
"Bagaimana mungkin aku bisa bekerja sama dengan orang sepertimu?" Pintu Lift tampak membawa naik kedua orang yang tampak saling berhadapan di dalamnya.
"Oh!"
"Seorang sepertimu bahkan tidak tahu cara menghargai orang yang lebih tua darimu, Bagaimana mungkin aku bisa bertahan?"
Dia adalah Greisy yang terlihat membuang wajah ke arah pintu lift yang tertutup, ia enggan untuk memandang wajah Putra Mahkota yang kini telah duduk di kursi panjang pada sisi dinding Lift.
Putra Mahkota melipat kedua kakinya diikuti kedua tangannya. "Seorang yang tidak pernah disayang, bagaimana mungkin bisa mengetahui sifat manusia?" Dia tersenyum meremehkan, "Hm," lalu sedikit terkekeh tanpa memandang Greisy yang masih berdiri di depannya.
"Apa maksudmu?"
"Aku berbicara apa adanya, Kau hanyalah wanita yang mengandalkan diri sendiri selama hidupmu, jadi mana mungkin kau akan mengetahui sifat dasar manusia," lanjut jawab Putra Mahkota, meremehkan.
"Akh," Pintu Lift berhenti tiba-tiba, hampir saja Greisy terjatuh, tubuhnya tampak membungkuk miring dan kedua tangannya menyentuh dinding.
"Aku tidak mau, Kau bisa menghukumku atas pembatalan kerja sama kita dan kau juga bisa membunuhku jika kau mau." Dengan keras hati, Greisy melangkah keluar dari pintu lift yang telah terbuka, menuju ke koridor mewah yang memukau mata ketika memandang, bahkan sekalipun ia dalam keadaan marah, keindahan tempat masih mampu memikat hatinya.
Bagaimana tidak?
Di hadapannya terdapat sebuah aquarium panjang dan melengkung-lengkung seperti sebuah dinding bangunan yang menjulang hingga ke atap koridor.
Aquarium itu berisi air berwarna biru serta karang indah berwarna-warni dan juga ribuan ikan hias yang berenang hilir mudik, naik turun, silih-berganti juga tampak berada di dalamnya.
"Hm, aku sangat yakin kau akan merubah pikiranmu kurang dari setengah jam lagi."
Mendengar ucapan Putra Mahkota, Sontak Greisy membalikan tubuhnya lalu ia membelalakan mata ketika melihat senyuman keremehan dari laki-laki tersebut semakin melebar diikuti dengan pintu lift yang perlahan-lahan tertutup dan membawa Putra Mahkota turun ke bawah.
"Omong kosong, aku katakan aku tidak mau maka aku tidak mau," Greisy menggertakan gigi-giginya geram, dia berteriak pada pintu lift yang benar-benar tertutup.
"Selamat datang, Yang Mulia," sapa seorang laki-laki tua. Tidak ada henti-hentinya ia terkejut, ia membalikan tubuh dengan cepat setelah laki-laki tua itu datang lalu memberikan tanda kehormatan pada Greisy.
"Ahh, Kakek, kau tidak perlu bersikap sesopan itu!" Grieisy mendekati laki-laki tua yang telah berdiri tegak lalu tersenyum lembut untuknya.
"Silahkan ikuti saya, Yang Mulia!"
"Tidak!" Greisy menolak permintaan laki-laki tua itu sembari menundukan kepalanya. "Aku akan berdiri di sini sampai Putra Mahkota datang kembali dan menghukumku." Lalu memberitahukan alasannya tetap berdiri di depan pintu lift tersebut.
"Cobalah untuk memikirkan ulang keputusan anda, Yang Mulia!" Laki-laki tua berusaha untuk merayu Greisy yang masih mengeraskan hati.
"Aku sudah sangat yakin, Kakek."
"Tetapi dimanapun anda, anda akan tetap berada pada tempat yang sama bahkan mungkin lebih menyakitkan." Laki-laki tua mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam kantung jas hitam yang ia kenakan.
Lalu dengan mata hitam lekatnya serta rambut hitam tak memutih yang terlihat bergerak terbawa angin dari sebuah jendela bangunan yang terbuka, ia memandang dengan jeli layar ponsel yang telah menyala di dalam genggaman tangannya.
"Tidak! Mana mungkin aku berani menyakiti keluarga bangsawan di negaraku sendiri."
Greisy masih menundukan kepala, tak sedikitpun ia berniat untuk memandang laki-laki tua berwajah keriput di hadapannya tersebut.
'Ibu,Ibu...' seorang remaja wanita tampak memeluk seorang wanita yang sangat ia kenali di dalam layar ponsel milik laki-laki tua.
Satu persatu sebuah foto kebersamaan diperlihatkan oleh ponsel dengan jangka waktu yang sedikit cepat.
"Haaah," Tak terasa air mata wanita itu terjatuh karena rasa sakit yang teramat dalam di hati.
"Semua keluarga bangsawan juga mengetahuinya, bahwa istri dari Classa pelindung ratu telah mengadopsi seorang anak perempuan dan sangat menyayanginya." Laki-laki tua tampak memprovokasi, ia tersenyum licik lalu meraih sebuah headset dan mengaitkan ke lubang telinga, "Dia diperbolehkan naik!" serta memberikan sebuah perintah pada seseorang dibalik headset yang ia kenakan.
Greisy tak kuasa lagi, bagaimana mungkin ibu yang sangat ia inginkan, lebih memilih mengasuh anak perempuan lain dibandingkan dengan menjaganya sementara ia harus bertahan di wilayah pembuangan dan merindukan kasih sayangnya?
Tuukkk.. tukkk.. tukkk…!
"Aku ingin istirahat saja, Kakek!" Karena begitu sedih, ia tak lagi kuasa untuk berdiri, namun ketika ia ingin mengembalikan ponsel kepada laki-laki tua, seorang wanita muda dengan rambut bergelombang dan detukan langkah kaki dari sepatu hak tinggi yang ia kenakan, datang...
"Akhh," Dan dia mendorong tubuh Greisy hingga wanita itu terjatuh dan melepaskan ponsel dari genggaman tangan.
"Kau," Wanita itu mendekati Greisy yang tampak terkejut akan kedatangan serta perilaku tak terpujinya. Wanita yang memiliki wajah bundar itu telah ia ketahui identitasnya. Dia adalah putri adopsi dari ibunya."Apa yang kau lakukan pada ibuku? Berani sekali menyakiti hatinya, berani sekali kau datang ke wilayah kerajaan dan mempermalukannya, Sadarlah diri, kau sampah!" maki wanita itu tiba-tiba.
"Aku?!" Dan hal itu membuat Greisy menggertakan gigi geram, karena begitu marah sembari menahan tangan wanita yang akan meraih rambutnya.
"Kau, Siapa lagi kalau bukan kau? Kau yang tidak berguna setidaknya berhentilah mempermalukan ibuku!" Greisy tersenyum pahit, " Akh.." dengan cepat ia menghempaskan tangan wanita di hadapannya hingga wanita itu jatuh terduduk, lalu Greisy segera berdiri.
"Ella!!" Seorang laki-laki tampak berjalan cepat dan memanggil nama wanita yang baru saja datang dan menyerang Greisy.
"Haaa.."
"Yang Mulia!" laki-laki tua memberikan hormat akan kedatangan laki-laki itu.
"Yang Mulia!" Wanita yang dipanggil Ella itu segera berdiri dan menundukan kepala.
"Kau mendorongnya?" Laki-laki tinggi berseragam militer yang baru saja tiba itu, menghentikan langkah kaki dan berdiri tepat di hadapan Greisy."Lucu sekali, hanya karena aku bilang aku menyukainya, bukan berarti kau bebas melukainya, bukan? Untuk saat ini, kau juga belum menikah dengan Chyrill, jadi berhentilah melukai Ella!" perintah laki-laki itu. Dia adalah Pangeran Negara – Ewald Alley.
"Oh," Greisy dengan cepat menghapus air mata yang membasahi pipi. "Lalu?"
"Grei, aku mengenalmu, kau bukanlah wanita seperti ini sebelumnya, aku minta maaf, mungkin aku yang salah telah membatalkan pernikahan kita sesuka hatiku jadi aku mohon, jangan sakiti orang yang tidak ada hubungannya dengan masalah kita!" laki-laki yang sangat tampan itu berkata dengan nada yang sangat lembut. Dan cukup mengejutkan seisi koridor yang telah diisi oleh beberapa orang lain dan kebanyakan mereka adalah pengawal dari Pangeran Negara yang tadinya mengikuti laki-laki itu. "Batalkan pernikahanmu dengan Chyrill dan menikahlah denganku! Aku menyetujui pernikahan kita, ini demi kebaikan kita bersama,"
"Ewald!" Lagi, ucapan Pangeran Negara semakin mengejutkan para penghuni koridor yang mendengar kalimat laki-laki tersebut saat itu, "Ewald Alley!" Bahkan wanita yang dipanggil 'Ella' itu juga tak kalah terkejut hingga meneriaki nama laki-laki tampan di hadapan Greisy Hawysia.
" Yang Mulia, sebenarnya apa tujuanmu berubah pikiran?" Greisy semakin marah, ia bahkan sangat mengetahui raut wajah serta keraguan dari gerakan tubuh seorang pangeran di hadapannya.
"Sejujurnya kau tidak sedikitpun pantas untuk menyandang gelar Ratu Kerajaan apalagi menikahi keluarga kerajaan, meskipun demikian, aku akan menjatuhkan harga diriku demi ibuku, demi Chyrill yang mungkin akan menyesal menikah denganmu nanti," jawab Pangeran Negara, semakin memghina.
"Oh!" Dan itu membuat Greisy tersenyum pahit, Yang Mulia, Maafkan aku! Aku menolak keinginan anda dan tentu saja, aku akan menikah dengan laki-laki hebat seperti Putra Mahkota,"
"Jadi kau telah membuat keputusan, Sayangku?" pintu Lift terbuka, semua orang tampak memberi hormat pada laki-laki yang telah berjalan dan berdiri di belakang Greisy lalu ketika Greisy akan membalikan tubuhnya karena ia terkejut, laki-laki itu dengan cepat memeluknya dari arah belakang dan menyandarkan dagu di atas bahu wanita itu, "besok kita akan menikah, bukan?"
"Benar, Chyril!"