Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Keluarga Kecil Bahagia


"Yakin tidak penting, berati boleh dong beneran pacaran sama Martin," goda Aliyah membuat Bima langsung melolot tajam.


"Kamu..."


Tatapan Bima berapi-api sama seperti kemarin saat sedang cemburu, sungguh seperti cacing kepanasan. Sungguh lucu duda tampan anak satu ini, ternyata masih bisa main cemburu-cemburuan sama anak SMA yang katanya masih bau kencur.


"Apa? Kan Mas Bima yang sok jual mahal, padahal aku sudah minta maaf," kata Aliyah manja.


"Kamu tidak boleh pacaran sama Martin, aku menyukaimu, setelah kamu lulus sekolah aku akan menikahimu." Bima menatap Aliyah begitu dalam, membuat Aliyah ingin tersenyum pasti malu.


Sungguh! Apa aku tidak salah mendengar? Sungguh Mas Bima akan segera menikahiku, sudahlah aku mau jadi Ibu rumah tangga yang baik hati dan tidak sombong.


"Menikah?" pekik Aliyah tidak percaya.


"Jika Papa menikah dengan Kakak Cantik, maka Kakak Cantik akan menjadi Mamaku. Asik Ayuna akhirnya punya Mama," cetus Ayuna begitu bahagia. Melihat senyum Ayuna yang begitu bahagia, membuat hati Aliyah merasa sedih.


Aku teringat akan masa laluku, jika kecelakaan malam itu tidak terjadi, aku yakin pasti kedua orang tuaku masih ada di sisiku. Masih bersama denganku, menikmati kebahagiaan di dunia bersama. Namun itu hanya angan-anganku saja, karena kedua orang tuaku sudah bahagia di surga sana.


"Iya gadis bau kencur, kamu mau kan menikah denganku?" tanya Bima penuh kemantapan dari dalam hatinya.


"Mau Mas, aku mau menikah denganmu," jawab Aliyah dengan senang hati.


Kini keduanya saling melempar senyum bahagia, Ayuna juga ikut tersenyum. Terlihat sekali seperti keluarga kecil yang bahagia.


Saat Papanya dan Kakak Cantik saling melempar senyum, Ayuna beranjak dari tempat duduknya dan ia masuk ke dalam kamarnya karena tidak ingin menganggu Papanya dan Kakak Cantik, ya sengaja biar mereka berduaan, sungguh anak cantik ini otaknya begitu pintar tahu saja kalau Papanya sedang PDKT.


"Jagalah hatimu untukku! Ingat jangan ganjen sama cowok lain, terutama Martin!" tegas Bima dengan tatapan tajam.


"Martin tampan kan Mas," dengan jail Aliyah kembali mengoda Bima.


"Mulai sekarang hanya Bima yang tampan di matamu! Kamu tidak boleh memuji laki-laki lain di hadapan calon suamimu ini, ingat kita akan segera menikah," ujar Bima pada Aliyah.


"Bilang saja Mas kalau kamu itu cemburu atau kamu memang tidak rela ada laki-laki lain yang dekat-dekat denganku," lanjutnya semakin jail.


Anak bau kencur ini sungguh jail, untung saja Bima sungguh menyukai Aliyah, bahkan rasa cinta saja sudah tumbuh di dalam hatinya hanya saja belum di ungkapan pada Aliyah, sabar Aliyah pasti Mas Bima akan segera mengungkapkan perasaan cintanya padamu, tunggu saja!


"Sudah ah Mas, aku mau pulang, nanti kemalaman aku, lihat matahari saja sudah mulai terbenam dan hari sudah semakin gelap," ujar Aliyah, ia beranjak dari tempat duduknya.


Saat Aliyah melangkahkan kakinya, Bima menatap langit dan benar kata Aliyah hari semakin gelap.


"Aku antar ya," kata Bima.


"Tidak usaha Mas, lima langkah sampai rumah, buat apa di antar?" tolak Aliyah, lalu pulang ke rumah dan Bima tidak jadi mengantarkannya.


Lagian Bima, duda tampan satu ini selalu saja ingin memanjakan Aliyah, rumahnya dekat saja pulang pinginnya nganterin, suka lucu tapi inilah Bima yang sedang jatuh cinta berjuta rasanya.


***


Pagi hari yang cerah, Arumi sudah bangun dari tidurnya, pagi ini ia akan test kehamilan, dengan perasaan yang entah sulit di artikan, Arumi masuk ke dalam kamar mandi.


Arumi kencing, lalu setelah itu ia mencelupkan alat kecil itu ke dalam air kencingnya. Deg-degan menanti hasilnya, Mudah-mudahan negatif ya Tuhan!


Saat garis samar-samar mulai terlihat, hingga dua garis itu sangat jelas terlihat.


"Ya Tuhan, dua garis biru," katanya dengan sok dan tidak percaya.


"Itu tandanya aku hamil," dengan lemas Arumi menjatuhkan tubuhnya ke lantai.


Arumi menangis, menurutnya ia selalu mengunakan pengamanan tapi kenapa aku bisa hamil?


"Aku harus bicara pada Azka," pekik Arumi, ia sangat yakin Azka mau bertanggung jawab akan perbuatannya ini, kan dia dulu ngomongnya akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu.


Arumi buru-buru mandi, lalu ia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah dan ingin segera bertemu dengan Azka untuk mengatakan kehamilannya ini, entah Azka akan seperti apa nanti saat mendengar kabar kehamilan ini?


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia