
Beberapa telah berlalu, hari yang di tunggu-tunggu oleh kedua sejoli ini akhirnya datang juga. Ya hari pernikahan Bima dan Aliyah, sungguh waktu berlalu dengan cepat.
Matahari begitu bersinar terang di langit sana, ya matahari pun ikut menyaksikan kebahagiaan Bima dan Aliyah hari ini, cuaca juga sangat mendukung sekali membuat para tamu undangan yang datang hari begitu nyaman dalam menikmati pesta hari ini.
Pesta yang cukup mewah di gelar di tengah-tengah hutan pinus dengan nuansa pesta kebun hari ini.
Bima tampak bahagia, ia di dampingi oleh putri kecil semata wayangnya. Ayuna begitu cantik ia memakai gaun putih, lalu di atas kepalanya di hiasi dengan mahkota kecil.
"Papa," dengan erat Ayuna memeluk Papanya, Bima mensejajarkan tubuhnya agar sang putri lebih mudah memeluknya.
"Anak Papa, kamu cantik sekali Nak," kata Bima sembari melepaskan Ayuna dari pelukannya. Ayuna sangat cantik dengan gaun putih dan mahkota kecil yang menghiasi kepalanya, ya tentu saja anak satu ini tidak mau kalah dengan calon Mama tirinya yang super cantik juga.
Ayuna tersenyum cukup manis, membuat Bima sangat gemas pada anak kesayangannya itu.
"Papa juga begitu tampan, aku yakin pasti Kakak Cantik akan lebih jatuh cinta pada Papa," kata Ayuna dengan penuh senyum bahagia.
Bahagia dong, akhirnya Ayuna akan mendapatkan Mama baru yang sesuai dengan impiannya dan berharap Aliyah akan selalu menjadi Mama yang baik bagi Ayuna dan istri yang baik bagi Bima.
"Mulai sekarang panggil Mama! Kakak cantik mulai hari ini akan menjadi Mamanya Yuna," tutur Bima pada Ayuna. "Aku yakin Aaliyah pasti akan menjadi Mama yang baik untuk Yuna," batinnya dalam hati.
Aliyah hari ini tidak ada yang mendampingi bukan apa-apa Paman dan Bibinya sudah mendekam di penjara untuk mempertanggungjawabkan kejahatannya di masa lalu, kedua orang tuanya sudah berada di surga dan di hari bahagianya ini Aliyah sangat sedih karena orang-orang yang di sayangnya tidak ada di sampingnya.
Saat kedua mata Aliyah tampak berembun, hampir saja air matanya menetes tiba-tiba suara yang tidak asing terdengar di telinganya.
"Aliyah...."
Saat mendengar suara itu, Aliyah langsung menoleh ke sumber suara. Langsung kaget saat melihat siapa yang datang?
Melihat Arumi datang, Aliyah masih tidak percaya ia malah bengong. "Apa ini mimpi?" gumamnya di dalam hati.
"Ini tidak mimpi sahabatku, aku datang kesini untuk kamu, untuk menemanimu di hari yang bahagia ini," kata Arumi yang kini sudah berdiri di samping Aliyah duduk, perut ratanya juga sudah terlihat buncit.
Aliyah langsung memeluk Arumi dengan erat, sungguh tidak di sangka sahabatnya ini akan datang jauh-jauh dari luar negeri padahal saat itu katanya tidak bisa datang.
Dalam hati Arumi, Al aku tidak mungkin tidak datang di hari bahagiamu ini, apalagi Mas Bima beberapa hari lalu menghubungiku kalau Paman dan Bibinya sudah masuk penjara, saat itu aku tahu pasti Aliyah akan sendirian dan aku putuskan untuk datang ke acara pernikahan Aliyah ya tentunya di dampingin oleh pengawal yang sudah di siapkan oleh kedua orang tuaku karena mereka terlalu kawatir padaku, dan mereka juga tidak bisa menemaniku karena ada kerjaan yang harus mereka selesaikan.
"Rumi, terimakasih ya," kata Aliyah pada Arumi dan Arumi mengangguk.
Kedua gadis ini adalah sahabat sejati, mereka patut di contoh dalam menjalin persahabatan yang begitu baik dan selalu saling mengerti.
***
Detik demi detik berlalu, akhirnya acara pernikahan akan segera di mulai dan Arumi kini menjadi pendamping Aliyah.
Kini Aliyah sudah duduk menunggu Bima, Bima keluar di dampingi kedua orang tuanya dan putri semata wayangnya.
Debaran jantung Aliyah cukup kencang, tidak terasa beberapa detik lagi ia akan sah menjadi istrinya Bima.
Azka dan teman-teman sekolah Aliyah yang lainnya juga datang di acara pernikahan Aliyah dan Bima.
Bima sudah duduk di sebelah Aliyah dan lantunan ucapan sakral pernikahan kini terucap dari mulut Bima, hingga selesai dan semua tamu, para saksi mengucapkan kata sah dengan kompak.
Kedua orang tua Bima sama-sama melempar senyum, mereka memeluk Aliyah secara bergantian dan sudah menganggap seperti anaknya sendiri.
"Bahagia bersama Bima ya Nak!" doa kedua orang tuanya Bima untuk Aliyah.
"Terimakasih Mama, Papa," kata Aliyah dengan nada lembut, tak terasa buliran air mata tiba-tiba menetes di kedua pipi mulusnya.
"Sama-sama Nak," jawab kedua orang tuanya Bima dengan komplak, lalu Mamanya Bima menghapus air mata Aliyah dan menyuruh Aliyah jangan sedih.
Kedua orang tuanya Bima memang sangat baik, saat pertama kali Bima memperkenalkan Aliyah pada kedua orang tuanya dengan senang hati kedua orang tuanya Bima menerima Aliyah seperti anaknya sendiri.
Bima dan Aliyah saling melempar senyum satu sama lain, dengan penuh ketulusan Bima mencium kening Aliyah, membuat pipi Aliyah langsung merah karena malu-malu.
Setelah acara sakral itu selesai, lanjut acara pesta dan semua tamu yang hadir berbondong-bondong mengucapkan selamat kepada Aliyah.
***
Arumi duduk di kursi tamu sambil menikmati hidangan yang sudah di siapkan, rasanya lelah perutnya juga agak sakit mungkin dedenya yang di dalam sana sedang manja.
"Sabar ya anak Mama, kita temenin Tante Aliyah dulu di acara bahagianya ini," kata Arumi sambil mengelus-elus perutnya.
Menjalani kehamilan sendiri tidaklah mudah, sungguh berat tapi aku harus kuat karena ini adalah kesalahanku di masa lalu. Aku akan menjaga benih ini dengan baik, karena aku tahu bayi ini tidak salah apa-apa yang salah kami dulu orang tuanya karena telah melakukan pergaulan bebas hingga tek dung.
Pesan buat para anak mudah yang masih lanjang, jangan sampai kalian tergoda akan rayuan maut laki-laki ya! Jaga kesucian kalian semua karena kesucian itu sangat mahal, pokoknya jangan sampai kalian mengalami apa yang aku alami saat ini.
Saat mendengar suara Azka, Arumi menoleh ke sumber suara.
"Azka," sapanya dengan cuek.
Tanpa permisi Azka duduk di kursi di sebelah Rumi, ia juga mengajak prempuan yang datang bersamanya untuk duduk. Ya hari ini Azka datang bersama Silvi.
Melihat Silvi yang cukup seksi dan montok, Arumi yakin pasti gadis ini juga sudah di ambil sarinya oleh Azka makannya aura sudah tidak terlihat, menurut Arumi.
"Kamu datang sama siapa?" tanya Azka dengan tatapan ke perut Arumi.
"Sendiri," jawab Arumi cuek.
"Oh iya kenalin ini Silvi kekasihku," tanpa perasaan Azka memperkenalkan Silvi pada Arumi.
"Aku Silvi," sambil mengulurkan tangannya pada Arumi.
"Aku Arumi," jawab Arumi dengan nada lembut.
Arumi tetap tenang bahkan ia masih mau menyalami tangan Silvi saat Silvi mengulurkan tangannya padanya.
"Oh iya, jaga ucokmu itu! Jangan suka tanaman benih sembarangan lagi, nanti di tinggalin lagi tidak mau tanggung jawab," kata Arumi dengan sengaja.
"Apa Azka suka bercocok tanam sembarangan, Rumi?" tanya Silvi penasaran.
Silvi ternyata nyambung juga dengan obrolan Arumi, membuat Arumi tersenyum senang.
"Suka, Azka itu memang laki-laki yang hobby bercocok tanam," suara Aliyah mengagetkan Azka.
"Apaan sih Al?" Azka terlihat kesal dengan Aliyah, Aliyah dan Azka memang bag musuh setelah Azka tega menyakiti hati Arumi dan mencampakkan Arumi begitu saja.
Dalam hati Silvi, yang penting aku selalu pakai pengamanan. Lagian Azka selalu bilang kalau aku tidak memberikan jatah, katanya aku tidak sayang padanya. Bahkan berulang kali Azka juga sering mengajak aku menginap di hotel-hotel mewah, ya kalau sudah di hotel pasti Azka selalu mengajak bercocok taman. Sering keluar di dalam juga tapi beruntungnya tidak jadi benih, jadi ya aku tetap mau dengan Azka.
"Mau aku tunjukkan hasil cocok tanam kamu," sindir Aliyah dengan sinis.
"Sudahlah Al, sudahlah tidak bakal di akuin juga, lagian suatu saat juga pasti Azka kena karmanya," sambung Arumi dengan santainya.
"Iya Rum, Tuhan mahal adil," lanjut Aliyah dengan sinis juga.
"Laki-laki di gentlemen, sungguh laki-laki payah," kata Bima dengan nada meremehkan.
"Kalian ini apa-apaan sih? Sudah yuk sayang kita pergi dari sini! Mereka semua itu tidak waras dan tidak jelas," ujar Azka bersungut-sungut, buru-buru Azka mengajak Silvi pergi dari hadapan Aliyah, Bima dan Arumi.
Setelah Azka dan kekasihnya itu pergi, Arumi malah tersenyum senang.
"Kamu baik-baik saja Rum?" Aliyah tampak kawatir pada sahabatnya ini.
"Aku baik-baik saja Al. Lagian aku sudah ikhlas dan menerima semuanya dengan baik, aku yakin aku bisa menjadi Ibu yang baik biarpun tanpa suami," kata Arumi dengan mantap.
Aliyah mengangguk, ia percaya pada sahabatnya yang satu ini. Karena Arumi adalah wanita yang hebat, wanita yang kuat.
Setelah beberapa jam berlalu akhirnya acara pernikahan Aliyah dan Bima selesai, semua tamu sudah pulang, Arumi juga pulang ke luar negeri, kedua orang tua Bima juga langsung pulang, Ayuna juga pulang bersama suster nya, sedangkan Aliyah dan Bima langsung pergi bulan madu hanya untuk beberapa hari sih, Ayuna juga mengizinkannya katanya biar cepat dapat Dede bayi.
***
Aliyah dan Bima sudah sampai di sebuah hotel mewah milik Bima sendiri, malam ini mereka akan menghabiskan malam pertama mereka di hotel ini.
Ayo akan seperti apa malam pertama pengantin baru ini?
Setelah keduanya sudah sama-sama mandi, kini mereka sudah berada di atas ranjang tempat tidur.
"Mas...."
"Sayang, langsung saja ya!" kata Bima, membuat Aliyah bingung.
"Langsung apanya Mas?" tanya Aliyah dengan polosnya.
"Langsung kikuk-kikuk," kata Bima dengan nakal plus jail.
Aliyah malah bengong, kikuk-kikuk apaan?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia