Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Terbayang-bayang


Pagi yang cerah kini telah datang, angin pagi ini berhembus begitu sejuk, sangat menyejukkan hati yang sedang kosong ini.


Aliyah yang sudah rapi dengan setelan baju sekolahnya, ia bernyanyi-nyanyi lagi ini ia tampak bahagia sekali.


"Kenapa aku jadi terbayang-bayang wajah tampannya, Aliyah lama-lama kamu akan gila." Aliyah bernyanyi, entah lagu apa yang dia nyanyikan yang jelas ini lagu ciptaannya dan sedang mengambarkan isi hatinya sendiri.


Saat sedang asik bernyanyi tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata itu telpon dari Arumi, Aliyah meraih ponselnya yang ia taruh di atas nakas dekat tempat tidurnya, lalu mengangkatnya.


"Hallo Rum, ada apa tumben nelpon pagi-pagi," tanya Aliyah dengan nada cempreng, membuat Arumi langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Al, hari ini aku tidak masuk sekolah, aku sedang liburan bersama dengan Azka, oh iya izinkan aku pada wali kelas ya kalau aku sedang sakit," jawab Arumi dari sebrang sana.


Aliya terdiam sejenak, kapan mereka berangkat liburan? Perasaan kemarin hanya ingin pergi jalan-jalan saja, Arumi ini sudah kelewatan, bagaimana kalau ada apa-apa denganmu? Aliyah sangat menghawatirkan sahabatnya ini.


"Al, kenapa kamu malah diam?" tanyanya dengan nada kesal.


"Rum, kamu liburan kemana? Terus orang tua kamu tahu tidak?" Aliyah begitu bawel.


"Ke daerah pengunungan Al, tidak Al. Kalau orang tuaku tahu bisa ngamuk mereka, jangan kasih tahu Mama dan Papa ya Al!" pintannya pada Aliyah.


"Iya Rum, aku tutup dulu ya telponnya. Aku mau berangkat sekolah," pamit Aliyah dan mematikan saluran telponnya.


Setelah Aliyah menutup telponnya, Azka mendekati Arumi yang kini berada di atas ranjang tempat tidur.


"Sayang, kenapa kamu selalu menggodaku sih?" tatapan mata Azka cukup dalam, bibirnya dengan nakal menciumi bagian dada milik Arumi.


Arumi hanya diam dan menikmatinya, padahal tubuhnya sudah hampir semua di penuhi dengan warna merah karena ulah Azka, tapi Arumi tidak perduli, ia benar-benar sudah rusak dan sangat percaya dengan kata-kata manis Azka.


"Sayang geli, kamu mau ngapain?" lirih Arumi dengan nada nakal.


"Kalau seperti ini rasanya aku tidak kuat sayang, aku harus menuntaskankannya sekarang, milikku sudah sangat tegang," kata Azka pada Arumi.


"Tapi aku capek, kan semalam sudah dua kali, kamu dari kemarin minta terus," keluh Arumi pada Azka.


"Soalnya aku minum jamu sayang, jadinya kuat dan tahan lama," kata Azka yang kini kembali menyerang tubuh mulus Arumi.


Arumi lagi-lagi tidak menolak, ya biarpun capek tapi rasanya sangat nagih dan enak sekali. Punya Azka memang sangat memuaskan dan tahan lama.


Kini mereka kembali bergulat di atas ranjang tempat tidur, Azka juga tidak lupa memakai alat pengaman agar tidak tumpah-tumpah.


Dalam hati Azka, punya pacar seperti Arumi itu bahagia, ia rela di garap kapan saja, di kamar mandi sekolahan saja dia mau. Saat mendesak di mobil saja dia mau, Arumi kamu begitu hebat dan aku sangat menyukai semua ini. Bahkan saat Arumi sedang pingin saja ia tidak malu mengatakannya langsung pada Azka.


***


Aliyah keluar dari dalam rumahnya, tiba-tiba Bima melambaikan tangannya pada Aliyah.


"Al, mau berangkat sekolah ya," sapa Bima pada Aliyah.


"Iya mau berangkat sekolah," sahut Aliyah dengan nada agak keras.


"Ayo aku antar!" kata Bima, Aliyah menajamkan pendengarannya, apa ini tidak salah dengar?


"Aliyah, ayo aku antar sekolah," kata Bima untuk kedua kalinya.


Aliyah mengangguk, ini benar pendengaranku tidak salah, asik berangkat sekolah di antar sama duda tampan pujaan hati. Aliyah, ini adalah kesempatan yang di tunggu-tunggu.


Aliyah melangkahkan kakinya ke mobil Bima, lalu Bima dengan senang membukakan pintu mobilnya untuk Aliyah.


Aliyah naik ke dalam mobil, setelah Aliyah naik, Bima juga naik ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya ke sekolah Aliyah.


Ayuna dan Bi Wati yang ternyata melihat Bima dan Aliyah berangkat bersama mereka saling melempar senyum bahagia.


"Bi, Papa berangkat sama Kakak Cantik, apa itu tandanya Papa akan menikah dengan Kakak Cantik, Bi?'' tanya Ayuna dengan polosnya.


Wati tersenyum lalu membelai pipi mulus anak cantik yang ada di hadapannya ini.


"Yuna cantik, itu semua nanti Papa dan Kakak Cantik yang akan menentukan nak. Kan Kakak Cantik juga masih sekolah, jadi belum boleh untuk menikah," tutur Wati pada Ayuna.


"Oh iya Bi, kata Papa, Papa mau cari Mama sambung untuk Yuna, tapi nyarinya dimana Bi? Di toko online kata Papa tidak ada," ujar Ayuna dengan begitu lucu, membuat Wati tertawa mendengarnya.


"Nak, Mama sambung itu tidak terjual di toko online," tutur Wati dengan nada lembut. Kasian Ayuna, dia pasti ingin punya Mama seperti anak-anak lainnya. Mudah-mudahan Tuan Bima cepat menemukan jodohnya, agar Ayuna bisa punya Mama seperti anak-anak lainnya.


Ayuna terdiam sejenak, ia masih kepikiran akan mencari Mama sambung dimana?


"Bibi, apa Bibi tahu seperti apa wajah Ibuku?" tanya Ayuna tiba-tiba, membuat Wati sedih dan matanya langsung berkaca-kaca.


"Tapi Ibuku tidak pernah datang Bi," keluh Ayuna sedih.


"Yuna, mungkin Ibu sedang sibuk. Bagaimana kalau Ayuna mandi, nanti Bibi ajak beli es krim," hiburnya agar Yuna tidak sedih lagi.


Ayuna mengangguk semangat, ia bergegas untuk pergi mandi dan melupakan semuanya kesedihan dalam hatinya.


****


Sesampainya di depan sekolahan Aliyah, Bima menghentikan mobilnya lalu ia turun dari dalam mobilnya dan membukakan pintu mobilnya untuk Aliyah.


Saat Bima turun banyak para gadis cantik yang melihatnya dan merasa kagum para parasnya yang sangat tampan itu..


"Tampan sekali.".


"Apa itu pacarnya Aliyah?"


"Pantesan Aliyah tidak mau di dekati olehku, ternyata dia sudah punya kekasih yang sangat tampan," timpal Ivan, salah satu laki-laki yang suka sama Aliyah sejak lama.


"Ivan, kamu bukan tandingannya, lihat mobilnya saja sangat mewah. Aku rasa laki-laki itu dari kalangan sosialita," sambung temannya Ivan.


Ivan mendengus kesal, ia selama ini berusaha mendekati Aliyah tapi Aliyah tidak pernah memberikan respon kepada Ivan. Selain Aliyah yang terlalu males nanggepin Ivan, Aliyah tahu kalau Ivan itu suka sekali mainin cowok.


"Terimakasih ya Tuan...." kata Aliyah pada Bima.


"Sama-sama, oh iya kamu ada uang saku tidak?" tanya Bima, lagaknya seperti bertanya kepada anak kecil saja.


Aliyah tertawa, apa duda tampan ini sedang meledekku?


"Punyalah Tuan," jawab Aliyah sambil nyengir.


Bima mengeluarkan dompetnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada Aliyah.


"Ini untuk apa, Tuan?" tanya Aliyah bingung, tapi dia menerima uang itu dari Bima.


"Buat jajan kamu anak kecil," jawabnya yang diiringi senyum jail. .


Setelah memberikan uang jajan pada Aliyah, Bima kembali menaiki mobilnya dan segera menuju ke kantornya.


Sedangkan Aliyah langsung masuk ke kelas sambil senyam-senyum.


"Lucu sekali Tuan Duda ini, aku kasih uang jajan, Astaga aku berasa seperti anak kecil yang di antar oleh Papanya ke sekolah," kata Aliyah sambil jalan ke kelasnya.


Ivan melewati Aliyah, lalu ia menghentikan langkah kakinya tepat di samping Aliyah.


"Aliyah....!!"


"Ivan, kenapa?"


"Aku mau...."


"Mau apa?" sorot mata Aliyah menajam sempurna kenapa Ivan.


"Mau ngajak kamu jalan, apakah kamu mau?" Ivan bertanya dengan percaya diri, senyuman Ivan juga penuh harap pada Aliyah.


"Kamu mau ngajak jalan aku, lalu Devina bagaimana?" tanya Aliyah tanpa basa-basi, Aliyah paham Ivan itu seperti apa?


Ivan terdiam, ia terlihat sedang berpikir keras dan itu membuat Aliyah tersenyum tengil.


"Al, aku sudah putus dengan Devina, aku suka sama kamu sudah lama," ujar Ivan pada Aliyah.


Andi yang tidak lain adalah sahabat dekatnya Ivan, ia hanya diam saja di samping Ivan. Enggan ikut campur kalau urusan cinta-cintaan, lagian kisah percintaannya dirinya di SMA ini juga gak ada yang benar juga.


"Oh, udah putus to," sahut Aliyah cuek.


"Al, aku mau ajak jalan kamu, kamu mau tidak?" tanya Ivan lagi, berharap Aliyah tidak menolak ajakan dirinya ini. Selama ini tidak ada gadis yang menolak saat aku ajak jalan, jadi Aliyah juga harusnya tidak menolak.


Ivan mengedipkan satu matanya dengan genit, sungguh itu membuat Aliyah merasa jijik dan kesal kepada Ivan. Dasar Ivan buaya darat.


"Ivan, aku....."


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia