Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Siapa Sih Yang Telpon?


Di sebuah restoran mewah Aliyah, Bima dan Ayuna sama-sama memesan makanan untuk dirinya masing-masing.


Setelah memesan makanan sembari menunggu makanan datang, Aliyah dan Ayuna tampak asik mengobrol sedangkan Bima sedang menelpon karena ada telpon dari klien.


"Kakak Cantik, liburanku sangat menyenangkan," kata Ayuna yang diiringi senyum bahagia.


Dasar bocah kecil, orang belum sekolah pakai ngomongin liburan segala. Aku saja yang masih sekolah pusing dengan ujian akhir semester tapi aku senang karena sebentar lagi lulus sekolah, mau nikah atau kuliah? Ada baiknya nikah dulu saja, tapi sih Duda sampai sekarang diam-diam saja. Entahlah dia punya perasaan tidak padaku? Yang jelas aku punya perasaan padanya, tapi gengsi dong masa anak kecil nembak laki-laki dewasa sudah punya anak lagi.


"Sungguh, kamu bawakan oleh-oleh apa untuk Kakak Cantik?" tanya Aliyah, ia juga tersenyum pada Ayuna.


"Hush, diam!" Bima menaruh jari telunjuknya di bibirnya memberikan pertanda agar Aliyah dan Ayuna diam. Akhirnya mereka berdua langsung diam.


"Hallo Nona Cinta," sapa Bima.


"Hallo Tuan Bima, Tuan Bima sedang sibuk atau tidak?" tanya Cinta dari seberang sana.


"Saya sedang di luar Nona," jawab Bima jujur.


"Apa nanti malam Tuan Bima ada waktu? Saya mau mengajak Tuan Bima makan malam berdua ya biar lebih dekat, jadikan sama-sama enak dalam bekerja sama," ujar Cinta sembari tertawa kecil. "Mudah-mudahan Tuan Bima tidak menolak ajakanku," harapan Cinta dalam hatinya.


"Maaf Nona saya tidak bisa," tolak Bima tanpa basa-basi.


Aliyah menghela nafas kesal, siapa sih yang di telpon sama Mas Duda itu kok lama banget? Terus apa saja yang di bicarakan, sungguh hatiku jadi tidak tenang. Apa jangan-jangan dia sedang berusaha mendekati Mas Duda? Jangan harap! Aku tidak akan memberikan celah sedikitpun untuk wanita lain yang akan mendekati Mas Duda pujuan hatiku, titik tidak pakai koma.


"Mas, apa kamu masih lama menelponnya? Aku sudah lapar, anak kamu juga kasian belum makan, nelponnya nanti saja Mas!" kata Aliyah, suaranya sengaja di buat semanja mungkin. Ini adalah salah satu cara untuk menghalangi wanita lain yang dekat-dekat dengan Mas Dudaku.


"Tuan, maaf itu suara siapa?" tanya Cinta, saat mendengar suara perempuan Cinta penasaran.


"Mas, kamu makan yang banyak ya! Biar kenyang, biar tidak jajan diluar," kata Aliyah dengan nada semakin manja dan di buat-buat.


Bima menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia mulai salah tingkah dan mengakhiri panggilan telponnya begitu saja dengan Cinta tanpa pamitan lebih dulu.


"Siapa sih Pa yang telpon? Ayuna sampai kelaparan," tanya Ayuna memanyunkan bibir mungilnya.


"Ini rekan bisnis Papa Nak, sudah kamu makanlah!" jawab Bima dengan nada lembut.


"Aliyah kamu juga makan, katanya kamu juga lapar," begitu perhatiannya Bima pada Aliyah. Bahkan Bima sedikitpun tidak marah akan tingkah Aliyah tadi, ia malah senyam-senyum dalam hatinya, lucu saja melihat sikap Aliyah tadi, wajar namanya masih bocah.


Kini mereka bertiga menikmati makanannya dengan lahap, setelah selesai makan, Bima membayar semua makanannya. Lalu setelah itu mereka langsung kembali ke dalam mobil.


"Mau kemana lagi?" tanya Bima pada Aliyah dan Ayuna.


"Mas aku mau pulang, aku capek," jawab Aliyah dengan nada lemas.


"Sama Pa, Ayuna juga mau pulang, habis makan Ayuna mengantuk Pa," sambung Ayuna sambil menguap.


Bima mengangguk, ia menuruti kemauan dua bocah ini. Sungguh berasa bapak-bapak anak dua, pusing rasanya saat keduanya sedang sama-sama rewel seperti ini, yakinkah aku untuk menikahinya? Jika yakin, ya aku harus siap menjaga dua bocah di dalam rumahku.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia