Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
25


Greisy terkejut ketika tangan laki-laki yang tampak terbuat dari besi, memukul wajah Callan hingga laki-laki itu jatuh pingsan.


Wanita itu bahkan melihat bahwa laki-laki yang dipanggil Hand–Sistem itu, mengangkat kakinya dan ingin menginjak Callan kembali.


Baaakkk!


Greisy terpancing emosi.


Bagaimana mungkin ada manusia yang begitu tega akan melukai orang yang sedang tidak berdaya?


Pikir wanita tersebut demikian.


Greisy segera berdiri lalu menendang kaki laki-laki kurus di hadapannya dari sisi samping sekuat tega.


"Akkhh!" Hingga laki-laki tersebut jatuh terduduk, lalu dia marah pada Greisy yang telah berdiri dan berusaha untuk melindungi tubuh Callan di belakangnya. "Brengsek!" 


Laki-laki bertubuh kurus tetapi tinggi ini juga terpancing emosi.


Dia mulai berdiri, lalu melangkah cepat mendekat Greisy.


Dia menyerang dengan tangannya tetapi Greisy berhasil meraih tangan laki-laki itu dan memutarnya hingga terkilir ke belakang.


"Lepaskan tanganku!" Greisy mendorong tubuh laki-laki itu hingga ia jatuh tersungkur.


Laki-laki itu segera berdiri lalu meraih besi di dinding bangunan dan mencabutnya dengan tangan besi yang ia miliki.


Greisy terkejut melihatnya, bagaimana mungkin ada orang yang sanggup mencabut besi yang melekat pada dinding hanya dengan menggunakan tangan saja? 


Pikir wanita tersebut demikian.


Lalu dia bersiap menerima serangan.


Bakkk! Ketika besi panjang mengarah ke dia 


"Ughh!" Greisy meraih besi itu dengan cepat, dia menarik besi tersebut dari tangan laki-laki di hadapannya.


"Dia kuat," ucap laki-laki bertubuh kurus dan tinggi itu ketika Greisy telah melompat dan menginjak dinding bangunan lalu menendang kepala  laki-laki tersebut dari arah samping, " Ughh, sial!" ucap laki-laki tersebut, berusaha untuk menghalangi kaki Greisy menendangnya lagi dengan tangan. Namun sayang, kekuatan wanita itu tidak mampu ia imbangi. "Akhhh!" Dan dia jatuh tersungkur kembali dengan luka dan darah mengalir dari hidung serta dahi.


"Leon, aku kembali! Aku tidak bisa melawannya," ucap laki-laki bertubuh kurus dan tinggi lalu berdiri kemudia berlari kencang, meninggalkan Greisy yang masih terus berdiri, memandang kepergiannya menjauh.


"Leon?!" gumam Greisy, pelan.


Dia mengingat jelas nama seseorang yang baru saja disebutkan laki-laki bertubuh kurus tersebut. Lalu mulai menyadari sesuatu,


Mungkinkah Leon yang dimaksud adalah Classa kepercayaan Putra Mahkota?


tanya Greisy di dalam hati lalu menoleh ke arah belakang.


Ahh benar…


Dia harus menolong Callan terlebih dahulu. Dia harus pergi ke pangkalan militer untuk meminta bantuan di sana.


Greisy mengambil kacamata dan ponsel Callan yang tadinya terjatuh.


Lalu dia menyimpan kacamata ersebut di dalam kantung celana yang ia kenakan.


Greisy mulai menghela napas panjang, lalu meraih tubuh Callan dan berusaha menggendongnya dari belakang sembari menggenggam ponsel untuk melihat peta arah ke pangkalan militer.


Wanita itu melangkah dengan cepat, tampak tidak kesulitan padahal dia sedang membawa beban berat di atas punggungnya.


Greisy mungkin telah berlatih untuk terbiasa membawa benda-benda berat di masa lalu, maka baginya mudah saja membawa Callan pada hari itu.


**********


"Tolong… Tuan Callan sedang pingsan di sana!" 


Akhirnya Greisy sampai di pangkalan militer. Dia meletakan tubuh Callan di atas lantai, teras sebuah bangunan.


"Tuan Callan! Apa yang terjadi padanya?" tanya seorang militer pada Greisy yang telah menunjukan posisi keberadaan Callan di sana.


"Dia diserang *******, beruntungnya seorang tentara militer menyelamatkan kami," jawab Greisy, cukup mengejutkan beberapa orang yang mengukuti langkahnya.


"Bagaimana mungkin…?" gumam seorang tentara militer pada teman-temannya.


"Apa?" tanya Greisy tidak mengerti.


"Tidak, lupakanlah!" jawab tentara militer tersebut lalu menyerukan pada temannya untuk mengambil mobil dan membawa Callan masuk ke sana.


"Salute!" lalu suara teriakan penghormatan terdengar di pangkalan. 


Dan seluruh tentara militer yang tadinya bersiaga tampak berkumpul, memberikan hormat pada seseorang yang baru saja datang.


"Tuan Leon datang. Aku yakin kita dalam keadaan darurat," ucap tentara militer yang telah mengangkat tubuh Callan dan memasukannya ke dalam mobil, lalu dia segera pergi menuju ke rumah sakit terdekat.


"Grei!" panggil Leon yang tampak menoleh ke arah Greisy.


Wanita itu segera berlari ke arahnya.


"Tuan Leon!" Lalu menyapa dan memberi hormat pada laki-laki yang usianya mungkin berjarak cukup jauh.


"Masuklah, Yang Mulia Putra Mahkota sedang menunggumu!" perintah Leon dan Greisy segera menurutinya.


**********


Greisy keluar dari mobil ketika mobil telah berhenti tepat di depan pintu sebuah mansion.


Bangunan itu luas dan lebar dan berada sedikit jauh dari pusat kota wilayah perkotaan.


Greisy yang berdiri, terlihat begitu kebingungan ketika melihat satu persatu orang-orang berpakaian jubah merah, keluar dari masion dan berdiri tegap saling berhadapan.


"Misi selesai, tapi kami gagal membunuh Aron Alley. Walau bagaimanapun, tidak mudah melawan putri kerajaan!" laporkan seorang berjubah merah yang telah melangkah mendekati Leon–  Right‐Hand Classa.


Pakkkk!


"Menyusahkan!" ucap Leon sembari menampar pipi laki hingga masker merah yang laki-laki tersebut tampak mulai basah.


Dan hal itu menandakan bahwa laki-laki tersebut terluka.


"Leon, dia yang menghalangiku membunuh Callan. Wanita itu yang membuatku terluka!" laporkan laki-laki bertangan besi pada Leon.


"Aku?" Greisy tertegun ketika Leon memandang ke arahnya, "Aku tidak tahu kalau ternyata Chyrill yang menginginkan Callan mati," jawab Greisy.


Pakkkkk!


Dan wanita itu sontak tertegun ketika pipinya ditampar oleh Leon dan bibir yang terluka karena ciuman dari putra mahkota, tampak mengeluarkan darah.


"Maafkan aku!" ucap Greisy, cukup bimbang untuk mengatakannya karena dia merasa bahwa apa yang sudah ia lakukan, tidaklah salah.


"Rasakan! Lebih baik bunuh saja dia daripada menghalangiku membunuh Callan!" maki laki-laki bertangan besi pada Greisy.


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia, Putra Mahkota!" Lalu dia menundukan kepala ketika melihat putra mahkota tampak telah keluar dari mobil yang baru saja datang dan melangkah diikuti oleh Protector Classa serta Advisor Classa.


"Chyrill, mereka gagal membunuh Aron dan Callan!" ucap Leon,


Pakkkkk!


Lalu laki-laki tersebut terkejut ketika putra mahkota yang telah datang mendekat, menampar pipinya hingga berdarah.


Mata Leon membesar, dia mulai menundukan kepala.


"Maaf!" Dan mengucapkan rasa bersalah yang bahkan dia sendiri tidak mengetahui kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga membuat putra mahkota menamparnya.


"Kau baik-baik saja?" tanya putra mahkota pada Greisy yang menundukan kepala dari tadi.


Mata Greisy mulai memerah, dia mengangkat kepalanya lalu tersenyum pahit.


"Maaf karena menghalanginya membunuh Callan!" ucap Greisy pada putra mahkota.


"Hm!" Dan putra mahkota hanya menganggukan kepala, "Beri aku sapu tangan!" Lalu membersihkan darah di bibir Greisy dengan sapu tangan yang ia telah terima dari tangan Advisor Classa.


"Chyrill!" panggil Greisy sembari menahan tangan putra mahkota untuk terus membersihkan.


"Jangan sentuh dia! Kau tahu dia milikku, bukan?" ucap putra mahkota pada Right-Hand Classa, lalu melangkah memasuki mansion sembari menarik tangan Greisy dan membawanya masuk ke dalam tempat itu.


"Chyrill!" gumam pelan Leon.


Dia tidak menyangka bahwa putra mahkota akan memukulnya hanya karena dia memukul wanita yang baru saja ditemui oleh pemimpinnya tersebut.


"Aku harap kau baik-baik saja, Leon!" ucap Zion – Protector Classa of Crown Prince sembari memegang bahu Leon lalu melangkah mengikuti putra mahkota dan Advisor Classa.


"Tidak masalah!" jawab Leon sembari menarik napas panjang.


"Aku tidak menyangka bahwa pemimpin kita membela wanita itu," gumam pelan laki-laki bertangan besi,


"Berhentilah berbicara! Atau kau akan mendapatkan hukuman yang sama sepertiku," perintah Leon sembari mulai melangkah masuk ke dalam mansion, mengejar kedua teman dan pemimpinnya.


*********


Greisy terlihat duduk di atas sofa ruang tamu.


Dia menghela napas ketika seorang dokter telah menutup luka di bibir dengan perban kecil.


Greisy melihat bahwa dahi kepala putra mahkota tampak diperban. Dia mengingat kejadian sebelum keluar dari hotel bahwa laki-laki tersebut sengaja membenturkan kepalanya di dinding hingga berdarah lalu memukul leher belakang Greisy hingga wanita itu tak sadarkan diri.


Setelahnya, wanita itu bangun di atas kedua tangan Callan yang membawanya.


Mungkinkah putra mahkota melakukan itu semua untuk menyembunyikan kebenaran bahwa laki-laki itulah yang ada dibalik kekacauan kota yang terjadi?


Pikir Greisy demikian.


"Yang Mulia!" 


"Pulanglah!" perintah putra mahkota yang sedari tadi berdiri, menerima laporan dari Classa kepercayaannya pada Greisy setelah dokter yang merawat wanita itu pergi dan Classa Pelayan masuk ke dalam ruang tamu di sana. 


"Hm!" angguk Greisy yang telah berdiri lalu melangkah mengikuti Servant Classa, meninggalkan putra mahkota.


"67 korban jiwa, 3 diantaranya adalah anggota keluarga besar Alley," ucap Leon, melaporkan dan hal itu sontak membuat tubuh Greisy mulai bergetar.


Benar…


Greisy tidak menyangka sedikitpun bahwa putra mahkota begitu tega membiarkan rakyatnya meninggal begitu saja.


Apakah dia juga akan diperintah untuk membunuh penduduk negaranya sendiri?


ucap Greisy, bertanya-tanya di dalam hati.