
Pagi hari yang cerah seperti biasanya Arumi menyamperin Aliyah untuk berangkat ke sekolah bersama.
"Aliyah...!!" panggilnya.
"Iya Rum sebentar," sahutnya sambil memakai memakai sepatu.
Kini mereka berjalan dengan posisi Arumi di depan dan Aliyah di belakang Arumi karena Aliyah sedang menerima telpon dari Tantenya.
Setelah selesai menerima telpon dari Tantenya, kedua mata Aliyah tertuju ke bagian kaki Arumi, ia menatapnya begitu lekat cara jalan Arumi.
"Sepertinya Arumi jalannya agak aneh, apa kakinya sedang sakit?" gumam Aliyah dalam hatinya.
Pagi ini Aliyah merasa ada yang aneh dari Arumi, bahkan jalannya Arumi juga agak ngangkang dan tidak seperti biasanya.
"Rum, apa kaki kamu sedang sakit? Kok jalan kamu seperti agak susah, apa kita naik taksi saja?" Aliyah tampak kawatir pada Arumi.
"Ehh masa sih Al, itu perasaan kamu saja kali," dengan gugup Arumi menjawab kata-kata Aliyah.
Dalam hati Arumi, apa ini efek dari perbuatan Azka? Tapi memang masih terasa nyeri sekali, buat jalan saja sebenarnya susah. Mudah-mudahan Aliyah tidak berpikir macam-macam.
"Iya kali Rum," sahut Aliyah.
Sesampainya di sekolah seperti pagi biasanya Azka sudah menunggu mereka di depan gerbang.
"Arumi, Aliyah....!!''
Kedua gadis itu menoleh secara bersamaan, lalu mereka berjalan ke arah Azka.
"Rumi, kamu sudah sarapan?" tanya Azka penuh perhatian.
"Hanya Rumi saja nih yang sudah di tanya sudah sarapan apa belum?" cibir Aliyah dengan jail.
"Baik-baiklah, ayo kita sarapan di kantin bertiga bersama," ajak Azka dengan senang hati.
Arumi dan Aliyah mengangguk, mereka bertiga langsung pergi menuju ke kantin, tapi sebelum sampai di janti, Aliyah pamit ke kamar mandi sebentar pada kedua sahabatnya itu.
Kini Arumi duduk di kursi, ia menunggu Azka yang sedang memesan makanan untuk mereka, Azka sangat hapal sekali menu makanan kesukaan Arumi dan Aliyah, jadi tidak perlu bertanya lagi pada mereka berdua.
Setelah selesai memesan makanan Azka duduk di sebelah Arumi sambil menunggu Aliyah yang masih di kamar mandi.
"Sayang, kamu tidak mau lagi?" tanya Azka dengan suara lirih.
"Masih sakit ih," lirih Arumi dengan manja.
"Kalau di masukin lagi juga kamu tidak menolak kan sayang?" goda Azka, rasanya yang di bawa sana meronta-ronta ingin keluar dari dalam kandangnya.
"Sudah jangan membahas hal seperti itu, tidak enak jika di dengar ya lain," ujar Arumi tampak kesal pada Azka.
"Apa sih yang sedang kalian bahas sampai-sampai yang lain tidak boleh mendengarnya?" cetus Aliyah, membuat Arumi dan Azka tampak gugup.
"Emm, tidak ada Al," jawab Arumi dengan cepat.
"Biasalah Al urusan orang dewasa," sahut Azka dengan santainya.
"Hey, memangnya aku ini anak kecil," pekik Aliyah dengan lirikan jail ke Arumi dan Azka.
"Sudah-sudah, ayo kita makan! Lihat, makanan kita sudah datang," seru Arumi dan berharap hal yang tadi tidak di bahas lagi. Jangan sampai Aliyah tahu tentang hal ini, bisa-bisa Aliyah berceramah padaku.
Karena makanannya sudah datang, akhirnya mereka bertiga fokus dengan makanan mereka. Aliyah makan soto ayam kesukaannya, Arumi makan bakso kesukaannya, sedangkan Azka makan nasi goreng selimut telur, bukan selimut tetangga ya.
Setelah selesai makan tidak lupa Azka membayar semua makanan mereka, lalu mereka langsung masuk ke dalam kelas.
Azka memang baik, ia selalu siap siaga untuk mentraktir kedua sahabatnya itu.
Sesampainya di kelas mereka langsung duduk di bangku masing-masing dan saat guru datang seperti biasanya mereka tidak ada yang berisik, pelajaran juga langsung di mulai.
*****
Bima baru saja selesai meeting dengan klien cantik, kini setelah selesai meeting klien cantik itu mendekati Bima.
"Tuan Bima, bagaimana kalau kita pergi makan siang bersama untuk merayakan kerja sama perusahaan kita," ajak Ratna dengan senyum kecil tapi sedikit nakal.
"Boleh Nona Ratna," jawab Bima singkat. Untuk merayakan kerja sama perusahaan jadi apa salahnya?
Mereka langsung menuju ke restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor, sesampainya di restoran itu mereka berdua duduk.
"Nona mau pesan apa?" tanya Bima dengan nada lembut, ia memberikan buku menu pada Ratna.
"Panggil Ratna saja Tuan! Kan ini diluar kantor," jawab Ratna sambil menerima buku menu dari Bima.
"Maaf Nona, rasanya kurang sopan," tolak Bima dengan sopan.
"Kita ini seumuran Bima, anggap saja kita ini teman," sergah Ratna dengan nada lembut.
"Baiklah, oh iya pesan makanannya!" Bima mengalah dan enggan melanjutkan obrolannya lagi.
Bima sih manusia kulkas ini memang jarang sekali dekat dengan seorang wanita, setelah berpisah dari mantan istrinya ia lebih sibuk mengurus anaknya dan tidak pernah sedikitpun untuk mencari pengganti mantan istrinya, bukannya tidak mau, hanya saja karena statusnya duda anak satu jadi Bima harus benar-benar mencari wanita yang bisa menerima dirinya dan juga anaknya. Jangan hanya cinta dengan bapaknya, lalu anaknya di siksa karena statusnya anak tiri. Bima tidak mau itu terjadi pada putri kesayangannya.
Kini mereka berdua memesan makanan dan setelah beberapa lama pesanan mereka akhirnya datang.
Mereka menikmati makanannya sambil asik ngobrol, Bima juga yang tampak sudah sangat jengah sekali tapi dari tadi Ratna tak hentinya mengajak ngobrol.
"Oh iya, Bima apa kamu sudah punya istri?" tanya Ratna penasaran.
"Sudah Rat," jawab Bima singkat.
Ratna tampak terkejut, apa benar dia sudah menikah? Dia saja terlihat masih sangat muda. Ratna masih belum percaya.
"Sudah?" Ratna kembali mamastikan.
"Iya sudah, aku juga sudah punya satu anak," jawab Bima dan itu membuat Ratna agak kecewa.
Niatnya ngajak makan biar bisa pdkt, ehh ternyata sudah punya istri sama ekor satu.
Dalam hati Bima, kamu menanyakan aku sudah punya istri belum? Ya tentu saja aku jawab sudah, tapi kamu tidak menanyakan statusku yang sekarang, tapi sudahlah aku juga tidak mau memberitahu kalau aku ini seorang duda anak satu. Dalam urusan pekerjaan, aku hanya fokus dengan kerja sama kita saja.
"Ya sudah kalau gitu, aku masih urusan ya lain, aku pamit dulu ya," dengan buru-buru Ratna bergegas pergi dan ia tidak menghabiskan makanannya.
"Iya silahkan, hati-hati di jalan ya," jawab Bima ingin sekali tertawa tapi ia menahan tawanya.
Ratna pergi sambil komat-kamit, wanita cantik ini sangat kecewa dan pupuslah harapannya untuk mendekati Bima.
Setelah Ratna pergi, Bima membayar semua makanannya, lalu ia juga bergegas kembali ke kantor karena masih ada kerjaan yang harus ia selesaikan hari ini juga.
Tidak lupa ia juga menelpon Ayuna untuk menanyakan sudah makan apa belum?
Mendengar telpon rumahnya berbunyi Ayuna dengan cepat mengangkatnya, ia tahu pasti kalau jam segini papanya yang menelpon.
"Hallo anak Papa."
"Hallo juga Papa, pasti Papa mau tanya Yuna sudah makan apa belum?" suara Yuna sangat lucu membuat Bima sangat gemas.
"Iya nak, apa kamu sudah makan?"
"Sudah Papa, aku di bawakan ayam goreng sama Kakak Cantik," terdengar suara Ayuna begitu bahagia.
"Kakak Cantik, apa dia datang?" tanya Bima, ia mengerti siapa yang di maksud oleh putrinya ini.
"Datang Papa, Yuna di bawakan makanan banyak sekali oleh Kakak Cantik," jawab Ayuna dengan suara yang begitu bahagia.
"Baiklah nak, Papa tutup dulu telponnya ya," pamit Bima dan memutuskan saluran telponnya pada Ayuna.
Bima senyam-senyum sambil menyetir, ia yang tadinya berniat kembali ke kantor, kini memutar mobilnya dan langsung menuju pulang ke rumahnya. Entah apa yang membuatnya langsung pulang ke rumah? Apa karena Aliyah atau Ayuna?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia