Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
27


Hari itu, hujan tampak turun membasahi bumi.


Tetesannya singgah ke jendela kaca di sebuah ruang kesehatan.


Greisy memandangi curah hujan yang turun tersebut karena dia duduk tepat di samping jendela pada lantai dua.


Tatapannya sayu, dia teringat kesendiriannya di dalam gua ketika hujan turun di masa lalu.


"Lihatlah ke arahku!"


Perlahan-lahan kepala Greisy bergerak, memandang ke arah depan.


Ahh… 


Benarkah dia tidak sedang bermimpi? Benarkah ada orang yang mengajak berbicara?


"Ugh!" Greisy mengerang pelan, cukup merasa sakit ketika perban di bibirnya telah terlepas.


"Lukanya lebih parah, mungkinkah laki-laki itu memukulmu?" tanya Callan, khawatir, mengingat kejadian malam itu.


"Hm!" angguk Greisy.


Dia yang tidak ingin jika Callan terus bertanya tentang luka yang ia dapatkan atas pukulan dari Leon, hanya bisa membenarkan pertanyaan dari laki-laki tersebut. Setelahnya wanita itu diam kembali.


Callan mulai membersihkan darah yang telah mengering pada luka di bibir Greisy lalu setelahnya, ia memberikan antiseptik kemudian meletakan perban yang baru di sana.


Greisy yang menyadari bahwa tidak ada lagi yang perlu dilakukan, mulai berdiri dan melangkah kaki untuk pergi tanpa mengucapkan satu katapun.


"Kau… kenapa bisa terluka?" 


Dan langkah wanita itu terpaksa terhenti ketika Pangeran negara telah masuk dan menghalangi langkah wanita itu.


"Dia menyelamatkanku," jawab Callan,


"Bukan aku, tetapi seorang tentara militer," sela Greisy, berbohong.


"Benarkah?" tanya Callan, mendekati.


"Kau pikir aku sanggup mengusir pergi laki-laki sehebat dia? Kau bahkan sampai jatuh tak sadarkan diri, apalagi aku," jawab Greisy, dengan nada dingin.


Dia cukup merasa aneh dengan perubahan dari Callan yang tiba-tiba sangat baik terhadapnya.


"Dia?!" tanya pangeran negara, cukup bingung.


"Hand–sistem," jawab Callan, mengejutkan laki-laki itu.


"Dia muncul lagi?!" tanya Pangeran negara lagi, bersamaan dengan Greisy yang telah melangkah kembali.


"Tangannya sudah pulih kembali setelah dulu rusak total karena Pelindung Ratu Negara. Mungkin dia masih membenci negara karena kematian adiknya," jawab Callan, cukup mengejutkan Greisy.


Tetapi wanita tersebut terus melangkah kaki.


"Haaa? Apa yang kau lakukan?" tanya Greisy pada Callan yang tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya.


"Bukankah sebaiknya kau pulang saja? Keadaanmu cukup tidak baik dan aku melihat, dari tadi kau termenung saja. Aku yakin kau masih trauma dengan kejadian tadi malam," ucap Callan, memberikan saran.


Sikapnya tersebut cukup membuat pangeran negara terkejut. Laki-laki itu merasa aneh karena tidak biasanya Callan bersikap lembut pada orang lain, bahkan pada kakaknya sendiri sekalipun – Queen of The Kingdom, Callan selalu bersikap dingin dan tak pedulian.


Sementara itu, Greisy tampak berada dalam dilema. Jika dirinya tidak pulang, maka pasti, Callan menganggap wanita adalah sesosok murid yang rajin, tetapi jika ia kembali ke apartemen putra mahkota, maka dia pasti akan semakin membebani Servant Classa.


Apa yang harus dia lakukan? Mungkinkah dia harus pergi ke Exile Area? Atau bahkan harus pergi ke gua, tempat rahasianya?


Greisy merasa cukup lelah, wajahnya pucat dan matanya mulai memerah.


Ahhh…


Semangat hidupnya telah sirna. Untuk apa lagi ia hidup jika tidak ada yang akan melihat usaha kerasnya.


Greisy menyingkirkan perlahan genggaman tangan Callan dari pergelangan tangannya.


"Aku akan pulang." 


Wanita itu menjawab pertanyaan dari Callan lalu mulai melangkah kaki, keluar ruang kesehatan.


"Aku akan mengantarmu kembali ke apartemen istana,"


"Tidak perlu," jawab cepat Greisy yang takut putra mahkota akan marah jika laki-laki itu mengetahuinya.


"Tapi aku tidak pernah melihatmu membawa ponsel, jadi bagaimana kau akan menghubungi pelayan Chyrill?" tanya Callan yang bersikera ingin mengantarkan Greisy kembali, laki-laki itu bahkan melangkah semakin mendekati wanita tersebut. "Apa kau tahu nomor ponsel dari pelayan itu? Atau… mungkinkah kau ingin aku memanggil Chyrill untukmu?" tanya Callan, berkali-kali.


Dan itu menyudutkan Greisy hingga wanita itu terdiam sejenak lalu menghela napas lega. Dia mulai mengetahui tempat yang harus ia tuju.


"Hmm!" Greisy mengangguk kepala, "Kau bisa mengantarkan aku pergi ke kediaman Remmornian," jawab Greisy, cukup mengejutkan Callan.


"Apa yang ingin kau lakukan di sana? Sebaiknya kau tidak perlu ke sana. Mereka pasti akan memanfaatkanmu," ucap Callan memberikan saran.


Dan hal itu semakin mengejutkan Pangeran negara yang sedari tadi berdiri diam.


Laki-laki itu berpikir bahwa Callan bukanlah orang yang peduli dengan orang lain, terlebih lagi orang tersebut telah menjadi istri dari laki-laki lain.


"Aku hanya ingin berkunjung, aku ingin bermain-main. Aku bosan kalau terus berada di apartemen menunggu Chyrill selesai bekerja, bukankah petinggi negara dilarang pergi ke luar wilayah kerajaan? Aturan itu juga berlaku padaku, bukan?" jawab greisy, sembari melontarkan pertanyaan.


"Baiklah aku akan mengantarmu ke sana. Tapi aku akan ikut masuk ke dalam," jawab Callan, sembari menarik tangan Greisy untuk melangkah, mengikutinya.


"Apa? Kenapa kau harus masuk ke kediaman Remmornian sementara kau berasal dari keluarga Arsihean?" tanya Greisy yang terus melangkah, mengikuti Callan.


Mereka meninggalkan pangeran negara yang masih terus berdiri di tempatnya.


"Aku hanya perlu menjagamu. Anggap saja itu balasan atas pertolonganmu menyelamatkanku tadi malam!" jawab Callan yang telah menuruni anak tangga.


"Tapi bukan aku yang menolongmu tadi malam,"


"Lalu apa kau mengingat orang yang menolongku tadi malam?"


"Di sana gelap, jadi aku tidak melihatnya dengan jelas," jawab Greisy, dia membuat kebohongan lagi.


"Kau juga sudah menjaga tubuhku saat dia mengusir Hand–Sistem, jadi aku anggap kau sudah menolongku,"


"Kau tidak perlu membalas budi!" larang Greisy yang terus mengikuti langkah Callan hingga mereka sampai ke parkiran mobil.


"Aku tidak menyukai hutang budi dengan seseorang,"


"Sudah kubilang…"


"Masuklah!" perintah Callan, menyela cepat kalimat yang akan diucapkan oleh Greisy.


"Callan!"


"Aku … tidak mungkin mendorongmu masuk, benarkan?" 


Greisy terpaksa melangkahkan kaki masuk ke dalam mobil Callan. Lalu Callan mulai melangkah menuju kursi pengemudi dan mengendalikan mobilnya menuju ke tujuan mereka.


***********


Kediaman Remmornian terletak di atas bukit, samping gunung yang berada di sisi bangunan istana kerajaan.


Ada begitu banyak rumah-rumah pribadi milik anggota keluarga Remmornian dan rumah utama terletak pada bagian paling belakang kediaman.


Semua rumah-rumah itu di kelilingi oleh tembok besar dan terdapat banyak juga pepohonan bonsai yang berada di sekitaran kediaman.


"Aku tidak menyangka bahwa anda akan datang berkunjung ke rumah kita ini, Yang Mulia,"


"Aku adalah orang yang akan memenuhi janji jika aku sudah membuatnya, Paman!" jawab Greisy atas ucapan laki-laki tua di hadapannya.


Wanita itu terlihat begitu santai duduk di ruang tamu sembari meraih secangkir teh dan menyeruputnya dengan begitu elegan.


"Ahh benar, saya sangat yakin anda adalah orang yang bijaksana, Yang Mulia,"


"Tidak juga," jawab Greisy sembari meletakan cangkir kembali ke atas nampan di meja.


Perilaku Greisy memancing perhatian Callan.


Callan yang duduk di sampingnya, masih belum menyangka bahwa orang yang berasal dari Exil Area, tampak terbiasa dengan cara hidup para bangsawan kerajaan.


"Ahh…!" Kepala keluarga Remmornian tersenyum lembut, sejujurnya ia merasa kesal dengan sikap cuek Greisy. Dia tidak menyukai wanita itu, "Aku tidak menyangka bahwa Tuan Callan yang sangat hebat akan datang berkunjung ke rumah sederhan kami, keperluan apa yang anda inginkan dari kami, Tuan?" tanya laki-laki tua, mengalihkan pembicaraan untuk Greisy dengan bertanya pada Callan.


"Tidak ada. Aku datang ke tempat ini hanya untuk menemani muridku saja," jawab Callan sembari tersenyum meremehkan, dan mulai melipat kakinya.


Laki-laki tua di hadapan mereka terkejut.


Ahh…


Bagaimana mungkin seorang anggota keluarga Remmornian begitu hebat dapat mengendalikan dua pria terkenal di negara sekaligus? 


Pikir laki-laki tersebut begitu bangga dan dia mulai menyukai Greisy kembali.


"Yang Mulia kami pasti adalah murid yang spesial bagi anda," tebak laki-laki tua tersebut, membuat Greisy tersenyum pahit.


Wanita tersebut meragukan tebakan laki-laki tua di hadapannya.


"Hmm," jawab Callan membenarkan, "... Sangat spesial, bahkan saya diperintahkan untuk selalu bersama dengannya dan melindungi dia agar tidak dimanfaatkan oleh orang lain," jawab Callan, memberikan sindiran sembari meraih cangkir teh lalu tersenyum meremehkan ke arah laki-laki tua di hadapannya.


Jawaban Callan sungguh mengejutkan Greisy.


Wanita tersebut bahkan sampai tertegun lalu menoleh sejenak ke arah Callan.


"Bagaimama mungkin orang sehebat Tuan Callan melindungi Yang Mulia kami yang masih belum bisa menguasai empat keahlian negara? Aku takut anda akan merasa malu untuk melakukannya, Tuan," balas sindir laki-laki tua tersebut.


Dia mungkin khawatir jika dirinya tidak dapat mendekati Greisy karena wanita tersebut dekat dengan anggota keluarga Arsihean.


"Aku bukanlah sehebat yang kau pikirkan, Tuan Serge. Dan mungkin Putri Mahkota kita jauh lebih hebat dari diriku," jawab Callan, merendahkan diri.


Ucapannya sontak mengejutkan Greisy dan juga laki-laki tua di hadapannya.


Greisy mulai merasa takut jika Callan mengetahui kemampuan wanita itu yang sebenarnya.


"Benarkah? Mungkinkah putri mahkota menyembunyikan keahlian hebatnya secara sembunyi-sembunyi selama ini?" tebak laki-laki tua tersebut.


Sontak membuat tubuh Greisy bergetar dan wanita itu berada dalam ketakutan.