
"Salute!"
Putra Mahkota melangkah masuk ke dalam koridor menuju ke salah satu sel tahanan.
Dia disambut dengan bungkukan tubuh dan penghormatan tangan di dada oleh para tentara militer penjaga.
"You are too much, Chyrill. Aku pikir lebih baik aku menetap di sini saja," ucap Greisy ketika pintu penjara telah dibuka.
Wanita itu terlihat terbaring miring di atas kasur bambu, menghadap ke arah dinding yang dekat dengannya.
"Masih ada tugas yang harus kau laksanakan," jawab Putra Mahkota yang telah melangkah masuk dan mendekati Greisy lalu mengangkat tubuhnya pada kedua lengan tangan.
"Turunkan aku! Di sini terasa nyaman. Aku tidak perlu melihat orang tuaku dan juga mengambil jatah makanan orang lain lagi. Penuhi permintaanku ini, Chyrill!"
"Aku akan memenuhi seluruh permintaanmu jika kau sudah melaksanakan tugasmu dengan baik," jawab Putra Mahkota sembari membawa Greisy keluar penjara dan terus melangkah di koridor yang banyak dijaga oleh para polisi militer.
"Turunkan aku! Ini memalukan," pinta Greisy,
Wanita itu mulai menyembunyikan wajah di dada bidang Putra Mahkota.
"Berpura-puralah!"
"Aku… merasa tidak nyaman!"
Putra Mahkota menghentikan langkah ketika Greisy mengatakan kondisinya.
Dia tersenyum kecut. "Laksanakan perintah! Kau akan terus dipandang hina oleh mereka jika kau masih belum berubah!" ucap Putra Mahkota,
Dia mulai melangkah kaki kembali sembari terus menerima penghormatan dari puluhan polisi militer di sana.
***********
Mobil perlahan-lahan menaiki jalur mendaki bangunan.
Hingga ia berhenti tepat di depan bangunan Apartemen negara dan berada di atas bangunan utama istana negara NTC.
Greisy yang telah duduk segera membuka pintu tanpa menunggu pintu terbuka terlebih dahulu.
"Gosh!" Wanita itu terkejut, "Apa yang kau lakukan, Chyr?" tanyanya ketika tubuh wanita itu terangkat kembali di kedua tangan Putra Mahkota.
"Diamlah! Akan ada yang datang nanti," jawab Putra Mahkota,
"Oh, Alright!" Dan Greisy mematuhinya.
"Yang Mulia, maaf menghentikan langkah anda!" Lalu wanita itu tersentak.
Ahhh… Yeah.
Dia memahami maksud Putra Mahkota mengangkat tubuhnya.
Itu karena Pelindung Ratu Negara — Ian Lush Remmornian benar-benar datang, menyapa mereka.
"Aku sangat sibuk dengan istriku dan tidak memiliki banyak waktu. Jadi kau paham maksudku, bukan?" tolak keras Putra Mahkota bersamaan dengan Greisy yang mulai melingkarkan tangan ke leher laki-laki itu untuk berpura-pura.
"Sebentar saja!" paksa ayah dari Greisy tersebut, "Beri aku waktu sebentar saja!"
"Chyr, aku lelah sekali! Kenapa lama kita sampai ke ruanganmu?"
Greisy benar-benar berada pada titik kebenciannya.
Bahkan untuk melihat ayahnya sendiri, dia tidak ingin.
Wanita menggenggam erat seragam militer di belakang punggung Putra Mahkota.
Putra Mahkota menyadarinya. Dia memahami perasaan kecewa yang Greisy rasakan terhadap ayahnya.
Yeah.
Bukankah mereka berada di atas perahu yang sama?
Keduanya tidak dipedulikan oleh ayah mereka.
"Kau menghabiskan waktuku, Classa Pelindung. Menyingkirlah, aku tidak suka gangguan!" perintah Putra Mahkota.
Dia cukup marah.
"Kenapa kau memenjarakannya, Yang Mulia? Apakah dia berbuat salah? Dia pasti akan selalu melakukan kesalahan jadi aku mohon, ceraikan dia!"
Greisy menggertakan gigi-giginya, marah.
Dia sangat kesal pada ayahnya.
"Chyr, turunkan aku!" segera ia melontarkan permintaan.
Dan putra Mahkota menyetujuinya. Lalu dia berdiri di hadapan ayahnya dan membelakangi Putra Mahkota.
"Grei!"
"Tuduhan apa lagi yang kau katakan, Ayah? Bukan… Aku yakin kau tidak menganggapku sebagai anakmu selama ini jadi, aku pikir aku juga tidak perlu menganggapmu sebagai ayahku,"
"Grei, berhentilah bertindak ceroboh! Kau tidak seharusnya ada di sini,"
Dia tersenyum kecut.
Berusaha untuk tidak lagi terlihat menyedihkan.
"Kau… berbeda dengannya,"
"Bukankah dia juga Classie Dominan sama denganku? Lalu apa bedanya aku dengan dia? Dan kau juga tahu bahwa dari kecil aku sudah menguasai lebih dari empat keahlian negara tapi kau malah terus menuduhku tidak berguna. Kenapa kau terus menuduhku? Dan sekarang malah menuduh suamiku memenjarakanku? Kenapa kau ingin memisahkan kami berdua? Apa mungkin kau ingin putri adobsimu itu yang menikah dengan suamiku? Semuanya… Semua milikku, mungkinkah kau ingin memberikan untuknya?" bentak Greisy, dengan suara lantang ia melontarkan pertanyaan demi pertanyaan.
"Grei! Berhentilah menuduh ayahmu seperti itu!"
"Sekarang kau malah mengaku sebagai ayahku, kemana saja kau selama ini?" lanjut bentak Greisy.
Lalu segera ia berbalik, memandang ke arah Chyrill yang sedari tadi diam mendengar keluhan isi hati Greisy pada ayahnya.
Greisy menundukan kepala, ia takut membuat kesalahan saat itu.
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Bukan? Sekarang menyingkirlah!"
"Jadi anda sudah tahu tentang keahliannya, benarkah begitu, Yang Mulia?" tanya ayah Greisy bersamaan dengan tubuh wanita itu yang telah diangkat kembali oleh Putra Mahkota.
"Aku tidak tahu, aku tidak peduli. Yang kutahu adalah dia istriku," jawab cepat Putra Mahkota, sembari melangkah lebar, meninggalkan Classa Pelindung Ratu Negara begitu saja.
Saat itu, Ian Lush Remmornian tampak berdiri seperti patung, tak bergerak sedikitpun, bahkan untuk sekedar berbalik memandang kepergian Putra Mahkota yang telah memasuki pintu utama Apartemen istana.
"Maaf, Maida!" gumamnya pelan, raut wajahnya tampak penuh dengan penyesalan.
************
"Kemarin, kau tidak kembali,"
"Kalau bukan karena terpaksa, hari ini aku juga tidak akan kembali,"
Sorot mata Greisy tampak begitu malas untuk memandang tatapan mata mengejek yang terus-menerus tertuju padanya.
Tatapan mengejek itu adalah tatapan mata milik Classa Pendidik.
Dia terlihat berdiri di depan pintu masuk utama gedung jurusan sembari memegang selembar kertas dan mulai memberikannya pada Greisy yang baru saja datang.
"Ujian percobaan,"
"Hm!" Greisy tersenyum pahit, " Lelucon apa yang sedang kau perbuat, Tuan Classa yang terhormat? Bagaimana mungkin orang yang baru saja pindah jurusan sudah diwajibkan ikut serta ujian percobaan?"
Greisy menolak lembar kertas.
"Kau bisa mengerjakan semampu!" Tetapi Callan memaksa.
"Aku tidak mau, itu bukan jurusanku!" Dan Greisy tetap bersikeras menolaknya.
Bahkan dia meremas kertas dan membuangnya sembarang lalu mulai melangkah kaki berlawanan arah dengan ruang belajarnya.
"Aku tidak akan menganggumu lagi jika kau bisa mengerjakan 3 dari 5 pertanyaan yang kuberikan diujian percobaan ini," seru Callan, dari jauh.
Dia menghentikan langkah Greisy, namun tidak berbalik.
"Aku tidak peduli," jawab cepat Greisy,
"Aku ingat bahwa Lady Ella dan Pangeran Negara adalah Mahasiswa yang memegang nilai tertinggi diujian percobaan minggu lalu. Pantas saja, Madam Maida begitu menyayangi putri adopsinya itu,"
Greisy tersenyum getir, mendengar ucapan tersebut terlontar hingga ke telinganya.
Dia segera berbalik, " Itu artinya Title Classa Pendidik terbaik negara tidak pantas anda sandang, Tuan Classa," balas sindir Greisy,
"Apa maksudmu?"
"Kemampuanmu bahkan hanya setara dengan wanita brengsek itu," jawab Greisy, balas mengejeknya.
"Jadi kau meremehkanku?
"Tidak, aku hanya mengatakan kebenarannya. Bahwa kau tidak secerdas yang dipikirkan oleh penduduk negara selama ini," lanjut jawab Greisy, dia bahkan tampak tersenyum menghina.
"Hmmm!" Callan mulai merasa tertantang. "jika tidak ada seorang muridpun yang mampu menjawab pertanyaanku dengan sempurna, itu artinya aku hebat, bukan?"
"Tentu saja!" jawab Greisy,
"Dan jika aku hebat, maka kau akan menuruti perintah orang hebat ini, benarkan?" tantang Callan kembali,
"Ahhh…" Greisy memperlebar senyumannya, " Mari kita lihat dulu sehebat apakah diri anda Tuan Classa yang terhormat. Karena aku sangat yakin, pasti akan ada murid yang mampu menjawab sempurna pertanyaanmu itu,"
"Tentu saja tidak akan ada,"
"Jika ada, maka kau pasti berani mengakui bahwa kau bukan sehebat yang orang pikirkan selama ini, iyakan?"
"Tentu saja aku akan melakukannya," jawab cepat Callan, menerima tantangan dari Greisy.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengikuti ujian percobaan darimu," jawab Greisy.
Dia melangkah kembali memasuki gedung jurusan sembari tersenyum sumringah.