Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Aliyah & Ayuna


Jam menunjukkan pukul 2 siang, Aliyah, Arumi dan Azka baru saja keluar dari dalam kelas mereka dan mereka berjalan bersama-sama seperti biasanya.


"Rum, jalan yuk sayang," ajak Azka pada Arumi.


Arumi menatap Aliyah, Aliyah balik menatap Arumi sambil tersenyum.


"Kalau kalian mau pergi jalan tidak apa-apa, aku mau pulang," ujar Aliyah pada Arumi dan Azka. Kalau aku ikut juga palingan jadi obat nyamuk, pacaran mereka juga tidak patut di contoh, bagi yang belum halal jangan mau di apa-apain sama laki-laki, kadang laki-laki itu mintanya doang manis tapi ujung-ujungnya di tinggalin doang kalau terjadi sesuatu. Dan itu sering terjadi, makanya jadi perempuan harus pintar-pintar jaga diri baik-baik.


"Itu Aliyah tidak apa-apa," timpal Azka dengan senyum penuh arti.


Arumi masih terdiam, sebenarnya dia ingin menemani Aliyah yang sedang sedih karena merindukan kedua orang tuanya. Tapi ia juga merindukan Azka dan belain dari Azka, lagian Azka ngajak jalan itu hanya embel-embel saja tujuannya ya hanya satu mereka ingin sama-sama mencari tempat ya sepi untuk memadu kasih mereka. Sungguh kedua sejoli ini sudah tidak ada takutnya, apalagi sekali dua kali melakukannya tidak hamil, ya itu membuat mereka semakin senang, padahal Azka pernah mengeluarkan di dalam tapi untungnya Arumi tidak hamil. Datang bulannya juga masih lancar, Arumi yang dulu tidak pernah aneh-aneh saat pacaran sekarang jangan di tanya. Baginya pacaran melakukan hal yang lebih itu ya sesuatu yang biasa dan biasa terjadi di kalangan anak muda jaman sekarang.


"Kamu benaran tidak apa-apa Al?" tanya Arumi terlihat tidak enak.


"Iya Rum, kalian hati-hati perginya. Ingat Rumi jaga diri baik-baik ya, jangan mudah percaya dengan kata-kata manis laki-laki," ujar Aliyah dengan tulus dan di tatap sinis oleh Azka, tapi Aliyah membalas dengan senyuman kecil.


Dalam hati Azka, Aliyah ini menyebalkan sekali sih, aku tahu kamu itu sedang menyindir aku. Tapi Arumi itu lebih percaya dengan kata-kata manisku daripada mendengarkan sahabatnya sendiri, apalagi dia sudah menikmati enaknya milikku pasti buat nagih dan minta lagi setiap hari.


"Iya Al, aku duluan ya," pamit Arumi, lalu ia berlalu pergi bersama dengan Azka.


Aliyah melangkahkan kakinya menuju ke rumah, seperti biasanya ia mampir di minimarket depan komplek, ia membeli cemilan untuk Ayuna. Karena anak cantik itu kadang suka menunggu Aliyah di depan rumahnya, kadang juga Aliyah sengaja main ke rumah Ayuna agar lebih dekat dengan Ayuna.


Setelah berbelanja cemilan, Aliyah kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. "Aliyah, rasanya aku sudah pantas untuk menjadi seorang Mama sambung untuk Ayuna," gumam Aliyah dalam hati.


Dasar Aliyah gadis yang suka berkhayal, di kira menjadi seorang Mama sambung itu mudah kali ya tapi ya jika itu benar, mudah-mudahan Aliyah menjadi Mama sambung yang baik hati.


Sesampainya di depan rumahnya, benar saja Ayuna sudah menunggu Aliyah di depan pintu rumahnya bersama dengan Susternya.


"Kakak Cantik....!!" seru Ayuna, dan langsung berlari menghambur ke pelukan Aliyah. Entahlah, Aliyah rasanya senang saja memeluk anak cantik ini.


"Yuna, kamu dari tadi sayang?" tanya Aliyah dan ia mengendong Ayuna masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo Bi Wati, kita masuk!" ajak Aliyah dengan sopan.


Mereka bertiga masuk ke rumah Aliyah, lalu mereka sama-sama duduk di sofa.


"Ayuna, Kakak Cantik bawakan cemilan buat Ayuna, oh iya kamu sudah makan siang belum?" tanyanya dengan nada lembut, Aliyah mengupas satu snack cemilan lalu memberikan pada Ayuna.


"Bibi, di makanin!" titah Aliyah dengan sopan.


"Oh iya, Bibi mau minum apa?" tanya Aliyah pada Bibi Wati.


"Tidak usah repot-repot Nona," tolak Bu Wati dengan nada lembut.


Aliyah beranjak dari tempat duduknya, lalu ia pergi menuju ke dapur.


"Tidak repot Bi," katanya sebelum pergi.


Aliyah di dapur sibuk membuat jus jeruk dan mengambil air putih untuk Ayuna. Padahal ia capek pulang kerja, tapi bermain dengan Ayuna itu sudah seperti rutinitas setiap hari.


"Yuna, kalau Papa pulang bagaimana, nak?" tanya Bi Wati dengan nada lembut pada Ayuna.


"Bibi, Papa pasti tahu kalau kita di rumah Kakak Cantik," jawab Ayuna dan sekarang ikutan manggil Bibi pada Wati, biasanya Sus. Tapi ia mengikuti Aliyah, dasar anak lucu dan menggemaskan.


Pipinya yang tembem, rambutnya yang panjang dan di kuncir dua ya seperti kambing, dress warna pink yang begitu cantik. Sungguh menggemaskan sekali anak cantik ini.


Setelah beberapa lama Aliyah kembali membawa nampan yang berisi minuman untuk mereka.


"Ayuna, Kakak Cantik bawakan minuman untuk kamu, Bibi juga di minum jusnya! Oh iya Bibi sudah makan belum?" Aliyah dengan sopan bertanya pada Wati, biarpun Aliyah tidak di rawat oleh Ibunya dan Bapaknya tapi Aliyah selalu diajarkan sopan santun oleh Tante dan Om nya.


"Sudah Nona, terimakasih ya Nona saya minum jusnya," jawab Wati, ia mengambil gelas yang berisi jus jeruk lalu meminumnya.


Mereka bertiga asik mengobrol sambil bercanda, Aliyah juga belum berganti seragam sekolah dan dia asik sekali bercanda dengan Ayuna.


****


Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Bima yang baru saja selesai dengan pekerjaannya ia langsung bergegas pulang.


Sesampainya di depan rumahnya, ia melihat Ayuna dan Aliyah sedang asik bermain kejar-kejaran di depan rumahnya.


Bima mematikan mesin mobilnya, ia tidak langsung turun dan dari kejauhan memperhatikan Aliyah dan Ayuna dengan penuh perhatian.


"Mereka sangat akrab," kata Bima tersenyum senang.


"Ayuna, bertemu dengan Aliyah sangat bahagia, mungkin ia menemukan kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan selama ini," lanjut Bima dengan tatapan sendu.


Setelah beberapa saat ia memperhatikan dua orang itu, Bima akhirnya turun dari dalam mobilnya.


"Ayunaaa....!!"


Mendengar suara sang Papa Ayuna menoleh dan langsung berlari menghambur ke pelukan Bima.


"Papa, ayo kita jalan-jalan!" rengkek Ayuna dengan manja. Padahal masih capek baru pulang, tapi putri kecilnya sudah minta jalan-jalan.


Aliyah hanya berdiri tidak jauh dari Ayuna dan Bima dan melihat mereka penuh dengan senyum bahagia.


"Ayuna, biarpun kamu tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu tapi kamu mendapatkan kasih sayang yang tulus dari seorang Papa," batin Aliyah dalam hatinya. Aliyah cukup sedih mengingat kedua orang tuanya sudah berada di surga.


Bima menurunkan Ayuna dari gendongan, tiba-tiba Ayuna menarik tangan Bima mendekat ke Aliyah yang sedang berdiri.


"Papa, Papa belum jawab, ayo Papa pergi jalan-jalan!" Ayuna kembali merengek manja pada sang Papa.


"Baiklah, Yuna mau kemana?" tanya Bima akhirnya tidak tega rasanya kalau anaknya sampai menangis.


"Ke taman bermain, tapi ajak Kakak Cantik!" jawab Ayuna antusias.


Aliyah ternganga sambil geleng-geleng kepala. "Ayuna jalan-jalan sama Papa saja, Kakak tidak ikut," tolak Aliyah yang merasa tidak enak. Padahal hatinya berdebar cukup kencang.


Ayuna memanyunkan bibirnya, gemas sekali rasanya.


"Baiklah, kita ajak Kakak Cantik jalan-jalan bersama," kata Bima dengan senang hati, Ayuna akhirnya tersenyum bahagia.


Melihat Ayuna yang tampak bahagia, membuat Aliyah tidak bisa menolak keinginan anak cantik ini.


Mereka bertiga langsung bersiap-siap, Aliyah juga pulang ke rumahnya lebih dulu untuk bersiap-siap.


****


Azka dan Arumi berada di rumah Azka, yang katanya tadi mau ngajak jalan Arumi, benar saja itu hanya embel-embel dan Azka lagi-lagi membawa Arumi ke rumahnya.


Kesempatan yang bagus karena kedua orang tuanya belum pulang dari luar kota.


"Sayang, kalau aku hamil bagaimana?" tanya Arumi, setelah melakukan pergelutan di atas ranjang tadi. Entah ini sudah yang keberapa kalinya Azka melakukan ehem-ehem padaku? Aku pun sudah lupa karena terlalu sering kita melakukan hal ini.


Azka mengusap pipi Arumi dengan lembut, ia menatapnya dengan tatapan cukup dalam.


"Sayang, aku kan bilang, aku pasti akan bertanggung jawab. Apa kamu tidak percaya padaku?" tanya Azka yang diiringi dengusan pura-pura ngambek.


"Iya bukannya aku tidak percaya, tapikan kita sudah sering sekali melakukannya. Aku takut hamil, pasti kedua orang tuaku akan sangat marah," ujar Arumi pada Azka.


Azka hanya tersenyum kecil, lalu ia menarik Arumi masuk ke dalam pelukannya.


"Sudahlah jangan pikirkan itu, kamu tidak usah kawatir!" pintanya di sela-sela pelukannya.


Sebenarnya Arumi takut hamil tapi Azka selalu mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja dan ia tidak boleh kawatir.


Entah akan seperti apa akhirnya hubungan Azka dan Arumi untuk ke depannya?


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia