Duda Tampan Pujaan Hati

Duda Tampan Pujaan Hati
Tentang masa lalu


"Bima...!!"


Suara yang tidak asing itu memanggil Bima, membuat Bima menghela nafas berat.


"Bima, apa kabar?" tanya laki-laki itu tapi tatapan Bima tampak sinis dengan seseorang yang ada di samping laki-laki itu.


Entah siapa yang Bima temui itu?


"Kabarku baik, bagaimana dengan kamu kak?" Bima balik bertanya kepada Haris yang tidak lain adalah laki-laki sekaligus sepupunya yang sudah merebut istrinya di masa lalu.


"Syukurlah kalau begitu, oh iya ini siapa?" tanya Haris saat melihat gadis cantik yang ada di samping Bima.


Rika hanya diam, ia tidak menyapa mantan suaminya sama sekali, Ayuna yang sedang tidur di gendongan Bima, ia juga tak sedikitpun menanyakan tentang Ayuna sama sekali.


Tiba-tiba Bima menggegam tangan Aliyah dengan erat membuat Aliyah kaget tapi dia berusaha tenang dan tetap elegan.


"Dia calon istriku kak," dengan bangga Bima memperkenalkan Aliyah pada Haris dan itu berhasil membuat Rika menatap Aliyah cukup lama. "Mas Bima dapat daun muda," batin Rika dalam hatinya.


"Bim, kamu tidak salah, kamu memilih gadis kecil seperti dia menjadi calon istrimu?" Haris menatap Bima tidak percaya.


"Apa salahnya? Dia seorang gadis yang masih lajang, dia menyayangi putriku dengan setulus hati tidak seperti Ibunya yang hanya perduli dengan kebahagiaannya dirinya sendiri saja. Lagian biarpun dia hanya gadis kecil, aku tidak merebutnya dari laki-laki lain," ujar Bima panjang lebar dan diiringi sindiran keras untuk sepupunya dan mantan istrinya itu.


Rika menatap Aliyah tidak suka, lalu ia beralih menatap Bima dengan sinis.


"Dan aku pergi dari hidupmu, karena aku lebih mencintai sepupumu daripada kamu Mas Bima," sahut Rika tanpa perasaan dan begitu bangga.


"Dan aku juga tidak pernah menyesal berpisah dari wanita yang tidak punya hati sepertimu, Rika." Bima menatap lembut Rika, lalu ia tersenyum penuh kemenangan.


"Terserah kamu saja, ayo Mas Haris kita pergi dari sini!" ajak Rika, lalu menarik Haris pergi dari hadapan Bima dan Aliyah.


Melihat putri kecilnya saja Rika tak ada rasa ibah atau sayang sama sekali, untuk mencium putri kecilnya yang selalu merindukan Ibunya saja Rika tidak melakukan itu. Beruntunglah Ayuna sedang tidur dengan nyenyak.


Setelah Haris,Rika dan anak-anaknya berlalu pergi Bima buru-buru melepaskan tangan Aliyah dari genggamannya dengan gugup.


"Maaf ya, aku sudah lancang memperkenalkan kamu sebagai calon istriku," dengan perasaan yang tidak enak Bima langsung meminta maaf pada Aliyah.


Aliyah samar-samar tersenyum kecil, lagian tadi juga dia sebenarnya merasa senang, Bima saja yang tidak tahu kalau Aliyah itu mendambakan dirinya.


"Tidak apa-apa Tuan, oh iya Ayuna sudah tidur mungkin dia sangat lelah, ayo kita ajak pulang," ajak Aliyah penuh perhatian.


Bima mengangguk, ia merasa Aliyah ini begitu dewasa dan jauh lebih baik dari Rika yang asli Ibu kandungnya.


Bima dan Aliyah langsung menuju ke mobil, lalu Bima membaringkan Ayuna di jok belakang dan Aliyah duduk di depan. Bima langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukan pulang ke rumah.


***


Rika dan Haris sedang dalam perjalanan pulang, Rika tampak tidak senang, kedua anaknya juga tidur pulas di jok belakang. .


"Kamu kenapa? Keliatannya tidak senang gitu, apa kamu cemburu karena suamimu sudah menemukan pengantinmu?" tanya Haris yang sedang menyetir.


"Tidaklah, untuk apa aku sedih? Aku kan sudah punya kamu," sahut Rika enteng.


"Lalu kenapa kamu diam saja dari tadi?" tanya Haris dengan nada agak kesal.


"Mas aku hanya lelah, aku capek bermain dengan anak-anak, terus kalau diam apa salahnya?" protes Rika menggebu-gebu, dari tadi Haris ada saja yang di tanyakan.


Dalam hati Haris, aku tahu kamu itu pasti cemburu karena Bima sudah menemukan daun muda untuk menjadi pengantimu. Aku sangat curiga pada Rika perempuan yang sudah sah menjadi istriku, lagian dari tadi riang dan setelah bertemu dengan Bima, di mobil ia tiba-tiba diam dan terlihat sedih.


"Apa kamu masih mencintai Bima?" cetus Haris, membuat Rika tampak geram.


"Bodoh, kalau aku mencintai Mas Bima, untuk apa aku minta cerai dan menikah denganmu?" tanya Rika dengan nada lantang, rasanya kesabarannya mulai habis.


"Itukan karena kamu ketahuan selingkuh denganku, coba kalau tidak pasti kamu juga tidak akan menceraikan, apalagi uangnya dia banyak," sindir Haris secara halus.


"Mas kamu lupa kita itu saling mencintai dari dulu, aku menikah dengan Mas Bima juga hanya untuk mendapatkan hartanya saja, dan kamu tahu setelah aku cerai darinya, rumah mewah, mobil mewah dan perhiasan yang cukup banyak aku dapatkan," dengan tegas Rika mengingatkan hal yang indah pada Haris, mereka memang saling mencintai sebelum Rika dan Bima bertemu, dan menikah dengan Bima itu hanya akal busuk Rika saja, lalu Haris selalu mendukung apa yang di lakukan oleh Rika.


Saat itu memang Bima begitu bucin pada Rika, hingga Rika dengan mudah membuat Bima jatuh cinta padanya. Saat sudah menikah dengan Bima. Rika juga selama ini menjalin hubungan di belakang Bima bersama Haris.


Awalnya Bima tidak tahu akan hubungan Rika dan Haris, Bima juga selalu percaya pada Rika namun suatu saat Tuhan menunjukkan semua kebusukan Rika pada Bima. Bahkan saat itu Bima tidak menceraikan Rika, ia masih mau memaafkan Rika dengan syarat Rika mengakhiri hubungan dengan Haris, apalagi saat itu Rika juga dalam keadaan hamil besar. Makanya Bima tidak tega untuk menceraikannya, dan setelah Rika melahirkan anak Bima, saat itu juga Rika kekeh meminta cerai agar bisa menikah dengan Haris.


Bahkan Rika berani meminta rumah mewah, mobil mewah dan banyak perhiasan dari Bima. Dengan ikhlas Bima memberikan rumahnya yang dulu pada Rika, hingga akhirnya Bima pindah dan membeli rumah di komplek elit tempat tinggalnya sekarang.


Bima juga tidak bodoh sebelum perceraiannya, Bima melakukan tes DNA untuk anaknya yang baru beberapa hari lahir itu, Bima ingin memastikan bahwa anak yang sudah di lahirkan oleh Rika itu murni anak kandungnya. Akhirnya hasil tes DNA keluar dan darah Ayuna sama dengan darah Bima, rasanya bersyukur sekali saat itu. Saat itu Rika juga tidak mau membawa anaknya bersamanya dengan alasan tidak mau repot dan ingin hidup baru dengan keluarga barunya nanti, Haris juga tidak mau jika anaknya Rika ikut dengan Rika.


Dan di saat itu Bima hanya bersyukur dan dengan senang hati menerima hak asuh anaknya, Bima juga selalu merawat anaknya dengan baik selama ini. Karena baginya Ayuna adalah permata hidupnya yang selalu menghiasi hari-harinya.


****


Sesampainya di depan rumah sudah ada Bi Wati yang sedang menunggu mereka pulang, Bima turun dari dalam mobilnya. Lalu ia membukakan pintu mobilnya untuk Aliyah.


"Bi, Ayuna tidur, tolong bawa ke kamar ya, aku antar Aliyah dulu," kata Bima dengan sopan.


"Iya Tuan," jawab Bi Wati.


Bi Wati mengambil Ayuna yang tertidur di dalam mobilnya sedangkan Bima pergi mengantarkan Aliyah pulang, padahal rumah Aliyah ada di depan rumahnya dan bisa saja Aliyah pulang sendiri tapi Bima juga tidak enak dan harus berterimakasih secara pribadi pada Aliyah.


Sesampainya di depan rumah Aliyah, tiba-tiba Bima menjadi salah tingkah. Astaga aku ini kenapa? Tiba-tiba ada rasa aneh yang tak bisa aku jelaskan saat ini.


"Tuan Bima, terimakasih," kata Aliyah dengan nada lembut.


"Aku yang harusnya mengucapkan terimakasih padamu Al," kata Bima dengan nada lembut.


Aliyah tersenyum kecil, sungguh ia tersipu malu saat ini, Aliyah dia memang tampan sekali, biarpun dia duda anak satu tapi terlihat masih imut sekali. Aku rasa aku akan cocok jika bersanding dengan duda tampan ini, Aliyah senyam-senyum sendiri seperti orang yang tidak waras.


Bima menatap Aliyah bingung, ini anak kenapa? Apa dia kesambet sehingga seperti orang gila seperti ini?


Bima mengelidik kecil. "Al, sudah malam aku permisi dulu, ingat jangan senyam-senyum terus nanti gigi kamu kering," kata Bima sebelum pergi meninggalkan rumah Aliyah.


Sejenak Aliyah terdiam dan pipinya sudah merah seperti tomat, Aliyah buru-buru masuk ke dalam rumahnya saat Bima sudah berlalu pergi dari rumahnya.


Entah siapa yang akan gila duluan di antara Bima dan Aliyah?


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia