Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
Bab 39


Tubuh Greisy bergetar, detak jantungnya memacu kencang.


"Chyrill, please, jangan lakukan itu!" pinta wanita itu ketika ia melihat putra mahkota telah mengacungkan pistol tepat di dahi kepala pangeran suku Ozui yang tampak menahan kursi di atas kepala dengan kedua tangannya.


"Matilah! Kau ingin mati, benarkan?" ucap putra mahkota, tampak begitu menyenangi ketakutan dari wajah laki-laki di hadapannya.


"Tolong, jangan bunuh aku! Kau akan menyesal jika melakukan itu," pinta Pangeran Suku Ozui sembari memberikan peringatan pada laki-laki yang tampak sedikitpun tidak merasa ragu untuk menembaknya.


"Oohhh, Dan kau pikir aku takut!"


"Aku adalah Yoan Billozui, kau harus mengingat namaku sebagai bangsawan suku Ozui dan tidak bertindak ceroboh seperti ini!" ucap laki-laki di hadapan putra mahkota yang tampak gemetaran, memberitahukan.


Dia bahkan tak kuat lagi menahan kursi dan berakhir melepaskan benda itu ke belakang.


"Ahhh aku juga bisa mengakui bahwa diriku Chyrill Edzhard Haeland, sama sepertimu, aku juga bisa menipu," jawab putra mahkota,


"Akkkhhh!" Sembari menginjak salah satu kaki laki-laki di hadapannya hingga laki-laki tersebut mengerang kesakitan.


"Chyrill, lepaskan saja dia! Kita tidak memiliki banyak waktu lagi. Cloe juga sudah mengambil uangnya," ucap Greisy, mengajak. 


Meskipun sebenarnya wanita tersebut masih merasa takut jika melihat kematian di depan mata.


Terlebih lagi, Greisy mengenal Putra Mahkota sebagai orang yang begitu tega dan segala ucapannya akan laki-laki tersebut lakukan.


"Aku menyukai membunuh orang yang tidak kusukai,"


"Chyrill, please!"


"Tolong, selamatkan nyawaku!" pinta pangeran suku Ozui pada Greisy, " Aku akan berlutut meminta maaf padamu, akan kulakukan itu. Tolong percayalah padaku!" lanjutnya terlihat begitu memelas akan pertolongan.


"Grei!" panggil Cloe berharao Greisy dapat membujuk putra mahkota untuk mengurungkan niat membunuh laki-lako tersebut.


"Chyrill, please, let him go! Aku masih ingin melihatnya berlutut padaku," pinta Greisy perlahan mendekati putra mahkota yang tidak sedikitpun menoleh ke arah Greisy di sampingnya.


"Aku sangat menyukai wajah menderita sebelum kematian," lanjut ucap putra mahkota,


"Akkhh!" Sembari menahan tangan Greisy untuk tidak meraih pistol di tangannya.


"Babe, jangan meremehkanku!" 


"Aku mohon, jangan lakukan itu, Chyrill!


Dooorrr!


Dan menarik tangannya hingga wanita tersebut jatuh ke pelukan putra mahkota.


"Chyr… Haaa… !" 


Tubuh Greisy bergetar hebat,


"Chyrill, kau membuatku takut. Aku… aku takut sekali!" ucap Greisy dengan kedua kaki lemah karena menahan getaran di tubuhnya.


"Kalau kau takut maka peluk erat aku saja, Babe!" jawab putra mahkota yang telah melihat pangeran suku Ozui jatuh terduduk lemas.


"Sekarang berlututlah pada kami!" teriak Cloe memaksa,


Dia melangkah cepat menuju ke laki-laki yang tampak menangis ketakutan.


"Ini… Apakah benar-benar tidak berpeluru?!" tanya Greisy yang telah meraih handgun di salah satu tangan putra mahkota dan melihatnya dengan seksama.


"Hm!" jawab putra mahkota membenarkan sembari melepaskan tangan yang tadinya memeluk pinggang Greisy, "Sudah kuduga dia akan menyerang maka dari itu aku membawa pistol dan mengisinya dengan satu peluru," lanjut putra mahkota, menjawab.


"Kau hebat sekali!" puji Greisy sembari mengembalikan kembali handgun ke tangan laki-laki itu.


"Maka dari itu, kau harus tetap bekerja sama dengan orang sepertiku," ucap putra mahkota, menyarankan.


"Ahh… hm!" Dan Greisy hanya bisa menganggukan kepala, lalu bergerak menghadap ke arah pangeran suku Ozui.


"Meminta maaflah! Kenapa lama sekali kau meminta maaf pada kami dan pada seluruh wanita di dunia!" bentak Cloe yang telah menggoyangkan tubuh laki-laki yang tampak syok hingga berbicara sekalipun dia terlihat tidak mampu.


"Yoan…!" teriak seorang wanita yang telah berlari menghampiri pangeran suku Ozui. "Brengsek, apa yang sudah kalian lakukan pada Yoan?" tanya wanita tersebut lalu tersentak ketika melihat wajah Greisy. "Kau?!" Dan dia menunjuk ke arah wanita tersebut.


"Yang Mulia!" panggil Cloe sembari memberikan hormat pada wanita yang tak lain adalah putri negara.


"Kau… aku yakin kau adalah… Hei!" teriak wanita tesebut ketika Greisy telah berlari cepat, mengejutkan Cloe dan juga putra mahkota.


"Grei!" gumam Cloe pelan.


"Chyrill, apa kau mengenal wanita itu? Aku melihat dia mendekatimu tadi," tanya putri negara sembari menarik masker putra mahkota hingga terbuka.


Dan mengejutkan seluruh penonton serta para panita permainan yang langsung memberikan hormat.


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia!"


"Maafkan kami tidak mengenali anda, Yang Mulia!" tanya seorang pemilik lapangan tembak yang telah mendekati putra mahkota.


"Maafkan saya… maafkan saya , Yang Mulia!" Dan pangeran suku Ozui tampak bersujud dan menangis meminta maaf pada putra mahkota.


"Tidak, aku tidak mengenalnya. Kau pikir aku memiliki banyak waktu untuk berkenalan dengan orang lain?" jawab putra mahkota,


Dan Cloe yang tadinya bingung, mulai memahami situasi yang terjadi.


Perlahan-lahan dia bergerak menjauh, lalu berlari membawa sekarung uang di tangan.


Sementara itu, putra mahkota yang sangat kesal, segera memukul tangan Putri negara untuk lepas dari kedua pipinya.


"Tapi dia…"


"Aku tidak mengenalnya," sela cepat putra mahkota, menjawab, " Benarkan aku?" Lalu bertanya pada pangeran suku Ozui dengan tatapan mata tajam.


"Hmm, Ya Yang Mulia," jawab laki-laki yang sangat ketakutan itu membenarkan.


"Yang Mulia, bukankah sebaiknya…"


"Aku harus pergi, tidak ada waktu untukku singgah ke tempatmu," jawab cepat putra mahkota, menyela ucapan pemilik lapangan tembak lalu melangkah meninggalkan tempat di sana.


"Jadi… sebenarnya apa yang terjadi padamu, Yoan?" tanya putri negara, kebingungan sembari membantu pangeran suku Ozui untuk berdiri.


"Aku salah menantang orang, Yang Mulia!"


"Apa?"


*********


"Grei… Grei… kau dimana?" 


Cloe terus melangkah melewati keluar gerbang lapangan tembak, mencari keberadaan Greisy dengan membawa tas hitam yang berisi lembaran uang.


"Grei!"


"Berisik, diamlah!" ucap Greisy yang telah keluar dari gang yang diapit dua bangunan tinggi dari jarak yang cukup jauh.


"Kau di sana!"


"Cepatlah kemari!" ajak Greisy sembari masuk ke dalam gang yang remang-remang kembali dan Cloe mulai berlari menghampiri. "Dimana Chyrill?" tanya Greisy,


"Aku meninggalkannya bersama putri Claudia," jawab Cloe yang terus mengikuti langkah Greisy memasuki gang hingga ke dalam, "Kau…  kenapa kau lari saat putri Clau mengenalimu?" tanya Cloe, cukup penasaran.


"Dia menganggapku sebagai ter*ris saat aku memakai pakaian Assasin," jawab Greisy, memberitahukan sembari terus melangkah hingga mendapati persimpangan tiga.


"Apa?"


"Arah mana yang harus kita lewati?" 


"Grei, mungkinkah kau benar-benar ter*ris?" tanya Cloe tanpa menjawab pertanyaan Greisy.


"Aku hanya tidak sengaja memakai pakaian Assasin lalu dia menuduhku sebagai bagian dari mereka. Dan aku tidak sedikitpun pernah menjadi *******, Clo," jelas Greisy, kesal. " Sekarang berikan petunjuk arah yang mana?" tanya Greisy sembari menghadap ke arah Cloe yang telah menghentikan langkah di sampingnya.


"Benarkah itu?"


"Ahh… Alright, kalau kau tidak percaya padaku maka terserah kau saja," jawab Greisy yang mulai memilih melangkah ke kanan jalan.


"Aku bukan tidak percaya, tapi… keahlian menembakmu sangat membuktikan kalau kau adalah bagian dari para Assasin. Kau tahu, karena mereka, ada begitu banyak penduduk suku yang sudah meninggal dan menderita. Bahkan mereka yang terluka terpaksa dibuang ke Exile Area," jelas Cloe, terlihat begitu sedih.


"Apa?" Dan itu sungguh mengejutkan Greisy. "Mungkinkah para Assasin sudah bertindak sejak lama?" tanya Greisy yang telah menghentikan langkah.


"Benar, aku ingat mereka memulai kekacauan saat pertama kali aku masuk SMA," jawab Cloe yang juga menghentikan langlah. " Mereka sangat membenci empat keluarga besar suku Hze. Aku tidak tahu pasti alasannya, yang kudengar, empat keluarga besar pernah membuat percobaan terhadap balita di masa lalu hingga di antara mereka ada yang mati dan sebagian menderita cacat fisik dan mental. Para Assasin tidak sedikitpun mau memaafkan kesalahan mereka," jelas Cloe, mengejutkan Greisy lagi.


"Mungkinkah Hand–Sistem adalah bagian dari percobaan mereka?" tanya Greisy yang sangat penasaran.


"Apa kau mengenal Hand–Sistem?" tanya balik Cloe pada wanita itu 


"Dia hampir membunuh Callan saat kami berada di pusat kota," jawab Greisy, mengejutkan.


"Benar, mereka selalu mengincar para Top Brasses yang berada di luar wilayah kerajaan. Hand–Sistem juga sangat membenci keluarga Arsihean," jawab Cloe, memberitahukan.


"Kau bilang 'mereka', aku merasa kau sangat mengenal para Assasin musuh negara," ucap Greisy yang mulai melangkah kakinya kembali, "Cloe!" Tetapi dia terkejut ketika Cloe tidak mengikuti langkahnya.


"Aku sering mencari tahu tentang mereka,"


"Apa?" Greisy tertegun ketika melihat air mata Cloe di kondisi area yang remang-remang.


"Aku berharap mereka dapat membunuhnya," ucap Cloe yang menangis,


"Cloe!"


"Arsihean, salah satu anggota keluarga Arsiheanlah yang telah membunuh ayahku," ucap Cloe dengan tubuhnya yang gemetar, " Di depan mataku, mereka membunuh ayahku di depan mataku dan mata ibuku, tetapi keluarga kerajaan tidak mau mempercayai ucapanku, Haaa…"


Cloe menangis berteriak sembari jatuh terduduk lemas setelah mengungkapkan kebenaran tentang masa lalunya pada Greisy yang telah melangkah dengan cepat, memeluk wanita tersebut.


"Cloe!"


"Aku mohon siapa saja, tolonglah lepaskan ibuku dari tuduhan palsu mereka!" pinta Cloe berharap sembari menangis menundukan kepala di pelukan Greisy.