Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Bayangan Aliyah


Pagi yang cerah telah datang, Aliyah sudah rapi dengan setelan seragam sekolahnya, lalu dia sarapan sendirian ya biarpun hanya susu dan roti tawar isi coklat tapi Aliyah menikmati semuanya dengan lahap.


Setelah selesai sarapan, Aliyah bergegas untuk keluar rumah. Ia duduk di teras depan rumah, untuk menunggu Arumi yang belum kelihatan batang hidungnya.


"Tumben ini anak sudah mau jam setengah 7 belum datang, biasanya dia semangat sekali menghampiriku," gumam Aliyah dengan nada lirih.


Bima yang sudah rapi dengan setelan jas warna hitamnya, ia bergegas keluar dari dalam rumah, ia tidak sarapan lebih dulu karena Art dan anaknya sedang liburan jadi tidak ada yang menyiapkan sarapan untuknya.


"Andai aku punya istri, pasti sarapan sudah ada menyiapkan," hayalan Bima begitu kecil, tapi tiba-tiba wajah cantik Aliyah muncul di benaknya. "Ihh apaan sih? Dari semalam aku terbayang-bayang wajah cantik gadis bar-bar itu," batinnya dalam hati.


Dan saat wajah cantik itu muncul di benaknya, tiba-tiba saat sampai di depan rumah, Bima melihat Aliyah yang sedang duduk sendirian di teras depan rumahnya.


"Baru muncul di bayangan, ini muncul secara nyata. Sungguh, aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini," gumam Bima yang diiringi decakan kesal.


"Mas Bima.....,"


Suara itu begitu nyaring di telinganya, membuat Bima menoleh lalu tersenyum pada Aliyah.


"Hay, kamu berangkat sekolah," sapa Bima.


"Iya, tapi Arumi belum datang," sahut Aliyah dan Bima mengangguk.


"Oh begitu, ya sudah aku berangkat kerja dulu ya. Dadah Aliyah," kata Bima, ia membuka pintu mobilnya lalu masuk begitu saja ke dalam mobil tanpa menawarkan Aliyah untuk berangkat bersama. Bahkan Bima melajukan mobilnya begitu saja.


Aliyah tampak kesal, semalam dia seperti orang tidak waras, lalu pagi ini? Dia begitu cuek padaku, tidakkah dia menawariku untuk berangkat bersama? Aish, duda tampan itu mengabaikan aku begitu saja. Lihat saja, akan aku buat kamu panas dingin.


Dalam perjalanan, Bima menyesali perbuatannya, kenapa aku tadi mengajaknya berangkat bersama saja? Aish, Bima kamu itu bodoh sekali, bukannya berusaha mengambil hatinya, ini malah di abaikan begitu saja. Dalam hatinya, Bima terus mengutuki dirinya sendiri.


***


10 menit menunggu Arumi yang tak kunjung datang juga, akhirnya Aliyah berangkat sendiri ke sekolah. Tadi juga sudah di samperin ke rumah Arumi tapi tampak sepi dan tidak ada yang menyahuti saat di panggil-panggil.


Dengan langkah gontai, Aliyah berjalan sendirian, biasanya ada teman ngobrol kini tidak ada.


Sesampainya di sekolah, Aliyah langsung masuk ke dalam kelas. Arumi dan Azka juga tidak ada di kelas.


"Mungkin mereka libur," katanya pada dirinya sendiri.


***


Arumi tadi malam menginap di rumah Azka karena rumah Azka sepi, orang tua Azka juga tidak ada di rumah. Orang tua Arumi juga sibuk dengan urusan mereka masing-masing, hingga anak-anak mereka melakukan pergaulan bebas sampai keluar batas.


Beberapa botol minuman memabukkan itu berserakan di kamar Azka, iya tadi malam Azka mengajak Arumi untuk minum hingga mabuk berat.


Setelah minum, Azka seperti biasanya ia meminta jatah pada Arumi. Dan dengan senang hati, Arumi menuruti apa yang di minta oleh Azka.


Kini saat bangun jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, badannya terasa pada sakit karena kerja keras tadi malam, ya bisa di bilang karena ulah Azka.


Gunung kembar Arumi juga semuanya merah karena ulah Azka, tapi Arumi tidak marah, justru ia bahagia dan pagi saat bangun, Arumi malah minta Azka untuk menyusu kembali. Sungguh tidak ada puasnya dua sejoli ini.


"Sayang, kita harus sekolah," kata Azka saat Arumi hendak memasukkan satu gunung kembarnya ke dalam mulutnya Azka.


"Sudah jam 9, sekolah juga sudah terlambat. Mending puasin aku saja sayang!" Rengkeknya dengan manja.


Azka tersenyum bangga, punyaku memang tidak di ragukan lagi. Arumi saja sering kali minta lebih dulu, padahal tadi malam bermain lebih dari sekali tapi dia belum puas juga.


Azka mengangguk, lalu ia menerima salah satu gunung kembar itu, lalu beraksi dengan nakal, di sedot sekuat mungkin, membuat Arumi keenakan dan men de sah manja.


Setelah beberapa lama Azka melepaskannya, lalu menatap Arumi dengan senyum kecil.


"Sayang, ayo kita lakukan tanpa pengaman, itu jauh lebih enak. Aku yakin kamu akan ketagihan pasti," rayu Azka dengan nada lembut, sambil memainkan biji kopi milik Arumi secara bergantian.


"Emm sayang, jika aku hamil bagaimana?" De sah annya begitu manja.


"Tidak akan, yang penting di luar keluarnya," dengan nada manja Azka terus membujuk Arumi.


Arumi yang sudah terlalu terbuai akan cintanya Azka, akhirnya dia menurut begitu saja dan pergulatan panas itu terjadi tanpa pengaman sesuai yang Azka minta, memang benar rasanya jauh lebih enak tapi kenapa rahimku rasanya hangat sekali? Seperti merasakan semburan entah apa? Tapi itu enak dan nikmat sekali. Mungkin ini yang di maksud Azka, rasanya jauh lebih nikmat.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia