
Beberapa hari telah berlalu.
Pagi yang cerah Aliyah sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, hari ini adalah hari ujian pertama untuk kelulusan sekolah.
Aliyah kurang semangat karena sang duda pujaan hati dan calon anak tirinya sudah lama tak menganggu dirinya, ya mereka masih marah karena kejadian dengan Martin waktu itu. Aduh ternyata hal yang aku anggap bercanda, kini malah membuatku tidak tenang, aku berharap Mas Bima belum punya calon Mama pengantin untuk Ayuna, jika sampai ada akan aku bantai dengan cara apapun, kalau perlu aku kasih racun tikus.
Setelah selesai bersiap-siap Aliyah menghala nafas pelan dan berdoa mudah-mudahan ujian hari ini lancar.
Aliyah melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumahnya, tiba-tiba ia melihat Arum duduk di depan teras rumahnya. Tidak biasanya pagi-pagi seperti ini Arumi datang ke rumahnya, biasanya kan dia berangkat ke sekolah di jemput oleh Azka.
"Rum," lirih Aliyah, ia mengunci pintu rumahnya.
"Al, kamu apa kabar?" Arumi menatap Aliyah cukup lama.
"Aku baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya? Semenjak sama Azka kamu banyak berubah," kata Aliyah jujur.
Arumi terdiam, pagi ini ia telihat sangat pucat, apa dia sakit? Aliyah hanya memperhatikan saja.
"Hoek..hoek..."
Arumi tiba-tiba muntah-muntah, membuat Aliyah langsung kawatir.
"Hoek..hoek..hoek...!"
"Rum, apa kamu sakit?" dengan hati-hati Aliyah memijat tekuk leher Arumi.
Arumi terdiam, ia duduk sambil memegangi perutnya yang rasanya masih sangat mual dan ingin muntah lagi.
Aliyah meraih aqua gelas yang ada di atas meja kecil, lalu menusuknya dengan sedotan dan buru-buru memberikan kepada Arumi. "Minumlah Rum!" titah Aliyah dengan nada lembut.
Arumi meminumnya, setelah sudah ia memberikan kembali minuman itu kepada Aliyah. Aliyah menerimanya, lalu menaruh kembali ke atas meja.
"Rum, apa kamu sakit?" tanya Aliyah sangat kawatir pada sahabatnya ini.
Arumi menggelengkan kepalanya. "Ayo kita berangkat nanti terlambat ini kan hari pertama ujian," ajak Arumi dan Aliyah mengangguk.
***
"Hallo sayang," sapanya mesra pada Arumi dan terlihat cuek pada Aliyah.
Tapi Aliyah sedikitpun tak memasukan hati akan sikap Azka padanya, baginya yang penting Arumi bahagia dengan Azka.
"Sayang, aku sakit muntah-muntah terus dari tadi," aduh Arumi dengan manja pada Azka.
"Kamu telat makan pasti," tebak Azka penuh rasa kawatir.
"Rum, aku ke kelas duluan ya," pamit Aliyah, rasanya seperti obat nyamuk, aku bahkan tak di anggap.
Setengah jam telah berlalu, ujian sekolah pun sedang di laksanakan di dalam kelas, Aliyah sangat fokus mengerjakan semua soal-soal ujiannya. Azka juga terlihat sangat fokus, sedangkan Arumi terlihat tidak tenang dan dari tadi rasanya ingin muntah terus.
Dua jam kemudian ujian pelajaran pertama akhirnya selesai, Arumi langsung bergegas berlari ke dalam kamar mandi.
Azka malah langsung pergi ke kantin karena lapar, Aliyah mengejar Arumi ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Aliyah terlihat sangat kawatir pada Arumi, wajahnya sangat pucat dan Arumi terlihat sangat lemas.
"Rum, kita periksa saja ya!" ajak Aliyah dengan nada lembut.
"Aku tidak apa-apa Al, ini hanya masuk angin saja karena aku telat makan," jawab Arumi dengan nada lembut.
Akhirnya mereka kembali ke dalam kelas.
***
Setelah beberapa jam berlalu akhirnya ujian hari pertama ini selesai, Arumi dan Aliyah pulang bareng sudah lama kan mereka tidak pulang bareng, sedangkan Azka tumben sekali tidak mengajak Arumi pulang bareng.
Bersambung
Mampir yuk ke kayanya temannya Asti 🙏