Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Cinta Itu Buta & Tuli


"Kalau tidak..."


"Sayang, ini mie instan kamu," mata Arumi berbinar-binar terlihat dia sangat bahagia sekali saat melihat Azka.


Aliyah memilih diam dan tidak melanjutkan kata-katanya lagi.


"Apa yang kalian obrolankan sepertinya serius sekali?" tanya Arumi merasa penasaran, ia menaruh mie instan buatannya di atas meja.


Azka melirik Aliyah, ia memasang wajah agak jutek tapi Aliyah begitu tenang.


"Hanya sedang membahas orang kalau sedang jatuh cinta tai kucing saja rasanya coklat," cetus Aliyah menyindir Azka dengan tatapan kecil tapi tampak sinis.


Azka mulai mengaduk mie instannya lalu ia melahap mie instan itu dengan senang santai. Arumi menatap Aliyah lembut, ia juga masih pakai lingerie seksi. "Risih sekali melihatnya," batin Aliyah dalam dalam hati.


"Al darimana kamu tahu? Apakah kamu pernah memakan tai kucing?" tatapan Arumi begitu polos.


"Makan gombalan laki-laki, ia tai kucing itu rasanya seperti itu," celetuk Aliyah semakin ngawur. Arumi aku tidak mau masa depan kamu hancur, tapi aku harus bagaimana?


Arumi malah semakin bingung sedangkan Azka dengan nikmat menikmati mie instan buatan sang kekasih hatinya.


"Al, memangnya ada laki-laki yang mau menggombalimu? Kamu saja selalu bersikap jual mahal dengan laki-laki yang mendekatimu," ujar Azka dengan santainya.


"Setidaknya memang seorang perempuan itu harus jual mahalkan. Buat apa percaya dengan laki-laki dan gombalannya itu? To itu juga kadang hanya untuk kepentingan nafsu mereka saja," sindir Aliyah dengan harapan Azka akan sadar.


Azka yang tiba-tiba sangat geram dengan Aliyah, ia melirik Aliyah lalu menatapnya dengan sorot mata tajam, tapi Aliyah cuek dan tampak santai saja.


"Kenapa? Kamu merasa tersindir," cibir Aliyah dengan nada menekan.


"Al, kamu...."


Arumi langsung mendekati Azka, lalu memegang tangannya dengan erat dan penuh cinta.


"Sayang, kamu makan saja! Aku mau bicara dengan Aliyah dulu," kata Arumi dengan nada lembut. Azka berapi-api, rasanya ingin sekali marah pada Aliyah tapi Arumi langsung menahannya.


Arumi buru-buru mengajak Aliyah ke kamarnya, Aliyah dan Arumi masuk ke kamar Arumi. Di dalam kamar keduanya sama-sama duduk di tepi ranjang tempat tidur.


Melihat pemandangan kamar Arumi, itu kamarnya cukup berantakan dan dalaman milik seorang laki-laki ada di lantai, mungkin itu milik Azka pikir Aliyah. Aliyah menggelengkan kepalanya, sungguh sahabatnya ini kenapa menjadi seperti ini?


"Rum,"


Aliyah mengangguk. "Kamu mau bicara apa?" jawabnya dengan santai, ia tidak takut dengan Arumi yang saat ini tampak sedang marah.


Arumi menarik nafasnya pelan-pelan, lalu ia menyakinkan hatinya dengan mantap. Entah apa yang akan terjadi? Arumi juga sudah siap.


"Al, aku dan Azka itu sudah sama-sama besar, kita tahu mana yang baik dan tidak. Aku mohon kamu tidak usah ikut campur dalam masalah percintaan Aku dan Azka," pinta Arumi, menurutnya Aliyah sudah terlalu ikut campur masalah percintaan dengan Azka. Risih rasanya, lagian dia itu bukan orang tuaku juga.


"Baiklah, aku tidak akan ikut campur akan masalah percintaan kamu dengan Azka lagi, tapi aku minta saat kamu ada masalah dengannya jangan pernah datang padaku!" ujar Aliyah dengan tegas. Suatu saat jika terjadi sesuatu kamu pasti akan datang padaku dan nangis-nangis di hadapanku, aku yakin kata-kata yang sekarang keluar dari dalam mulutmu itu akan menjadi sebuah penyesalan di dalam hidup kamu kelak Rumi.


Sanking cintanya sama Azka, Arumi bahkan tidak pernah mendengarkan nasehat dari sahabatnya sendiri.


"Aku tidak akan datang padamu, karena aku tahu Azka begitu mencintaiku," pungkas Arumi dengan yakin.


Cinta! Cinta itu bisa datang dan pergi kapan saja, jika Azka sungguh mencintaimu ia tidak mungkin merusak masa depanmu Rum. Mungkin ini yang di namakan kalau cinta itu buta dan tuli.


"Baguslah," tandas Aliyah santai. Lihat saja ke depannya akan seperti apa?


Setelah berbicara panjang lebar akhirnya Arumi dan Aliyah keluar dari dalam kamar Arumi. Azka sudah selesai makan mie instannya.


Karena tidak ingin menganggu sahabatnya dan kekasihnya itu bermesraan, akhirnya Aliyah memilih untuk pulang.


Saat Aliyah melangkah kakinya keluar dari dalam rumah Arumi, ia melihat Bima ada di depan rumahnya berdiri sendirian.


"Mas Bima sedang apa di depan rumahku?" Aliyah mempercepat langkah kakinya.


"Mas Bima....."


Mendengar suara yang tidak asing Bima menoleh ke sumber suara.


"Aliyah...." tiba-tiba Bima gagap.


Entah ada perlu apa Bima datang ke rumah Aliyah?


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia