Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Siapa Yang Mau Kuliah?


Setelah sekian lama menunggu akhirnya jarum jam dinding menunjukkan pukul 4 sore, Bima sudah ada di depan rumahnya untuk menjemput Aliyah ke rumahnya. Perias khusus dan gaun untuk di kenakan malam ini juga sudah di siapkan oleh Bima.


Saat melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya debaran hati Aliyah cukup kencang. Beginikah rasanya saat mau bertemu dengan laki-laki pujaan hati.


Sebelum membuka pintu rumahnya, Aliyah lebih dulu mengintip dari cela, ia membuka sedikit gorden yang menutupi jendela dan kedua matanya terbuka lebar saat duda pujaan hatinya sudah duduk di depan rumahnya.


"Al, dia begitu tampan," sambil cengar-cengir Aliyah berbicara sendiri.


Bima yang sudah menunggu Aliyah kira-kira sekitar 5 menit, ia mendengus kesal karena Aliyah tidak kunjung keluar dari dalam rumahnya. "Apa yang bocah itu lakukan di dalam? Sehingga dia begitu lama sekali," batin Bima dalam hatinya.


Aduh Bima baru 5 menit sudah bilang lama, apalagi kalau di suruh menunggu Aliyah lulus sekolah atau kuliah? Apakah duda tampan ini akan kuat? Entahlah hanya Bima yang tahu kalau hal ini.


"Ceklek...." akhirnya terdengar suara pintu, membuat hati Bima merasa lega. "Akhirnya keluar juga bocah ingusan ini," batin Bima dalam hati.


"Mas Bima, maaf ya menunggu lama," kata Aliyah basa-basi karena merasa gugup.


"Tidak apa-apa kok, hanya 5 menit tidak lama," j


sahut Bima berbohong.


Giliran Aliyah belum keluar katanya lama, sekarang pas ada orangnya bilangnya tidak apa-apa, dasar laki-laki rata-rata seperti itu.


Tanpa menunggu lama, Bima langsung mengajak Aliyah ke rumahnya. Sesampainya di rumah Bima, Aliyah agak kagok apalagi saat melihat rumah mewah itu begitu sepi, tidak biasanya sesepi ini penghuni yang lainnya kemana kira-kira?


Aliyah menghentikan langkah kakinya, karena Bima juga menghentikan langkah kakinya. Kini kedua mata mereka saling menatap canggung.


"Emm Ayuna, kemana Mas?" tanya Aliyah, aduh kenapa aku semakin gugup sih. Jantungku berhenti dong jangan berdebar terus. Tunggu-tunggu kalau berhenti berarti aku mati dong, aduh Aliyah jangan mati dulu lihat duda tampan pujuan hati sudah ada di depan mata, apa kamu tidak ingin menikahnya?


"Sedang jalan-jalan," jawab Bima singkat. Ia juga sebenarnya sangat gugup tapi mencoba untuk santai.


Aliyah langsung di rias secantik mungkin sedangkan Bima mandi dulu dan bersiap-siap untuk pergi ke acara kantor.


Dua jam telah berlalu, Aliyah tampak cantik dan sangat anggun dengan gaun berwarna putih bersih yang panjangnya selutut. Riasan yang begitu natural membuat kecantikannya semakin terpancar, rambut yang di cepol agak berantakan dan di kasih hiasan rambut membuat Aliyah malam ini secantik bidadari yang turun dari kayangan.


Bima tak berkedip sama sekali, membuat Aliyah malu dan menundukkan kepalanya. "Aku tidak cantik ya Mas?" tanyanya dengan suara lirih.


"Emm tidak, kamu cantik kok," sangat gugup saat menjawab pertanyaan dari Aliyah.


Perias langsung pulang dan tidak lupa Bima membayar jasanya dengan mahal, apalagi sudah membuat Aliyah secantik ini. Tapi tanpa make-up Aliyah juga sudah cantik sih.


Malam menunjukkan pukul setengah 7, Bima dan Aliyah pergi ke acara kantor Bima dengan mobil, Bima menyetir sendiri, karena memang ini salah satu tujuannya yaitu bisa berduaan dengan Aliyah tanpa ada yang menganggunya.


Di dalam mobil terasa hening, Aliyah juga tidak tahu mau ngobrol apaan? Ia hanya fokus melihat jalanan yang malam ini tampak sepi.


"Emm Al, kamu kapan lulusan?" tanya Bima, membuat Aliyah menoleh gugup.


"Dua bulan lagi, Mas," jawabnya dengan nada lembut, ya biasa di hadapan calon suami itu tidak boleh cempreng.


"Kamu mau kuliah dimana?" tanya Bima serius.


"Hahh, siapa bilang aku mau kuliah, Mas?" Aliyah malah bertanya membuat Bima terdiam sejenak. "Apa dia ini bodoh? Aku kan bertanya, lah ini malah balik bertanya," batin Bima dalam hati.


Bima memarkirkan mobilnya karena sudah sampai di tempat acara.


"Jika kamu tidak mau kuliah, lalu kamu apa?" tanya. Bima penasaran. Kini mobilnya sudah terparkir rapi dan saatnya turun dari mobil, tapi sebelum turun dari mobil Bima mau mendengar jawaban dari Aliyah lebih dulu.


"Aku mau...."


Coba tebak Aliyah mau apa? Dasar gadis ingusan yang imut dan menggemaskan.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia