Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
30


Greisy menundukan kepala.


Wanita itu tampak duduk pada kursi mobil, di samping putra mahkota.


Hatinya masih terus merasa bersalah, sementara itu putra mahkota terlihat sedang sibuk dengan membaca lembaran dokumen di tangannya.


"Aku… menuduh mereka."


Greisy tidak dapat menahan perasaaannya lagi, dia mengakui kesalahannya.


"Aku tahu itu,"


"Apa?" Wanita itu terkejut mendengar jawaban dari putra mahkota.


"Kau memukul wajahmu sendiri, bukan?" tanya balik putra mahkota yang masih tampak fokus membaca setiap kata pada lembaran di tangan.


"Kalau kau tahu aku melakukannya, kenapa kau menghukum mereka? Aku yang salah, seharusnya kita pulang saja tanpa memberikan pukulan untuk pelayan itu," ucap Greisy, cukup kesal.


Wanita itu bahkan mulai menghadapkan diri ke arah putra mahkota, dia mulai menatap laki-laki itu marah.


"Bukankah hal yang kulakukan sudah sangat baik untukmu?" Lagi, putra mahkota bertanya.


"Apa? Itu baik kau bilang?"


"Aku mendengar percakapanmu dengan mereka. Itu mudah saja bagiku melakukannya," jawab putra mahkota, begitu santai dan sedikitpun tidak merasa bersalah.


"Jadi kau memiliki mata-mata di rumah itu?"


"Sekarang mereka tidak akan meremehkanmu, kau juga bisa bebas mengendalikan mereka. Bukankah itu yang kau inginkan?" 


Putra mahkota mulai menoleh ke arah Greisy dan pandangan mata mereka saling beradu.


"Hmm!" Greisy menganggukan kepala.


Dia tidak menyangka bahwa sikap kejam laki-laki di hadapannya adalah sebuah rencana.


"Jawab pertanyaanku!"


"Hm!" angguk Greisy lagi, menyetujui perintah.


"Kenapa kau menginginkan Remmornian menjadi pelayanmu?" tanya putra mahkota yang telah memandang ke arah lembar dokumen di tangan lalu mengganti dengan lembaran dokumen lain.


"Ahh itu,"


"Aku bisa memberikanmu banyak pelayan jika kau mau, tetapi kenapa kau malah menginginkan Remmornian?" tanya laki-laki itu lagi, menyudutkan.


"Aku ingin membuktikan pada ayahku bahwa aku bisa mengendalikan Remmornian,"


"Kau meminta mereka menjadi pelayanmu, itulah tujuan utamamu yang kudengar. Kau bisa saja membuat kesepakatan tetapi kenapa kau menyatakan hal yang membuatku malu? Menginginkan pelayan itu artinya kau kekurangan pelayanan di tempat tinggalkan, bukan?"


Putra mahkota menoleh ke arah Greisy kembali. Dia tersenyum kecut. Dia mungkin merasa kesal, meskipun demikian, dia tampak sanggup menyembunyikan perasaannya itu.


"Katakan! Atau mungkin kau ingin aku menghukum semua pelayanku karena mereka tidak mampu membuatmu nyaman?" tawarkan putra mahkota, dan hal itu tentu mengejutkan Greisy.


Wanita itu sangat takut jika kejadian yang baru saja terjadi akan terulang kembali.


Dia tidak ingin bahwa orang yang tidak bersalah mendapatkan hukuman dari putra mahkota.


"Aku… aku hanya tidak ingin menjadi beban untuk mereka. Karena melayaniku, mungkin mereka akan menghabiskan banyak waktu," jawab Greisy, sembari mengingat ulang perkataan Classa pelayan pada saat mengantarkannya pergi ke kampus pagi hari itu.


"Hmm!" 


Setelah menjawabnya putra mahkota langsung diam. Dia tak lagi banyak bertanya hingga membuat suasana di dalam mobil menjadi hening.


*********


Mobil dengan cepat menaiki atap gedung utama lalu berhenti di depan pintu masuk apartemen istana.


Segera Greisy keluar dari dalam mobil ketika pintu tersebut telah dibuka. Dia berdiri menunggu putra mahkota lalu melangkah ketika tangannya telah diraih dan digenggam erat oleh laki-laki itu.


Putra mahkota membawa Greisy naik ke atas lantai apartemennya. Greisy cukup terkejut ketika laki-laki tersebut terus melangkah menuju ke pintu masuk tempat tinggalnya.


Itu tidak biasa bagi putra mahkota karena selama tinggal di sana, Greisy memang tidak pernah melihat laki-laki tersebut berada di dalamnya.


"Selamat datang kembali, Yang Mulia!" sapa Servant Classa yang telah membukakan pintu untuk laki-laki itu. "Putri mahkota memiliki tamu yang sedang menunggunya di ruang tamu," laporkannya ketika putra mahkota terus melangkah masuk membawa Greisy bersama.


"Sebelum itu, kau melakukan kesalahan, Leo!" ucap putra mahkota, memberitahukan.


Dan hal itu mengejutkan Greisy yang langsung menghentikan langkah kaki, karena perilakunya, putra juga turut menghentikan langkah.


"Baiklah, saya akan memberi hukuman untuk diri saya sendiri, Yang Mulia," jawab laki-laki tua tersebut sembari menundukan kepala dan cukup merasa bersalah.


"Kau tahu kesalahanmu dimana?" tanya putra mahkota, mengejutkan laki-laki tua yang selama ini melayani laki-laki itu.


"Aku mohon beritahukan padaku, Yang Mulia."


Laki-laki tua tersebut bahkan tidak pernah mempertanyakan kesalahannya, dia dipaksa mencari tahunya sendiri sampai dia mendapatkan jawabannya.


Namun kali itu, putra mahkota mempertanyakan hal tersebut. 


"Bagaimana mungkin seorang pelayan membuang-buang waktu untuk tuannya? Apa kau tidak berpikir ada masalah dengan pelayan tersebut?" tanya putra mahkota yang telah berbalik.


Lagi, hal itu mengejutkan Servant Classa tersebut.


Benar…


Dia menyadari bahwa putra mahkota mulai memperhatikan wanita yang ia layani itu.


"Aku akan menerima hukuman apapun karena telah berbicara omong kosong pada putri mahkota," ucap laki-laki tua, mengakui kesalahan.


"Ahh jadi kau yang membuat kesalahan pada milikku?" tanya putra mahkota yang telah menyadari masalah.


"Benar, Yang Mulia. Akulah yang menyatakan ucapan tersebut pada putri mahkota," jawab laki-laki tua, membenarkan.


"Hukuman menyenangkan apa yang bisa kau berikan untuk menebus kesalahanmu?" tanya putra mahkota,


"Aku akan merobek mulutku sendiri," 


Dan jawaban laki-laki tua sungguh membuat Greisy terkejut bahkan rasa bersalah di dalam hati membuat tubuh wanita itu bergetar.


"Aku akan menunggu hasilnya,"


"Baiklah, Yang Mulia. Aku akan melakukannya secepat mungkin," jawab laki-laki tua tersebut.


"Tidak," Tapi Greisy yang diam mulai membuka suara, "Aku yang disakiti maka aku yang akan memberikan hukuman padanya," lanjut ucap wanita tersebut, meminta.


"Ahhh…!" Dan laki-laki tua hanya bisa menghela napas berat.


"Babe, apa yang kau katakan?"


"Biarkan aku yang menghukumnya, Chyril, berikan aku kesempatan itu!" pinta wanita tersebut, sembari menengadah, memandang wajah putra mahkota.


"Oh,"


"Chyrill!" paksa Greisy,


"Lakukan sesuka hatimu!" Dan itu membuat putra mahkota memberikan izin padanya.


"Grandpa, aku merasa kau terlalu meremehkanku. Aku tidak menyukai sikapmu itu," sindir Greisy, bertujuan agar putra mahkota meyakini bahwa dirinya benar-benar marah pada laki-laki tua di hadapan mereka.


"Maafkan aku, Yang Mulia!" 


Plaaakkk!


Lalu Greisy menampar wajah laki-laki tua tersebut agar hukuman untuknya menjadi lebih ringan.


Darah menetes keluar dari mulut laki-laki tua di sana. Greisy berharap itu dapat membuat putra mahkota merasa puas.


"Tangan sakit, aku akan menghukum nanti. Jadi jangan biarkan dia menghukum dirinya sendiri, Chyrill!" pinta wanita itu yang telah berbalik lalu melebarkan mata ketika melihat seorang laki-laki paruh baya berdiri, memandangnya dengan tatapan mata tajam.


"Grei!"


"Ahhh… jadi benarkah dia tamuku?" tanya Greisy sembari mulai tersenyum mengejek. Dia bahkan memandang remeh ke arah laki-laki paruh baya tersebut.


"Bukankah sebaiknya kau berhenti mengganggu kami, Tuan Classa Pelindung Ratu?" usir putra mahkota secara halus, ketika laki-laki tersebut telah berbalik dan melihat ayah dari Greisy berdiri memandang ke arah mereka.


"Aku hanya datang untuk mengunjungi putriku, Yang Mulia."


**********


"Just to the point! Aku tidak memiliki banyak waktu karena aku baru bertemu dengan Chyrill setelah sekian lama kami tidak bersama.  Apa yang kau inginkan dariku, Protector Classa?" tanya Greisy,


Wanita itu tampak duduk di sofa berhadapan dengan ayahnya yang juga duduk pada sofa lainnya.


"Aku ingin bertemu denganmu,"


"That's bullshit, setelah sekian lama kau tidak pernah mengunjungiku lalu sekarang, ketika Chyrill sudah memilihku dan menjadikanku pasangannya lalu memberikan gelar putri mahkota, kau malah terus ingin menemuiku. Aku tidak pernah berpikir bahwa ternyata kau adalah seseorang yang menggilai harta dan gelar, Protector Classa," sindir Greisy sembari memberikan senyuman mengejek dan tatapannya tampak meremehkan laki-laki paruh baya di hadapannya.


"Kau berhak membenciku tapi sikapku itu sama sekali tidak ada hubungannya dengannya Remmornian, kenapa kau menuduh palsu mereka? Apa yang membuatmu sebenci itu hingga membuat masalah dikediaman Remmornian, Grei?" tanya ayah Greisy, begitu kecewa.


"Ahhh…" Dan semakin kecewa ketika senyuman mengejek Greisy tampak semakin melebar, "Aku melakukannya karena kau yang mengajariku,"


"Apa?"


"Bukankah kau yang mendidikku untuk memfitnah?" ingatkan Greisy,


"Apa maksudmu?" pada laki-laki paruh baya yang tampak membelalakan mata.


"Saat dipertemuan itu, kau menuduhku mendapatkan nilai buruk dengan data-data yang tidak valid. Kau melakukan semua itu sesuka hatimu di depan para Top Brasses lalu sekarang, saat aku melakukan hal yang sama pada Remmornian, kenapa kau harus marah?" tanya Greisy begitu tegas. Dia bahkan mulai berdiri, " Kau menghabiskan waktuku, sekarang pergilah dan aku juga tidak ingin tetap berada di hadapanmu," lalu mengusir laki-laki tersebut, kemudian dia melangkah kaki, meninggalkannya.


"Ubahlah sikapmu itu? Kau harus tahu sopan santun dan tata krama selama tinggal di istana, Grei!"


"I don't care. That's bullshit dengan semua sopan santun yang kau mau itu. Jangan ganggu aku lagi! Karena aku tidak pernah menganggumu selama kau membuangku," larang Greisy tegas dan terus melangkahkan kaki menuju anak tangga.


"Grei, aku mengatakan itu semua demi kebaikanmu,"


"Urus saja dirimu sendiri! Sekarang aku hanya mengenalmu sebagai Protector Classa dan kau bukanlah ayahku lagi," jawab Greisy laalu tersenyum lembut ketika putra mahkota telah menunggunya di atas tangga.