Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
Bab 34


"Yang Mulia!"


Greisy terlihat mendekati seorang gadis kecil yang tadinya berdiri, menghalangi seorang Classa untuk mengusir kakaknya.


Gadis kecil itu tampak menahan tubuh kakaknya di atas bahu.


"Kau pasti lelah, bukan?"


"Yang Mulia, silahkan duduk! Kami akan duduk di lantai saja!" seru gadis kecil itu perlahan-lahan menegakan tubuh kakaknya yang tampak lemah, wajah wanita itu juga terlihat memerah.


"Kenapa kalian di sini? Bukankah rumah sakit sangat dekat?" tanya Greisy pada gadis kecil sembari mulai duduk dan meletakan kepala seorang wanita yang terlihat setengah sadar di atas bahunya.


"Rumah sakit istana tidak akan mungkin mau menerima kami. Kami bukan seorang Classa, kami hanyalah penduduk suku biasa," jawab gadis kecil yang tampak berdiri di hadapan Greisy.


Dan saat itu, mereka telah menjadi pusat perhatian oleh para penumpang kereta listrik. 


Sementara itu, Cloe terlihat mulai melangkah mendekati Greisy.


"Biar aku saja yang membantunya, Yang Mulia!" Dan menawarkan bantuan.


"Huh!" Greisy menghela napas, "Kau akan menerima hukuman karena berani memanfaatkanku nanti, jadi untuk sekarang, persiapkan saja dirimu untuk menahan hukuman itu!" ancam Greisy, bercanda.


Dia bahkan tertawa dari balik maskernya.


"Ahh Yang Mulia, tolong…!"


"Menyingkirlah, aku ingin bicara padanya!" usir Greisy pada Cloe sembari tersenyum lucu dan tidak diketahui.


"Baiklah, Yang Mulia!" jawab Cloe, masih tetap berdiri di dekat Greisy dan menundukan kepala.


Sementara itu, kereta listrik perlahan-lahan mulai melaju. Dia  membawa mereka pergi menuju ke pelabuhan yang berada cukup jauh dari rumah sakit kerajaan.


"Ahh aku mengerti!" Greisy menganggukan kepala, memahami. "Kau kabur dari Exile Area, bukan?" bisik wanita itu, dia memandang tajam ke arah gadis kecil yang tampak langsung bersujud ke arahnya.


Gadis kecil itu sungguh mengejutkan Greisy.


"Ampuni aku, Yang Mulia, maafkan kesalahanku! Aku hanya ingin kakakku sembuh dari penyakitnya karena di Exile Area tidak menyediakan obat untuk penyakit kakakku, dokter di sana bahkan tidak pernah datang lagi untuk memeriksa keadaannya, sampai tubuhnya kini terasa sangat panas, dan aku akan membawanya ke wilayah pertanian untuk mencari resep obat sendiri di sana. Aku dengar mereka memiliki banyak tumbuhan obat-obatan," jawab gadis kecil itu, menjelaskan masih terus bersujud pada Greisy dan tubuhnya tampak ketakutan.


"Huh!"


Greisy menghela napas berat.


Benar, sejujurnya lencana kerajaan sangat berguna baginya untuk membantu orang-orang lemah. Sebelumnya dia tidak menyadari bahwa benda tersebut sangat pentingnya, maka dari itu, dia tidak pernah memanfaatkannya.


"Hentikan kereta, ini perintah!" seru Greisy memberikan perintah.


Benar.


Untuk yang terakhir kalinya sebelum kesepakatan wanita itu dengan putra mahkota selesai. Dia akan memanfaatkan lencana tersebut untuk menolong mereka yang membutuhkannya.


"Yang Mulia!"


"Aku akan membawanya ke rumah sakit kerajaan. Kau tidak perlu khawatir, kakakmu pasti akan sehat kembali, dan kalian bisa kembali ke Exile Area,"


"Terima kasih, Yang Mulia, Terima kasih untuk kemurahan hatimu," ucap gadis kecil tersebut, sembari mulai melangkah kaki keluar diikuti oleh Cloe, mengikuti Greisy yang telah melangkah terlebih dahulu menuju pintu keluar kereta listrik yang telah berhenti.


"Kenapa kau berada di Exile Area?" tanya Greisy pada gadis kecil tersebut.


"Kami yatim piatu, kedua orang tua kami sudah meninggal dan tidak ada seorang saudarapun yang mau mengurus kami," jawab gadis kecil tersebut, dan Greisy menganggukan kepala memahami.


**********


Plakkk!


Putra mahkota menatap tajam ke arah Servant Classa ketika laki-laki itu tampak menerima tamparan keras dari Protector Classa.


"Maafkan saya, Yang Mulia!" ucap Servant Classa, menundukan kepala dan darah tampak menetes keluar dari lubang hidungnya.


"Kau kira kau berhak untuk berbicara setelah dia menghilang," ucap putra mahkota dengan nada yang begitu dingin dan sepertinya penuh dengan emosi.


Hal itu membuat tubuh laki-laki tua di hadapannya, bergemetaran. Dia sungguh sangat ketakutan.


"Chyr!"


"Cari dia, apapun yang terjadi kalian harus menemukannya!" perintah putra mahkota pada kedua pendampingnya. "Kurung dia!" Lalu melangkah kaki keluar dari ruang Greisy yang tadinya di rawat setelah memberikan perintah lainnya.


"Baiklah!" jawab ketiga pendamping putra mahkota yang masih berdiri di dekat Servant Classa, mereka tidak mengikuti langkah putra mahkota karena harus segera menjalankan perintah.


"Grandpa, kenapa kau tidak menjaga wanita itu? Kau tahu, Dia bahkan sampai memukulku karena aku telah menampar wajah wanita itu," tanya Hand–Right Classa sembari menghela napas berat pada laki-laki tua di sampingnya.


"Maafkan aku, Leon!" jawab Servant Classa, dia mulai membersihkan darah ketika Protector Classa memberikan sapu tangan padanya.


"Maaf, Kakek. Aku terpaksa memukulmu," ucap Protector Classa, merasa bersalah.


"Aku paham, itu adalah perintah. Aku hanya tidak menyangka bahwa putra mahkota begitu menyukainya hingga dia begitu membenciku saat ini," jawab Servant Classa, merasa begitu sedih. Dia menarik napas berat dan memandang ke arah pintu keluar dengan tatapan mata penuh keperihan.


**********


Greisy membanting lencana miliknya di atas meja costumer service. Di atas punggungnya, seorang wanita lemah tampak terbaring lemah dan tak berdaya.


"Panggil Dokter sekarang juga!" perintah Greisy, dengan nada cukup tenang.


"Kami tidak bisa memanggil dokter sesuka hati," jawab seorang costumer service, menolak.


"Apa kau tidak melihat lencana ini?" tanya Greisy, mulai merasa kesal.


"Kami melihat lencana ini sebagai lencana milik keluarga kerajaan, tetapi bisakah anda membuka masker anda? Kami hanya meragukan identitas anda karena akhir-akhir ini ******* sempat masuk ke wilayah kerajaan dan meracuni seorang anggota keluarga kerajaan," jawab costumer service tersebut, bersikeras untuk menolak permintaan.


"Aku membawa orang yang sakit tetapi kau masih berpikir bahwa aku *******, haaa… apakah kau sudah gila?" tanya Greisy, dengan nada geram. Dia bahkan sampai menggertakan gigi-giginya.


"Kalau anda bukan ******* maka anda tidak akan khawatir untuk membuka masker anda, bukan?" tanya balik costumer service tersebut, menantang. Nada bicaranya juga sangat tangan. 


Greisy mulai merasa khawatir, dia cukup ragu jika costumer service tersebut tidak mengenalinya sebagai istri dari putra mahkota, terlebih lagi pernikahan mereka tidak diumumkan ke publik.


Dia merasa gelisah jika dia akan diusir dan dianggap sebagai seorang pencuri lencana jika sampai itu terjadi.


"Yang Mulia!" panggil Cloe yang juga merasa khawatir, karena sejujurnya juga dia tidak pernah mengenali Greisy sebagai anggota keluarga kerajaan selama ini. "Buka saja masker anda, suhu tubuhnya sudah sangat panas, aku khawatir dia akan kejang jika dibiarkan begitu saja," pinta wanita itu pada Greisy yang masih ragu untuk membuka maskernya.


Terlebih lagi, mereka kini telah menjadi pusat perhatian para penghuni lantai pertama dan itu semakin membuat Greisy merasa khawatir karena dia membawa orang-orang dari Exile Area.


"Kalau anda tidak ingin membukanya maka saya akan memanggil penjaga keamanan untuk mengusir anda!" ancam costumer service tersebut, mengejutkan Greisy, Cloe dan Gadis kecil yang tadinya begitu berharap bantuan dari wanita itu.


"Yang Mulia, sebaiknya kita pergi saja! Aku sangat takut," ucap gadis kecil pada Greisy sembari menggenggam erat sebagian kain Hoodie yang wanita itu kenakan.


"Apa kau tidak lihat aku membawa orang sakit? Kenapa kau masih sanggup menuduhku sebagai seorang *******?" bentak Greisy marah, "Akhh!" Lalu wanita tersebut mengerang pelan, menahan rasa sakit ketika seorang penjaga keamanan telah datang dan membuka maskernya.


 "Aku tidak mengenalnya sebagai anggota kerajaan,"


"Benar, dia pasti telah mencuri lencana," ucap beberapa orang yang memperhatikan mereka sedari tadi dan costumer service tersebut mempercayai mereka begitu saja tanpa mencari tahu terlebih dahulu.


"Usir dia!" perintah costumer service yang adalah seorang wanita tersebut pada securtity di sana.


"Ayo pergi!"


"Lepas! Apa kau tidak melihatku membawa orang sakit?" bentak Greisy marah, ketika tangannya telah digenggam dan dia dipaksa untuk melangkah.


"Grei, kenapa kau menipuku?" tanya Cloe yang kecewa,


"Kembalikan Kakakku! Kau hanya membuang-buang waktuku saja. Aku bahkan bersujud pada orang yang salah," ucap gadis kecil begitu kecewa pada Greisy.


"Kalian juga ikut kami!" paksa seorang security lainnya yang telah datang sembari menarik paksa tangan Cloe dan gadis kecil tersebut untuk pergi dari lantai pertama rumah sakit.


"Kami berasal dari Exile Area, tadinya kami hanya ingin kembali dari sungai tetapi karena kakakku sakit, wanita itu dengan sombongnya membawa kami ke sini, dan mengakui dirinya sebagai anggota keluarga kerajaan. Jangan salahkan kami! Karena dia memaksa kami untuk datang kemari," ucap gadis kecil tersebut, berbohong. Dia bahkan memberikan tuduhan palsu pada Greisy. " Kembalikan kakakku, kami akan kembali ke Exile Area," bentak gadis kecil marah,


"Tidak bisa. Kalian juga harus ikut kami ke kantor keamanan, karena belum ada bukti akan ucapanmu tadi. Bisa saja kalian sedang berbohong!" jawab seorang security, menolak.


"Benar, aku yang salah," ucap Greisy, membela, "Aku yang memaksa mereka untuk datang ke tempat ini jadi lepaskan mereka!" paksa Greisy yang telah menurunkan wanita sakit dari atas punggungnya dan memberikan wanita itu pada Cloe yang telah membantu menopang tubuh wanita itu, "Aku akan ikut kalian ke kantor keamanan,"


"Tidak bisa, kalian semua harus ikut bersama kami!" paksa Security lain, menolak permintaan Greisy.


"Kau tidak lihat dia sedang sakit!" bentak Greisy, penuh emosi.


"Kami tidak peduli karena kalian bukanlah seorang Classa," jawab security tersebut, semakin memancing emosi Greisy.


"Brengsek!"


Bukkk! Dan Greisy bahkan sampai memukulnya hingga terpental jauh.


"Berani sekali kau memukulku!"


"Tahan dia, paksa dia keluar dari ruangan ini dan bawa dia ke kantor polisi militer, dia adalah ******* dan harus dihukum mati," tuduh costumer service yang memberikan perintah, "Kalau bisa, mereka semua juga harus dihukum mati," lanjut wanita itu lagi, sembari menunjuk ke arah Cloe, gadis kecil dan wanita yang sedang sakit tersebut.


"Tega sekali kalian melakukan itu!" teriak Greisy marah lalu tubuhnya mulai ditahan dua orang security.


Plak!


Dan wajah dipukul hingga mengeluarkan darah dari bibir.


"Brengsek, Lepaskan mereka!" pinta Greisy meronta-ronta.


"Lepaskan dia!" Lalu menoleh ke arah sumber suara yang ia kenali.


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia!"