
Satu minggu telah berlalu setelah kejadian hari itu Regi dan Rita enggan memperdulikan Aliyah lagi. Bahkan mereka sudah tidak mau nelpon Aliyah lagi, uang bulanan sih masih lancar tapi mereka berdua masih marah pada Aliyah.
"Apa tidak ada laki-laki lain? Kenapa harus suka sama duda? Padahal Rona tampan, Martin juga tampan, jika tidak mau dengan Rona ya sama Martin saja! Daripada sama duda," pagi-pagi Rita sudah bersenandung, iya bukan nanyi tapi ocehan demi ocehan yang keluar dari mulutnya.
Regi menggelengkan kepalanya, ia juga bingung kenapa sang ponakan lebih suka duda? Padahal banyak yang masih bujang, di tambah dudanya itu sudah punya ekor satu, sungguh tak habis pikir dengan Aliyah itu.
"Entahlah, Aliyah itu susah sekali diatur," ujar Regi pasrah.
****
Di saat Bibi dan Pamannya masih uring-uringan karena masalahnya, di sisi lain Aliyah malah begitu santai, baginya kemarahan Bibi dan Pamannya itu tidak membuat dirinya takut.
Untuk apa aku takut pada mereka? Lagian aku ini sudah besar, aku tahu mana yang baik dan tidak, kenapa aku tidak mau dengan Rona ya aku tahu ss seperti apa brengseknya manusia itu? Martin, ia memang baik tapi sayangnya manusia satu ini jika pacaran tidak cukup dengan satu wanita, bahkan jadi simpanan tante-tante girang saja Martin mau dengan senang hati, baginya yang penting duit jajannya tidak kekurangan.
Aliyah yang merasa jenuh di dalam rumah, selain jenuh di dalam rumah, tadi di sekolahan sudah cukup di pusingkan dengan soal-soal ujian hari ini, ya sebentar lagi aku akan lulus, cita-citaku tidaklah sulit aku hanya ingin menjadi ibu rumah yang baik hati saja. Cita-cita simple Aliyah, ya memang tidak mau terjun ke dunia bisnis, ya bukannya tidak mau, ia hanya tidak mau terlalu banyak menghabiskan waktu diluar rumah, baginya waktu bersama dengan kelurga kecilnya nanti itulah yang membuatnya bahagia, apalagi selama ini hidupnya yang sebatang karah membuat dirinya selalu kesepian sepanjang hari.
"Ayuna," panggil Aliyah, tapi Ayuna malah membuang muka, lalu berlari ke tempat Papanya duduk.
"Yuna, kenapa sayang?" tanya Bima, kaget anaknya yang sedang asik bermain tiba-tiba memeluknya dengan wajah manyun.
Aliyah terdiam, Ayuna kenapa? Kok tumben dia buang padaku? Perasaan Aliyah seketika menjadi tidak enak, aduh ini cobaan apalagi?
"Kakak Cantik manggil aku, tapi aku malas, Kakak Cantik sudah punya pacar, dia tidak bisa menjadi Ibuku," dengan polosnya Ayuna mengadu sama Papanya.
"Anak Papa yang cantik, sudah ya jangan manyun terus! Kakak Cantik pasti akan menjadi Ibumu, Papa janji itu Nak," dengan yakin Bima menatap Ayuna dengan lembut.
Ayuna yang tadinya manyun, kini kembali tersenyum senang. Kakak Cantik menjadi Ibunya, itu memang keinginannya.
***
Aliyah terdiam sendirian di teras depan rumahnya, ia memikirkan Ayuna itu kenapa? Tak biasanya anak cantik itu menghindar darinya.
"Sudahlah Al jangan di pikirankan lagi! Mending kamu belajar, kan besok sudah ujian dan sebentar lagi lulusan sekolah," batinnya berbicara.
Al beranjak dari tempat duduk, lalu ia kembali masuk ke dalam rumahnya dan mulai belajar, ia belajar sendirian biasanya ada Arumi dan Azka, tapi entah mereka kemana? Karena akhir-akhir ini mereka memamg jarak sekali main ke rumahnya. Kadang Aliyah merindukan mereka berdua, tapi karena pacaran mereka yang berlebihan dan kedua sejoli itu lebih suka jauh-jauh dari Aliyah saat pacaran.
Aliyah sudah mau ujian, sebentar lagi lulus, entah dia akan bagaimana melanjutkan hidupnya? Apa dia akan memilih untuk menikah muda, ya sesuai keinginannya selama ini? Atau dia akan berubah pikiran dan memilih untuk melanjutkan pendidikannya? Hanya Aliyah yang tahu untuk semua kehidupannya.
Bersambung
Mampir yuk ke karya temannya Asti😊