Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
29


Itu adalah langkah pertama, bagi dirinya untuk memberanikan diri berhadapan dengan petinggi negara.


Jika dia tidak mengambil langkah, maka kekacauan tidak akan pernah tercipta.


Dia berharap aktingnya sempurna, menjadi seorang penjahat yang akan dibenci oleh masyarakat.


"Well, aku sangat menyenangi kesepakatan ini. Aku harap kau mengumumkan aku sebagai orang yang berhak mengatur Remmornian mulai dari sekarang," ucap Greisy, memberikan perintah.


Lalu dia mulai melangkah kaki untuk keluar dari rumah kepala keluarga Remmornian.


"Dia berbahaya,"


"Tidak, dia hanyalah gadis kecil yang kurang ajar dan tentu saja masih bisa dikendalikan. Dia bukanlah orang berbahaya seperti yang kau pikirkan," jawab laki-laki tua yang sedari tadi memandang punggung Greisy hingga wanita itu menghilang.


"Lord!" Lalu meraih ponselnya yang bergetar. " Putra Mahkota datang berkunjung!" Dan sontak berdiri ketika mendengar laporan dari balik ponsel miliknya.


"Apa?"


"Lord!" Dan semua orang yang tadinya duduk juga mulai berdiri ketika melihat sikap pemimpin mereka.


"Ini pertama kalinya, dia datang," ucap laki-laki tua, memberitahukan pada rekan keluarganya.


"Mungkinkah dia adalah putra mahkota?"


"Menurutmu siapa lagi?" tanya balik laki-laki tua yang mulai melangkah diikuti oleh anggotanya.


"Wanita itu benar-benar dicintai," gumam seorang dari mereka, masih tidak menyangka bahwa putra mahkota akan menginjakan kaki di kediaman mereka.


"Sudah kubilang dia berbahaya," ucap anggota lainnya, memperingati.


"Tidak, aku pasti akan memberikan pelajaran untuknya karena telah berani mempermainkan Remmornian," ucap kepala keluarga Remmornian dengan nada dingin, dan tatapan matanya tampak tajam memandang ke depan sembari terus melangkah.


***********


Wanita itu begitu percaya diri, menyatakan bahwa Callan akan menunggunya. Meskipun demikian, sejujurnya dia merasa yakin dengan tebakannya tersebut mengingat perkataan Callan bahwa laki-laki tersebut akan selalu menemaninya.


"Huh!"


Andai itu benar terjadi, maka mungkin Greisy akan sangat bahagia karena memiliki orang yang selalu di sisinya, tidak seperti dirinya yang selalu sendiri selama ini.


"Sangat lama, aku bahkan sampai ketiduran di dalam mobil."


Greisy yang telah keluar dari dalam rumah tersenyum tipis.


Matanya mulai berkaca-kaca dan hatinya berkata : 'Ahh benar, dia tidak sendirian lagi.'


Kenapa Callan mau membuang banyak waktu hanya untuk menunggunya? Mungkinkah benar ratu negara yang menyerukan perintah?


Oh betapa terharunya hati wanita itu? Dia tidak lagi sendirian, dia tidak lagi ditinggal oleh orang lain.


"Kenapa kau malah diam? Masuklah! Apalagi yang kau tunggu?" 


Greisy tersenyum lembut lalu melangkah kaki menuju pintu mobil bagian belakang.


Namun langkahnya terhenti ketika Callan telah keluar dari mobil dan menggenggam lengan tangannya.


"Apa yang terjadi dengan lukamu? Kenapa perbannya berdarah lagi?" tanya Callan terlihat begitu khawatir.


Dia bahkan sampai menyentuh perban tersebut dan cairan darah menempel di ibu jarinya.


"Apa mereka… melukaimu?" tanya Callan dengan nada dingin dan tatapan penuh emosi.


"Tidak, kau jangan salah paham,"


"Babe!" Greisy menoleh ke arah sumber suara yang sangat ia kenali ketika mendengar panggilan untuknya.


" Chyrill!" Dia melihat ada begitu banyak keluarga Remmornian yang berkumpul dan memberi hormat untuk laki-laki yang baru saja keluar dari mobilnya, diikuti oleh tiga orang temannya.


"Oh Yang Mulia, betapa bahagianya saya hari ini, tidak hanya putri mahkota, bahkan orang kebanggaan negara mengunjungi rumah sederhanaku juga. Selamat datang, Yang Mulia! Senang sekali melihat kehadiran anda," sambut laki-laki tua yang telah keluar dari rumahnya dan memberikan salam hormat. "Tapi saya akan lebih senang jika anda memberikan kabar terlebih dahulu sebelum datang kemari, wahai yang mulia, yang tercinta,"


Dia membungkukan tubuhnya dan meletakan tangan di dada diikuti oleh anggota keluarga Remmornian yang lainnya.


"Selamat datang, Yang Mulia!"


"Aku datang kemari untuk menjemput milikku, aku sangat merindukannya sampai lupa memberikan kabar kedatanganku kemari. Perlukah aku meminta maaf padamu?" 


Putra mahkota mulai melangkah mendekati, sejenak dia berhenti lalu memandang Callan dengan tatapan tidak menyukai.


"Callan! Aneh sekali, kenapa kau bersama dengan milikku?" sindir putra mahkota, sembari mulai melangkah kembali.


"Ahhh aku merindukanmu." Lalu berhenti lagi ketika Greisy telah berlari, kemudian memeluk laki-laki itu dengan erat.


Wanita itu merasakan firasat buruk, entah mengapa.


Dia tidak ingin putra mahkota mendekati Callan.


"Benarkah?" 


"Hm!" Greisy menganggukan kepala, "Aku bahkan tidak ingin kembali ke Apartemen karena takut rinduku semakin dalam untukmu," ucap Greisy berpura-pura lalu mulai melepaskan pelukannya untuk putra mahkota.


Greisy tersenyum sejenak namun senyumannya dengan cepat menghilang karena melihat raut wajah marah dari putra mahkota.


Apa salahnya?


Pikir wanita itu demikian, mulai tertegun dan menundukan kepala, lalu berjalan mundur beberapa langkah.


"Siapa yang melukaimu?" tanya putra mahkota ketika melihat darah di perban Greisy.


Pertanyaan putra mahkota sedikit membuat kepala keluarga Remmornian merasa khawatir, dia bahkan tertegun ketika melihat Greisy telah mengangkat kepala dan tersenyum sedih memandang ke arah putra mahkota.


"Ehmm!" Greisy menghela napas lalu melangkah maju kembali dan meletakan dahi di dada putra mahkota. "Remmornian," jawab wanita itu,


"Yang Mulia, aku sungguh tidak pernah memukul putri mahkota," ucap cepat laki-laki tua membela diri.


********


Greisy memang sedang membuat kekacauan. Tujuannya adalah agar putra mahkota yakin bahwa wanita itu mampu melaksanakan perintah.


"Remmornian," jawab Greisy menyalahkan sembari menoleh ke arah laki-laki tua di sampingnya yang tubuhnya tampak gemetaran, "Salah seorang pelayan Remmornian memukulku ketika aku sedang mengambil kue di dapur, dia mengiraku sebagai pencuri tetapi atas bantuan Tuan Serge, dia sudah meminta maaf padaku," jawab Greisy, menjelaskan kebohongan sembari menengadah, memandang wajah putra mahkota di atasnya.


"Kumpulkan semua pelayan Remmornian!" perintah putra mahkota,


"Chyrill, jangan lakukan itu! Kau membuang-buang waktu, Aku sudah lelah merindukanmu dan ingin berdua bersamamu jadi aku mohon, ayo kita pulang saja!" ajak Greisy sembari menggenggam salah satu tangan putra mahkota dengan kedua telapak tangannya lalu menoleh ke arah laki-laki tua di sisi putra mahkota dan memberikannya senyuman mengejek.


"Yang Mulia, kami sangat ingin anda masuk ke dalam rumahku, tetapi sayangnya kami tidak memiliki persiapan dalam penyambutan anda karena anda datang secara tiba-tiba. Dan juga, bukankah anda sangat merindukan putri Remmornian kami? Saya hanya merasa sedih karena putri Remmornian kami selalu memikirkan anda sedari tadi," ucap kepala keluarga Remmornian, berharap putra mahkota segera pergi dari sana agar Greisy yang mulai dia anggap berbahaya tidak membuat kekacauan dan berhenti menuduh mereka.


Dia sangat takut jika memiliki masalah dengan laki-laki yang dicintai oleh negeranya tersebut..


"Babe!"


"Ayolah, Chyr! Kita pulang saja," ajak Greisy, berpura-pura manja.


Dia juga memberikan isyarat dengan mengeratkan genggaman pada tangan putra mahkota.


"I got it!" jawab putra mahkota, " Tetapi aku tetap akan memberikan hukuman pada pelayan Remmornian dengan perlakuan yang sama. Katakan padaku, siapa yang sudah memukul milikku! Jika tidak, maka hukuman itu akan kuberikan pada Tuan Serge," ucap putra mahkota, mengejutkan semua orang di sana, begitupula dengan Greisy.


"Chyril, tidak…"


"Aku tidak peduli dengan alasan apapun. Siapapun itu yang berani menyentuh milikku, maka dengan senang hati aku akan menghukumnya," lanjut ucap putra mahkota menjelaskan.


Dia memberikan isyarat pada Classa Pelindungnya untuk mendekati kepala keluarga Remmornian.


"Saya yang telah melakukannya, Yang Mulia. Maafkan saya…"


Plaakkk!


Belum selesai pelayan dari kepala keluarga Remmornian melanjutkan kalimat, Classa Pelindung telah memukul wajahnya.


"Aku menyenanginya, lakukan sekali lagi agar kalian semua paham, orang seperti kalian harus memahami jabatan rendah yang kalian miliki!" perintah putra mahkota.


Plaaak!


Kemudian Classa Pelindung memberikan tamparan lagi pada laki-laki paruh baya itu hingga wajahnya memar dan darah keluar dari sela-sela mulutnya.


Hari itu, Greisy merasa sangat bersalah. Dia telah menuduh seseorang yang tidak bersalah.


"Lakukan sekali lagi!" perintah putra mahkota lagi,


"Chyrill, tolong hentikan!" ucap Greisy sembari melangkah cepat dan meraih tangan Classa Pelindung untuk tidak memukul pelayan itu lagi. Dia menggenggam tangannya begitu erat.


"Ada apa denganmu, Babe? Aku hanya ingin memberikan pelajaran bagi siapapun yang berani melukaimu, tidak ada maksud lainnya," tanya putra mahkota dengan tatapan mengejek.


Dan hal itu menyadarkan Greisy bahwa jika sekalipun dia mengatakan kebenarannya, laki-laki tersebut tetap akan menghukum Remmornian karena telah membiarkan diri Greisy memukul dirinya sendiri.


"Itu sangat menyakitkan hatiku," jawab Greisy,


"Oh!" jawab putra mahkota yang telah melangkah mendekati Greisy.


Sementara Callan hanya tetap berdiri dan menyaksikan sikap mereka.


 "Bagaimanapun mereka adalah Remmornian, Remmornian adalah keluargaku, jadi… itu menyakitkan hatiku melihat anggota keluargaku tersiksa, Chyrill," jawab Greisy dengan mata memerah lalu menghempaskan tangan Classa Pelindung, "Mereka memukulku pelan, hanya sekali, dan itu bahkan tidak sengaja jadi hentikanlah hukuman untuk mereka, aku… aku mohon, Chyrill!" pinta Greisy sembari menjatuhkan air mata dan menundukan kepala, merasa sangat bersalah.


"Yang Mulia, hukum saja aku karena telah lalai menjaga putri Remmornian, milik anda!" ucap kepala keluarga Remmornian yang juga tidak tega melihat wajah terluka dari pelayannya.


"Oh, baiklah kalau itu permintaanmu, Babe. Aku sangat mencintaimu, jadi aku tidak ingin melihatmu terluka," jawab putra mahkota, menyetujui.


"Pulang… aku ingin pulang!" pinta Greisy sembari menggenggam tangan putra mahkota lagi.


"Hm, baiklah, kita akan pulang!" putra mahkota membalas genggaman tangan Greisy lalu melangkah menuju mobilnya dan masuk ke dalam bersama wanita itu.