Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
Bab. 33


Greisy membuka jendela rumah sakit yang berada tepat di samping kasurnya.


Wuuzzzzz!


Angin sepoi-sepoi perlahan masuk menerpa tubuh wanita tersebut. Meskipun angin menyejukan kulit tubuhnya, tetapi hati wanita tersebut merasa sangat sakit.


Tatapan matanya penuh dengan keperihan. Dia memandang ke arah sekumpulan pepohonan jati di bawahnya. Meskipun begitu, pikiran dan hati wanita tersebut hanya terbayang tentang Callan saja.


Wanita tersebut sungguh merasa bersalah atas kematian Callan padahal dia telah mencoba untuk mencegah itu semua terjadi.


Dia pasti tidak akan bisa melihat senyuman lembut laki-laki itu lagi.


Pikir wanita tersebut demikian, merasa rapuh dan juga merasa tidak berdaya.


"Grei!" 


Greisy menoleh ke arah samping dimana sumber suara berada.


Dia melihat seorang wanita berambut pendek, melangkah masuk ke dalam ruangan dan mendekatinya.


"Cloe!" panggil wanita tersebut, lirih. Nadanya terdengar teramat pelan dan lemah.


Cloe adalah pengunjung pertama Greisy. Setelah ia bangun, Greisy tidak melihat seorangpun yang datang untuk melihatnya, begitupula dengan putra mahkota.


"Aku membawakan buah untukmu, aku harap kau menyukai apel dan jeruk. Aku sudah memilihkan yang paling mahal, maka aku yakin pasti rasanya sangat nikmat."


Cloe menarik kursi berkaki empat dan membawanya tepat di samping Greisy setelah meletakan buah yang ia bawa di atas nakas.


Greisy hanya bisa melihat wanita dengan rasa bersyukur.


Benar.


Ternyata dia masih memiliki seseorang yang memikirkan tentangnya.


Mungkinkah saat itu putra mahkota telah melepaskannya hingga laki-laki tersebut tidak datang mengunjungi? 


Pikir wanita itu demikian.


"Callan, kau… kau tahu bagaimana kabarnya?"


"Ahh Mr. Callan?! Aku dengar diberita kau dan dia diracuni oleh seseorang dan saat ini kasus tersebut masih dalam penyelidikan, sementara itu, Mr. Callan, dia…"


"Lupakanlah, jangan lanjutkan ceritamu! Aku sudah tahu jawabannya," larang Greisy lalu wanita tersebut kembali menoleh ke arah luar kaca jendela.


"Hmm!" angguk Cloe, menyetujui. "Kenapa kau membuka jendela sementara AC masih menyala? Aku pikir kau hanya perlu melihat pemandangan luar dari balik kaca saja," tanya Cloe, yang merasa aneh dengan sikap Greisy.


"Aku hanya ingin menghirup udara luar saja. Itu menenangkan pikiranku," jawab Greisy tanpa memandang ke arah Cloe kembali.


"Kau pasti masih trauma, bukan?"


"Hm!" angguk Greisy, berbohong. Karena sebenarnya wanita itu merasa sangat bersalah menyetujui perintah dari putra mahkota.


Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Servant Classa telah memberikan perintah pada pegawai kafe untuk membohonginya.


Mereka mampu menebak bahwa wanita itu pasti tidak akan membunuh Callan.


"Aku juga pernah merasakan trauma, ketika ayahku dibunuh dan ibuku yang dituduh membunuhnya. Itu sangat menakutkan ketika melihat ayahku meninggal di depan mataku sendiri. Aku merasa dunia mungkin sudah akan kiamat saat itu," ceritakan Cloe tentang masa lalunya pada Greisy.


Dan hal itu mengejutkan Greisy hingga wanita itu sontak menoleh ke arah Cloe kembali.


"Dan ibumu tinggal di Distrik 98?!" tebak Greisy,


"Hm," Dan Cloe menganggukan kepala, membenarkan. "Aku yakin bukan ibuku yang membunuh ayahku,"


"Aneh sekali," ucap Greisy, terlihat kebingungan.


"Aneh?!"


"Kenapa kau bisa masuk ke jurusan Golden S++ kalau kau adalah anak seorang kriminal?" tanya wanita tersebut, penasaran.


"Kedua orang tuaku sangat miskin, pemerintah tidak memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya yang tidak berguna. Ayahku bukanlah orang yang mahir dalam bidang kesenian meskipun dia dilahirkan sebagai suku Lukhi dan ibuku berasal dari suku Ozui yang telah di usir dari kampung halamannya karena memilih ayahku sebagai suami. Miris sekali, di wilayah mahakarya, ibuku tidak diakui dan ayahku diusir dari keluarga hingga mereka hidup di pinggir lautan dan terpaksa memberikanku pada saudagar kaya saat aku berusia 7 tahun karena mereka tidak mampu membiayaiku sekolah. Meskipun begitu, ayah keluarga angkatku sangat baik, mereka mengizinkan aku pulang ke rumah sampai saat kejadian pembunuhan itu terjadi, dan aku kehilangan ayahku," jelas Cloe, memceritakan masa lalunya pada Greisy, " Aku yakin kau tidak akan menghinaku karena aku berasal dari keluarga miskin," lanjut wanita tersebut, sembari melontarkan senyuman lembut pada Greisy yang tampak tertegun melihat ke arahnya.


"Aku bukan berasal dari keluarga miskin tapi meskipun begitu, sekarang aku miskin," ucap Greisy, tersenyum pahit.


"Lucu sekali! Aku merasa aneh dengan ucapanmu itu,"


"Kau mungkin berasal dari keluarga miskin tetapi kau mendapatkan banyak perhatian dan kasih sayang. Dan aku berasal dari keluarga Classa yang kaya, tapi aku tidak memiliki apa yang kau miliki itu, bukan hanya kasih sayang dan perhatian, bahkan kekayaan dan uang saja aku tidak mendapatkannya. Kau jauh lebih baik daripada aku, jadi aku harap kau jangan mengeluh. Karena kalau kau mengeluh, keluhanku yang hidupnya lebih menyedihkan darimu terlihat tidak akan berguna," jelas Greisy sembari menghela napas berat, "Aku ingin kau membawaku ke distrik 98, tapi… bisakah kau membuatkanku pakaian Assasin? Kau berasal dari wilayah mahakarya, bukan?" pinta Greisy, 


"Mungkinkah kau punya uang? Aku tidak ingin kita datang ke sana dengan tangan kosong, aku juga tidak ingin mereka memberikan makanan berharga mereka untuk kita,"


"Ahh benar, aku tidak punya uang," jawab Greisy, lalu mulai membaringkan diri di atas kasur karena merasa tidak berguna.


"Asal kau mau merahasiakan kemampuanku maka aku akan berusaha melakulannya demi uang yang kau mau," jawab Greisy, menyenangkan hati Cloe.


"Baiklah, aku akan membawamu ke sana, tapi kapan kau mau pergi?" tanya Cloe lagi,


"Lebih cepat lebih baik,"


"Okay, tunggu sebentar, aku akan segera kembali dengan membawakan benda yang kau inginkan," jawab Cloe yang mulai berdiri dan tersenyum ceria ke arah Greisy lalu berbalik dan melangkah kaki ke arah pintu keluar dengan cepat.


**********


"Sudah kubilang 'pakaian assasin', kenapa kau hanya memberikanku sebuah masker?" tanya Greisy, merasa kesal.


Wanita itu terlihat berjalan beriringan dengan Cloe di atas tembok menuju ke halte kereta listrik untuk menunggu kendaraan tersebut tiba.


"Tenang saja, aku ini ahli dalam bidang seni jadi aku sudah meletakan alat pengubah suara di maskermu itu, kau tidak ingin orang lain mengetahui identitasmu, bukan?" jawab Cloe yang telah masuk ke dalam halte dan menekan tombol penumpang.


"Tapi tetap saja aku bisa dengan mudah untuk dikenali," jawab Greisy yang kesal, dia mulai duduk di kursi tunggu sembari membuang wajah untuk tidak melihat ke arah Cloe.


"Pakai Hoodie ini! Kau bisa menggunakan penutup kepala untuk menyembunyikan sebagian wajahmu," saran Cloe sembari melepaskan Hoodie miliknya dan memberikan pada Greisy yang mulai melihat ke arah wanita itu.


Dengan cepat Greisy mengambil Hoddie milik Cloe bersamaan dengan kereta yang telah berhenti di halte.


Greisy dan Cloe menaiki kereta yang cukup ramai itu. Mereka berdiri karena tidak ada lagi kursi yang tersisa.


"Minggir!" 


"Tolong hentikan! Kakakku sedang sakit jadi biarkan dia tetap duduk di sana."


Greisy tertegun ketika mendengar keributan di depan matanya. Dia melihat seorang Classa sedang memaksa seorang wanita untuk menyingkir dari kursinya.


"Kalau sakit, buang saja ke Exile Area! Wilayah ini bukan tempat sampah seperti dia," hina laki-laki tersebut, mengejutkan Greisy dan membuat wanita itu merasa kesal.


"You Brat, kau tadi bilang apa?" maki Cloe yang merasa kesal karena mendengar ucapan Classa tersebut.


Classa itu melihat ke arah Cloe, "Aku seorang Classa, aku berhak mendapatkan kursi di sini," Lalu menjawab pertanyaan tersebut dengan nada membentak marah.


"Kau tidak dengar kata adiknya kalau dia sedang sakit ya?"


"Kalau dia sakit maka suruh dia pergi ke Exile Area, dan kau, tunjukan lambang suku Hzemu!" paksa laki-laki itu, sembari memandang tajam ke arah Cloe.


"Aku memang bukan berasal dari suku Hze dan juga bukan seorang Classa, tetapi meskipun begitu, aku masih memiliki rasa iba, tidak sepertimu yang suka berbuat semena-menanya,"


"You Bastard, berani sekali kau menghinaku!"


Braakkk…!


"Akkkhhh!"


"Minggir!"


"Kau, berani sekali kau menendangku!" bentak marah laki-laki tersebut ketika tubuhnya tampak jatuh terbaring setelah Greisy menendangnya cukup keras.


"Hanya Ordinary Classa, kau kira kau memiliki kekuasaan menentang Classa tingkat tinggi sepertiku!" sindir Greisy, wanita itu telah memakai Hoodie dan juga masker pemberian Cloe.


"Apa?"


Tanggg!


Dan melemparkan lambang kerajaan pada laki-laki yang tampak terkejut melihat ke arahnya.


"Maafkan aku, maafkan aku, Yang Mulia!" ucap laki-laki tersebut sembari berlutut dan menundukan kepala.


"Your majesty!"


"Silahkan duduk, Yang mulia!"


Cloe terkejut ketika ia melihat lambang kerajaan di atas lantai kereta api.


Dia menundukan kepala lalu berlutut ketika Greisy melangkah dan mengambil lambang miliknya.


"Yang Mulia, maafkan aku karena telah lancang dan berani memanfaatkanmu," ucap Cloe,


"Haaa!" Mengejutkan Greisy yang tadinya membungkuk lalu segera berdiri dan melihat wanita tersebut tampak menangis dan tubuhnya bergemetaran. "Aku pikir kau sudah mengetahuinya," jawab Greisy yang telah berdiri lalu terkejut ketika semua orang tampak berdiri, menundukan kepala dan membungkukan tubuh ke arah wanita itu.


Ahh benar…


Itu pertama kali baginya dihormati oleh begitu banyak orang selama ia hidup di dunia.