
Pagi yang begitu cerah, Aliyah terbangun dari tidurnya dan kedua matanya tampak sebab karena menangis semalaman.
"Selamat pagi nak," terdengar samar-samar suara yang tidak asing.
Aliyah mencari suara itu, ia menatap jendela rumahnya dan ia melihat Mamanya sedang tersenyum sambil melihatnya.
"Mama.....!!" Aliyah menatapnya dengan lekat. Ia beranjak dari tempat tidur, ia berjalan menghampiri bayangan itu dan bayangan itu semakin jauh, ingin ia gapai dan ia peluk namun bayangan itu tiba-tiba semakin jauh.
"Jangan sedih anakku....!!" katanya sambil melambaikan tangan ke Aliyah.
"Mama....Mama......!!" isak tangis Aliyah kembali pecah.
Mungkin karena terlalu merindukan Mamanya, hingga bayangan Mamanya tiba-tiba hadir untuk menemuinya.
"Kenapa dulu Mama dan Papa tidak membawaku pergi bersama kalian?" kata Aliyah yang diiringi isak tangis.
"Kalian tega meninggalkan aku sendirian, aku kesepian setiap hari," lanjutnya dan Aliyah saat ini tersungkur di lantai.
Setelah 10 menit berlalu, Aliyah akhirnya beranjak dari lantai, lalu ia bergegas mandi. Ia yakin kalau tadi hanyalah sebuah bayangan saja, tidak mungkin kan orang sudah meninggal datang kembali ke dunia ini.
Setelah selesai mandi, Aliyah langsung siap-siap untuk pergi ke sekolah.
"Aliyahhhh......!!"
Mendengar suara sahabatnya, Aliyah bergegas keluar dari dalam rumahnya.
"Al, kamu habis nangis ya?" Arumi tampak kawatir melihat kedua mata Aliyah yang begitu sembah.
"Rum, aku merindukan kedua orang tuaku," kata Aliyah dan kembali menitikkan air matanya, tanpa berpikir panjang Arumi memeluk Aliyah dengan erat.
"Sabar ya Al, kedua orang tuamu sudah bahagia di surga sana. Kamu doakan saja mereka saat kamu merindukan mereka," nasehat Arumi untuk Aliyah.
Arumi melepaskan Aliyah dari pelukannya, lalu ia menghapus air mata Aliyah dengan kedua tangannya.
"Jangan menangis, nanti cantiknya hilang, kalau kamu nangis nanti Mama dan Papa kamu juga sedih," hibur Arumi berharap sahabatnya ini tidak sedih lagi.
"Ayo berangkat sekolah...!!"
Arumi dan Aliyah berjalan berdampingan menuju ke sekolah.
****
Bima dan Ayuna sedang menikmati sarapan pagi berdua. Seperti biasanya mereka hanya sarapan pagi berdua, Ayuna tampak sedih, tapi Bima tidak tahu kenapa?
"Anak Papa, kok kamu kelihatan sedih?" tanya Bima dengan nada lembut.
"Papa, aku pingin lihat Mama, apa Mama aku cantik Pa? Lalu Mama aku dimana Pa?" tanya Ayuna pada Bima, anak kecil ini bertanya sangat polos.
Bima menarik nafasnya pelan, di usaplah pipi mulus Ayuna dengan lembut.
"Yuna, Mama masih sibuk, nanti kalau sudah tidak sibuk pasti Mama datang menemui nak," ujar Bima dengan nada lembut. Ada rasa kecewa yang cukup dalam pada Rika, tapi Bima bisa apa? Pernah Bima mengatakan kalau Bima dan Ayuna akan datang berkunjung ke rumahnya, tapi dengan tegas Rika tidak memperbolehkan mereka datang.
Rika sudah terlalu bahagia dengan hidupnya, ia enggan memikirkan masa lalunya. Baginya anak dari suami barunya saja sudah cukup. Anaknya Bima mah biarin di urus oleh Bima.
"Ini sudah ulang tahun ke 4 tahun Yuna Pa, terus Mama akan datang ke ulang tahun Yuna yang ke berapa Pa? Apa tunggu Yuna mati dulu, baru Mama akan datang melihat Yuna," begitu sedih saat Yuna mengatakan hal itu pada Bima.
Dalam hati Bima, Rika kamu benar-benar keterlaluan, aku akui kamu marah karena hak asuh anak jatuh ke tanganku tapi itu semua kamu yang mau, dengan alasan di pernikahanmu itu tidak boleh membawa anak. Aku terima semua itu demi kebahagiaanmu, tapi kenapa kamu sedikit saja tidak mau melihat Ayuna? Kasian dia padahal dia tidak punya dosa apa-apa.
"Papa, apa Mama baru itu bisa di beli Pa?" dengan polosnya Yuna bertanya seperti ini pada Bima.
Bima menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana cara menjelaskan semuanya pada anak kecil ini?
"Tidak di beli sayang, tapi kita cari," jawab Bima dengan nada lembut.
"Cari dimana Pa? Apa di toko online ada Pa?" tanya Ayuna, semakin membuat Bima geleng-geleng kepala dan ada rasa gemas.
Beginilah kalau bicara pada anak kecil yang masih terlalu polos harus sabar.
"Tidak ada nak, kita cari di sekitar komplek saja, siapa tahu ada yang bersedia menjadi Mama kamu, nak," ujar Bima pada putrinya.
Ayuna mengangguk, ia tampak berpikir keras. Sejenak ia terdiam dan entahlah apa yang sedang ia pikirkan?
"Papa, apa Kakak Cantik bisa menjadi Mamaku?" tanya Ayuna setelah berpikir panjang, hampir saja Bima tersedak saat sedang minum.
Antara senang dan bingung, apalagi Aliyah itu masih sekolah dan apakah dia mau menjadi Mama sambung untuk Ayuna? Bima juga tidak yakin, ya biarpun ada sedikit rasa ketertarikan pada gadis itu tapi Bima juga tidak yakin kalau Aliyah akan mau dengan dirinya.
"Ayuna, Kakak Cantik itu masih sekolah, dia belum boleh menikah," tutur Bima dengan nada lembut.
"Apa menjadi Mama itu harus menikah Pa?" tanya Ayuna pada Papanya. Ini anak ada saja pertanyaan yang membuat Bima harus berpikir keras.
"Iya nak, harus menikah," jawab Bima.
"Terus kenapa Papa tidak menikah saja dengan Kakak Cantik, biar Ayuna punya Mama," ujar Ayuna yang lagi-lagi sangat polos.
Bima mengusap pucuk rambut Ayuna dengan lembut. Lalu mencium keningnya dengan lembut juga.
"Akan Papa pikirkan nak, sekarang Papa berangkat kerja dulu ya nak," pamitnya pada Ayuna dan Ayuna mengangguk, tak lupa ia salim pada Papanya lalu mencium punggung tangan Papanya.
Bima berangkat ke kantor mengunakan mobil, sambil menyetir ia tersenyum mengingat kelucuan anaknya tadi di meja makan.
Sesampainya di kantor, Bima langsung di sibukkan dengan pekerjaan kantornya. Ia di bantu oleh sekretarisnya yang cantik namanya Sena.
"Tuan, tumben telat datangnya?" tanya Sena, biasanya Bima tidak pernah terlambat.
"Biasalah Sen, putri aku tadi agak bawel," jawab Bima, Sena tahu kalau Bima ini seorang duda anak satu.
"Kenapa Tuan, tidak mencarikan Mama saja untuk putri Tuan?" tanya Sena, dalam hatinya. "Aku juga bersedia menjadi Mamanya, apalagi Tuan Bima sangat kaya raya dan jika aku menjadi istrinya pasti hidupku akan enak."
Bima mengangguk, tapi dia tidak menjawab apa-apa dan hanya fokus dengan laptopnya.
Sena juga sedang sibuk merapikan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya Bima.
"Apa Tuan tidak ada niatan mencari istri lagi?" Sena kembali bertanya.
"Itu sedang aku pikirkan Sen, tapikan mencari istri itu tidak mudah. Apalagi dengan status aku yang duda anak satu ini, jarang sekali perempuan yang bisa menerima anak tiri dengan baik. Mungkin dia akan mencintai Papanya setulus hati tapi tidak anaknya, aku takut anakku jadi korban jika aku memilih perempuan yang salah," jawab Bima panjang lebar.
Tapi ada benarnya juga sih, mencari perempuan yang bisa menerima statusnya saat ini tidaklah mudah jadi Bima betah dengan status dudanya yang sudah bertahun-tahun ini.
Sena tersenyum, dalam hatinya Tuan Bima dengan senang hati aku menerima status Tuan dan anak Tuan dengan baik, tapi sayangnya duda satu anak ini tidak pernah melihat perhatianku sedikitpun dari dulu. Padahal aku selalu berusaha mendekatinya untuk mendapatkan hatinya, tapi belum juga aku dapatkan hatinya sampai saat ini.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia