Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Usaha Bima


Kini setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah Bima.


Bima turun lebih dulu dari dalam mobilnya, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Aliyah. Aliyah agak canggung, tapi sekilas ia tersenyum karena Bima memperlakukannya dengan sangat manis. Sungguh aku sudah seperti Cinderella yang turun dari kereta kencana.


Bima mengulurkan tangannya untuk meraih tangan mulusnya, sungguh ini membuat Aliyah semakin salah tingkah dan detak jantungnya langsung berdetak dengan cepat.


"Duda ini bahkan membuat jantungku berdetak kencang, apa ini yang namanya jatuh cinta?" Batin Aliyah dalam hati, diam-diam kedua matanya terus menatap ketampanan paripurna Bima. Semakin di lihat, semakin lama ketampanannya bukan hilang tapi kini semakin bertambah. Aliyah, kamu sudah mulai tidak waras.


"Ayo aku antarkan kamu pulang!" Kata Bima dengan nada lembut.


"Mas, tapikan rumah aku dekat itu di depan rumahmu, untuk apa Mas antarkan aku pulang, tidak apa-apa aku bisa pulang sendiri," tolak Aliyah dengan alasan yang tepat.


"Aku hanya tidak mau kalau kamu sampai tersandung, jika itu terjadi dan di samping kamu tidak ada aku. Lalu siapa yang akan menangkapmu saat kamu jatuh?" Ujar Bima, penuh akal cerdik. Bilang saja ia itu tidak ingin jauh dari Aliyah, dasar duda nakal.


Duda tampan ini membuatku terbang, bahkan dia memikirkan jika aku terjatuh bagaimana? Mas Bima, aku ini bukan anak kecil yang jalannya masih sempoyongan.


"Mas, kamu itu menggombal saja, aku tidak akan jatuh. Aku pulang dulu, Mas tidak usah nganterin aku!" Aliyah kekeh, aku mau lihat usaha dia sampai mana?


"Tapikan aku bertanggung jawab mengantarkanmu sampai rumah, kalau perlu sampai dalam rumah. Agar aku bisa memastikan kamu baik-baik saja," dengan kekeh Bima tetap mau mengatarkan Aliyah ke rumahnya. Memang tak ada habisnya ini duda untuk berusaha.


Aliyah yang sudah sangat lelah akhirnya ia menerima untuk di antarkan oleh Bima sampai di rumahnya, lagian menolak juga percuma pasti ada aja alasannya untuk tetap mengatar.


Kini Aliyah berjalan lebih dulu sedangkan Bima berjalan di belakang Aliyah, mengiringi langkah kaki Aliyah. Karena takut Aliyah jatuh, lalu kalau jatuh Bima berharap Aliyah akan jatuh di dalam pelukannya.


Aliyah mengangguk, lalu membuka pintu rumahnya dengan kunci, terus ia masuk ke dalam.


"Terimakasih Mas," katanya dengan nada lembut. Sebelum menutup pintu rumahnya, jika duda tampan itu sampai ikut masuk, entah apa yang akan terjadi? Aku yakin pasti akan terjadi seperti di film drama-drama gitu, otak Aliyah menghalu tinggi.


"Sama-sama, masuklah!" Jawab Bima, menyuruh Aliyah masuk ke dalam rumah.


Aliyah menutup pintunya, Bima menarik nafasnya agak gusar. Ia melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya.


Sesampainya di rumahnya, Bima langsung masuk ke dalam kamar, malam ini ia begitu santai karena Ayuna sedang pergi jalan-jalan.


"Gadis kecil itu membuat aku gelisah, jantungku berdetak kencang, hatiku juga merasakan getaran yang cukup aneh. Entah ini getaran apa?" Bima menatap lampu yang ada di atap kamarnya, saat ia semakin melekatkan tatapannya Bima senyam-senyum.


Wajah cantik Aliyah muncul di padangannya itu, membuat Bima tiba-tiba kaget.


"Aku ini kenapa sih?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


Bayangan Aliyah semakin jelas di kedua matanya.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia