Gadis Cerdas Tersembunyi

Gadis Cerdas Tersembunyi
bab 20


"Apa yang membuatmu begitu kesenangan dengan hasil lembar jawaban Ella sementara lembar jawaban teman-temanmu yang lain mendapatkan hasil yang lebih buruk?" tanya Callan, begitu serius.


Dia masih memandang ke arah mata Greisy tanpa sedikitpun berkedip.


"Mereka yang paling bodoh adalah orang yang menganggap wanita brengsek itu paling pintar di ruangan ini, padahal aku merasa, dia hanyalah orang bodoh yang kebetulan mendapatkan pendidikan sempurna karena menumpang hidup di tempat tinggal keluarga Remmornian," jawab Greisy, tidak ragu sedikitpun.


"Brengsek, Apa yang kau katakan? Berani sekali kau menuduhku seperti itu!" maki Ella, benar-benar keras, menggema di dalam ruangan.


Dia terpancing emosi, dia sangat marah dengan perkataan Greisy.


"Aku mengatakan yang sebenarnya," jawab Greisy, " Jika kau tidak bisa menjawab benar lebih banyak daripada salah, itu menandakan bahwa kau sebenarnya sangat bodoh, karena kau dan laki-laki itu," Greisy menunjuk ke arah Pangeran Negara, dan Pangeran Negara mulai memandang Greisy dengan tatapan tajam, " Kalian berdua mendapatkan pendidikan sempurna di dalam istana, jadi wajar saja kalau kalian lebih unggul sedikit saja dari orang-orang di ruangan ini," jelas Greisy mulai berdiri, " Menyebalkan, betapa bodohnya orang-orang di ruangan ini karena sudah memuji orang yang bodoh," lanjut sindir Greisy, sembari berjalan untuk keluar ruang kelas karena dia merasa lelah dengan hati yang masih merasa iri.


"You *****, sembarangan sekali kau berbicara!" maki Ella, menghina.


"Kau benar," jawab Pangeran Negara, menyela kalimat Ella dan menghentikan langkah kaki Greisy. "Usaha kita semua sama, maka dari itu kita bisa masuk ke jurusan ini. Hanya saja cara mendapatkannya berbeda jadi wajar saja kami yang berasal dari dalam istana lebih unggul dari lainnya," lanjut Pangeran Negara, menyetujui pendapat Greisy, sembari memberikan senyuman manis untuk wanita itu, tapi Greisy membalasnya dengan membuang pandangan dan melanjutkan langkahnya.


Greisy mengejutkan Pangeran Negara karena ketidakramahannya.


Sementara itu, Ella tampak kembali duduk pada posisinya. Dia memandang begitu benci ke arah punggung Greisy.


"Kau mau kemana?" tanya Callan pada Greisy yang terus melangkah menuju pintu keluar.


"Tidak ada gunanya aku di sini," jawab Greisy,


"Kau belum melihat hasil dari kertas jawabanmu," ucap Callan, mencegah Greisy untuk pergi.


"Aku tidak peduli." Greisy terus melangkah kaki.


"Kembalilah!" 


"W– What are you doing? Ugh!" Greisy terkejut ketika Callan telah meraih salah satu lengannya dengan cepat ketika wanita itu melewatinya, hingga tubuhnya jatuh ke pelukan Callan. Dan dia dengan sigap bergerak mundur beberapa langkah.


"Kubilang kembalilah! Kau masih memiliki perjanjian denganku," jawab Callan, mengingatkan.


Laki-laki itu benar-benar sedang berbicara serius, bahkan tatapan matanya tidak lagi mengejek seperti sebelumnya.


"Duduklah! Kami juga ingin melihat hasil jawabanmu. Sehebat apa dirimu sampai berani bicara seperti itu!" ucap seorang laki-laki yang tadinya duduk di samping Greisy.


"Periksa milikku, Callan! Aku ingin tahu hasil jawabanku," pinta Pangeran Negara, dia mulai berdiri lalu melangkah mendekati Greisy.


"Apa lagi ini?" Lalu menarik tangannya, membawa Greisy kembali ke kursinya meskipun awalnya Greisy menolak paksaan itu. 


"Aku perintahkan kau duduk sebagai Pangeran di Negaramu!" seru Pangeran Negara ketika Greisy enggan untuk duduk kembali.


"Aku tidak peduli dengan jabatanmu," jawab Greisy, sembari menghempaskan tangan Pangeran Istana.


Lalu mereka menoleh ke arah Mesin Data ketika benda itu telah berbunyi.


{1. True}


"Tidak heran kalau Pangeran Negara bisa menjawab pertanyaan sulit, bukankah dari kecil dia terkenal dengan kecerdasannya?" bisik seorang wanita pada teman wanitanya.


{2. True}


{3. True}


"Wow, dia menjawab benar 3 pertanyaan," puji seorang laki-laki.


{4. True}


" Oh Gosh! Dia pasti mendapatkan hadiah dari Mr. Callan,"


"Tidak diragukan lagi, Pangeran Negara memang sangat cerdas,"


"Aku pikir dia secerdas Putra Mahkota,"


"Aku dengar Putra Mahkota selalu mendapatkan nilai sempurna saat berada di semester pertama, jadi bisa saja mereka setara,"


Greisy segera mengambil posisi duduk. Dia tidak ingin terus berdiri di sisi Pangeran Negara.


Dia menjatuhkan kepalanya kembali, lalu menutup mata. Dia merasa iri pada Pangeran Negara yang bisa kapan saja menunjukan keahliannya, tidak seperti dirinya yang harus menyembunyikan semua itu.


{5. False }


{ Four – 4 }


Pangeran Istana tersenyum pahit, dia gagal untuk pertanyaan terakhir.


Meski semua orang tampak memuji dan merasa kagum padanya tetapi laki-laki itu merasa kecewa pada dirinya sendiri.


Ya…


Dia merasa masih tertinggal jauh dengan Putra Mahkota.


"This is yours, Greisy," ucap Callan memberitahukan.


"Aku tidak peduli," jawab Greisy bersamaan dengan mesin yang telah berbunyi.


"Akhirnya lembar jawaban si sombong itu diperiksa," ucap seorang wanita, 


Dia mungkin tidak menyukai Greisy.


{1. False, 2. False, 3. False, 4. False, 5. False}


{ Zero – 0}


"What the hell? Dia juga sangat bodoh," sindir seorang laki-laki.


"Bisa-bisanya dia bersikap sombong padahal dia sendiri sangat bodoh," tambah yang lain,


"Dasar sampah,  sudah kubilang dia tidak berguna. Dan aku sudah yakin bahwa dia tidak bisa menjawab satupun pertanyaan," cemooh Ella, dia begitu senang melihat kegagalan Greisy saat itu.


"Dia sangat bodoh ternyata," lanjut yang lain.


"Selesai, sekarang kau mengakuiku sebagai orang hebat, bukan?" Callan menagih janji.


"Aku datang dari Area Pembuangan, maka tentu saja semua jawabanku salah. Mungkinkah kalian tidak malu jika jawaban dari orang yang berasal dari Area Pembuangan lebih unggul daripada jawaban dari orang-orang terdidik seperti kalian?" tanya Greisy yang telah mengangkat kepala, mengejutkan orang-orang di sana.


"Jadi dia berasal dari Exile Area?"


"Astaga, aku tidak menyangka, kenapa orang yang masih dilatih menguasai 4 keahlian negara bisa belajar di sini?"


Bisik para penghuni, bertanya-tanya keheranan.


"Kau boleh keluar tapi penuhi janjimu padaku, Grei!" ucap Callan, kini mengizinkan.


"Sir, bagaimana dengan punyaku?" tanya wanita berambut pendek di samping Greisy. Dia mengangkat tangan, menunggu kertas jawabannya diperiksa.


"Ahh… Lembaran terakhir."


Semua mata tampak tidak lagi melihat ke arah layar mesin. Mereka semua berbisik-bisik, membicarakan tentang keberadaan Greisy. 


Bahkan ketika mesin berbunyi, mereka mengabaikannya begitu saja, begitupula dengan Callan yang tampak mulai melangkah mendekati Greisy untuk menagih janji bahwa Greisy harus patuh kepadanya.


{1. True, 2. True, 3. True, 4. True, 5. True}


{ Five – 5}


Suara mesin berhenti, mengejutkan semua orang yang sontak memandang ke arah layar benda tersebut. Begitupula dengan pemilik lembar jawaban yang tidak pernah menyangka dalam hidupnya bahwa kini dia lebih unggul, melebihi semua orang di ruangan tersebut, dan juga melebihi Pangeran Negara.


"Kau kalah, Callan," ucap Greisy pada Callan yang telah berbalik, memandang ke arah layar mesin di atas mejanya, " Akuilah bahwa kau tidak sehebat yang orang pikirkan!"