
Ivan mengedipkan satu matanya dengan genit, sungguh itu membuat Aliyah merasa jijik dan kesal kepada Ivan. Dasar Ivan buaya darat.
"Ivan, aku....."
"Aku tahu Al, pasti kamu mau jalan sama aku," dengan yakin Ivan menyela jawaban Aliyah.
"Al, kamu tahu selama ini tidak ada gadis yang menolak di ajak jalan oleh Ivan Prandita," lanjut Ivan dengan begitu songgong.
"Itu berlaku untuk gadis lain Van, kalau aku maaf saja Van, aku tidak bisa," tolak Aliyah dengan sopan.
Ivan menatap Aliyah tidak percaya, berani sekali kamu menolak ajakanku Aliyah, awas kamu ya!
"Al, kenapa kamu itu jual mahal sekali," cetus Ivan tidak suka mendengar jawaban Aliyah.
"Kan seorang gadis memang harus seperti itu kita harus jual mahal, kita juga harus jaga kehormatan," sahut Aliyah dengan mantap. Aliyah bukan gadis yang menyah-meneyeh dan mau dengan siapa saja, ia selalu kekeh dengan prinsipnya.
Bell sekolahan berbunyi itu pertanda semua anak-anak harus masuk kelas karena pelajaran akan segera di mulai. .
Aliyah langsung permisi dan ia bergegas menuju ke kelasnya. Biasanya rame ada Arumi dan Azka, tapi mereka sedang pergi liburan entah kemana? Aliyah juga tidak tahu. .
Pelajaran di mulai, semua murid fokus dengan pelajaran yang sedang di terangkan oleh guru pelajaran hari ini, tidak lupa Aliyah juga sudah mengatakan kalau Arumi dan Azka hari ini izin tidak masuk sekolah.
****
Setelah hampir setengah hari di sibukan dengan pekerjaannya, akhirnya Bima bisa santai juga dan kini ia bisa duduk tenang karena semua kerjaan sudah selesai.
"Tuan Bima, ayo makan siang!" ajak Sena dengan nada genit.
"Kamu duluan saja Sen, aku masih capek, nanti makan siangnya biar aku pesan online saja," jawab Bima dan tampak jijik dengan nada suara Sena.
"Biar nanti saya belikan saja, Tuan," tawar Sena semakin genit.
"Sena, aku mau makan di rumah saja, aku pamit pulang dulu ya, kamu makan siang saja," ujar Bima karena sudah terlalu geram.
Bima itu tidak suka dengan gadis yang genit seperti Sena, biarpun Sena cantik dan seksi, tapi sedikitpun Bima tidak tertarik dengan Sena.
"Tapi Tuan...."
Bima buru-buru beranjak dari tempat duduknya, lalu ia bergegas keluar dari dalam ruangan kerjanya. Ya setidaknya ia bisa terhindar dari ke genitan Sena yang tidak lain adalah sekretaris pribadinya.
Setelah Bima berlalu pergi, Sena hanya bisa menelan kekecewaannya entah untuk yang ke berapa kalinya? Sena saja lupa, karena ia sudah sering kali berusaha mendapatkan hati Bima.
Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan santai, ia menyetel lagu untuk menemani perjalanannya yang entah akhirnya akan berhenti dimana?
****
Di kediaman Rika, Rika dan Haris begitu uring-uringan, bahkan berpapasan di dalam rumah saja mereka tidak saling menyapa satu sama lain, tentu saja ini semua karena masalah bertemunya dengan Bima di taman bermain malam itu.
"Mama, Papa kenapa?" tanya Faris anak pertama Rika dan Haris yang usianya menginjak 3 tahun.
"Papa ma...lah tama Mama," sambung Angel anak kedua Rika dan Haris yang kini usianya baru menginjak 2 tahun.
Haris tampak cemberut, ia bahkan mengabaikan Rika dan kedua anaknya.
"Mas, kamu tidak makan?" tanya Rika, jika suaminya terus diabaikan Rika mengerti pasti suaminya akan lebih kesal lagi padanya. Aku sering kali mengalah, padahal dulu Mas Bima yang sering kali mengalah dariku.
"Aku tidak lapar, kamu pikirkan saja Bima!" jawabnya ketus, Haris bahkan enggan melihat ke arah Rika yang sedang bermain dengan kedua anaknya.
"Mas Bima terus yang di bahas," sahut Rika malas.
"Kan kamu masih mikirin Bima," sambung Haris asal. Rika yang dari tadi berusaha sabar, lama-lama geram juga.
"Terserah kamu saja mas, mau makan silahkan, tidak mau juga tidak apa-apa, aku mau pergi jalan-jalan sama anak-anak," pungkas Rika yang tidak mau sampai berdebat hebat dengan suaminya ini.
Rika pergi mengajak kedua pengasuh kedua anaknya entah kemana? Yang jelas ia terlalu malas meladeni Haris yang cemburunya berlebihan.
****
Bima menghentikan mobilnya tepat di depan sekolahannya Aliyah, ia menunggu Aliyah pulang sekolah. Entah ada angin apa? Tiba-tiba saja dia menghentikan mobilnya, mungkin Bima sudah mulai merindukan Aliyah.
Saat bell sekolah berbunyi dan itu tandanya para siswa-siswi pulang sekolah.
Aliyah melangkahkan kakinya sendirian keluar dari sekolah sesampainya di depan, ia cukup terkejut melihat mobil Bima ada di depan sekolahannya.
"Bukannya itu mobilnya Tuan Bima?" gumam Aliyah sambil terus melangkahkan kakinya.
Dan benar itu Bima, ia sudah berdiri di depan mobilnya menunggu Aliyah. .
"Aliyah...." panggil Ivan, Aliyah yang hendak menyeberang ke jalan, ia menghentikan langkah kakinya tiba-tiba.
"Ivan ada apalagi?" tanya Aliyah, kini Ivan sudah berdiri di sampingnya.
"Ayo pulang bareng!" ajak Ivan penuh harap.
Bima menatap laki-laki yang ada di samping Aliyah, tatapan Bima cukup tajam dan tampak tidak suka melihat Aliyah dengan laki-laki lain.
"Aliyahh...!!" seru Bima tiba-tiba. .
Aliyah dan Ivan menoleh, membuat Ivan menghela nafas berat.
"Itu siapa sih Al?" tanya Ivan penasaran.
Bima berjalan nyamperin Aliyah, tatapan Ivan tampak tidak suka pada Bima.
Entah apa yang akan terjadi di antara mereka?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia