
"Apakah Chyrill datang mengunjungimu?"
"Kenapa dia harus mengunjungiku?" tanya balik Callan yang terlihat duduk sembari membaca buku, mendengar pertanyaan dari putri kerajaan yang tampak datang mengunjunginya.
"Ahhh… aku pikir kau adalah pamannya, maka tentu ada kemungkinan dia akan mengunjungimu," ucap putri kerajaan dengan nada lirih, tatapan matanya begitu sedih memandang ke arah Callan.
"Jangan berharap terlalu banyak! Aku yakin kau sangat mengenal Chyrill, bukan?" ucap Callan, menegaskan sembari mulai menutup buku miliknya lalu mulai berdiri dan melangkah menuju ke jendela ruangan yang berada tidak terlalu jauh.
"Aku… mungkinkah aku bisa menjadi selirnya? Tidak masalah bagiku menjadi istri kedua asalkan aku bisa memiliki sebagian dari hidup Chyrill. Callan, aku… aku ingin sekali kau membantuku," pinta putri kerajaan begitu berharap, dia memandang punggung Callan dari jauh.
"Jadi kau datang mengunjungiku hanya karena alasan itu. Lucu sekali! Aku tidak pernah dekat dengan Chyrill maka lupakanlah permintaanmu itu!" tolak Callan yang tampak telah membuka jendela dan menghirup napas dari udara segar di sekitarnya.
Walaubagaimanapun rumah sakit negara terletak di pertengahan pepohonan jati, maka tentu udara di sana masih sangat baik dan tidak terkontaminasi dengan limbah.
"Kau menyukai wanita itu, bukan? Maksudku istri Chyrill. Kalau kau tidak, maka lupakanlah! Saat ini aku hanya sedang membantumu untuk mendapatkan wanita itu, kita akan saling membantu jika kau mau," ucap putri kerajaan menawarkan kesepakatan.
Dan Callan hanya tampak diam dan memandang lurus ke arah depan. Dia tidak menjawabnya, mungkin saja sedang berpikir.
*********
"Aku saja yang melakukannya, Grei!"
"Aku sangat ahli," tolak Grei,
"Aku tidak percaya padamu!"
" kenapa kau meremehkanku? Bukankan aku ini putri di negaramu?"
"Kau sendiri yang meminta untuk menganggapmu sebagai orang biasa, bukan?"
"Ya… itu tadi, sekarang tidak lagi. Kau harus menganggapku sebagai seorang yang dimuliakan dan percayalah padaku!" pinta Greisy pada Cloe yang tampak menolak keras wanita tersebut untuk tidak melanjutkan pertandingan.
Terlebih lagi ketika Cloe dipaksa untuk memegang apel dan Greisy diharuskan untuk menembak apel dengan pistol dari jarak yang cukup jauh.
"Grei!"
"Percayalah padaku!" pinta Grei, bersikeras untuk melanjutkan pertandingan melawan pangeran suku Ozui.
"Aku akan mati, Grei, atau mungkin akan terluka karena kau akan salah sasaran menembak ke arahku!" teriak Cloe, sungguh meragukan sembari menjatuhkan buah-buah apel di dalam sebuah kotak yang tadinya ia genggam.
"Aku akan menembak semua apel itu dengan baik jadi kau tenang saja! Akulah ahlinya," paksa Greisy, juga bersikeras.
"Kau mengatakan ahli tapi lihat kejadian tadi. Kau bahkan tidak bisa menyetir mobil tapi malah mau bertanding melawannya," ucap Cloe bersikeras menolah, dia bahkan sampai menggoyangkan tubuh Greisy agar wanita tersebut mengurungkan niat untuk melanjutkan pertandingan dan Cloe yang akan menggantikan Greisy untuk melanjutkan pertandingan tersebut.
"Untuk kejadian tadi, aku memang bersalah. Tapi kali ini yakinlah padaku, kumohon!" pinta Greisy benar-benar tampak begitu serius dalam meminta.
"Grei!"
"Cloe!"
"Baiklah, aku akan merelakan hidupku mati di tangan temanku sendiri," ucap Cloe, pasrah dan menerima keadaan.
"Terima kasih, Cloe!" Dan Greisy tampak memeluk wanita tersebut karena merasa senang bahwa Cloe mau mempercayainya.
"Ahh berhentilah memelukku! Aku sesak napas," ucap Cloe, sembari melepaskan pelukan Greisy terhadapnya.
"Ahh baiklah,"
Lalu keduanya mulai masuk ke Arena pertandingan di lapangan tembak wilayah perkotaan.
*************
Kraakkk!
Greisy menarik pelatuk Handgun yang ia pegang. Wanita tersebut tampak berdiri pada jalur yang telah ditetapkan.
"ATURAN BERMAIN," Dan wanita itu mulai mendengarkan suara pemandu yang membacakan peraturan menggunakan microfon dari jarak jauh, bersamaan dengan Cloe yang tampak berdiri di ujung jalur tempat Greisy berada. "WAKTU BERMAIN ADALAH 30 MENIT, KEMENANGAN DITENTUKAN PADA BANYAKNYA APEL YANG BERLUBANG," lanjut pemandu tersebut, " PARA PESERTA DIPERSILAHKAN BERDIRI PADA POSISI MASING-MASING. PERTANDINGAN AKAN DILAKSAKAN 3 MENIT DARI SEKARANG,"
"Cloe, semangat!" ucap Grei dari kejauhan,
"Berhentilah berbicara! Aku tidak ingin mendengar dukungan dari teman sepertimu," jawab Cloe, lirih, dia bahkan enggan untuk melihat ke arah Greisy.
Sementara itu, putra mahkota tampak duduk di kursi penonton dan menyaksikan Greisy dan Cloe dari jarak yang cukup jauh.
"Dasar pel*cur, kau kira kau bisa mengalahkanku!" ucap pangeran suku Ozui yang telah berdiri di samping Greisy dan berjarak tidak terlalu jauh.
"Dan apa kau pikir kau adalah orang yang paling ahli dalam bidang tembak–menembak?" tanya Greisy yang tampak tersenyum meremehkan, dan menatap laki-laki tersebut dengan sangat tajam.
"Tentu saja, aku adalah seorang terhormat dari Plantation Region, dan diberikan hak khusus untuk belajar di kediaman Remmornian. Kau tahu Remmornian, bukan? Keluarga pelindung kerajaan yang tak terkalahlan," ucap laki-laki tersebut dengan percaya diri dan begitu bangga pada dirinya sendiri.
Dia bahkan tersenyum menghina Greisy.
"Ahhh Remmornian?! Aku dengar akhir-akhir ini mereka menolak untuk menerima orang lain masuk selain anggota Remmornian itu sendiri dan anggota keluarga kerajaan,"
"That ***** Princess! Dia yang telah membuat aturan menyebalkan itu. Jika aku bisa bertemu dengannya, aku bahkan akan menembakkan peluruku ini ke kepalanya," maki pangeran suku Ozui terlihat begitu emosi sembari menarik pelatuknya dan mulai menggenggam Handgun dengan kedua tangan.
"Benarkah? Tapi aku merasa kau akan menderita ketika bertemu dengannya?"
"Hahaha… Menderita?! Dia hanyalah gadis bodoh yang mudah ditipu, aku akan menyingkirkannya nanti setelah menyingkirkan kalian berdua," jawab laki-laki tersebut.
"Get Ready!"
Bersamaan dengan aba-aba yang mulai terdengar.
3
2
1
Go.
Door!
"Lempar lebih cepat, Cloe!" teriak Grei dari jauh sementara itu Cloe tampak terkejut dan wajahnya mulai tampak ceria, senyuman sumringah juga terlihat di bibirnya ketika melihat Greisy telah berhasil menembak satu buah apel yang ia lemparkan.
"Grei, semangat!" teriak Cloe dari jauh, sembari melemparkan Apel kembali.
"Lempar lebih tinggi!"
"Focus, Grei! …. Focus!"
"Lempar saja dan jangan banyak bicara!" perintah Greisy yang tampak memegang Handgun dengan satu tangan saja, mengejutkan pangeran suku Ozui yang mulai tidak fokus dalam pertandingan.
"Lord!" panggil seorang pelempar apel pada laki-laki tersebut, mengingatkan.
"Ahh.. Yeah! Lempar saja dan jangan pedulikan aku!" teriak pangeran suku Ozui, memberikan perintah.
"Baiklah!"
Dorr… Dorr… Dorr… Dorrr…!"
Greisy terus menembak apel yang dilemparkan oleh Cloe hingga sebuah kotak telah habis dan berganti dengan kotak yang lain.
"Lord!"
Sementara itu, pangeran suku Ozui tampak panik ketika kotak milik pelemparnya masih memiliki beberapa buah apel yang tersisa.
"Lempar saja, lempar yang cepat, bodoh!" teriak laki-laki tersebut terlihat begitu khawatir yang bercampur dengan emosi.
Dorrr!
Lalu tangannya mulai bergetar,
"Lord!" Ketika dia tidak berhasil mengenai satu buah apel,
"Lempar saja, tolol!"
Kemudian apel lainnya juga demikian,
"Lempar… Lempar… Lempar!" teriaknya panik, dan mulai ketakutan.
Dia tidak ingin berlutut di hadapan dua wanita yang menantangnya, dia tidak ingin meminta maaf sedikitpun, dia… mulai depresi hingga berhenti menembakan peluru handgunnya.
"Lord!"
"Haaa… apa… apa yang kau lakukan?"
"Grei!" Lalu mengacukan senjata yang ia pegang ke arah Greisy di sampingnya.
Dan Cloe tampak sangat panik dan ingin melangkah mendekati Greisy.
"Grei!"
"Berhenti atau dia akan mati!" ucap laki-laki yang telah depresi tersebut, berteriak marah dan penuh kebencian.
Matanya bahkan tampak sangat memerah.
Sementara itu, perilakunya membuat para penonton berdiri dengan keadaan tegang.
Dan Greisy sendiri terlihat tertegun dan tetap berdiri tanpa menurunkan tangan yang memegang Handgun karena khawatir, nyawanya terancam.
"Berhentilah! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa menjadi segila itu,"
Dooor!
"Diam… Diam… Diam… Diamm!" teriak laki-laki tersebut, menembakan peluru ke atas udara lalu mengacukan kembali ke arah Greisy.
"Apa… Apa yang kau lakukan?" tanya Greisy, berusaha untuk tetap tenang.
"Pelac*r seperti kalian berdua seharusnya mati, kalian pasti berbuat curang dan melubangi seluruh apel itu seperti sebelumnya, akuilah… akuilah… akuilah!" teriak laki-laki yang telah depresi akan kekalahannya tersebut, memaksa.
"Tidak… kami sedikitpun tidak berbuat curang, dan kau bisa menyaksikannya secara langsung dari drone yang memantau pertandingan," jawab Greisy berusaha terus tenang, meskipun sebenarnya hati wanita tersebut sangat gelisah.
"Baiklah kalau kau tidak mau mengakui kecuranganmu maka matilah, hahahahah matilah!"
"Grei!" teriak Cloe, memanggil sembari berlari dan mulai menangis menjatuhkan air mata ketika melihat Greisy telah menutup mata, pasrah. " Grei, aku mohon lepaskan Greisy, kami aku kekalahan ….".
Doorrrr!
"Ahhhhhh!"
Baaakkkk!
Braaakkkkk!
"Haa…!"
"Grei… Grei… Greiii!"
"Bodoh diamlah, teriakanmu membuatku lebih merasa takut dari kematian!" maki Greisy merasa kesal pada Cloe yang telah datang mendekati dan memeluk wanita itu.
"Grei… Grei… Greiii!" Dan Cloe tetap berteriak meskipun Greisy telah melarangnya.
"Oh gosh…!"
Bukkk!
"Aaahhhh… ahhh… tanganku… tanganku, tolong maafkanlah aku, maafkanlah aku!" teriak pangeran suku Ozui ketika putra mahkota telah menginjak kakinya setelah laki-laki tersebut berhasil menjatukan handgun milik seorang terhormat dari Wilayah Perkebunan itu dan menendang tubuhnya hingga terbaring lemah menabrak dinding.
"Kau kalah, jadi berhentilah menganggu kami, dan biarkan kami pergi dari sini," ucap putra mahkota yang tampak tersenyum menyenangi ketika melihat wajah penuh penderitaan dari laki-laki di bawahnya.
"Baiklah, baiklah, aku aku tidak akan menganggu kalian lagi," jawab laki-laki tersebut menyetujui lalu menghela napas lega ketika kaki putra mahkota telah menyingkir dari tangannya.
"So… So Cold, huwaaa aku semakin mengangguminya, Grei!"
"Berhentilah bersikap gila seperti itu, Cloe!" larang Greisy sembari tersenyum lembut memandang ke arah putra mahkota yang telah menyelamatkannya dan laki-laki tersebut datang menghampiri mereka.
"Ayo kita pergi!" ajak putra mahkota,
"Chyr…!"
"Matilah… matilah… matilah…!"
Lalu melebarkan mata ketika melihat pangeran suku Ozui berlari ke arahnya sembari mengangkat kursi di tangannya untuk menyerang putra mahkota yang telah berbalik.
"Chyrilll!"