
Tangan Greisy mulai gemetaran.
Benar.
Saat itu, dia sangat takut jika identitasnya diketahui oleh orang-orang di sana.
Dia juga takut jika Chyrill akan membencinya.
Apa yang harus ia lakukan?
Pikir Greisy demikian.
Dia masih memegang sebuah pistol di tangan dan memandanginya terus menerus.
"Apa kau tidak lihat tangannya bergetar hebat, Clau? Hentikanlah keingananmu itu!"
Greisy mendengar ucapan dingin Putra Mahkota pada putri negara.
Putra Mahkota segera meraih pistol dari tangan Greisy dan melemparkannya ke atas jalan, sedikit jauh dari hadapan putri negara berada.
"Aku hanya ingin memastikan, Chyrill," jawab putri negara tidak terima dengan sikap putra mahkota.
Wanita itu segera melangkah untuk meraih pistol yang jatuh lalu terkejut ketika Callan telah mengambilnya.
"Lakukan saja! Aku juga sangat penasaran," ucap Callan, mendukung perintah putri negara.
Hal itu semakin membuat Greisy tidak menyukainya.
Begitupun dengan Putra Mahkota yang mulai menatap Callan dengan tatapan tajam.
"Benar, lakukan saja! Jika aku yakin kau bukanlah buronan itu, maka aku akan melepaskanmu,"
"Aku sudah tidak sabar ingin tidur bersama istriku, tapi sepertinya kalian malah menganggu kesenangan kami," ucap putra mahkota, "Aku memberikan perintah untuk seorang amatir tidak memegang senjata apapun saat tidak berlatih!" lanjut Putra Mahkota sembari menarik tangan Greisy untuk membawanya masuk ke dalam mobil.
"Tunggu!" Tetapi langkah putra mahkota terhenti ketika Callan menghalangi dengan cara menggenggam lengan tangan Greisy.
"Apa lagi yang kau inginkan?" tanya Greisy, dengan nada yang sangat kesal sembari menghempaskan tangan Callan.
"Aku ingin kau berlatih karena aku adalah pendidikmu yang diutus oleh ratu negara," jawab Callan, mengejutkan putra mahkota, dan juga putri negara.
"Callan!"
"Lakukan, Grei! perintah ini adalah perintah dari ratu negara. Dia ingin aku menilai kemampuanmu dan sekarang akan kunilai berdasarkan tembakanmu pada Claudia. Dan juga, bukankah Clau sudah memakai rompi anti peluru? Dia juga memakai helm pelindung kepala, jadi aku sangat yakin, meskipun kau amatiran, kau tidak akan mungkin bisa mencelakakannya," jelas Callan, memaksa sembari memberikan pistol ke tangan Greisy.
"Lakukan, aku akan berdiri di sini sesuai jarakku dengan jarak buronan itu," ucap putri negara dengan nada yang cukup keras.
"Chyrill,"
"Just do it, Babe! Biarkan mereka menyesal karena membiarkan seorang amatir bermain-main dengan senjata api," ucap putra mahkota, tegas.
Dia memberikan perintah dengan nada yang dingin. Dan masih memandang Callan dengan tatapan tajam.
"Alright!" jawab Greisy, bersiap-siap untuk menarik pelatuk, "Ahh tapi bagaimana cara menggunakannya? Aku benar-benar tidak mengerti ini,"
"Bukankah di Exile Area kau sudah dilatih cara memegang pistol. Bagaimana mungkin kau masih bisa berpura-pura tidak tahu cara menggunakannya?" sindir Callan, semakin menambah kekesalan di dalam hati Greisy.
"Aku…!"
"Kau hanya perlu menarik ini, Sayang. Lalu…"
Doorrr!
Tangggg!
"Akh ****!" putri negara begitu terkejut ketika putra mahkota menembakkan peluru, mengenai helm yang ia kenakan, "Kenapa kau melakukannya, Chyrill? Kenapa kau tega menembak Bibimu sendiri?" kelu wanita itu, tidak dapat menerima perilaku buruk putra mahkota terhadapnya.
"Aku hanya mengajarkan istriku cara menembak. Bukankah kau yang memaksanya untuk melakukan itu?" jawab santai Putra Mahkota sembari menghitung jumlah peluru yang tersisa lalu memberikan pistol ke tangan Greisy. "Do it, Babe!"
"Tapi Chyrill…"
"Lakukan itu! Aku ada di sampingmu," jawab Putra mahkota sembari memeluk pinggang Greisy dan mengeratkannya.
Greisy perlahan-lahan mengangkat tangannya yang gemetaran lalu mengarahkannya kepada Putri negara yang masih terkejut.
"Tunggu dulu!"
Dooooorr!
semua mata terkejut ketika tembakan dilakukan tanpa persiapan dari putri negara. Terlebih lagi ketika peluru hampir saja mengenai ujung jari tengah putri negara yang tadunya terangkat.
Tang…!
"Takut sekali, aku takut sekali, aku tidak ingin melakukan itu lagi, Chyrill!" tangis Greisy, berpura-pura setelah ia menjatuhkan pistol lalu memeluk putra mahkota dengan erat, "Sekarang aku mungkin tidak bisa berjalan lagi karena begitu takut," lanjut keluh Greisy.
Lalu putra mahkota segera mengangkat tubuhnya.
"Segalanya telah selesai, bukan? Jadi sekarang jangan ganggu kesenangan kami lagi!" perintah putra mahkota yang telah membawa tubuh greisy ke dalam mobil lalu memeluk erat wanita tersebut setelah keduanya duduk di kursi bagian belakang.
***********
"Chyr!"
Greisy cukup tertegun melihat bangunan menjulang tinggi, hampir setinggi Apartemen istananya.
Dia tidak menyangka bahwa bangunan tersebut digunakan hanya untuk menginap saja.
Greisy mulai melangkah keluar dari mobil, lalu melangkah kaki mengiringi putra mahkota yang tampak telah disambut puluhan pegawai hotel dan juga pemilik hotel tersebut.
"Selamat datang, Yang Mulia!" sapa pemilik hotel pada putra mahkota.
Sejenak ia melihat ke arah Greisy dan mengerutkan dahi, tanda dia kebingungan karena tidak biasanya putra mahkota datang membawa seorang wanita.
"Perlakukan dia dengan baik, dia adalah kesayanganku!" perintah putra mahkota, dan pemilik hotel segera menganggukan kepala, dia mengerti.
Greisy terus melangkah memasuki lift kemudian sampai ke sebuah koridor.
Seorang pegawai membukakan pintu untuk putra mahkota lalu mereka masuk ke dalam.
Ruang kamar hotel begitu luas dan pemandangan wilayah perkotaan dapat terlihat dari jendela yang terbuka.
Greisy telah menghentikan langkah kakinya tepat di depan jendela. Kedua matanya tampak memandang penuh kekaguman pada ratusan bangunan yang menjulang tinggi, melebihi pepohonan di samping beberapa bangunan.
Banyak sekali gang-gang sempit di samping bangunan yang mampu terlihat dari atas sana. Banyak orang bahkan tampak berjalan memasuki gang-gang sempit tersebut, terkadang membawa barang ringan, terkadang adapula yang membawa barang-barang berat.
Tingggg!
Pintu kamar akhirnya ditutup.
Greisy menoleh ke belakang ketika mendengar suara pintu yang tertutup tersebut.
Sejenak ia melihat ke arah putra mahkota yang telah membuka kancing-kancing seragam militer berwarna merah yang ia kenakan, memperlihatkan sebuah kaos berwarna hitam yang ia kenakan.
"Chyr, kenapa kita tidak kembali ke istana?"
Greisy mempertanyakan rasa penasarannya pada Putra Mahkota yang telah melepaskan jam tangan lalu mengambil ponsel miliknya.
"Pertunjukan sebentar lagi dimulai!" jawab putra mahkota, cukup mengejutkan Greisy yang cukup mengenal laki-laki tersebut.
"Apa… apa yang akan terjadi?" gumam Greisy bertanya pada dirinya sendiri dan tiba-tiba tubuhnya mulai bergemetaran.
Dia yakin, sesuatu yang berbahaya sebentar lagi akan terjadi.
"Chyr!"
"Tenanglah! Kau tidak perlu melakukan apapun kecuali hanya diam karena kau tidak sedang menjalankan tugasmu," perintah putra mahkota yang telah menghidupkan layar televisi besar di dinding sembari mengaitkan headset ke dalam lubang telinga.
"5 menit lagi, setelahnya, lakukan!" perintah putra mahkota sembari bergerak mendekati Greisy.
"Chyr, Ughhh!" dan membuka mulut wanita tersebut lalu mengisapnya, kali ini cukup lama. " Akhh eummm!" Lalu menjatuhkan tubuh Greisy ke atas kasur dan membuka kancing-kancing kemeja wanita itu, "Ughh! Aku belum terbiasa melakukan ***," ucap Greisy ketika putra mahkota mencium lehernya dan terkadang menggigit bagian kulitnya.
"Tidak ada ***. Aku hanya menunggu waktu tiba dan kau akan tahu maksudku melakukan ini semua nanti," jawab putra mahkota yang mulai menggigit bibir Greisy hingga berdarah.
"Sekarang waktunya tiba. Haha… Haha… Haha!" Greisy terkejut ketika mendengar suara tawa keras dari siaran televisi.
"Ughh!" tetapi wanita itu tidak dapat bangkit karena putra mahkota menahan tubuhnya tetap terbaring dan bahkan terus menghisap kedua bibir wanita itu.
"Haeland, Arsihean, Alley, Remmornian. Keempat keluarga pemimpin negara. Matilah… matilah! Hahahaha!"
Doooommmmm! Doommmmm!"
"Chyr!" teriak Greisy mulai meronta ketika tiba-tiba bangunan bergetar.
Biiipppp!
"Pengunjung diharap segera keluar… Pengunjung diharap segera keluar. ******* menyerang kota!"
Suara pengumuman hotel terdengar.
Doooommm!
Greisy segera bangkit ketika putra mahkota telah menyelesaikan kegiatannya pada tubuh Greisy.
Doommmm!
Wanita itu segera bergerak melihat ke arah jendela kamar hotel dan dia terkejut ketika melihat begitu banyak kebakaran gedung dimana-mana.
"Hmm.. Hmm… Hahahahaha!" tawa putra mahkota menggelega.
"Matilah.. Matilah… Matilah penduduk negara boneka! Hahahaha!" tawa suara seseorang dari dalam televisi yang mungkin telah diretas lalu layar televisi tiba-tiba padam, bersamaan dengan putra mahkota yang telah menyalakan rokok dan menghisapnya.
"Kemarilah, Sayang! Kita akan menikmati malam ini sebagai malam pertama pernikahan kita!" perintah putra mahkota yang tampak duduk di pinggir kasur dan melipat kedua kaki sembari terus menghisap rokok yang menyala.
Doommmmm!
Dan Greisy hanya tetap berdiri, berusaha menyeimbangkan diri ketika bangunan tempat ia berdiri, bergetar lebih kuat dari sebelumnya.