Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
bab 19


Hanya terdapat 10 mahasiswa saja di ruangan itu. Termasuk Pangeran Negara dan juga Ella.


Jarak mereka terpisah cukup berjauhan dan Greisy terlihat duduk di pertengahan wanita dan seorang laki-laki.


"Aku akan memberikan hadiah jika kalian bisa mendapatkan nilai sempurna dari ujian yang aku berikan. Apapun itu akan kuberikan tapi jika aku sanggup melakukannya dan itu tidak membebaniku," ucap Classa Pendidik, memberikan janji.


"Wah… Luar biasa! Aku yakin Ella dan Pangeran Negara pasti mendapatkannya," seru seorang laki-laki memuji.


"Hahaha!" Greisy tertawa lebar, menggema, mengejutkan.


"Kau membuat keributan!"


"Aku suka membuat keributan," jawab cepat Greisy atas peringatkan seorang wanita di sampingnya.


"Oh Gosh, pengacau sudah masuk ke ruangan ini," sindir seorang laki-laki yang duduk di sudut paling kanan, belakang ruangan.


"That's ****, dia memang suka mencari masalah," ucap Ella yang begitu geram.


Ucapannya tersebut mengundang perhatian seluruh penghuni ruangan.


"Ahhh seorang Classie ternyata diperbolehkan berkata kasar di depan umum," sindir Greisy, tersenyum puas.


Dan hal itu sontak membuat Ella menutup mulutnya. Dia menyadari kebodohannya.


"Benarkah aku tidak salah dengar? Ella mengatakan kata sekotor itu!" bisik seorang wanita pada teman di sampingnya.


"That's enough, sekarang waktunya ujian dan tidak ada seorangpun yang diizinkan bicara," Callan mulai memberikan perintah sembari membagikan lembar pertanyaan dan kertas kosong pada penghuni ruangan.


"Apa? Pertanyaan semacam apa ini? Kita bahkan belum mempelajarinya, Sir," keluh seorang laki-laki yang duduk di samping Greisy.


"Kerjakan saja! Ini hanya ujian percobaan jadi tidak ada hubungannya dengan nilai kenaikan semester," jawab Callan sembari mulai melangkah keluar ruangan, meninggalkan para muridnya.


"Kenapa dia pergi?"


"Tentu saja membiarkan kalian semua saling mencotek," jawab Greisy santai, "Bersyukurlah, itu kemudahan bagi kalian," lanjut Greisy yang sedikitpun tidak memegang pena, apalagi menjawab pertanyaan ujian.


"Kau… Apa kau tidak tahu jawabannya?" tanya wanita di samping Greisy karena melihat sikap santai dia sedari tadi.


"Emm!" Greisy melihat ke arah samping setelah tadinya hanya meletakan kepala di atas meja, "Aku tidak peduli dengan ujian," jawab wanita itu, lalu kembali meletakan kepalanya.


"Bagaimana kalau aku memberitahukan jawaban yang kutahu padamu, dan kau memberikanku uang?" tawarkan wanita berambut pendek itu pada Greisy.


Dan Greisy sontak tersenyum licik.


"Aku akan memberikanmu uang yang banyak jika jawaban yang kau tahu itu benar, bagaimana?" Greisy memberikan penawaran kembali padanya.


"Deal!"


************


Callan masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah mesin data sistem sensor.


Mesin data itu berbentuk seperti komputer yang menyatu dengan mesin scan pada bagian bawahnya sehingga ukurannya jauh lebih besar dari kebanyakan komputer biasa.


Mesin data sistem sensor adalah alat instan yang berfungsi untuk menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh para Educator Classa.


Alat itu juga berfungsi agar para murid bisa memastikan kebenaran dari jawaban yang mereka kerjakan jika mereka ragu akan kemampuan pendidik yang mengajar mereka.


"Mr. Callan bahkan sampai menggunakan alat itu, itu artinya saat ini dia benar-benar sedang serius," ucap salah seorang murid yang duduk di samping Pangeran Negara.


Sementara itu, Pangeran Negara tampak duduk di kursi paling depan dan paling sudut sebelah kiri.


Dia terlihat berkonsentrasi dalam ujiannya, bahkan tidak mempedulikan apapun keributan yang terjadi.


"I am done!" ucap Greisy, mengejutkan para penghuni ruangan.


Bagaimana mungkin dia bisa mengerjakan pertanyaan yang sangat sulit lebih cepat dari Ella dan Pangeran Negara, sementara kedua orang tersebut adala murid paling pintar di semester pertama?


"Are you sure?" tanya Callan, dengan nada dingin.


Laki-laki itu juga tidak percaya.


"I am sure!" jawab Greisy.


Dan kali ini, Pangeran Negara ikut bereaksi.


Dia yang tadinya diam, mulai menoleh ke arah Greisy dan memandang cukup keheranan.


"Berikan lembar jawabanmu!" Greisy mulai berdiri dengan senyuman licik.


Dia yang tadinya duduk di pertengahan, mulai melangkah kaki.


"Akkkhhh," Brakkkk! 


Greisy mengerang keras.


"Gosh, apa yang kau lakukan?" Ketika ia terjatuh tepat di meja wanita yang duduk di sampingnya. Dia bahkan menjatuhkan wanita itu bersama kursinya hingga peralatan belajar dan lembaran kertas wanita tersebut jatuh. 


"Kau menjegal kakiku?"


"Kau ini bicara apa? Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya?" tanya balik wanita berambut sebahu itu, tidak dapat menerima tuduhan Greisy.


"Kalau kau tidak menjegal kakiku, bagaimana mungkin aku jatuh?" lanjut Greisy menuduh,


Membuyarkan ketenangan ruangan tadinya.


"Dia memang suka cari masalah," ucap Ella kesal, lalu dia mulai melangkah untuk mengumpulkan kertas jawabannya.


"Berhentilah bertengkar, berikan kertas jawabanmu padaku!" perintah Callan, menyudahi keributan.


"Kertasku robek, Ahhh… Bagaimana mungkin aku memberikannya padamu?" jawab Greisy sembari memberikan robekan kertas yang telah terpisah menjadi enam bagian, dan itu cukup membuat Callan curiga.


"Kenapa bisa terbagi menjadi enam bagian?"


"Aku juga tidak tahu," jawab Greisy cepat, lalu melangkah ke arah Callan, "Berikan kertas kosong padaku!" Dan melontarkan permintaan sembari meremas kertas yang robek dan membuangnya ke dalam gelas yang berisi air, milik Callan di atas meja.


"Berani sekali kau melakukan itu!" teriak seorang pelajar, tidak dapat menerima sikap keterlaluan Greisy yang telah mengotori minuman Callan.


"Apa kau marah padaku? Kalau kau marah, kau bisa mengusirku keluar!" ucap Greisy sembari tersenyum nakal. 


Tetapi sesungguhnya hati wanita itu begitu sedih melakukannya. Dia hanya mematuhi perintah.


Perintah untuk tidak belajar di universitas khusus negara.


Padahal di masa lalu, tempat tersebut adalah impiannya, tetapi tidak dengan saat itu. Karena saat itu, dirinya bukan miliknya sendiri.


"Kerjakan kembali ujianmu!" perintah Callan, mengejutkan semua orang karena laki-laki itu tidak sedikitpun marah, begitupula dengan pangeran negara.


Pangeran negara bahkan terus memandangi Greisy yang tampak menghentikan langkah sejenak dan tersenyum licik pada wanita berambut pendek di sampingnya.


Sementara itu, Greisy sendiri tampak membisikan sesuatu pada wanita tersebut,  : "Aku sudah memberikan uang yang banyak untukmu jadi jangan bodoh!" 


Lalu dia mulai duduk pada posisinya.


"Apa… maksudmu?" tanya wanita yang baru saja membenahi kursi dan peralatannya yang jatuh tersebut, pelan. Dia yang tampak kebingungan, mengabaikan saja ucapan Greisy lalu memandang ke arah kertas jawabannya, "Ini?!" tanya terkejut lalu menoleh ke arah Greisy.


"Hee, anggap aku tidak ada, Bodoh!" ucap Greisy lalu mulai menulis jawaban di lembaran kertas kosong yang masih baru.