Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
bab 22


Doorrrr!


Tang….!


"Yang Mulia!"


"Ugh!" 


Wajah Putri Negara sontak berubah menjadi pucat ketika ia merasa tetesan darah jatuh dari ujung telinga, membasahi seragam pada bagian bahunya.


Begitupula dengan para polisi inteligen yang tampak bersiap siaga ketika Greisy telah menarik pelatuk dua pistol sekaligus dan menembakan 2 peluru dari dua pistol yang berbeda, secara bersamaan.


Satu peluru mengenai ujung telinga Ratu Negara hingga menembus daging, satu peluru lagi mengenai pistol yang dipegang seorang polisi, hingga pistol tersebut terjatuh karena sang penggenggam yang begitu terkejut dengan peluru yang singgah.


"Baaamm!" ucap Greisy. 


Greisy sedikit terkejut ketika mendengar suaranya sendiri tiba-tiba berubah karena masker yang gunakan. Tetapi karena dia harus meloloskan diri, wanita itu berusaha keras untuk menghilangkan keterkejutannya. " Turunkan pistol kalian atau peluruku ini akan mengenai kepala putri negara!" ucap Greisy memberikan pilihan. "Kalian bisa menembakku mati tapi kalian juga akan kehilangan Putri Negara ini," Dooorrr!"


Semua orang terkejut ketika Greisy menarik pelatuk pistol lagi, hampir saja mengenai Putri Negara yang tadinya diam-diam bergerak untuk bersembunyi.


"Tembakanku tepat, akan kubuktikan jika kalian tidak percaya!" ucap Greisy lagi, wanita itu tampak tenang padahal puluhan pistol tampat tertodong ke arahnya.


"Ahhh… aku masih tidak ingin mati, masih ada Ibuku yang harus kujaga. Turunkan pistol kalian semua, biarkan dia pergi!" perintah Putri Negara yang telah menurunkan pistol.


Dan para polisi Inteligen mematuhi perintahnya.


"Katakan padaku, bagaimana cara mengeluarkan tali dari jubah ini?" tanya Greisy, masih mengarahkan pistolnya ke arah Putri Negara yang masih berdiri dan mengangkat kedua tangan yang tidak lagi memegang pistol.


"Oh ampun dah! Jadi kau baru pertama kali menggunakan jubah Assassin?" tanya Putri Negara lalu mulai melangkah mendekati.


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia, apa yang kau lakukan?" tanya seorang polisi, terlihat khawatir ketika Putri di negaranya, mendekati musuh.


"Benar, ini pertama kali. Jadi aku tidak mengerti sedikitpun," jawab Greisy, tetap menodongkan pistolnya meskipun putri Negara telah datang mendekati.


"Oh… jadi kau anggota baru?"


"Ehmm… Entahlah, aku tidak yakin," jawab Greisy lalu putri negara membantu mengingkatkan tali jubah ke pinggang Greisy.


"Tekan tombol pada ikat pinggang ini maka kedua tali dari jubahmu akan muncul!" jelas Putri Negara, memberitahukan.


"Terima kasih!" jawab Greisy sembari memberikan kedua pistol yang ia pegang pada Putri Negara, lalu dengan segera ia melompati jendela dan mengikuti petunjuk wanita itu.


Benar saja, tali telah keluar dan ujungnya dengan cepat mengait di jendela lalu beberapa detik kemudian Greisy telah menapakan kaki di tanah dan berlari cepat, menjauhi gedung di sana.


"Yang Mulia, kenapa anda membiarkan buronan kabur?" tanya seorang polisi laki-laki terlihat kesal.


"Astaga, benar. Kenapa aku melakukannya?" tanya Putri Negara mulai panik. " Apa yang sudah kulakukan…? Huwaahikksss… pasti komandan akan marah padaku, tolong jangan laporkan sikapku ini padanya,"


"Aku di sini, Claudia!" ucap seorang laki-laki yang hampir memasuki usia tua.


Laki-laki tersebut tampak melangkah diikuti puluhan polisi inteligen lain, memasuki ruangan di sana.


"Siap, Komandan!"


"Kau tahu kesalahanmu, Claudia?" tanya laki-laki tua pada Putri Negara.


"Maafkan saya, Komandan. Tapi saya masih belum ingin mati," jawab Putri Negara yang telah menundukan kepala, merasa bersalah.


"Bukan itu masalahnya, Clau. Kenapa kau membantu buronan melarikan diri?"


"Ahh itu…  Ahhh aku juga tidak tahu, komandan!" jawab lirih, Putri Negara, semakin merasa bersalah.


"Dan sekarang, kenapa kau tidak mengejarnya?"


"Astaga, kebodohan apa lagi yang kulakukan?" 


Putri Negara mulai melompati gedung.


"Clau, rompa anti peluru, kau harus memakainya," 


"Astaga, kenapa aku melupakannya?" Putri Negara segera menerima sebuah peralatan pelindung militer dari seorang polisi laki-laki yang telah mendekatinya, "Komandan, haruskah aku memakai helm juga?"


"Haaa?"


"Aku tidak ingin kepalaku terkena peluru. Buronan itu sangat ahli dalam menembak, aku menyaksikan sendiri ketepatan tembakannya," jelas Putri negara yang telah mengambil rompa.


"Oh… Hmm.. gunakanlah!" jawab sang komandan, lalu Putri Negara dengan sigap meraih helm pelindung kepala milik laki-laki di depannya dan mulai melompati jendela, diikuti oleh beberapa polisi inteligen.


**********


Greisy membuang jubahnya di dalam sebuah gudang tua.


Dia segera keluar dari sana dan melangkah kebingungan tak tahu arah untuk pulang.


Ini pertama kali bagi Greisy untuk datang ke wilayah perkotaan. Dan tidak tahu apapun tentang wilayah tersebut karena sebelumnya ia selalu tinggal di wilayah kerajaan dan juga wilayah pembuangan.


Sebelumnya, ia datang juga bersama orang lain ke sebuah gedung terbengkalai dan bertemu dengan laki-laki tua yang mengajaknya bertanding catur, dan sekarang, setelah mereka semua pergi meninggalkan Greisy, wanita itu benar-benar dalam masalah karena tidak menemukan seorangpun dari mereka yang tadinya membawa wanita tersebut ke wilayah perkotaan itu.


Greisy melangkah cepat sesuai petunjuk hatinya. Ia berhenti di pinggir jalan dan melihat banyak gedung tinggi, kendaraan serta cerobong-cerobong asap dari pabrik kota di sana.


Greisy berdiri lama di pinggir jalan hanya untuk memandangi wilayah yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya, sesekali ia melangkah kaki, berjalan di trotoar jalanan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, menikmati pemandangan.


Padahal cuaca di sana sangat panas dan bahkan keringat Greisy mulai bercucuran membasahi kemeja yang ia kenakan, tetapi sepertinya wanita tersebut menikmati semua itu dan tidak mempedulikan terik matahari membakar kulit tubuhnya.


"Berhenti!" teriak seorang wanita, menghentikan langkah kaki Greisy. "Ini milikmu, iyakan? Akuilah!" Wanita itu tersenyum pahit ketika melihat Putri Negara telah berhasil mengejarnya.


"Yang Mulia, betapa beruntungnya saya bisa bertemu dengan anda!" ucap Greisy berpura-pura, dia bahkan memasang raut wajah bahagia.


"Berhenti berpura-pura, akui saja bahwa kau adalah pemilik jubah ini!" Beberapa orang mulai datang dan mengeliling Greisy.


"Apa yang anda katakan, Yang Mulia? Aku tidak tahu apapun tentang benda itu," jawab Greisy berpura-pura ketakutan.


"Aku sangat ingat dengan matamu, bola matamu, alis matamu dan bulu matamu. Kau adalah pemilik jubah ini," jawab Putri Negara mulai melangkah perlahan-lahan mendekati Greisi, dia bahkan sampai menutup helm pelindung wajah lalu mengeluarkan borgol untuk menangkap Greisy pada hari itu.


Greisy tersenyum kecut, dia mulai menjatuhkan kedua kaki berlutut, " Aku tidak tahu apapun, Yang Mulia. Kenapa tiba-tiba aku dituduh tanpa sedikitpun bukti? Hiks!"  tanya Greisy sembari menjatuhkan air mata dan menundukan kepala, " Ahhh… aku takut sekali," dia bahkan berpura-pura menangis, bahkan tangisannya semakin kencang.


Sikap Greisy membuat Putri Negara menghentikan langkah. " Haa… kenapa kau malah menangis?" tanya mulai meragukan Greisy sebagai buronan yang dia kejar.


"Ahh hikkss… Apa salahku? Aku hanyalah mahasiswi biasa yang kebetulan ditinggal oleh teman-temanku saat sedang jalan-jalan," jawab Greisy, masih terus menangis dan membuat Putri Negara merasa bersalah.


"Astaga tenanglah!" ucap Putri Negara sembari menurunkan pistol yang tadinya tertodong untuk Greisy.


"Grei!" Lalu semua orang sontak menolehkan kepala ketika mereka mendengar suara yang sangat mereka kenal.


"Your Majesty!"


"Your Exellency!"


"Oh Gosh, Chyrill?!" tanya Putri Negara terkejut ketika ia melihat Putra Mahkota telah keluar dari mobilnya. 


"Salute!" Lalu seluruh polisi yang memegang pistol memberikan hormat kepadanya.


"Chyr!" Dan semua mata terkejut memandang, ketika Greisy telah berdiri dan berlari memeluk tubuh Putra Mahkota.


"Aku merindukanmu, Grei!" ucap Putra Mahkota sembari melepaskan pelukan untuk Greisy lalu membuka mulut wanita itu dan mengisapnya.


Perilakunya semakin mengejutkan semua orang di sana. Dan semua yang melihat segera membuang pandangan untuk tidak melihat ciuman panas antara Putra Mahkota dengan Greisy.


"Chyrill, Apa… Apa yang kau lakukan di depan umum seperti ini?" tanya Putri Negara merasa kesal.


Lalu putra Mahkota segera melepaskan ciumannya untum Greisy dan tersenyum mengejek ke arah putri negara.


"Aku mencium istriku sendiri, memang apa salahnya?" tanya Putra Mahkota yang mulai menyeka air mata di pipi Greisy lalu tersenyum lembut, memeluk wanita itu.


"Istri?"


"Istrimu?"


"Lelucon apa lagi yang kau katakan itu, Brengsek?" tanya Putri Negara mulai mendekati untuk memborgol tangan Greisy kembali, " Dia adalah buronan, dia sangat berbahaya, dia bahkan sudah melukai telingaku, lihat ini!" Putri Negara menunjukan bagiam bawah telinganya yang terluka. "Dia sangat hebat, bahkan tembakannya mampu melukai telingaku,"


"Aku tidak tahu apapun, Chyrill! Kau mengenalku bukan? Mana mungkin orang yang baru saja keluar dari wilayah pembuangan bisa melakukan itu semua," jawab Greisy, berpura-pura meyakinkan.


"Apa? Exile Area?"


"Clau, berhentilah menuduh istriku! Aku sangat yakin bahwa bukan dia buronan yang kau maksud," perintah Putra Mahkota, membela Greisy. 


"Tapi aku sangat yakin, dari postur tubuhnya dan juga matanya,"


"Clau!" panggil seseorang, sontak membuat putri negara menoleh ke arahnya.


"Callan! Kenapa kau ada di sini?" tanya Putri Negara pada Classa Pendidik yang baru saja keluar dari mobilnya.


"Aku datang untuk menjemput muridku," jawab Callan yang telah mendekat,


"Murid?!" Dan lagi, Putri Negara semakin dibuat terkejut.


"Hm!" jawab Callan, " Grei, kenapa kau pergi dari kampus tanpa seizin dariku?" tanya Callan pada Greisy yang telah melepaskan pelukan dari Putra Mahkota.


"Jadi dia juga muridmu?!" tanya Putri negara pada Callan,


"Hm!" Dan Callan menganggukan kepala, membenarkan.


"Aku pergi karena ingin melayani suamiku. Apa lagi yang paling penting bagi seorang istri kalau bukan melayani suami tercintanya," jawab Greisy yang bahkan enggan untuk memandang ke arah Callan.


"Dan anehnya kau mencari Chyrill sampai ke kota. Bukankah seharusnya kau menunggu saja di Apartemennya?" tanya Callan, menyudutkan Greisy.


"Aku menunggunya selesai bekerja sembari berjalan-jalan bersama teman-temanku, tetapi sekarang mereka malah meninggalkanku," jawab santai Greisy, sembari mengembangkan senyuman kecut, pertanda bahwa dia benar-benar tidak menyukai Callan.


"Tembak aku!" 


"Apa?"


"Apa yang kau lakukan, Clau?" tanya Callan, ketika putri Negara tiba-tiba menyela percakapannya dengan Greisy dan wanita tersebut memberikan pistol pada Greisy di sana.


"Clau, Jangan memerintahkan hal konyol. Aku jelas mengetahui bahwa istriku adalah seorang amatir, bagaimana jika kau mati ditangannya?" ucap Putra Mahkota, menolak perintah putri negara pada Greisy.


"Tembak aku, aku hanya ingin meyakinkan diriku kalau dia adalah buronan yang melukai telingaku!" perintah Putri Negara begitu keras kepala sembari melangkah mundur dan memberikan jarak untuk Greisy menembaknya.


"Yang Mulia, bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu?"


"Tembak, kubilang!"