
Satu tahun kemudian.
Banyak hari-hari yang telah di lalui dengan penuh kebahagiaan, tawa canda, kesedihan dan semua di lalui dengan baik oleh keluarga kecil Bima dan Aliyah.
Saat masa kehamilan juga bisa di atasi dengan baik oleh Bima, acar 7 bulanan juga saat itu berjalan dengan lancar. Sungguh sangat bahagia, hingga akhirnya hari yang di tunggu Aliyah dan Bima datang ya hari kelahiran anak pertama mereka dari pernikahannya.
Aliyah melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki dan di beri nama Pratama Putra Bima, bayi yang begitu lucu nan imut sungguh ini adalah perpaduan dari Bima dan Aliyah.
Ayuna juga sangat bahagia punya seorang adik, jadi ada teman main.
Satu tahun yang sudah berlalu ini banyak hal yang sudah Aliyah dan Bima lewati.
Keluarga mereka juga sangat bahagia apalagi sudah bertambah dengan bayi laki-laki yang sangat tampan, sungguh semakin lengkap sudah keluarga kecil ini.
"Mas, jagain Tama sebentar! Aku mau nyuapin Ayuna," kata Aliyah pada Bima.
"Iya sayang," sahut Bima sambil duduk di sebelah Tama tidur.
Ayuna suka cemburu padahal ia sudah pandai makan sendiri tapi manjanya dengan Aliyah tidak pernah lepas. Dan inilah yang membuat Aliyah sangat bahagia, biarpun bukan anak sendiri tapi Ayuna selalu menyayangi dirinya dan sebaliknya Aliyah juga sangat menyayangi Ayuna. Sungguh beruntung Ayuna mendapatkan Ibu pengantin sebaik Aliyah, biarpun masih mudah tapi perannya sebagai seorang Ibu patut di acungi jempol.
Setelah selesai menyuapi Ayuna, Ayuna ikut Aliyah masuk ke dalam kamar untuk melihat Tama yang sedang tidur.
Kini keluarga kecil ini sama-sama berada di atas ranjang, kedua anak mereka berada di tengah-tengah mereka tidur.
"Mas, banyak yang telah kita lalui. Aku juga tidak menyangka menikah dengan seorang duda anak satu, tapi aku bahagia hidup bersamamu Mas," ujar Aliyah dengan hati yang bahagia.
"Mas juga bahagia hidup denganmu, terimakasih sudah melahirkan anak Mas dan menjadi Ibu untuk anak-anak Mas," kata Bima sambil mencium kening Aliyah dengan lembut.
Akhir sebuah cerita yang bahagia, sungguh bersyukur karena Bima selalu memberikan kebahagiaan yang nyata dalam hidup Aliyah. Mendapatkan seorang duda anak satu itu suatu takdir dalam hidupnya, Aliyah juga tidak pernah menyesal dan sangat mencintai suaminya selama ini.
***
Pada akhirnya Arumi juga kembali ke rumahnya karena kedua orang tuanya meninggal saat kedua orang tuanya berada di dalam pesawat, sungguh saat itu hidup Arumi begitu hancur, tepat di hari kelahiran putrinya kedua orang tuanya pergi untuk selamanya.
Kedua orang tuanya yang selalu ada untuknya kini sudah ada di surga, Arumi akhirnya harus hidup sebatang karah, ia tidak punya siapa-siapa lagi kecuali putri kecilnya yang masih bayi. Suami juga ia tidak punya, sungguh malang nasibnya tapi ini semua adalah takdir.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan laki-laki yang sangat baik namanya Refan, laki-laki itu begitu perhatian padanya dan putrinya. Kapan pun di butuhkan juga laki-laki itu selalu ada, pernah laki-laki itu menyatakan perasaannya pada Arumi tapi saat itu Arumi belum bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain, namun sering berjalannya waktu akhirnya Arumi mulai menerima Refan dan mereka akhirnya menikah, hidup Arumi sangat bahagia karena menemukan laki-laki yang tepat setelah di campakkan oleh Azka di masa lalu.
Pernikahan Arumi di adakan di luar negeri, saat Arumi menikah Aliyah dan Bima juga datang ke acara pernikahan Arumi dan Refan.
Bahagia rasanya saat melihat sahabatnya akhirnya bahagia dan menemukan suami yang sangat baik, sangat mencintainya, menyayangi begitu juga selalu menjaganya. Saat hidupnya hancur, Refan datang sebagai pahlawan bagi Arumi.
"Sayang, nanti malam Aliyah mengundang kita untuk makan malam di rumahnya. Datang kan ya sayang?" tanya Refan yang saat ini sedang duduk sambil memangku putrinya yang bernama Ana. Ya biarpun Ana hanya anak tirinya tapi Refan begitu menyayanginya.
Pernikahannya dengan Arumi belum di karunia anak, tapi bersyukur karena ada Ana. Bagi Refan yang suka dengan anak kecil, ya ini menjadi sebuah kebahagiaan dalam hidupnya yang sebatang karah juga sama seperti Arumi, kedua orang tuanya sudah meninggal dari Refan masih bayi dan Refan di rawat oleh Neneknya namun sang Nenek juga sudah meninggal.
"Datang sayang, kan dekat ini rumahnya," jawab Refan dengan nada lembut.
Arumi tersenyum lalu ia duduk di samping sang suami, tiba-tiba Arumi meraih satu tangan Refan kemudian tangan Refan di genggam dengan erat.
"Terimakasih Mas telah hadir dalam hidupku, kamu juga mau menerimaku dengan masa lalu yang begitu buruk," tak terasa buliran air mata jatuh membasahi kedua pipi mulusnya.
Refan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arumi, lalu ia menarik Arumi agar kepala nya bersandar di bahunya.
"Hush, jangan pernah bilang seperti itu lagi! Mas tidak pernah memikirkan masa lalu kamu seperti apa? Yang Mas tahu Mas sangat mencintaimu dan anak kita," ujar Refan dengan nada lembut. Bahagia sekali, karena Refan selalu menyebut Ana sebagai anak kami, Mudah-mudahan selamanya akan selalu seperti ini.
"Aku sayang sama Mas," kata Arumi langsung memeluk Refan yang sedang memangku Ana dengan erat.
Syukurlah pada akhirnya penderitaan Arumi selama ini terbayar dengan kebahagiaan yang begitu nyata. Hidupnya juga sangat bahagia dengan keluarga kecilnya saat ini.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 7 malam, Aliyah, Bima, Ayuna dan sih bayi Tama, kini mereka sudah siap untuk makan malam.
Bermacam-macam makanan juga sudah tersedia di atas meja makan. Tinggal menunggu Arumi dan keluarga kecilnya datang saja, bahagia rasanya karena pada akhirnya bisa kembali tetanggaan seperti dulu.
"Tok...tok....!!"
Saat mendengar ketukan pintu, Aliyah langsung beranjak membukakan pintu rumahnya.
"Ceklek...."
"Arumi," langsung di peluk Arumi dengan erat. Aliyah juga mencium pipi Ana dengan lembut yang sedang di gendong oleh Arumi.
Arumi juga membalas pelukan Aliyah dengan erat, sungguh persahabatan yang begitu indah karena selalu ada di setiap susah maupun bahagia.
"Kalian mau berpelukan berlama lagi? Aliyah, apa kamu tidak menyuruh kami untuk masuk?" tanya Refan, karena sudah hampir satu menit lebih istri dan sahabatnya berpelukan bag Teletubbies.
Aliyah melepaskan Arumi dari pelukannya, lalu ia langsung menyuruh Arumi dan suaminya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Kini semuanya sudah duduk di meja makan dan siap untuk menikmati makan malam bersama.
Dalam hati Aliyah, kehidupan itu tidak selalu indah, tapi kalau kita selalu bersyukur dengan apa yang ada pasti semua itu akan menjadi indah. Takdir yang kita terima dengan ikhlas, akhirnya menjadi indah ya contohnya takdirnya Arumi di masa lalu dia begitu malang dan sekarang hidupnya sangat bahagia sekali. Lalu hidupku, aku bernasib malang bahkan dari kecil sudah di tinggal oleh kedua orang tuaku, lalu saat aku mau menikah aku harus menerima kenyataan yang begitu pahit dalam hidupku, Paman dan Bibiku yang selama ini aku selalu anggap baik ternyata mereka yang telah membunuh kedua orang tuaku, sungguh tidak di sangka tapi pada akhirnya Paman dan Bibiku harus mendekam di penjara karena perbuatan kejinya itu. Setelah semua hal berat yang aku lalui, akhirnya aku menikah dan sekarang aku bahagia bersama dengan suamiku dan kedua anakku.
Setelah selesai makan malam mereka semua berpindah ke ruang tengah untuk melanjutkan mengobrol, sih cantik Ana juga tidur sangat nyenyak, begitu juga dengan sih Tama bayi tampan ini tidurnya tak kalah nyenyak dari Ana.
Aliyah dan Arumi menidurkan anak-anak mereka di kasur tempat tidur yang sudah di sediakan oleh Aliyah.
Melihat anak-anaknya tidur Arumi dan Aliyah saling melempar senyum, Ayuna juga ternyata ikut tidur di sebelah kasur Tama. Ya Ayuna memang sangat menyayangi Tama.
"Lihat anak-anak begitu nyenyak tidur," kata Aliyah pada Arumi.
"Oh iya Rum, kamu sudah tahu kabar Azka yang sekarang?" tanya Aliyah pada Arumi, sudah lama Arumi tidak bertemu dengan Azka.
"Tidak tahu Al, lagian aku sudah lepas kontek dari awal dia mencampakkan aku," ujar Arumi pada Aliyah.
Refan tahu semua tentang masa lalunya Arumi, tentang Azka juga Refan tahu karena Refan sudah di ceritakan semuanya oleh Arumi sebelum mereka menikah.
"Dia sakit Rum, iya sakit kelamin, sih Silvi juga ninggalin Azka dan kedua orang tuanya juga sudah bangkrut, mengenaskan sekarang hidupnya," cerita Aliyah pada Arumi.
Mungkin ini yang di namakan karma di bayar kontan, pada akhirnya Azka di tinggal oleh Silvi, selain dengan Silvi. Azka juga sering kali gonta-ganti pasangan dan inilah akhir dari perbuatannya.
Azka yang malang dia tampan tapi kelakuannya sangat bejat, benih di dalam rahim Arumi dulu tidak di akui dengan terang-terangan.
Sekarang Azka sakit-sakitan dan hidupnya juga jatuh miskin.
Beda sekali dengan nasib Aliyah dan Arumi yang begitu indah pada akhirnya.
Inilah akhir cerita dari Aliyah, Bima, Arumi dan Azka. Ada yang bahagia, ada juga yang tidak dan semua itu sesuai dengan takdir masing-masing.
TAMAT
Terimakasih para pembaca setia yang selalu mengikuti cerita ini sampai selesai, maaf jika banyak kesalahan ya 🙏😊