
Dua hari telah berlalu, akhirnya Ayuna pulang dari acara liburannya.
Ayuna begitu merindukan papanya, ia juga begitu manja pada papanya dan tidak mau lepas sama sekali, hingga akhirnya Bima yang sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, akhirnya tidak jadi berangkat.
"Papa, ayo main ke rumah Kakak Cantik," ajaknya dengan manja, padahal jam baru saja menunjukkan pukul 9 pagi. Aliyah juga pasti sedang sekolah.
"Kakak Cantik, pasti dia sedang sekolah Nak," ujar Bima dengan nada lembut.
"Bagaimana kalau kita jemput Kakak Cantik ke sekolah?" kata Ayuna antusias.
"Baiklah, kita jemput Kakak Cantik," kata Bima dalam hatinya begitu senang.
"Sekalian ajakin makan siang bareng Pa!" pinta Ayuna, Bima mengangguk semangat.
Ada benarnya kata Ayuna, ternyata Ayuna ini pintar juga. Tidak seperti bapaknya yang malu-malu kucing, ya malu-malu tapi mau.
***
Saat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Ayuna dan Bima sudah setia menunggu Aliyah di depan gerbang pintu sekolah.
Bell sekolah akhirnya berbunyi, Aliyah dan yang lainnya bergegas untuk segera pulang.
Aliyah melangkahkan kakinya sendirian keluar dari dalam kelas, biasanya ada Arumi dan Azka tapi beberapa hari ini mereka entah kemana? Aliyah juga tidak tahu.
Ponsel keduanya juga sulit di hubungi.
"Al, Azka sama Arumi kemana? Mereka beberapa hari ini tidak masuk sekolah?" tanya Restu pada Aliyah. Restu adalah laki-laki tampan yang begitu rupawan, dia satu kelas dengan Aliyah.
"Aku juga tidak Res, ponsel mereka di hubungi juga susah," jawab Aliyah jujur.
"Oh iya, lulusan nanti katanya ada acara jalan-jalan, nanti kasih tahu Arumi dan Azka ya Rum, nanti aku buat pengumuman di grup chat," kata Restu. Selain parasnya yang tampan dia juga ketua kelas, tadi pagi ikut meeting dengan para guru tentang acara habis lulusan nanti.
"Iya, jalan-jalan kemana?" tanya Aliyah penasaran.
Aliyah dan terus berjalan berdampingan sambil terus mengobrol, mereka tampak akrab.
Saat Bima melihat pemandangan itu, ia tampak tidak suka tapi tetap berusaha santai. Ya wajar namanya anak SMA dekat dengan teman laki-lakinya. "Iya kalau benar hanya teman, kalau ternyata lebih, aku sudah tidak ada harapan lagi," batin Bima dalam hatinya.
"Eh Mas Bima," kata Aliyah kaget saat melihat Bima ada di depan dirinya. "Ayuna," lanjutnya melihat Ayuna tersenyum padanya.
"Eh Om," sapa Restu sok akrab. Restu mengira Bima om nya Aliyah.
Om! Di kira aku om kamu, enak saja masih muda gini di panggil om, entah Bima yang menolak tua apa bagaimana? Tapi memang dia biarpun gelarnya duda anak satu, tampangnya begitu imut dan manis.
"Aku duluan ya Al," kata Restu tersenyum pada Aliyah. Bima tampak tidak suka pada Restu, mungkin dia terlalu cemburu.
Lagian punya perasaan pada Aliyah tidak mau jujur.
"Iya Res," sahut Aliyah.
"Dia kekasihmu?" tanya Bima tiba-tiba.
"Bukan, dia hanya teman satu kelas," jawab Aliyah jujur.
"Baguslah, kirain kekasihmu. Ingat masih bocah itu tidak usah pacaran nanti tekdung duluan," cebik Bima dengan tatapan sinis. Dasar cemburu tapi tidak mau bilang.
Aliyah mengangguk, pacarannya bagaimana dulu? Tekdung juga kan butuh proses, kalau pacaran cuma makan, nonton, jalan bareng ya tidak bakal tekdung. Dasar duda semakin meresahkan.
"Ayo makan siang!" ajak Bima, Ayuna mengangguk semangat dan langsung menarik Aliyah untuk masuk ke dalam mobil.
Bima membukakan pintu mobilnya dengan senang hati, lalu setelah itu ia masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya ke sebuah restoran untuk makan siang bersama.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia