
Greisy menghempaskan tangan kedua penjaga keamanan yang tadinya berusaha untuk menahan tubuh wanita tersebut.
"Yang Mulia!"
Wanita itu menoleh ke arah Cloe yang tampak menundukan kepala ketika seorang laki-laki melewatinya dan terus melangkah, mendekati Greisy.
"Ewald!" panggil Greisy pada Pangeran Negara, lalu sejenak ia melihat ke arah seorang laki-laki lain yang tampak telah menghentikan langkah di samping pangeran negara.
Laki-laki tersebut adalah Alex, Sahabat dari pangeran negara.
"Yang Mulia!" salam hormat costumer service dan para penjaga keamanan yang tampak menundukan kepala.
Semua orang yang ada di lantai bangunan tersebut tampak sangat kaget ketika Greisy memanggil begitu saja nama pangeran negara tanpa sedikitpun memberi penghormatan.
"Mungkinkah dia benar-benar anggota keluarga kerajaan?" bisik seorang pengunjung rumah sakit pada seorang di sampingnya.
"Entahlah!" jawab seorang di sampingnya tersebut, tidak mengetahui dan mereka tampak menunduk sembari terkadang mencuri pandangan.
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya kau berada di dalam ruanganmu?" tanya pangeran negara pada Greisy yang tampak memandang ke arah Cloe yang menundukan kepala.
Greisy melihat keadaan lemah wanita yang terbaring di pangkuan Cloe.
"Ewald!"
"Berani sekali kalain menyentuh anggota keluarga kerajaan!" ucap geram pangeran negara pada para penjaga keamanan, " Siapa yang melakukannya? Katakan!" tanya laki-laki itu, semakin membuat orang-orang di sana merasa terkejut dan tidak menyangka bahwa Greisy adalah benar bagian dari keluarga kerajaan.
"Dia yang menyuruh kami, Yang Mulia!" ucap seorang penjaga keamanan, menunjuk ke arah costumer service yang tampak berdiri dan menundukan kepala di meja kerjanya.
Mendengar tundingan, wanita tersebut segera melangkah mendekati Greisy lalu dengan cepat bersujud, " Maafkan aku, Yang Mulia, Maafkan aku yang tidak mengenali anda!" ucap wanita tersebut, tampak begitu ketakutan. Tubuhnya bahkan terlihat bergemetaran.
"Aku tidak peduli, yang penting sekarang panggil saja dokter dan periksa kondisi wanita itu segera!" perintah Greisy tampak mulai khawatir melihat keadaan wanita sakit yang ia bawa.
"Grei, tapi kau juga terluka,"
"Aku tidak peduli dengan luka ini, yang terpenting sekarang adalah nyawa orang," jawab Greisy dengan cepat sembari menghempaskan tangan Pangeran negara yang tadinya akan menyentuh bibir wanita itu.
"Panggil dokter segera, dan bawa dia ke ruang pasien!" perintah pangeran negara pada costumer service yang segera berdiri lalu melangkah kembali ke meja kerjanya untuk menghubungi perawat rumah sakit yang bertugas.
Ranjang rumah sakit telah mendekat. Para perawat mulai mengangkat wanita yang dibawa Greisy ke atas benda tersebut dan membawa wanita itu dengan cepat ke ruangan pasien.
"Kau ikut denganku!" ucap Alex pada costumer service yang telah menutup telepon.
Laki-laki tersebut melakukannya atas perintah pangeran negara.
"Yang Mulia, maafkan aku sudah meragukanmu!" ucap gadis kecil, menundukan kepala merasa bersalah, "Terima kasih banyak atas bantuanmu, aku akan menerima hukuman apapun darimu atas kelancanganku itu," lanjut gadis tersebut lagi, dia terlihat mulai berlutut.
"Lupakanlah, sekarang temani kakakmu itu dan setelah dia sehat, kau boleh pergi!" ucap Greisy, merasa kecewa tetapi dia berusaha untuk tidak menyalahkan gadis kecil tersebut.
"Yang Mulia!" panggil Cloe yang telah mendekatkan, " Maafkanlah kesalahanku!"
"Ayo kita pergi!" ajak Greisy dengan cepat, mengabaikan ucapan Cloe sembari mulai melangkahkan kaki.
"Ahh tapi Yang Mulia,"
"Aku bukan bagian dari anggota keluarga kerajaan, jadi panggil saja aku 'Grei' seperti biasa,!" sela cepat Greisy merasa kesal, lalu mulai melangkah kembali setelah tadinya berhenti.
"Grei!" Dan ia terpaksa menghentikan kembali langkah kakinya ketika pangeran negara berhasil meraih lengan Greisy dan membuat tubuh wanita itu berbalik, memandang ke hadapan laki-laki kembali.
"Apa?" tanya Greisy dengan nada dingin sembari menghempaskan tangan pangeran negara dari lengannya.
"Kau… kau mau kemana?" tanya laki-laki itu tampak gugup.
"Kemanapun aku pergi, itu tidak ada urusannya denganmu," jawab Greisy dengan nada dingin lalu hendak melangkah kembali.
"Apa kau yakin bahwa kondisimu sekarang sudah lebih baik?" tanya pangeran negara lagi, dia tampak tidak ingin membiarkan Greisy pergi.
"Hm!" jawab singkat Greisy dan mulai berjalan, kali itu dia mempercepat langkahnya.
Dan Cloe segera mengikutinya dari belakang.
"Grei, apa kau benar-benar tidak ingin mengetahui kondisi Callan?" tanya pangeran negara, hal itu tentu membuat Greisy menghentikan langkah secara tiba-tiba, lalu berbalik memandang ke arah pangeran negara lagi.
Sementara itu, orang-orang di lantai bawah masih tampak belum meninggalkan tempat dan juga masih berdiri menundukan kepala.
"Callan, apakah dia sudah dimakamkan?" tanya Greisy dengan nada begitu sedih, dia bahkan mulai membuang wajah karena rasa penyesalan di dalam hatinya begitu dalam.
"Dimakamkan?! Apa maksudmu?" tanya pangeran negara terlihat bingung.
"Bukankah Callan sudah mati?" tanya Greisy, mulai menatap ke arah pangeran negara lagi.
"Mati?! Siapa yang mengatakan Callan mati? Aku bahkan baru saja keluar dari ruangan dia dirawat, dan kondisinya sudah lebih baik saat ini," jawab pangeran negara, mengejutkan Greisy yang langsung menoleh ke arah Cloe.
"Kenapa kau membohongiku?" tanya Greisy pada wanita itu.
"Memangnya kapan aku mengatakan Mr. Callan sudah mati?" tanya balik Cloe atas tundingan Greisy.
"Grei!" panggil pangeran negara berteriak dari kejauhan, "Memangnya kau tahu dimana ruangan Callan?" tanya pangeran negara ketika Greisy berbalik ke arahnya, juga dari kejauhan.
"Ahh benar," jawab Greisy, "Dimana ruangannya?" Lalu bertanya balik, sembari berteriak.
"Mendekatlah! Aku akan membisikannya padamu. Aku tidak mungkin berteriak, bukan? Aku khawatir, ******* akan mendengarnya dan nyawa Callan akan berada dalam bahaya lagi," jelas pangeran negara, melontarkan alasan sembari tersenyum lembut.
Dia sungguh menginginkan Greisy untuk mendekatinya.
Sementara itu, Greisy tampak menganggukan kepala, mengerti. Wanita itu segera melangkah mendekati pangeran negara yang juga mulai melangkah menghampiri Greisy.
"Dimana?" tanya Greisy ketika keduanya telah saling mendekat dan berhadapan.
"Aku akan membawamu ke sana," jawab pangeran negara, "Ikutlah denganku!" ajaknya pada Greisy sembari terus melangkahkan kaki.
"Oh… Baiklah!" jawab Greisy mulai melangkah, mengikuti.
"Babe!" Dan langkah kaki wanita tersebut terhenti ketika mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali.
"Chyrill!"
**********
Cloe benar-benar tidak menyangka bahwa Greisy bisa dekat dengan dua orang pangeran di negaranya. Terlebih lagi seorang dari mereka adalah calon raja yang dicintai oleh hampir seluruh rakyat negara.
Wanita hanya terus menundukan kepala, bahkan tubuhnya terus bergemetaran karena merasa senang dapat melihat wajah putra mahkota secara langsung di dekatnya.
Walaubagaimanapun, Cloe sangat menganggumi laki-laki itu. Dia juga sangat mencintai putra mahkota sebagai orang yang selalu dipuji di keluarganya.
"Babe!" panggilan putra mahkota untuk Greisy membuat wanita itu hanya bisa terpaku diam dan membisu. Dia sangat terkejut hingga tidak terpikirkan olehnya untuk melangkah, mendekati Greisy.
Cloe hanya bisa melihat wanita itu dihampiri oleh putra mahkota dari jauh.
"Chyrill!" Dan mendengar panggilan Greisy yang menyebut nama putra mahkota yang dianggap sangat mulia oleh warga negaranya.
Apa hubungan mereka?
Tanya Cloe di dalam hati lalu mengingat pertama kali ia melihat Greisy di kampus bersama Callan.
"Babe, kenapa kau pergi dari ruanganmu tanpa memberitahukan padaku? Bukankah aku adalah suamimu?"
Tubuh Cloe semakin bergetar, kali itu karena merasa masih tidak percaya bahwa Greisy adalah putri mahkota di negaranya.
Dia takut, sangat takut jika Greisy akan menghukumnya karena dia telah lancang, memanfaatkan wanita itu.
"Cloe… I mean, temanku datang dan aku memintanya membawaku untuk berjalan-jalan mencari udara segar di luar bangunan. Maaf karena tidak menunggumu datang, Chyrill!" ucap Greisy dari kejauhan sembari memandang ke arah Cloe yang masih berdiri pada posisinya.
"Cloe?!" tanya putra mahkota.
"Dia," Greisy menunjuk ke arah Cloe yang mulai membungkukan tubuh sembari meletakan tangan kanan di dada, "Dia adalah temanku, Chyr. Teman pertamaku, jadi kumohon jangan hukum dia karena aku yang memohon padanya untuk membawaku pergi!" pinta Greisy, mulai khawatir dan berwaspada jika putra mahkota akan menghukum Cloe yang tidak bersalah.
Mendengar perkataan Greisy, tubuh Cloe semakin bergetar dan hal itu membuat kakinya tak lagi mampu menopang tubuh, kemudian wanita itu terjatuh, terduduk lemah.
"Cloe!" Dan Greisy segera melangkah untuk membantunya.
"Bukankah kau ingin bertemu Callan?" tanya pangeran negara sembari menggenggam pergelangan tangan Greisy dan menghentikan gerakan kaki wanita itu.
"Ahh… That's…"
"Hmm… Aku tidak menyangka kau membohongiku, Babe!" ucap putra mahkota sembari menatap tajam ke arah Greisy.
"Aku hanya mengetahui keadaan Callan. Sungguh awalnya aku memang ingin mencari udara segar saja diluar gedung, lalu Ewald memberitahukan bahwa Callan dirawat di rumah sakit ini," jawab Greisy, sembari tersenyum pahit.
Dia menundukan kepala, dia tak kuasa melawan putra mahkota.
"Lepaskan tanganmu dari pergelangan tangan istriku!" perintah putra mahkota sembari tersenyum lembut ke arah pangeran negara, meskipum begitu, tatapannya tampak sangat meremahkan.
"Oh… Hmm.. !" pangeran negara segera melepaskan tangan Greisy, lalu dia melangkah kaki, meninggalkan mereka tampak mengucapkan kalimat apapun lagi.
Sementara itu, Greisy segera berlari menuju ke aeah Cloe yang terduduk lemah.
"Cloe, ada apa denganmu?" tanya Greisy khawatir, "Naiklah! aku akan membawamu ke ruang perawat," perintah Greisy bersamaan dengan putra mahkota yang telah datang, menghampiri.
"Tidak, Yang Mulia. Aku hanya kehausan saja. Anda tidak perlu bersusah payah menggendongku," tolak Cloe dan perlahan-lahan ia berdiri.
Lalu dengan cepat Greisy membantu menopang tubuhnya.
"Sebaiknya kau pulang saja!"
"Tidak, aku harus memenuhi janjiku untuk membawamu ke sana, Yang Mulia!" tolak Cloe,
"Oh… sepertinya menarik! Kau tidak mungkin melarangku untuk bergabung bersama kalian, bukan?" tanya putra mahkota, menawarkan diri untuk ikut serta.
"Apa?"