takut padanya." Greisy memeluk tubuhnya sendiri, lalu berpura-pura menggigil, "Aku takut… sangat takut kalau dia akan menyiksaku kembali, bukankah kalian sendiri tadi mendengar bahwa dia menghinaku TIDAK BERGUNA, padahal aku sedikitpun tidak menghinanya?" Greisy melepaskan kedua tangan dari tubuhnya, lalu menyingkap poni panjang ke belakang telinga, kemudian tersenyum begitu senang. " Dia itu sangat kejam, hati-hati jika ingin dekat dengannya!"


"Grei!"


"Berhenti menuduhku, Brengsek!"


"Jadi begitu ya? Tapi aku masih belum menyangka bahwa mahasiswi baruku ternyata sudah menikah," Classa pendidik mengalihkan pandangannya pada Ella. "Mungkinkah dia telah merebut kekasihmu dan menikahinya hingga kau menyiksa Greisy saat itu?" dan bertanya pada Ella dengan sengaja.


"Ahh No, bukan seperti itu masalah kami, Sir. Tolong jangan percaya dengan ucapannya!" pinta Ella yang menjawab dengan sangat gugup.


"Ohhh, Benarkah? ternyata kau juga menyukai suamiku, bukankah kau telah mendapatkan hati Pangeran Negara? Padahal pangeran sendiri  yang mengatakan bahwa dia menyukaimu, tetapi ternyata kau itu tidak setia,"


"Grei!" Wanita paruh baya tidak tahan lagi, dia  terlihat melangkah cepat mendekati Greisy.


"Ahhhh,, Padahal aku adalah tunangan Pangeran Negara sebelumnya, dari kecil kami sudah dijodohkan, aku pikir karena kau lebih baik dariku maka aku merelakan pangeran Negara saja untukmu, tetapi tenyata kau serakah, bukan hanya mantan tunanganku, dan juga ibuku, bahkan suamiku juga ingin kau ambil dariku,"


" Dia pernah bertunangan dengan pangeran Negara?" ada begitu banyak para penghuni koridor yang bertanya-tanya.


"Grei! Dan teriakan keras wanita paruh baya semakin menambah kehebohan tempat saat itu, terlebih lagi wanita itu mulai menggenggam kembali pergelangan tangan Greisy dan menarik tubuh Greisy untuk pergi.


"Kubilang, jangan sentuh aku! Sekarang ini aku memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi darimu, Madam. Jadi berhati-hatilah terhadapku!" ucap Greisy pada ibunya sembari menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar, kemudian Greisy mulai melangkah kaki, pergi menjauh.