
Keesokan harinya, Bima dan Ayuna sang putri kesayangan sudah berada di depan rumahnya Aliyah. Mereka berdua sedang menunggu Aliyah yang katanya sedang bersiap-siap.
Yang di tunggu malah kesiangan bangun, padahal Bima sudah bilang pagi tapi sekarang sudah jam 9 , pagi menurut Bima itu jam 7 pagi kalau jam 9 menurutnya sudah siang.
"Papa, Kakak Cantik kok lama sekali? Ayuna ada acara berenang sama temen-temen Yuna, Ayuna tidak ikut dengan Papa dan Kakak Cantik ya," kata Ayuna raut wajahnya yang imut sudah terlihat bete karena menunggu Aliyah.
"Loh kamu tidak mau ikut fitting baju pengantin Papa dan Kakak Cantik?" tanya Bima memastikan.
"Tidak mau Pa," tolak Ayuna.
Ayuna berpamitan pada Papanya, setelah itu ia langsung pergi bersama susternya dan di antar oleh supir pribadinya.
Saat dalam perjalanan menuju ke kolam renang, Yuna banyak diam tidak sebawel biasanya dan itu membuat sang suster sangat kawatir padanya.
"Nona cantik, kok diam saja kenapa?" tanya sang Suster pada Ayuna.
"Sus, Papa akan menikah dengan Kakak Cantik. Ayuna bahagia, tapi Ayuna takut Papa tidak akan perhatian lagi dengan Ayuna, nanti Papa lebih perhatian dengan Kakak Cantik," keluh Ayuna. Ada rasa kawatir dalam hatinya, ia juga takut kalau Papanya tidak akan sayang lagi padanya.
Ayuna yang polos, wajar kalau Ayuna berpikir seperti itu.
"Nona cantik, Papa pasti akan selalu sayang pada Nona. Sama Kakak Cantik juga pasti akan menjadi Mama yang baik dan sayang pada Nona," tuturnya pada Ayuna dengan penuh kelembutan.
Ayuna mengangguk, ia percaya karena selama ini Aliyah juga menyayanginya dan berharap setelah menikah dengan Papanya rasa sayang Aliyah padanya jauh lebih besar dan bisa menjadi Ibu sambung yang baik untuknya.
***
Aliyah dan Bima berada di sebuah Butik mewah, ya mereka hari ini fitting baju pengantin untuk acara pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
Bima dan Aliyah di sambut dengan baik oleh para pelayan Butik.
Saat Aliyah sedang mencoba gaun pengantinnya, Bima juga mencoba jas pengantinnya.
Biarpun Bima seorang duda anak satu tapi tetap saja ia menginginkan pernikahan yang mewah, apalagi ia menikah dengan ABG dan tentunya pernikahannya ini harus berkesan.
Ketika keduanya sama-sama sudah selesai mencoba baju pengantin mereka masing-masing, Bima dan Aliyah saling menatap satu sama lain dan tatapan kedua sejoli itu begitu penuh kagum.
Aliyah tampak cantik dengan gaun pengantin berwarna putih bersih dan mahkota kecil yang menghiasi kepalanya, sangat cantik membuat Bima tersenyum bangga. "Tidak salah pilihanku," batinnya dalam hati.
"Cantik...." Bima melempar senyum ke Aliyah.
"Mas juga tampan," sahut Aliyah dengan pipi yang sudah merah karena malu.
Setelah selesai mencoba baju pengantin Masing-masing, Aliyah dan Bima bergegas kembali berganti karena setelah fitting baju pengantin kedua calon pengantin ini mau ke rumahnya Bibi dan Pamannya Aliyah.
Di dalam perjalanan menuju ke rumah Paman dan Bibinya, Aliyah tampak gelisah, ya Aliyah merasa tidak tenang karena beberapa waktu lalu pernah berdebat dengan Paman dan Bibinya karena tidak mau di jodohkan dengan Rona.
Dan ini datang ke rumah membawa Duda anak satu untuk di nikahi, padahal baru saja lulus SMA tapi ya bukannya menikah lebih baik daripada berzina dan akhirnya terjadi hal yang tidak di inginkan. Ya belajar dari kasus Arumi dan Azka saja, pada akhirnya Arumi yang harus menderita dan di usia mudanya sudah harus menjadi Ibu tunggal untuk anaknya nanti.
Sesampainya di rumahnya Paman dan Bibinya, seperti biasanya Aliyah langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu rumah dulu. Bukan tidak sopan, lagian kalau tahu aku yang datang Paman atau Bibi juga tidak akan mau membukakan pintu rumahnya, jadi ada baiknya aku masuk saja lagian pintu rumah juga tidak di kunci karena ada banyak penjaga di luar rumah.
Dan para penjaga rumahnya saat Aliyah datang juga langsung di sambut dengan baik.
Aliyah berjalan menggandeng tangan Bima, ya Bima mengikuti langkah kaki calon istrinya itu.
"Tidak apa-apa Mas, diam saja! Paman dan Bibi sedang marah padaku, jika tahu aku kesini pasti tidak akan di bukakan pintu," ujar Aliyah dengan suara lirih juga.
Aliyah berjalan dengan hati-hati ke ruang tengah, karena tadi kata salah Art di rumah Bibinya bilang kalau Paman dan Bibinya sedang mengobrol di ruang tengah.
Saat mendengar Paman dan Bibinya sedang mengobrol dan sepertinya obrolannya itu begitu serius, Aliyah menghentikan langkah kakinya dan Bima juga melakukan hal yang sama, kini mereka sama-sama menguping obrolan Rita dan Regi itu karena penasaran.
"Pa, tidak sia-sia kita membuat kedua orang tuanya Aliyah mati dalam kecelakaan, aku juga berharap Aliyah mati saja saat itu, eh dia malah masih hidup," ujar Rita pada suaminya.
"Iya Ma, semua harta juga sudah ada di tangan kita. Kita hanya perlu baik-baikin Aliyah, biar dia mau tanda tangan dan akhirnya semua harta milik mereka akan resmi menjadi milik kita," binaran kedua mata Regi begitu bahagia.
Kejam! Padahal Regi adalah kakak dari Mamanya Aliyah, tapi kok tega melakukan hal ini.
Aliyah kaget, ia langsung lemas, orang yang selama ini di anggapnya baik ternyata mereka adalah dalang dari kematian kedua orang tuanya selama ini.
"Ayo Ma, kita pergi ke rumah Aliyah sekarang! Kita minta maaf untuk masalah Rona," kata Regi dan Rita mengangguk semangat.
Saat Regi dan Rita sama-sama beranjak dari tempat duduk, tiba-tiba Aliyah dan Bima muncul membuat Regi dan Rita sangat kaget.
"Tidak perlu ke rumahku, aku sudah ada disini Paman, Bibi," kata Aliyah dengan sorot mata yang padam menyala.
"Aliyah...."
"Emm, kapan kamu datang Nak?" Rita langsung kaget dan sangat gugup, berharap Aliyah tidak mendengar semuanya.
"Aku datang dari tadi...."
Deg! Regi dan Rita tampak sekali ketakutan, Aliyah geleng-geleng kepala sungguh tidak percaya dan sulit di percaya.
"Al..."
"Aku sudah mendengar semuanya, kalian begitu kejam!" geram Aliyah, sangat marah sekali saat ini.
"Kami bisa jelaskan Nak..." Regi mencoba berbicara baik-baik pada Aliyah.
"Jelas apalagi Paman? Jelaskan kalau kalian yang telah membunuh kedua orang tuaku, kalian jahat, hanya karena harta kalian tega membunuh kedua orang tuaku. Manusia laknat, tidak punya hati, dan Paman, apa Paman itu sadar yang Paman bunuh itu adik kandung Paman sendiri, kalian manusia iblis!" Cecar Aliyah menggebu-gebu, kini amarah dari dalam hatinya tidak bisa di bendung lagi.
Bima berusaha menenangkan Aliyah, kini Aliyah sudah berada di pelukan Bima dengan keadaan yang cukup lemas.
"Kalian manusia laknat, aku akan melaporkan kalian ke polisi," kata Bima penuh amarah.
"Eh kamu siapa? Jangan ikut campur masalah keluarga kami!" tatang Rita dengan tatapan sinis pada Bima.
"Aku calon suaminya Aliyah, kalian harus menerima ganjarannya karena kalian sudah membunuh kedua orang tuanya Aliyah," tandas Bima dan langsung menelpon polisi untuk datang ke rumah Paman dan Bibinya Aliyah.
Aliyah menangis di pelukan Bima, di saat ia ingin memberikan kabar pernikahannya pada Paman dan Bibinya tapi malah hal yang begitu menyakitkan harus ia dengar secara jelas, entah apa yang akan terjadi selanjutnya?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia