Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
Bab 24


Seorang laki-laki paruh baya tampak duduk di depan beberapa orang laki-laki paruh baya lainnya.


Dia mematikan siaran televisi dan meletakan remote ke atas meja ketika televisi tidak lagi menyala.


"Kenapa dia muncul di Wilayah Perkotaan?" tanya marah laki-laki paruh baya itu.


"Putri Qianna telah kembali dari Afrika dan Tuan Aron Alley pasti sedang membawa putrinya berkeliling di wilayah itu. Kemungkinan besar Hand–Sistem, mengincar nyawanya di sana. Anda tahu, bukan? Hand–Sistem tidak akan mungkin bisa berfungsi di wilayah kerajaan, maka pasti, dia mencari celah untuk menghancurkan petinggi keluarga besar di luar wilayah kerajaan," jelas seorang laki-laki muda, yang tampak berdiri di samping laki-laki paruh baya tersebut.


Laki-laki itu terlihat mengenakan seragam militer berwarna biru tua. Dia berdiri sembari membawa beberapa dokumen di tangannya.


"Aron pasti dalam bahaya,"


"Tidak! Sepertinya hari ini putra mahkota datang ke wilayah perkotaan bersama istrinya, kemungkinan besar, nyawanya juga sedang diincar olehnya!" laporkan panik laki-laki muda itu, setelah menerima laporan beberapa pejabat negara yang mengunjungi wilayah perkotaan.


"W–What? Bagaimana mungkin putra mahkota di sana? Segera kirimkan para classa pelindung! Kita tidak bisa membiarkannya dalam bahaya," seru laki-laki paruh baya tersebut dengan begitu panik, lalu dia mulai berdiri dan melangkah.


Krkkk!


Namun langkahnya terhenti ketika melihat laki-laki tua tampak masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Tuan!"


Dan semua orang memberikan hormat kepadanya.


"Apa yang kau lakukan di sini, Brian? Baru saja Kepala polisi perkotaan memberikan kabar bahwa Putra Mahkota terluka," ucap laki-laki tua yang baru saja datang tersebut, dengan nada dingin namun raut wajahnya terlihat sangat marah.


"Maaf, Tuan!" jawab laki-laki paruh baya merasa bersalah pada kepala keluarga Haeland yang tampak mulai melangkah kaki untuk pergi dari ruangan tersebut.


**********


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia!"


Beberapa orang tentara militer tampak berlari ke arah putra mahkota yang tampak melangkah keluar hotel sembari membawa Greisy yang tak sadarkan diri di atas kedua tangannya.


Kepala laki-laki itu terluka dan mengeluarkan aliran darah.


Dooommm!


Braakkkkk!


Sementara itu, sebagian bangunan hotel tampak roboh karena api mulai melahap bangunan tersebut.


Suasana sore menjelang petang sangat ricuh, mobil pemadam kebakaran dan juga polisi militer tampak berlalu lalang terdengar datang dan menghilang.


Putra mahkota menyerahkan Greisy ke salah seorang tentara militer yang mendekat.


Lalu tubuhnya hampir saja jatuh, jika saja  seorang tentara lain tidak membantu, menahannya untuk berdiri.


Sebuah mobil militer dengan cepat datang menghampiri lalu tentara militer itu membawa putra mahkota masuk ke dalam.


Sementara itu, tentara yang membawa tubuh Greisy mulai melangkah mendekati mobil untuk membawa wanita tersebut ke rumah sakit terdekat.


"Berikan dia padaku!" Namun langkahnya terhenti ketika seseorang telah meminta tubuh Greisy untuk ia ambil alih.


"Tuan Callan!"


"Bagaimana keadaan putra mahkota?" tanya Callan pada tentara tersebut sembari memandangi leher Greisy yang tampak penuh dengan tanda merah.


"Sepertinya mereka juga berniat untuk membunuh putra mahkota, Tuan!" jawab tentara militer tersebut.


Dan Callan tampak menganggukan kepala mengerti.


Callan meraih ponsell miliknya lalu menghubungi seseorang.


"Callan!"


"Putra Mahkota selamat, Yang Mulia!" jawab Callan, "Sepertinya dia terluka saat sedang berhubungan badan dengan istrinya," lanjut Callan memberikan laporan.


"Bawa kembali Greisy ke istana! Untuk sementara pejabat negara di larang mengunjungi wilayah lainnya, begitu juga denganmu. Aku takut kau berada dalam bahaya!" perintah ratu negara, mengejutkan Callan.


Callan sejenak tersenyum bahagia karena kekhawatiran ratu negara terhadapnya. Lalu mulai mengambil tubuh Greisy dari tangan tentara militer di sana,"Baiklah, Yang Mulia." Dia mulai melangkah menuju mobilnya bersamaan dengan panggilan yang telah terputus.


Callan terus melangkah…


Dooommmmm!


Wuuuzzzz!


Tetapi langkahnya terhenti ketika melihat mobil di hadapannya tiba-tiba meledak dan api melahap habis seluruhnya.


"Akhh!" Callan menoleh ke arah wajah Greisy ketika mendengar suara wanita itu.


"Kau sudah bangun?!"


"Chyrill?!" tanya cepat Greisy, melebarkan mata, " Dimana Chyrill?" lanjut wanita itu bertanya.


"Chyrill baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Dia akan kembali ke istana setelah mendapatkan perawatan," jawab Callan,


"Turunkan aku!" Lalu menurunkan tubuh Greisy.


Sejenak Greisy memegangi kepalanya yang sakit,


"Kau baik-baik saja?" Dan dia menghempaskan tangan Callan ketika Callan ingin membantu menahan tubuh wanita tersebut agar tidak jatuh.


"Aku baik-baik saja," jawab Greisy, "Bawa aku pada Chyrill! Aku ingin melihat keadaannya," pinta wanita tersebut.


"Maaf, tetapi ratu memintamu untuk segera kembali ke istana," tolak Callan sembari mulai melangkah mendekati beberapa tentara militer yang bertugas, untuk meminjam mobil mereka.


Taaanggg!


"Minggir!" 


Belum sempat Greisy melanjutkan ucapannya, dia telah mendorong tubuh Callan hingga keduanya terjatuh di lantai jalan dan saling berpelukan.


"Kau baik-baik saja?" tanya Callan pada Greisy ketika dia menyadari bahwa seseorang sedang mengincar nyawanya dengan peluru.


"Tuan, sepertinya mereka sedang mengincar anda. Mereka juga mengincar nyawa pejabat tinggi lain dan Tuan Aron sekarang sedang berada di ruang operasi setelah tertembak peluru," ucap seorang tentara yang telah datang, menjelaskan.


Lalu Callan segera berdiri, "Berikan kunci mobil padaku!" Lalu meminta kunci pada tentara tersebut.


"Ahh aku akan mengambil kuncinya pada temanku, mohon segera pergi dari tempat ini atau…


Tangggg!


"Akkkhhh!"


Tubuh Greisy mulai bergetar ketika melihat tubuh tentara militer di hadapannya roboh.


Greisy melihat tentara militer tersebut berteriak mengerang kesakitan ketika peluru tampak menembus masuk ke dalam betis kakinya.


Tangggg! 


"Lari!" 


Di saat Greisy terkejut, Callan segera menarik tangan Greisy untuk berlari bersamanya.


"Grei, fokuslah!" perintah Callan ketika melihat raut wajah Greisy tampak begitu pucat dan wanita itu terus mrmandang ke arah tentara militer yang masih mengerang kesakitan dan tentara militer tersebut mulai dikelilingi teman-temannya yang mungkin membantu dia untuk segera dibawa pergi ke rumah sakit.


Tang!


Tarrr!"


"Ughh!"


"Grei, kau baik-baik saja?" tanya Callan yang telah masuk ke dalam gang sempit di antara dus bangunan tinggi.


"Callan, mereka mengincar nyawamu," ucap Greisy, mulai panik. Dia melihat sebuah kaca pecah dan peluru jatuh dari atas bangunan.


"Aku tahu itu," jawab Callan, mulai berlari kembali, "Kita harus segera pergi ke pangkalan militer, di sini tidak aman," ucap Callan, menjelaskan sembari terus berlari menggenggam erat tangan Greisy, membawa wanita itu masuk ke dalam gang sempit satu ke gang sempit lainnya.


"Memangnya kau tahu jalan menuju ke pangkalan militer? Bukankah kita berada di gang sempit? bagaimana bisa melihat jalan? Dan hari juga sudah malam," tanya Greisy panik,


Wanita itu terus melangkah lari, mengikuti langkah Callan yang masih menggenggam tangannya.


Callan segera meraih ponsel dari dalam kantung celana yang ia kenakan, "Aku akan mengaktifkan peta, kau tidak perlu khawatir!"


"Aku harap mereka tidak menemukan kita," ucap Greisy yang masih terus melangkah di kegelapan gang sempit.


"Kau tidak lelah?" tanya Callan pada Greisy yang terus bergerak lari, mengimbangi lari Callan saat itu.


"Lelah, tapi mau bagaimana lagi? Aku juga sangat takut hingga melupakan lelahku," jawab Greisy, mencari alasan agar Callan tidak mengetahui keahliannya yang akan membuat putra mahkota marah nantinya.


Walaubagaimanapun, lari dalam jangka waktu lama bukanlah hal yang sulit bagi Greisy, karena wanita itu terbiasa dengan lari selama ia hidup.


"Syukurlah. Aku harap kita baik-baik saja dan dapat kembali ke kampus lagi besok!" ucap Callan, mengejutkan Greisy.


Ahh benar.


Entah mengapa di dalam hati Greisy tiba-tiba merindukan kampus.


Dia ingin kembali ke sana, dia ingin belajar bersama Callan lagi.


Greisy tertegun ketika genggaman tangan Callan untuknya di pererat.


"Hahahahhaha… aku menemukanmu!" Lalu langkahnya terhenti ketika seorang laki-laki kurus, bertubuh tinggi menghalangi mereka untuk terus berlari.


"Hand–Sistem!" panggil Callan, yang tampak menyembunyikan tubuh Greisy dibalik punggungnya.


"Callan, bukankah lebih baik hari ini kau mati saja?" ucap laki-laki bertubuh kurus yang salah satu tangannya terlihat seperti sebuah besi.


"Aneh sekali, kenapa tiba-tiba kelompokmu menyerangku? Aku tidak ada hubungannya dengan keluarga besar Arsihean jadi seharusnya, aku bukan termasuk dari daftar orang yang harus kalian bunuh," tanya Callan, 


Laki-laki tersebut terlihat sedang menelan salivanya. Dia bergerak hati-hati mundur ke belakang sembari terus melindungi Greisy.


"Tidak… sekarang kau masuk ke dalam daftar. Karena pemimpin kami ingin sekali kau segera mati," jawab laki-laki kurus di hadapan Callan, lalu berlari secepat kilat.


Bukkk!


Dan mencoba menendang tubuh Callan. Tetapi ia gagal, karena tangan Callan tampak menghalanginya tendangan kakinya dan Callan jatuh terpental, menabrak dinding bangunan di sampingnya.


"Callan!" panggil Greisy mulai panik.


"Hmm!" Dan dia menoleh ke arah laki-laki yang berdiri, memandanginya.


"Kau?!"


"Berhentilah! Kenapa kau ingin membunuh orang tidak bersalah?" tanya Greisy, berteriak marah.


"Tidak bersalah katamu?!" ucap laki-laki bertubuh kurus terdengar, marah. " Kau kira karena siapa aku kehilangan tanganku dan kedua orang tuaku. Haeland, Arsihean, Alley, Remmornian. Tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar pantas untuk dihormati," ucap laki-laki bertubuh kurus tersebut, menjelaskan, " Daripada berisik, lebih baik kau mati,"


Paaaakk….!


"Ughhh!"


"Callan!"