Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
bab 15


Mobil berwarna hitam pekat tampak melaju di atas tembok besar, penghubung antara Istana Kerajaan dan daerah-daerah kerajaan lainnya.


Setiap jalan memiliki 2 jalur yang berbeda, di pinggir tembok juga terdapat dua jalur mesin berbentuk kereta panjang yang berfungsi sebagai kendaraan bagi para Classa-Classie serta pekerja yang berlalu lalang pergi dan datang.


Mobil berwarna hitam pekat itu adalah mobil yang ditumpangi oleh Greisy.


 Di bagian kursi depan, Classa pelindung terlihat duduk dengan memasang wajah masam karena harus menjaga wanita itu. Lalu di samping laki-laki itu, Classa Pelayan tampak ditugaskan untuk mengantar kepergian Greisy menuju ke Universitas negara.


Mobil perlahan-lahan menuruni jalanan tembok yang berliku-liku.


Pemandangan ujung-ujung pepohonan perlahan-lahan menghilang berganti dengan batang-batang pohon yang besar dan mampu menyejukan mata.


Dedaunan kering berwarna merah, hijau, kuning dan coklat terkadang tampak berterbangan terbawa angin.


Aliran sungai kecil dan bebatuan di dalamnya, juga tak kalah menambah ketenangan wilayah kerajaan yang sangat tentram.


Tidak memakan waktu begitu lama, ketenangan alami tampak berganti dengan suasana riuh dan hiruk pikuk para mahasiswa di depan gedung utama Universitas negara.


Lalu mobil terus melaju menuju gedung-gedung jurusan lain yang tingginya sedikit saja melebih bangunan utama.


Kemudian mobil perlahan-lahan memasuki pintu gerbang besar yang terhalangi sebuah portal, memperlihatkan taman indah dengan beberapa pancuran air di pertengahan.


Taman menghilang maka berganti dengan rimbunnya pepohonan kemudian mobil perlahan-lahan bergerak menurun dan sebuah bangunan tinggi tampak berada di depan mata.


Bangunannya sangat berbeda dengan gedung-gedung jurusan lain yang berada di depan area universitas.


Sedikit lebih mewah dan megah.


Pintu gerbang besi terbuka, Beberapa pejabat militer tampak berdiri menjaga dan bersiaga.


Jurusan Golden S++ adalah jurusan profesi khusus kebanggaan negara.


Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat memasuki jurusan tersebut.


Kecerdasan adalah faktor penentu utama, meskipun bukan seorang Classa atau Classie, jika seorang murid mampu mengikuti seleksi maka kemungkinan besar, mereka akan menjadi bagian dari mahasiswa jurusan tersebut.


Mobil berhenti tepat di depan pintu utama gedung jurusan.


Letak pintu sedikit jauh karena terdapat tangga lebar di hadapan pintu tersebut.


Karpet hijau tampak terbentang luas di atas tangga.


"Hallo," pintu terbuka, "Aku adalah dosen pembimbing anda, Yang Mulia." Seorang laki-laki berkacamatalah yang telah membukanya.


"Gosh, Callan, aku pikir kau sudah gila karena membukakan pintu untuk mahasisiwimu sendiri." Classa Pelindung terdengar memberikan sindiran pada laki-laki berkulit putih dan berwajah lonjong yang terlihat menatap mata Greisy dengan seksama.


Greisy  yang terkejut berusaha untuk memperbaiki detak jantung yang kacau, "Tha...Thank you..."


Baaakkk…!


"Maaf, aku tutup kembali." Namun lagi, wanita itu dibuat kesal dengan perilaku dan sikap keterlaluan para Classa di wilayah kerajaan. "Kenapa kau lama sekali keluar dari mobil, Yang Mulia? Itu menyakitkan tanganku yang menahan pintu sedari tadi,"


"Hahahaaha, Callan kau benar-benar nakal." Classa Pelindung tertawa lebar, Classa pelayan hanya bisa menghela nafas dengan kejahilan Classa pendidik— Callan Xyle Arsihean terhadap Greisy.


"Keluarlah!" lalu pintu terbuka kembali.


Dengan cepat Greisy keluar dari dalam mobil agar Classa pendidik tidak menutup pintu lagi,


"Yang Mulia, Selamat datang di Jurusan Golden S++!" sambut Callan, dengan senyuman senang, namun senyuman tersebut tampak dipaksakan.


**********


Tempat itu tidak terlalu ramai, tidak seperti kampus yang biasanya ia kunjungi dan lewati.


Di depan bangunan terdapat tulisan besar berwarna emas.


FAKULTAS KHUSUS


KEJURUAN GOLDEN S++


Tulisan itu terlihat sangat mewah dipandang mata dan semua orang yang memandangnya pasti sudah dapat mengira bahwa setiap huruf memang terbuat dari emas murni yang dirangkai kata.


Tidak banyak yang mobil masuk ke dalam halaman gedung, sebagian orang mungkin melewati pintu lain selain pintu utama.


Hanya beberapa orang yang tampak berjalan menaiki tangga dan kebanyakan dari mereka memeluk buku lalu berjalan acuh tak acuh, terkadang juga seperti orang yang sedang berjalan terburu-buru.


"Bisakah anda tidak berjalan di samping saya?" Greisy yang berjalan memasuki gedung terlihat kurang nyaman dengan kedekatan laki-laki yang baru saja ia temui.


"Aku hanya ingin menunjukan jalan menuju ruang kuliahmu saja, memang apa salahnya?"


Laki-laki yang merupakan seorang Classa pendidik tampak tersenyum mengejek dan ia sangat menyukai kecemasan dari wanita di sampingnya.


Beberapa orang yang tadinya berjalan acuh, mulai memperhatikan dengan seksama kedua orang yang tampak berjalan menaiki tangga.


"Anda membuat saya menjadi pusat perhatian, mohon menjauhlah! saya tidak ingin menarik perhatian banyak orang." Alasan telah dilontarkan oleh Greisy yang telah menghentikan langkah untuk lebih naik ke anak tangga di atasnya.


"Ahhh sebenarnya aku sangat malas ke kampus, sungguh membosankan!" suara keluhan Classa Pelindung yang tadinya berjalan di belakang Greisy dan Classa Pendidik kini terdengar melewati mereka, "Gosh, kenapa kalian berdua berhenti?" lalu dia menghentikan langkah dan berbalik memandang Greisy yang tampak beradu mata dengan laki-laki berkacamata.


"Saya akan mencari kelas saya sendiri." ucap Greisy semabri berbalik, lalu menuruni anak tangga untuk menuju pintu lift yang sedikit jauh.


"Padahal ruanganmu di samping tangga ini, kenapa kau harus repot menunggu di depan pintu lift? Benar, ternyata kau itu sangat bodoh," Classa Pelindung tersenyum kecut setelah melontarkan penghinaan, lalu dia berbalik lagi untuk menaiki anak tangga, "kau sengaja melakukannya, benarkan, Callan?" Classa Pelindung bertanya pada Classa pendidik sembari terus berjalan.


Classa Pendidik tersenyum mengejek,


"Aku hanya ingin mempekenalkan mahasiswi baruku pada mahasiswa yang lain, kau tahu bukan? Para pelajar di sini sangat tidak pedulian?" lalu dia melontarkan alasan sembari memandangi Greisy yang tampak masih menunggu di depan pintu lift.


"'Dari mana asalnya wanita itu? Bukankah jadwal penerimaan mahasiswa baru masih belum dilaksanakan?' kau ingin mahasiswa di sini berpikiran seperti itu, bukan?" Classa Pelindung kini telah berada di atas tangga pertama sebelum menaiki tangga yang kedua.


"Kau meremehkanku, tapi mungkin  segalanya akan sangat menarik mulai dari sekarang," ucap Classa Pelindung yang kini telah berjalan beriringan dengan Classa Pendidik.


********


Pintu lift terbuka,


Koridor lantai dua terlihat penuh dengan ruang-ruang belajar.


Sesekali Greisy melihat para pelajar tampak duduk di kursi berbentuk tangga, sesekali ia juga melihat para mahasiswa duduk di kursi lipat biasa.


Wanita itu terus melangkah menuju ruang kelas yang berada di ujung koridor dan di samping tangga.


Lalu langkahnya terhenti ketika ia melihat sesosok wanita paruh baya sedang memberikan bekal khusus pada seorang mahasiswi yang berdiri di depan pintu ruangannya.


Mata Greisy memerah, dia tersenyum pahit. Greisy mengenal wanita paruh baya itu adalah ibunya.


Dia melihat, ibu yang sangat ia inginkan sedang memakaikan pita rambut pada poni mahasiswi di depannya.


"Aaaaahhh…!" teriak Greisy keras, mengejutkan kedua wanita yang saling berhadapan, begitupula dengan penghuni ruangan di hadapannya hingga banyak orang yang memperhatikannya dari balik pintu.


Pita yang harusnya terkait, saat itu terjatuh.


Wanita paruh baya memandang Greisy dengan senyuman pahit.


"Grei!"


"Gosh, Menjijikan sekali!" Greisy membuang wajah ke samping, ke arah seorang pengajar yang tampak keluar dari sebuah ruangan karena mendengar suara teriakan.


"Jadwal kelasku sedang berlangsung, berhentilah membuat keributan atau aku akan memanggil penjaga militer!" Pengajar berjenis kelamin laki-laki itu memberi ancaman ketika melihat tatapan Greisy yang tajam.


"Maafkan sikapnya, Tuan! Dia mungkin tidak sengaja menggigit lidahnya sendiri." Dengan cepat wanita paruh baya datang lalu menarik tangan Greisy untuk membawa wanita itu pergi.


"Aku pikir, sebaiknya anda tidak sembarangan menyentuh tanganku, Madam!" dengan nada dingin, Greisy berseru sembari menghempaskan tangan ibunya.


"Grei!" tetapi Ibunya tidak peduli, wanita itu meraih tangan Greisy lagi untuk membawanya pergi dari sana.


"Ahhhh…! I said ' No Way', So that no way. You must get it," Greisy semakin berteriak keras dan itu memicu kedatangan banyak orang di koridor tersebut.


"Hey, You!" mahasiswi yang tadinya hanya berdiri di depan ruangannya mulai terpancing emosi, "Berhentilah membuat keributan di sini! dan juga, kenapa wanita tidak berguna sepertimu bisa berada di sini?" mahasiswi itu adalah Ella, seorang Classie dominan yang telah menemui Greisy sebelumnya, dia adalah putri adopsi dari ibunya.


"Ella, tenanglah!" Dan wanita paruh baya berusaha untuk menenangkan putri asuhnya tersebut.


"Hmm, hahahaha Ada apa denganmu? Mungkinkah mau marah hanya karena laki-laki yang kau cintai, melamarku untuk menikah?" Greisy memprovokasi, dia memandang remeh ke arah Ella yang semakin terpancing emosi.


"Apa… apa kau bilang?" tanya Ella, emosi.


"Panggil penjaga militer!" pengajar yang masih berdiri memberikan perintah pada seorang mahasiswanya, ia terlihat sangat marah.


"Maaf, Tuan, aku pikir anda tidak seharusnya melakukan itu," Laki-laki berkacamata telah datang mendekati, "Bisakah anda memaafkan sikapnya? Karena dia adalah mahasiswi saya hari ini."


"Oh, Mr. Callan," pengajar yang telah terpancing emosi tersebut mulai memberikan hormat pada laki-laki berkacamata itu, "Baiklah kalau anda yang meminta dan anda tidak perlu khawatir lagi," jawab Pengajar tersebut sembari memerintahkan para pelajarnya untuk memasuki ruang belajar kembali.


Greisy memandang mata Classa pengajar— Callan Xyle Arsihean dengan tatapan tidak menyukai.


"Masuklah, Yang Mulia!" Dia


Classa pengajar memberikan perintah dengan menunjukan ruang kelas Greisy dengan tangannya.


"Aaaahhh," Greisy tersenyum kecut sembari memandang wajah marah Ella, "Aku tidak akan masuk jika dia berada di ruangan yang sama denganku, anda paham, Sir?"


"Apa? Lelucon apa lagi yang kau katakan?" teriak Ella ketika Greisy mulai melangkah kaki menuju tangga yang tak jauh dari posisinya berada.


"Alasannya?  beritahukan alasanmu tidak ingin berada di ruang yang sama dengan Lady Ella, Yang Mulia!" Pertanyaan Classa pendidik menghentikan langkah Greisy dan wanita itu segera berbalik kembali.


"Alasannya adalah karena dia sudah menyiksaky di satu hari sebelum menikah dengan suamiku," jawab Greisy, tersenyum mengejek pada Ella.


Dan ucapannya itu sungguh membuat ibunya begitu terkejut.


"Grei, Kenapa kau tega menuduhnya?"


Greisy mulai membenci Ibunya sendiri. Padahal selama hidup dia tidak pernah memiliki perasaan itu, tetapi karena Ibunya membela keras putri adobsinya maka perasaan benci itu muncul, dia benar-benar tidak ingin lagi menganggap wanita tersebut sebagai ibunya lagi.


 "Berhentilah memfitnahku, kau wanita Brengsek!"


"Oh yeah, aku berteriak tadi karena aku takut padanya." Greisy memeluk tubuhnya sendiri, lalu berpura-pura menggigil, "Aku takut… sangat takut kalau dia akan menyiksaku kembali, bukankah kalian sendiri tadi mendengar bahwa dia menghinaku TIDAK BERGUNA, padahal aku sedikitpun tidak menghinanya?" Greisy melepaskan kedua tangan dari tubuhnya, lalu menyingkap poni panjang ke belakang telinga, kemudian tersenyum begitu senang. " Dia itu sangat kejam, hati-hati jika ingin dekat dengannya!"


"Grei!"


"Berhenti menuduhku, Brengsek!"


"Jadi begitu ya? Tapi aku masih belum menyangka bahwa mahasiswi baruku ternyata sudah menikah," Classa pendidik mengalihkan pandangannya pada Ella. "Mungkinkah dia telah merebut kekasihmu dan menikahinya hingga kau menyiksa Greisy saat itu?" dan bertanya pada Ella dengan sengaja.


"Ahh No, bukan seperti itu masalah kami, Sir. Tolong jangan percaya dengan ucapannya!" pinta Ella yang menjawab dengan sangat gugup.


"Ohhh, Benarkah? ternyata kau juga menyukai suamiku, bukankah kau telah mendapatkan hati Pangeran Negara? Padahal pangeran sendiri  yang mengatakan bahwa dia menyukaimu, tetapi ternyata kau itu tidak setia,"


"Grei!" Wanita paruh baya tidak tahan lagi, dia  terlihat melangkah cepat mendekati Greisy.


"Ahhhh,, Padahal aku adalah tunangan Pangeran Negara sebelumnya, dari kecil kami sudah dijodohkan, aku pikir karena kau lebih baik dariku maka aku merelakan pangeran Negara saja untukmu, tetapi tenyata kau serakah, bukan hanya mantan tunanganku, dan juga ibuku, bahkan suamiku juga ingin kau ambil dariku,"


" Dia pernah bertunangan dengan pangeran Negara?" ada begitu banyak para penghuni koridor yang bertanya-tanya.


"Grei! Dan teriakan keras wanita paruh baya semakin menambah kehebohan tempat saat itu, terlebih lagi wanita itu mulai menggenggam kembali pergelangan tangan Greisy dan menarik tubuh Greisy untuk pergi.


"Kubilang, jangan sentuh aku! Sekarang ini aku memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi darimu, Madam.  jadi berhati-hatilah terhadapku,!" ucap Greisy pada ibunya sembari menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar, kemudian Greisy mulai melangkah kaki, pergi menjauh.