
Dari lantai atas putra mahkota melihat Greisy dan ayahnya.
Di belakangnya, Servant Classa terlihat berdiri dan menundukan kepala.
"Sepertinya anda sangat mengutamakan putri mahkota kami, Yang Mulia!" tebak laki-laki tua,
Dia tampak ragu-ragu mengutarakan isi hatinya, hal itu terlihat jelas dari raut wajahnya yang pucat.
"Callan," jawab putra mahkota, cukup membuat laki-laki tua di belakangnya kebingungan.
"Yang Mulia, mungkinkah anda merasa tersaingi dengan Tuan Callan?" tanya laki-laki tua, memastikan.
"Callan mendekatinya, dia mengetahui bahwa wanita itu menyembunyikan kemampuannya, meskipun begitu dia masih belum bisa membuktikan kebenaran itu. Aku hanya khawatir wanita itu akan berpihak pada Callan," jawab putra mahkota yang terus memandangi Greisy di lantai bawah sembari memasukan kedua tangan di kantung celana.
"Kenapa tidak membunuhnya saja?"
"Apa kau kira aku memiliki banyak waktu untuk memulai rencana baru?" tanya balik putra mahkota yang telah melangkah menuju ke tepat atas tangga lalu melontarkan senyuman lembut pada Greisy yang memandangnya dari arah bawah.
**********
Greisy melangkah masuk ke ruang kerja putra mahkota atas panggilan dan perintah. Dia menghela napas berat ketika memandang laki-laki itu tampak duduk di atas kursi dan menandatangani sebuah dokumen di atas meja.
"Apa kau memanggilku?" tanya Greisy yang telah berdiri di hadapan putra mahkota.
"Benar!" jawab laki-laki itu, "Duduklah!" Lalu memberikan perintah.
Greisy mulai duduk, lalu menerima sebuah botol dari tangan laki-laki tersebut.
"Ini apa?" tanya wanita yang tampak memperhatikan botol itu dengan seksama.
"Bubuk racun," jawab putra mahkota, mengejutkan Greisy.
"Apa maksudmu …"
"Bunuh Callan, ini adalah perintah!" sela cepat putra mahkota, mengutarakan tujuannya sebelum Greisy menyelesaikan pertanyaan.
"Tidak," jawab Greisy lirih, tubuhnya mulai gemetaran.
Bagaimana mungkin dia bisa membunuh manusia, terlebih lagi, manusia tersebut adalah dosen yang membimbingnya?
Pikir wanita tersebut demikian.
"Callan mengetahui rahasiamu. Dan kau pasti tahu itu sangat berbahaya bagi rencanaku… dan juga bagimu," jelas putra mahkota yang telah memandang ke arah Greisy setelah tadinya ia tampak fokus pada dokumen di atas meja.
Greisy tertegun, dia cukup terkejut.
"Tidak, bagaimana mungkin dia tahu? Aku bahkan…"
"Kau sangat ceroboh, kau pikir Callan itu bodoh? Dia adalah Educator Classa terbaik negara maka tentu mudah saja mengetahui identitasmu, terlebih lagi kau pernah membuat pertaruhan dengannya," jawab putra mahkota menjelaskan, lalu dia mulai berdiri dan melangkah kaki, pergi.
"Aku… aku tidak diperintahkan untuk membunuh manusia saat kita membuat kesepakatan, jadi aku tidak ingin melakukannya!" tolak Greisy, tegas.
Dia menghentikan langkah kaki putra mahkota, tetapi laki-laki tersebut tidak berbalik menghadap ke arahnya.
"Bunuh dia, atau kau yang akan mati!" perintah tegas putra mahkota lagi, kali itu dia bahkan sampai memberikan ancaman.
"Tidak masalah, di masa depan nanti aku juga akan mati jadi mungkin lebih cepat mati maka itu lebih baik," lanjut jawab Greisy, benar-benar bersikeras menolak perintah dari putra mahkota.
"Sebelum itu terjadi, bersiaplah! Karena aku akan mempermalukanmu di depan orang tuamu. Dan putri adobsi mereka pasti akan begitu senang, menertawakanmu. Ahh benar, mereka juga pasti akan menghinamu seperti sampah karena begitulah cara mereka menganggapmu selama ini. Sampah yang mesti dibuang dan tidak akan mungkin di daur ulang," ancam putra mahkota sembari mulai melanjutkan langkah, meninggalkan Greisy yang tampak sangat ragu dan mengambil keputusannya.
Wanita itu hanya tetap diam dan menggigit bibir bawah hingga luka dan berdarah.
**********
"Bagaimana keputusan anda, Yang Mulia?" tanya laki-laki tua yang tampak sedang mengendalikan mobil menuju ke universitas negara.
"Kalau aku membunuh Callan, aku juga tetap akan dipermalukan. Mereka tidak akan mungkin membiarkan begitu saja tanpa mencari bukti, kepolisian internasional mungkin juga akan mengambil tindakan," jawab Greisy yang telah memutuskan jawaban.
Dia tidak ingin membunuh Callan.
"Kematian Callan telah dipersiapkan. Anda tidak perlu khawatir karena putra mahkota pasti akan melindungi anda," jelas laki-laki tua, tampak membujuk wanita tersebut untuk mematuhi perintah.
"Dan Chyrill pasti akan menuduh orang yang tidak bersalah sebagai pembunuh Callan. Aku tidak akan melakukannya," tegas Greisy ketika mobil telah sampai di depan pintu utama gedung jurusan.
"Tidak, tentu saja putra mahkota akan menggunakan teror*s sebagai pembunuhnya. Anda tidak perlu khawatir, anda hanya perlu melakukannya maka saya yakin, putra mahkota akan memberikan apapun yang anda minta, termasuk juga memutuskan kesepakatan kalian. Dan anda bisa bebas pergi kemanapun tempat yang anda inginkan," ucap laki-laki tua tersebut, terus mendesak.
"Benarkah?"
"Coba saja bicarakan pada putra mahkota! Mungkinkah anda mau saya untuk menghubunginya?" tawarkan laki-laki tua tersebut yang masih belum keluar dari mobil untuk membukakan pintu bagi Greisy.
"Aku…"
"Yang Mulia, putri mahkota kami menyetujui perintah anda,"
"Kakek, kapan aku mengatakannya?" tanya Greisy cepat atas ucapan laki-laki tua yang ia anggap salah.
"Benarkah?" jawab putra mahkota dari balik ponsel yang suaranya telah diperbesar.
"Tidak," jawab greisy, begitu gugup.
"Benar, tapi setelah ia berhasil, Putri Mahkota kami ingin bebas, dia ingin memutuskan kesepakatan dengan anda, Yang Mulia," jawab laki-laki tua menjelaskan.
Dan Greisy sontak terdiam. Sejujurnya dia ingin mengetahui jawabannya.
"Baiklah. Jika dia berhasil membunuh Callan maka aku akan melepaskannya, dan mencukupi kebutuhannya untuk bebas berkeliling dunia," jawab putra mahkota, memberikan janji. Hingga Greisy tampak tak percaya, bahkan tubuh wanita itu mulai bergetar hebat.
Keinginan hatinya memuncak dan keraguannya untuk melaksanakan perintah perlahan-lahan menghilang.
"Aku akan membantu anda menyelesaikan perintah, jika anda mau, Yang Mulia."
Dan ucapan dari Servant Classa semakin membuat wanita itu bertekad untuk melaksanakan perintah meskipun harus membunuh manusia.
**********
Greisy terlihat berdiri di depan pintu. Dia menunggu kehadiran Callan di ruangan tempat laki-laki itu mengajar.
Dia menunggu karena hari itu Callan bukanlah dosen yang mengajarkannya, maka dari itu, Greisy mendatangi Callan dengan sendirinya.
"Grei!" panggil suara seorang wanita, cukup mengejutkan Greisy yang selama ini tidak memiliki seorangpun teman wanita.
Greisy menoleh ke arah sumber suara lalu mengerutkan dahinya ketika melihat wanita berambut sebahu, datang menghampiri.
"Mungkinkah kau berada di jadwal yang sama denganku juga?" tanya wanita tersebut ketika telah mendekat dengan begitu ramah.
"Tidak, aku di sini menunggu Callan," jawab Greisy dengan nada dingin lalu membuang wajah.
Wanita itu menyadari bahwa Greisy tidak ingin diganggu, meskipun demikian, dia tetap berada di dekat Greisy karena tujuan tertentu.
"Oh begitu. Anyway, terima kasih untuk uang yang kau berikan padaku. Karenanya aku bisa memberikan makanan untuk penduduk Distrik 98. Aku tahu mungkin aku keterlaluan tidak membagimu tapi aku pikir tidak masalah karena aku melakukan itu semua demi menolong banyak orang," jelas wanita tersebut, memberitahukan.
Perkataannya mengejutkan Greisy yang sontak menoleh ke arahnya lagi.
"Distrik 98?!"
"Yeah, Exile Area. Kau pernah tinggal di sana, bukan?" tanya balik wanita berambut sebahu itu.
"Semua distrik mendapatkan jatah makanan, kenapa kau harus bersusah payah menolong mereka? Kau seperti orang yang tidak adil karena hanya menolong penduduk di satu distrik saja," sindir Greisy, cukup kesal.
Ahh benar…
Dia mengingat dirinya ketika tinggal di tempat tersebut dan merasa kesal karena beberapa Classa terkadang tidak adil dalam memberikan bantuan untuk para penduduk distrik di tempat ia tinggal selama itu.
"Kau tidak pernah melihat distrik 98, bukan?"
"Apa maksudmu?" tanya cepat Greisy, dia merasa kesal.
"Distrik paling akhir, dan merupakan tempat para penduduk terlemah. Distrik 97 dan 96 selalu mencuri jatah makanan mereka bahkan terkadang melakukan perudungan. Tidak ada yang membela karena distrik 98 merupakan tempat bagi para mantan kriminal. Penduduk Distrik menyatakan bahwa mereka pantas menerima hukuman atas dosa-dosa mereka, padahal di antara mereka, ada begitu banyak orang yang tidak bersalah dan menerima tuduhan palsu dari para Classa dan Classie," jelas wanita tersebut. dia tampak menundukan kepala, dan berbicara dengan nada yang penuh dengan kesedihan.
Greisy tertegun mendengar jawaban dari wanita itu. Dia juga pernah merasakan sakitnya atas tuduhan palsu tetapi saat itu, dia tetap diam, dia berpikir untuk tidak ikut campur masalah itu karena dirinya bukanlah orang kaya yang memiliki banyak uang. Semua kebutuhannya hanya diberi oleh putra mahkota.
"Ahh benar, kebetulan aku bukanlah seorang Classie, aku berasal dari suku Lukhi," ucap wanita itu memberitahukan kepada Greisy, lalu mulai melangkah masuk ke dalam ruangannya.
"Namamu?" tanya Greisy, cukup penasaran bersamaan dengan kedatangan Callan yang telah mendekat.
"Cloe, it's my name," jawab wanita tersebut sembari kembali tersenyum ramah pada Greisy lalu duduk pada kursinya.
"Grei!" panggil Callan,
"Aku menunggumu untuk mengucapkan terima kasih," ucap Greisy secara langsung.
Dan cukup mengejutkan Callan yang melihat sikap wanita tersebut telah berubah menjadi lebih bersahabat.
"Oh.. really?"
"Hm!" angguk Greisy, "Apa kau mau menerima traktiranku? Aku ingin membelikan makanan dan minuman untukmu di Cafe universitas umum," tawarkan Greisy sembari tersenyum pahit, dia sungguh merasa bersalah.
"Hmm," Callan tersenyum lembut, "Baiklah!" Lalu meraih kepala Greisy dan mengelusnya lembut, mengejutkan wanita itu.
"Aku akan menunggumu selesai mengajar di kantin lantai bawah," ucap Greisy lalu melangkah kaki pergi.
"Okay, Grei,"