
"Maaf! Berdasarkan peraturan yang baru, selain anggota keluarga Remmornian dan anggota keluarga kerajaan maka tidak ada yang boleh masuk ke kediaman," larang seorang penjaga gerbang yang tampak berdiri dengan tiga orang temannya di depan gerbang, ketika Protector Classa of the Queen – Ian Lush Remmornian memprotes aksi mereka yang tidak ingin membukakan pintu gerbang.
"Ayah, apa yang terjadi?" tanya Ella, wanita itu berseru dari balik jendela mobil.
"Siapa yang membuat peraturan baru itu? Bagaimana mungkin keluarga pelindung ratu dilarang masuk ke dalam kediaman?" tanya Protector Classa, tampak menahan amarah.
"Kepala keluarga yang memerintahkannya," jawab seorang penjaga gerbang lainnya.
"Tapi aku adalah bagian dari keluarga Remmornian," ucap laki-laki paruh baya itu, memaksa.
"Anda diizinkan masuk tetapi tidak dengan keluarga anda," jawab penjaga gerbang tersebut, tegas.
"Tidak…"
"Perintah adalah perintah. Itu harus ditepati," lanjut ucap penjaga gerbang tersebut, menyela cepat dan menegaskan perkataannya.
"Daddy!" Ella mulai melangkah mendekati gerbang,
"Seorang yang rendah, seharusnya tidak dibiarkan untuk terus menerima pendidikan di keluarga Remmornian kami," hina seorang penjaga yang sedari tadi diam. Dia memberikan sindiran sembari memandang penuh keremehan pada Ella.
"Apa maksud perkataanmu?" bentak Protector Classa marah, dia bahkan menggenggam erat kerah seragam yang dikenakan laki-laki yang tadinya menghina.
"Bukankah wanita itu adalah Ordinary Classie, bagaimana mungkin seorang yang rendah diberikan hak untuk belajar di kediaman Remmornian? Ini terlihat sekali bahwa anda menggunakan kekuasaan anda sebagai pelindung ratu untuk keuntungan anda sendiri," sindir penjaga lainnya, membela temannya.
Dia bahkan ikut memandang Ella dengan tatapan penuh penghinaan.
"Berani sekali kalian?!"
"Ian!"
Protector Classa berbalik ke arah belakang ketika ia mendengar suara panggilan.
"Tuan Serge!" balas panggil laki-laki paruh baya itu ketika ia melihat kepala keluarga Remmornian tampak telah keluar dari mobilnya.
"Berhentilah mempersulit pekerjaan orang lain! Aku tahu kau mungkin tidak menyetujui peraturan yang baru tapi mau bagaimana lagi, keputusan telah dibuat dan aku tidak memiliki kekuasaan untuk mengubahnya," jelas laki-laki tua yang tampak mulai mendekati Protector Classa.
Raut wajahnya cukup sedih tetapi tiba-tiba berubah menjadi kesal ketika ia melihat wajah Ella di samping Protector Classa.
"Aneh sekali, kenapa tiba-tiba anda tidak memiliki kekuasaan untuk mengubah peraturan? Bukankah anda adalah kepala keluarga Remmornian?" tanya laki-laki paruh baya tersebut, tidak dapat menerima perkataan laki-laki tua yang telah berdiri di hadapannya.
"Kekuasaan ada di tangan putri mahkota. Dia mungkin marah atas tindakan kurang ajar putri adobsimu itu, maka dari itu, Remmornian ikut mendapati akibatnya," sindir laki-laki tua, mulai merasa kesal.
"Putriku tidak ada hubungannya dengan masalah Remmornian. Kenapa tiba-tiba anda menyalahkannya?" Dan Protector Classa juga tampak kesal dengan tuduhan yang dilontarkan oleh kepala keluarga Remmornian.
"Aku sempat mencari tahu alasan putri mahkota yang tidak pernah mengenal sedikitpun tentang Remmornian tiba-tiba bersikap keras pada kita. Itu semua karena kalian memperlakukannya begitu kejam. Tidak hanya mengadopsi putri lain, putri kau yang hanya sebagai seorang pengganti bahkan berani memakinya di apartemen milik putra mahkota. Lancang sekali! Seorang yang memilikii gelar rendahan berani menyentuh tubuh putri Remmornian kami. Aku tidak menyukai putri adobsimu ini sedikitpun dan mulai sekarang, aku melarang keras baginya untuk belajar tentang keahlian negara du kediaman Remmornian,"
"Tuan Serge!" bentak Protector Classa tidak terima.
Dia menghentikan langkah kaki kepala keluarga Remmornian yang tadinya akan berjalan menuju ke arah mobilnya kembali.
"Itu adalah keputusanku, perintahku, akulah kepala keluarga Remmornian, aku jugalah yang memberikan posisi Queen Protector Classa padamu, jadi terimalah itu atau kau mungkin juga ingin aku mengusir putri adobsi dan istrimu dari apartemen istana, ya?" ancam laki-laki tua yang tidak berbalik sedikitpun, tidak ingin memandang ke arah Protector Classa kembali.
"Daddy!" panggil Ella, mulai merasa takut dan juga kecewa. Dia menggenggam tangan Protector Classa dengan kedua tangannya begitu erat dan dia juga tampak menundukan kepala.
"Ella, kita pulang saja!" ajak Protector Classa, dia membalas genggaman tangan putrinya dan membawa wanita itu masuk kembali ke dalam mobil miliknya.
*********
Greisy tampak memandang ke luar dinding kaca pada sebuah cafeteria. Dia menunggu Callan dengan tatapan mata penuh dengan kesedihan.
Entah mengapa, ingatan kebersamaan dengan Callan tiba-tiba membayangi pikirannya. Mungkinkah dia merasa tidak lagi kesepian karena kehadiran laki-laki tersebut di sisinya hingga hatinya mulai ragu untuk menuruti perintah dari putra mahkota?
Pikir wanita tersebut demikian.
"Sudah lama kau di sini?" tanya Callan ketika ia telah datang, lalu dia duduk di hadapan Greisy.
"Lama sekali, tapi aku cukup sabar menunggumu karena kau juga sudah cukup sabar terhadapku selama ini," jawab Greisy yang telah memandang ke arah Callan.
"Oh, jadi sekarang kau mengakuiku sebagai pendidikmu?"
"Hm!" angguk Greisy, membenarkan. "Ayo!" Lalu mulai mengajak Callan untuk ikut bersamanya.
"Kenapa tidak di sini saja?" tanya Callan, tampak tidak berniat untuk pindah ke kafe lainnya.
"Dulu saat aku tinggal di Exile Area, aku tidak memiliki banyak uang untuk pergi ke kafe yang aku inginkan di Universitas umum jadi, aku harap kau mau menemaniku ke tempat itu sekarang," pinta Greisy, cukup mengejutkan Callan. "Ahh itupun jika kau tidak keberatan," lanjut wanita itu sembari tampak membuang wajah kembali ke arah dinding kaca di sana.
"It may, I am that special for you?!" tanya Callan, dan saat itu giliran Greisy yang terkejut atas ucapan dari laki-laki tersebut.
"Hmm!" Greisy dengan ragu menundukan kepala. "Aku pikir kau adalah orang yang pertama kali melindungiku setelah aku keluar dari Exile Area," jawab Greisy, membenarkan.
Ahh benar…
Mungkinkah esok ia masih bisa melihat Callan tersenyum lembut padanya lagi?
Tanya Greisy di dalam hati.
"Ayo!" Lalu melangkah kaki, beriringan dengan Callan.
**********
Greisy mengambil dua cangkir cappucino dari tangan seorang pegawai kafe. Pegawai kafe tersebut menganggukan kepala lalu menunjuk ke arah cangkir di tangan kanan Greisy.
"Tuan Rio, aku utusannya," ucap wanita tersebut, cukup berbisik dari kejauhan ketika antrian mulai sepi.
Dan Greisy mulai memahami maksud dari isyaratnya yang menunjuk ke arah tangan kanan Greisy.
Yeah.
Minuman itu sudah diberikan bubuk racun dan hal itu membuat tubuh Greisy seketika bergetar, dia merasa takut dan juga merasa bersalah.
"Berikan! Kau tidak boleh membuang-buang waktumu, Yang Mulia," bisik seorang dari belakang tubuh Greisy dan mengejutkan wanita itu.
Ternyata, ada begitu banyak mata-mata yang dimiliki oleh putra mahkota. Bukan hanya pegawai kafe saja, seorang mahasiswa juga termasuk bagian dari mereka.
Greisy tertegun lalu menghela napas berat. Dengan ragu ia melangkah mendekati Callan yang tampak memandang ke arahnya sedari tadi.
Callan tersenyum lembut.
Mungkinkah itu untuk yang terakhir kalinya ia menerima senyuman tersebut dari laki-laki itu?
"Terima kasih!"
"Aku sudah memesan makanan dan mereka mengatakan akan mengantarkannya jadi tunggu saja!" ucap Greisy, memberitahukan lalu dia duduk di hadapan Callan dan memberikan Cangkir di tangan kanannya untuk laki-laki tersebut.
"Kenapa? Mungkinkah ada masalah?" tanya Callan ketika Greisy telah menarik cangkirnya kembali.
"Hmm!" Lalu dia menggelengkan kepala dan memberikan cangkir di tangan kirinya untuk Callan.
"Aneh sekali, kenapa kau mengganti cangkirnya?" tanya Callan, sembari tersenyum lucu, bahkan gigi-giginya tampak terlihat.
"Tidak, aku hanya sedang haus dan tidak biasa minum dengan tangan kiri," jawab Greisy sembari mulai menyedot pipet pada cangkir di tangan kanannya tanpa keraguan.
Dia tidak peduli jika dirinya akan mati. Dia juga tidak akan mungkin melihat putra mahkota mempermalukannya jika ia sudah mati.
Pikir wanita tersebut demikian lalu mulai duduk di hadapan Callan dan tersenyum lembut.
"Callan, terima kasih karena kau sudah menghilangkan rasa sepi di dalam hatiku!" ucap Greisy, mengejutkan Callan.
"Apa?"
"Aku… aku sangat bahagia bisa mengenalmu," lanjut ucap Greisy sembari menghela napas perlahan, lalu menyedot pipet minumannya kembali.
"Kau ini bicara apa? Lucu sekali!" jawab Callan yang mulai menyedot pipet cangkir lalu menoleh ke arah pelayan yang telah datang membawa nampan berisi makanan kemudian…
"Uhukk… uhukkk!"
"Callan!"
Laki-laki itu terjatuh setelah mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Callan!" panggil Greisy lagi mulai panik, "Callan!" Lalu dia melangkah dengan cepat mendekati laki-laki itu, "Callan bertahanlah! Callan… Tolong… tolong bantu aku!" teriak Greisy di sela-sela rasa takutnya.
Lalu ketika dia berdiri, kepala wanita itu mulai terasa sakit.
"Uhukk… Uhukkk!" Dan matanya terasa begitu berat.
Dia merasa sangat mengantuk lalu…
"Dia adalah Mr. Callan!"
"Tolong bantu dia!"
"Hei, apa yang terjadi padamu,"
"Hei!"
Tubuh wanita itu terjatuh lemas di atas lantai, dia menutup mata dan merasakan mual di perutnya kemudian dia tak lagi sadar diri.