Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Pulang liburan Azka & Arumi


Satu minggu telah berlalu Arumi dan Azka akhirnya pulang dari acara liburan mereka, setelah pulang dari liburannya Arumi juga langsung datang ke rumah Aliyah selain sangat merindukan Aliyah, Arumi juga membawakan oleh-oleh untuk Aliyah.


"Aliyah....!!"


Mendengar suara yang tidak asing Aliyah yang sedang menonton televisi, ia beranjak dari sofa dan membukakan pintu rumahnya. Saat melihat siapa yang datang? Benar itu adalah Arumi, suara Arumi memang sudah sangat khas di telinganya Aliyah.


"Aliyah aku sangat merindukanmu...!!" Arumi langsung memeluk Aliyah dengan erat dan Aliyah juga membalas pelukan dari Arumi, karena ia juga sama merindukan Arumi yang beberapa hari ini pergi liburan.


Arumi dan Aliyah saling melepaskan pelukan mereka.


"Ayo masuk!" ajak Aliyah dengan senang hati.


Kini mereka sudah duduk di sofa, Arumi memberikan paper-bag yang berisi sebuah tas selempang yang begitu bagus warna hitam supaya netral di pakai nanti oleh Aliyah.


"Ini untukmu, Al," kata Arumi memberikan paper-bag yang ada di tangannya pada Aliyah.


"Ini apa Rum?" Aliyah menerimanya tapi ia juga penasaran apa isinya?" Aliyah membukanya, saat melihat isinya ia tersenyum senang. "Terimakasih ya Arumi," katanya sangat senang melihat oleh-oleh dari Arumi.


"Sama-sama Al, oh iya Al aku pasti banyak ketinggalan pelajaran, nanti aku pinjam buku catatan kamu ya," kata Arumi sambil memakan cemilan yang ada di toples, ya itu kue bawang cemilan kesukaan Aliyah, tapi Arumi juga suka.


"Iya Rum, itu kue bawang aku, jangan di habisin!" pinta Aliyah, ia tahu pasti Arumi bakal ngabisin kue bawang itu. Tapi tidak apa-apa, itu sudah sering kali terjadi.


"Nanti aku ganti Al," jawab Arumi enteng.


Kini keduanya sama-sama diam, Arumi juga hanya fokus makan kue bawang di toples dengan nikmat. Sejenak Aliyah memperhatikan tubuh mungil milik Arumi ya terlihat semakin segar dan Arumi juga tampak lebih montok, badannya juga semakin berisi menurut Aliyah.


"Rum, badan kamu segeran ya," kata Aliyah dengan hati-hati, sungguh ia takut menyinggung perasaan sahabatnya ini.


"Ehh masa? Mungkin karena nafsu makan aku akhir-akhir ini kuat Al, apalagi saat berlibur sama Azka, aku makan tidak di jaga sama sekali. Apapun aku makan," jawab Arumi dengan alasan yang menurutnya tepat. Apa ini pengaruh karena aku seringkali melakukan hubungan suami istri? Entah aku juga tidak tahu, tapi memang aku juga merasa tubuhku sekarang sudah sangat berubah.


Aliyah mengangguk, ia hanya bisa menelan pikirannya sendiri, ingin bicara lebih lanjut ia takut kalau sahabatnya ini akan marah atau tersinggung.


"Aku lebih dekat dengan anaknya, kalau sama Papanya aku masih terlalu canggung, tapi sepertinya Papanya itu sudah mulai memberikan sinyal untukku," cerita Aliyahh sangat bersemangat pada Arumi.


"Cie, deketin anaknya terus dapatkan hati bapaknya, oh iya kamu sungguh sayang sama Ayuna atau hanya untuk mendekati bapaknya saja?" Arumi bertanya lebih lanjut, ia sangat penasaran akan kisah cinta sahabatnya bersama duda tampan pujaan hatinya.


"Arumi aku tulus menyayangi Ayuna, jika suatu saat aku sungguh menjadi Ibu tirinya, aku pasti akan menyayanginya seperti aku menyayangi anakku sendiri," ujar Aliyah dengan tulus dari hatinya.


Aliyah memang tulus menyayangi Ayuna dari awal bertemu dengan Ayuna.


"Al, kamu sungguh keibuan sekali," puji Arumi penuh rasa kagum.


Saat melihat Ayuna, Aliyah merasa seperti dirinya di masa lalu, kalau Aliyah memang di tinggal selamanya oleh kedua orang tuanya dari kecil, sedangkan Ayuna lebih menyakitkan Ibunya masih ada di dunia ini tapi Ayuna tidak pernah mendapatkan kasih sayang sedikitpun dari Ibunya, malang sekali nasibnya Ayuna.


"Tok.....to.......!!"


Terdengar suara ketukan pintu, Aliyah dan Arumi saling menatap satu sama lain.


"Siapa Al yang datang?" tanya Arumi pada Aliyah.


"Aku juga tidak tahu," jawab Aliyah dan beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu rumahnya.


Aliyah melangkahkan kakinya menuju ke pintu, lalu ia membuka pintu dengan hati-hati.


"Ceklek....."


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia