Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
Bab 13


Hannah Clara Arsihean dan Putra Mahkota memiliki hubungan yang kurang dekat hingga dirinya hanya diam dan membiarkan begitu saja, putranya berbuat kekacauan pagi hari itu.


Mau bagaimana lagi.


Pikir wanita paruh baya yang sedang berusaha melepaskan tangan mertuanya dari rambut Greisy dibantu oleh Putra Mahkota.


Ia tahu, sekalipun ia berbicara, putranya tidak akan pernah mendengarkannya. Dia mengenal putra yang sangat ia sayangi, ia tahu bahwa dirinyalah yang salah karena tidak memperhatikannya atas perintah.


Dan pikirnya lagi,


Dia tidak memiliki kekuasaan penuh atas putranya.


Dia harus menerima segala hukuman atas pilihannya di masa lalu, dia harus menerima bahwa dirinya tidak akan mungkin menerima cinta dari raja yang sedang sakit dan bahkan untuk bertemu dengan laki-laki itu selama hidupnya sekalipun, sangatlah sulit dan hanya sekali saja.


Lalu mau bagaimana lagi, dia tidak memiliki pilihan lain jika keluarga besar Haeland membatasinya untuk bertemu dengan putranya sendiri yang sangat diagungkan oleh seluruh keluarga kerajaan dan penduduk suku bangsa.


Kemudian mau bagaimana lagi, dia hanya bisa diam karena telah memutuskan untuk menjadi wadah tempat melahirkan saja.


Dia tahu, dia bodoh karena tidak mampu mengendalikan perasaan hatinya yang telah mencintai ayah dari putranya.


Dan dia juga tidak menyangka bahwa putranya memiliki hati yang sama dengannya, yaitu bisa mencintai orang lain, tidak seperti suaminya yang tidak pernah mencintainya selama hidup.


Hannah tersenyum lega, sebenarnya dia sangat senang. Dia tidak peduli dengan kebodohan menantunya nanti, yang dia inginkan hanyalah putranya bahagia dengan perasaan cinta yang dimiliki oleh laki-laki itu.


"Bagaimana mungkin seorang sampah bisa masuk ke istana? Dan sampah itu datang ingin menikah dengan cucuku yang hebat." Maki wanita tua meronta-ronta di dalam pelukan Hannah yang telah berhasil melepaskan tangan ibu mertuanya dari rambut Greisy.


"Ibu tenanglah!" pinta Ratu Negara yang telah datang mendekat.


"Aku bahkan dibilang sampah. Kau tega sekali membiarkanku dipanggil sampah, Chyrill!"


Bentak Greisy, mengabaikan amarah wanita tua dan juga Ratu Negara. Dia benar-benar harus berpura-pura agar dapat menahan ketakutan di hati.


"Grei, berani sekali kau pada Ibu Suri!" 


Kedua orang tua Greisy bahkan tidak menyangka bahwa putrinya berani bersikap selancang itu pada keluarga kerajaan bahkan pada ratu yang memimpin negara.


"Greisy!" Ratu Negara membentak marah hingga urat-urat di dahi wajah yang putih terlihat jelas.


"Dasar Brengsek, kau pasti pelacur yang telah menyihir cucuku, bukan? Aku bahkan tidak pernah melihatmu  sekalipun di istana, seorang sampah yang dibuang, maka tetaplah menjadi sampah yang dibuang, orang tuamu saja jijik melihatmu, mereka saja muak melihatmu apalagi kami, aku akan menyadarkan cucuku dari sihirmu...."


"Berhentilah!" degup.. degupp.. degupp.. jantung Greisy Hawysia semakin kencang memompa ketika memdengar penghinaan dari wanita tua di hadapannya. "Minta maaf!" ia bahkan mulai menurunkan kedua lutut kakinya secara cepat karena hatinya mulai lemah dan pikirannnya tidak lagi mampu berfungsi ketika Putra Mahkota membuka suara dan memberikan perintah. Dia pikir perintah itu diserukan untuknya.


"Benar, kau harus berlutut padaku! Bahkan sekalipun kau berlutut, aku juga tidak akan memaafkanmu," ucap wanita tua begitu sombong dan merasa dibela oleh cucunya 


"Bukan dia yang kuperintahkan untuk meminta maaf." Suara dingin Putra Mahkota mengejutkan seisi ruangan di sana, laki-laki itu segera menarik lengan tangan Greisy agar dia kembali berdiri tegak lalu memandang tajam ke arah wanita tua yang telah berhenti meronta-ronta dipelukan Hannah. "Tapi kaulah, Nenek. Kau yang harusnya minta maaf pada pasangan takdirku!" perinta Putra Mahkota.


"Chyrill!" Sungguh mengejutkan orang-orang di sana.


"Chyrill, apa yang kau katakan?" begitu pula dengan Ratu Negara yang telah melangkah mendekati Putra Mahkota. " Bagaimana mungkin kau meminta Ibu Suri untuk meminta maaf pada Greisy? Greisy bahkan bukan Classa utama." tanya Ratu Negara sangat terkejut.


" Chyrill!" Classa Kepercayaan Putra Mahkota yang berdiri dekat dengan Putra Mahkota, juga tak kalah terkejut mendengar perintah dari junjungannya.


"Berlutulah! Kalau kau tidak mau meminta maaf!" perintah Putra Mahkota lagi dan suasana di sana semakin tegang.


"Chyrill!" bentak Ratu Negara tidak terima.


"Kau tidak dengar aku, Nenek? Berlututlah atau kau ingin aku menyuruhmu bersujud?" lanjut perintah Putra Mahkota memberikan pilihan.


Jantung Greisy terpompa semakin tidak beraturan ketika mendengar perintah dari Putra Mahkota di sampingnya.


'Bagaimana mungkin ada orang setega dia pada keluarganya sendiri di dunia ini?' gumam wanita itu di dalam hatinya sembari menoleh ke arah samping, memperhatikan wajah Putra Mahkota dari sana.


"Hm, baiklah kalau begitu, bersu..."


"Maaf," wanita tua segera berlutut di hadapan Zizi, "Maafkan aku, siapa namanya?" tanya wanita tua yang telah berlutut pada ratu negara yang telah berada di dekat Putra Mahkota dan mata ratu negara tampak berkaca-kaca, ia sungguh geram pada keponakannya.


"Greisy, Ibu!" Tapi dia tidak dapat berbuat apapun, karena laki-laki di dekatnya itu adalah satu-satunya calon raja pilihan masyarakat NTC.


"Greisy, maafkan aku,"


"Ahh itu…" Greisyi tidak lagi dapat berkonsentrasi, "Nenek, kau tidak perlu berlutut..."


Ketika ia hendak mendekati wanita tua dan berniat membantunya berdiri, cengkraman tangan Putra Mahkota yang erat, menyakiti lengannya dan membawa wanita itu jatuh ke pelukan laki-laki itu lagi.


Lalu tangan Putra Mahkota meraih kedua pipi Greisy, dan menekan keras kedua pipinya tersebut. Putra Mahkota memaksa Greisy untuk menatap matanya.


"Kau ingin pergi, bukan, Sayangku?" tanya lembut Putra Mahkota, namun tatapannya terlihat sangat tajam. Dia menyadarkan Greisy dari tugasnya. "Tenang saja! Kita aka keluar sekarang, dan akan selalu bersama.  aku juga tidak akan membiarkan seorangpun melukaimu."


Meskipun Greisy sadar atas perintah tetapi tetap saja dia masih ingin mendekati wanita tua dan menghentikannya untuk berlutut, meminta maaf.


Sampai Putra Mahkota semakin menekan erat kedua pipinya.


"Baiklah," Dan Greisy dipaksa untuk menolak keinginan hatinya tersebut. Greisy terpaksa menganggukan kepala, lalu menyembunyikan rasa hati yang berkecamuk dengan memeluk erat tubuh Putra Mahkota, "Ayo kita pergi Chyr, aku takut sekali berada di sini." Kemudian dia menangis diam, air matanya jatuh karena ia tidak sanggup untuk melihat wanita tua tetap berlutut dan menunggu Putra Mahkota untuk memberikan perintah menyudahi.


"Aku sangat mencintainya, wanitaku ini. Siapapun yang melukainya, maka aku tidak akan melepaskan mereka!" Suara Putra Mahkota terdengar tegas dan dia tersenyum begitu lembut ketika berkata.


Tetapi semua orang mengenalnya, dia bukanlah sedang tersenyum lembut tetapi sebaliknya.


Itu adalah senyumannya ketika ia sedang memberikan ancaman ataupun perintah yang mutlak harus dilaksanakan.


"Remmornian, suatu kehormatan bagi keluarga kami untuk melayani Putra Mahkota." Tukk.. tukkk.. tukkk.. puluhan langkah kaki datang ke depan pintu ruangan rapat yang terbuka, hingga wanita tua terpaksa berdiri dan melihat seorang laki-laki tua yang tadinya duduk dikursi rapat telah berlutut dan memberikan hormat untuk Putra Mahkota, diikuti oleh orang-orang yang telah ia panggil.


Ya, dia adalah kepala keluarga besar Remmornian negara NTC.


"Segera persiapkan upacara pernikahanku, aku ingin kalian yang mempersiapkannya!" Dia mengangkat kepala dan tersenyum senang pada Putra Mahkota yang juga memandangnya dengan senyuman senang.


"Dengan sangat senang hati, Yang Mulia."


"Aku memberikan perintah dan ini mutlak sebagai ratu negara atas keinginanku sendiri. Pernikahan hanya akan diketahui oleh para penduduk wilayah kerajaan saja sampai hari dimana Greisy berhasil menguasai 4 profesi suku bangsa Tidak ada acara persiapan dan tidak ada pesta pernikahan." Ratu negara mengumandangkan perintah, lalu berjalan dengan langkah marah keluar pintu ruangan, dengan segera ia diikuti oleh para menteri-menterinya.