
Callan duduk di ruang kerjanya sembari menyerahkan pena dan kertas kosong pada wanita berambut sebahu di hadapannya.
"Tulis ulang jawabanmu!" perintahnya, mengejutkan wanita tersebut.
Dia masih belum dapat mempercayai bahwa wanita itu berhasil mendapatkan nilai sempurna dari pertanyaan yang dia berikan.
Wanita tersebut mulai menuliskan jawabannya dengan tangan gemetaran dan itu cukup membuat Callan semakin yakin dengan hasil pemikirannya.
Callan melihat bahwa benar tulisan wanita tersebut sama dengan tulisan yang tertera pada lembar jawaban. Meskipun demikian, Callan yakin bahwa bukan wanita itu yang berhasil menjawab sempurna pertanyaan-pertanyaan tersebut.
"Berhenti menulis!" perintah Callan ketika melihat tangan wanita itu berkeringat dan membasahi kertas. "Katakan dengan jujur padaku, dan aku akan memberikan hadiah sesuai janjiku," perintah Callan lagi, dengan nada dingin dan penuh dengan tekanan.
"Aku tidak tahu apapun, Sir. Yang kutahu, setelah wanita itu jatuh mendorongku, kertas jawabanku sudah terisi penuh dengan jawaban. Dan tulisan tangan di kertas jawaban itu juga sangat mirip denganku. Maafkan aku, Sir. Aku sungguh tidak mengetahui apapun kecuali wanita itu menjanjikan bahwa dia akan memberikanku banyak uang,"
"Jadi itu hadiah yang kau inginkan?" tanya Callan, terlihat telah memahami situasi yang terjadi.
"Ahh… Yeah!" angguk wanita di hadapannya.
"Callan!" Bersamaan dengan Pangeran Negara yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Pergilah! Aku akan memberikan banyak uang padamu sesuai janjinya untukmu," perintah Callan lagi lalu wanita itu segera berdiri dan melangkah keluar pintu.
"Sudah selesai urusanmu?"
"Apa yang kau butuhkan dariku?" tanya Callan pada Pangeran Negara yang mulai datang, menghampiri.
"Kau sengaja memberikan trial test sulit hanya karena membuat pertaruhan dengan Greisy, benarkan? Kenapa kau melibatkan kami dalam permainanmu dengannya?"
Pangeran Negara bertanya kesal, dia bahkan tetap berdiri di depan Callan dan tidak berniat sedikitpun untuk duduk.
"Aku pikir sebaiknya kau tidak bertanya, Ewald. Kau membuatku sangat kesal," jawab Callan yang mulai berdiri lalu melangkah, membawa kertas jawaban dari wanita berambut sebahu.
"Kenapa kau yang kesal denganku? Seharusnya aku yang berhak kesal denganmu," jawab Pangeran Negara tidak terima.
Dan hal itu sontak menghentikan langkah kaki Callan, dan laki-laki itu berbalik, dengan raut wajah begitu marah pada Pangeran Negara.
"Kalau bukan karena kau yang menolak pernikahan dengannya, maka semua ini tidak akan terjadi. Beban ibumu tidak akan semakin bertambah, dan wanita itu tidak mungkin akan ditemukan oleh Chyrill. Pahamilah kesalahanmu! Kau hanyalah bocah egois yang selalu memetingkan keinginanmu sendiri," ucap Callan sangat kasar.
Dia begitu emosi bahkan hingga urat-urat di dahi kepala terlihat jelas.
Matanya memerah karena marah juga tampak menunjukan kekecewaan penuh.
"Aku… aku tidak tahu maksud ibuku menjodohkanku dengannya selama jadi bagaimana mungkin aku bisa mengerti?" jawab Pangeran Negara lirih, bersamaan dengan langkah Callan yang telah keluar dan meninggalkannya pergi.
********
Greisy ingin sekali melepaskan rasa lelahnya, menyendiri.
Hatinya yang selalu bersedih, tidak sedikitpun berubah menjadi bahagia meskipun dia telah memenangkan pertaruhan melawan Callan, padahal Callan merupakan Educator Classa terbaik negara NTC.
Wanita itu terlihat melangkah, menapaki jalanan setapak kecil yang terdapat banyak rerumputan liar dan dedaunan kering.
Dia menuju ke arah Gue di samping air terjun yang telah jelas di pandangan mata.
Suara gemericik air terjun, telah terdengar ke telinga. Setelah sampai, dia berniat untuk tidur dalam jangka waktu lama. Dia tidak pernah nyenyak tidur, sekalipun di Apartemen Putra Mahkota yang mewah kecuali hanya jika ia tidur di gua kecil itu saja.
Greisy terus melangkah kaki hingga langkahnya terhenti ketika beberapa orang pengguna jubah panjang yang menutupi tubuh hingga ke wajah dan hanya menyisakan mata saja, tiba-tiba muncul dan mengelilinginya.
Greisy tertegun, selama hidup, baru pertama kali baginya mendapatkan halangan menuju ke gua kecil, tempat rahasianya.
"Apa salahku sampai kalian menggangguku?" tanya Greisy, cukup tertegun.
Mungkinkah karena dia menikah dengan Putra Mahkota maka nyawanya terancam mati?
Pikir Greisy demikian,
Wanita itu sudah mempersiapkan diri untuk merelakan hidupnya.
Bagi dirinya, tidak ada sedikitpun alasan lagi untuk bertahan di dunia yang menyakitkan.
"Bos!"
"Bos!"
"Bos!"
"B– Boss?!" Greisy tersenyum kecut ketika para ninja, membuka masker penutup wajah.
"Maaf, sudah menakuti anda, Boss!" ucap sopan seorang laki-laki yang telah mendekati Greisy. Dia menundukan kepala ketika telah berada di depan wanita itu.
"Aku… bukan boss kalian," jawab Greisy, menolak sembari menoleh ke arah satu persatu para ninja di dekatnya dan menemukan mereka semua menundukan kepala.
"Anda adalah Boss kami, Putra Mahkota yang memilih anda, dan sekarang Pemimpin besar kami berharap anda dapat menemuinya di kota," jawab laki-laki di hadapan Greisy, memberitahukan tujuannya menemui Greisy.
"Tapi aku…"
"Ikutlah bersama kami ke kota, Boss!" mohon para ninja di dekat Greisy, bersamaan.
"Hand–Sistem?!"
"Benar, Boss. Dia tidak akan segan menghukum hingga kami terluka jika kami gagal menjalankan tugas darinya," jawab seorang lainnya,
Dia juga tampak ikut meyakinkan agar Greisy mau ikut dengan mereka.
"Tapi aku tidak mengenal kalian semua, aku juga khawatir jika Chyrill tidak menemukanku nanti,"
"Tenang saja, Boss. Kami akan menyampaikan pada Putra Mahkota bahwa anda bersama dengan kami," jawab cepat laki-laki di hadapan Greisy, berharap wanita itu segera menyetujui permohonan mereka.
"Oh baiklah. Aku akan ikut dengan kalian,"
"Terima kasih, Boss!"
"Terima kasih, Boss!"
Ucap para Ninja bersamaan, dan menggema di kesunyian hutan hingga burung-burung yang tadinya singgah di dahan pohon tampak berhamburan, berterbangan.
**********
Greisy benar-benar berada dalam kebingungan yang tiada henti. Terlebih lagi ketika melihat laki-laki tua dan beruban tampak duduk di hadapannya dan mengajak Greisy bertanding catur hari itu.
"Apa yang bisa kau lakukan sebagai Boss kelompok kami?" tanya laki-laki yang telah mengangkat kuda dan meletakannya di depan prajurit milik Greisy.
Greisy menghela napas, begitu mudah baginya memenangkan pertandingan hanya dengan mengarahkan menteri menuju raja musuh.
"Checkmate!"
"Ahhhh… Sialan… Sialan… Sialan…! Kenapa aku tidak pernah menang jika bertanding catur dengan orang," teriak laki-laki tua, sembari mengangkat kepala, memandang ke atap ruangan di sekitarnya.
"Kakek, kau terlalu gegabah membuka pion yang seharusnya melindung raja," jawab Greisy mulai menyusun kembali para bidak catur yang tak teratur.
Baakkkk!
Laki-laki tua menggebrak meja hingga para bidak yang telah tersusun mulai berjatuhan, bahkan dari atas meja sekalipun.
"Jawab dulu pertanyaanku tadi,"
"Aku bukan boss dari kelompokmu, Kakek. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku dipanggil Boss oleh mereka, " jawab Greisy, mulai berdiri. " Sebaiknya aku kembali saja, di sini bukan tempatku,"
Pakk…! Pakkk.. ! Pakkk!
Laki-laki tua menepuk tangan untuk Greisy.
"Bravo…!" ucapnya memuji, " Dilihat dari sikapmu yang tenang dan juga hatimu yang tidak haus kekuasaanKau memang layak disebut sebagai Boss kami." lanjut laki-laki tua itu, menghentikan langkah kaki Greisy.
"Sudah kubilang, Kakek…"
"Ketua!" Brakkk! Seorang laki-laki tampak masuk dengan tergesa-gesa hingga membanting pintu ruangan, "Polisi Intel datang, kau tahu apa yang terjadi jika mereka berhasil menangkapmu, bukan?"
"Astaga, kita harus cepat kabur! Kenapa mereka suka sekali mengganggu kelompok kita? Kita bahkan bukan pengedar narkoba," jawab kesal laki-laki tua sembari mengambil sesuatu dari laci mejanya. " Pakai ini! Ini bil juga," Lalu melemparkan sebuah jubah berwarna hitam pada Greisy, begitupula dengan dua buah pistol untuk wanita itu.
"Ini?!"
"Cepat pakai, atau jika kita ketahuan maka Chyrill akan marah pada kita!" jawab laki-laki yang telah mengenakan jubah Ninjanya lalu ia mulai melompat dari ke jendela.
"Kakek!" teriak Greisy sontak terkejut lalu berlari mendekati jendela dan melihat laki-laki tua telah menuruni gedung dengan bantuan tali hitam panjang, yang tampak keluar dari kedua jubah tangan yang laki-laki tua itu kenakan.
"Cepat pakai jubahku, Boss!" Laki-laki yang memberikan kabar segera berbalik dan berlari untuk pergi.
"Ahhh… Ahhh! Ampuni aku, State Princess," teriaknya yang mungkin telah tertangkap saat itu.
Tidak memakan waktu lama, Greisy segera memakai jubahnya dan menutup wajah, menyisahkan hanya mata saja.
Dia berpikir untuk melompati lantai gedung yang cukup tinggi itu tetapi belum mengetahui cara untuk mengeluarkan tali dari jubahnya.
"Berhenti!" teriak seorang wanita yang telah masuk dan menodongkan pistol pada Greisy.
Greisy cukup terkejut ketika melihat wanita itu tampak mengenakan seragam polisi inteligen berwarna biru.
Dia tampak berdiri di depan pintu yang dilewati oleh puluhan polisi inteligen lain, untuk memasuki ruangan di sana.
"Putri Negara, perlukah kita lumpuhkan dia agar dia tidak kabur?" tanya seorang polisi militer pada wanita yang sedang menatap mata Greisy.
Greisy tertegun, kali itu ia bertemu dengan petinggi negara lainnya.
Ya…
Wanita itu adalah Putri Negara – Anak dari istri ketiga dari raja sebelumnya, Claudia Anastasya Haeland.
"Lumpuhkan!" perintah Putri Negara,
Dooorrrrrr!